[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Rumah Sakit



Sepuluh menit berlalu dan dokter yang memeriksa Agra belum juga keluar. Alif, Deon dan Keyra--yang menyusul mereka ke rumah sakit--duduk dikursi dengan cemasnya sedangkan Aurora berdiri tidak tenang sejak tadi. Yang ia lakukan hanya berdo'a agar tak ada yang parah pada Agra. Lima menit kemudian wanita parubaya yang memakai jas almamater putih keluar dari pintu kamar rawat Agra dengan stetoskop di lehernya.


Dengan cepat Aurora menghampiri dokter bernama Dr. Anita itu diikuti oleh Alif, Deon dan Keyra.


"Gimana dok? Agra baik-baik ajakan? Gak ada yang parah kan dok?" tanya Aurora bertubi-tubi ia benar-benar khawatir.


"Sabar dulu Rara," sahut Keyra menenangkan.


Dr. Anita tersenyum lalu menjawab pertanyaan Aurora.


"Agra baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan tidak ada juga luka dalam pada tubuhnya." jelas Dr. Anita membuat semuanya bernafas lega.


"Agra udah sadar dok?" celutuk Alif.


"Agra sudah sadar, hanya saja dia tidak bisa banyak bicara. Sudut bibirnya robek dan itu menjadi penyebab sulitnya dia untuk berbicara."


"Boleh kita masuk gak dok?" tanya Deon.


"Boleh! Tapi jangan terlalu ribut ya."


"Siap dokter!"


"Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada pasien lain yang harus saya periksa," pamit Dr. Anita yang ditanggapi senyum dan anggukan oleh semuanya.


Keempat orang itu pun masuk kedalam kamar rawat Agra. Disana Agra terbaring dengan mata terpejam, wajahnya dipenuhi dengan plester-plester obat.


Aurora menghela nafas lalu menghampiri Agra sedangkan temannya hanya selonjoran di sofa rumah sakit.


"Agra..." lirih Aurora saat sudah berdiri di samping brankar Agra.


Mata Agra perlahan terbuka mendengar lirihan itu, ia hanya memejamkan mata tadi. Agra tersenyum lemah lalu menggerakkan tangannya untuk memegang tangan Aurora.


"Rara..." gumam Agra pelan saat tangan mungil itu sudah didalam genggamannya.


"Gue minta maaf..." Aurora hanya diam berdiri dengan airmatanya yang perlahan jatuh, ia baru melihat sisi lemah Agra.


"Ngomong Ra..." pinta Agra pelan, bibirnya sedikit perih untuk berbicara seperti biasa.


Tangan Aurora yang bebas menyeka air matanya sendiri. Gadis itu memalingkan wajahnya dari Agra, disatu sisi dirinya masih kecewa pada Agra namun disisi lain ia tak bisa melihat Agra selemah ini.


"Lo marah sama gue?" Aurora menggeleng tanpa menatap Agra.


"Kenapa gak mau liat gue? Muka gue nyeremin?" Aurora menggeleng lagi tanpa menatap Agra.


"Liatin gue Ra... Seenggaknya ngomong sama gue. Gue takut lo marah sama gue."


"Gue gak marah! Tapi gue kecewa!" batin Aurora.


"Maafin gue Ra... Lo boleh marah sama gue, tapi gue mohon liat gue."


Aurora pun memalingkan wajahnya menatap Agra sedetik kemudian Aurora memeluk Agra, tangisnya pecah dipelukan pemuda yang terbaring itu.


Agra tersenyum lalu membalas pelukan Aurora dan mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali.


"Lo kemana aja kemarin? Gue khawatir sama lo bodoh!" isak Aurora dalam pelukan Agra.


"Maaf..." Agra hanya bisa menjawab maaf dan mengelus punggung Aurora yang terisak, tidak mungkin ia memberi tahu Aurora yang sebenarnya.


"Papa nyuruh gue buat ikut sama dia ngurus perusahaan, itu aja kok." Tentu saja Agra akan berbohong. Ia tidak siap dengan apa yang akan terjadi jika Aurora tahu yang sebenarnya.


"Kenapa hp lo gak aktif? Gue chat gak lo bales! Gue kira lo kenapa-napa diluar sana!"


Agra terkekeh lalu mengecup pipi Aurora. Membuat gadis itu memukul dadanya pelan.


"Gak usah cium-cium gue," ketus Aurora, Agra terkekeh lalu mengeratkan pelukannya pada Aurora.


"Ekhem! Disini masih ada orang kali!" seru Deon saat dari tadi hanya diam menyaksikan drama alay pasangan itu.


"Tau nih! Serasa dunia milik berdua yang lain cuma ngontrak!" timpal Keyra.


"Makanya jangan jomblo terus!" celutuk Alif membuat Deon dan Keyra menatapnya bingung lalu kemudian melemparkan bantalan sofa ke wajah Alif.


"Kayak lo gak jomblo aja Alifuddin!!" seru Keyra dan Deon bersamaan.


"Bilang aja lo ngiri!" balas Agra lalu melepaskan pelukannya.


"Ngap–"


Brak!


"Astagfirullah Allahuakbar!" pekik mereka bersamaan saat dua wanita masuk ke ruang rawat Agra dengan tergesah-gesah.


"Agra! Kamu gak pa-pa kan? Gak ada yang parah kan? Kok bisa masuk rumah sakit sih? Itu lagi ngapain kamu berantem sam–"


"Ma... Agra baik-baik aja kok"


"Kamu buat mama khawatir tau gak. Mama kira kamu kenapa pas pak Tono nelfon mama terus bilang kamu masuk rumah sakit!" gerutu Citra membuat Agra terkekeh, mamanya ini memang cerewet.


"Maafin Agra yah ma, udah bikin mama khawatir."


Citra tersenyum lalu mengelus rambut hitam Agra.


"Lain kali jangan kek gini lagi ya." Agra mengangguk menanggapi seruan mamanya.


"Luka kamu gak ada yang parah kan Gra?" Agra menegang. Demi Tuhan, ia sedang tidak mengharapkan kedatangan Lena saat ini.


"I-iya." Kekikukan Agra mengundang kernyitan diwajah Aurora dan Keyra. Sementara Alif dan Deon saling pandang dengan wajah terkejut.


"Syukur, deh. Aku kira kamu luka parah. Aku khawatir banget, jadi ikut sama Tante Citra ke sini." Agra hanya membalas dengan senyuman tipis.


Deon dan Alif memilih meninggalkan ruangan. Tidak lupa menarik Keyra meskipun awalnya cewek itu menolak.


"Ma, kenalin ini Aurora." Citra tersenyum padanya lalu memeluk Aurora dengan hangat. Pasti gadis ini yang sudah memikat putranya.


"Panggil aja Rara Tante," ujar Aurora dengan menyalim tangan Citra membuat wanita itu tersenyum. "Saya Citra, mamanya Agra" balasnya ramah.


"Dia siapa, Gra?" mata Aurora melirik Lena sejenak sebelum kembali melihat Agra. Lena dengan senyum ramahnya mengulurkan tangan pada Aurora. "Hai, aku Lena."


"Aurora."


Aurora masih butuh penjelasan siapa Lena. Namun sepertinya, Agra tidak ingin menjawab. Aurora merasa ada yang aneh.


Sedangkan disisi lain, Agra tidak tahu harus menyebut Lena sebagai siapanya. Lena pergi ke Jerman dua tahun lalu tanpa adanya kata putus di antara keduanya. Jadi, Agra harus bagaimana?