[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Patah Hati Rey



Rey pergi menyendiri di rooftop setelah tampil membawakan lagu yang begitu mewakili hatinya di Pentas Seni tadi. Rasanya, masih sakit seperti kemarin-kemarin ketika melihat Aurora dengan Agra. Tapi kembali lagi, jika Aurora bahagia maka Rey pun bahagia selagi pun bukan Rey yang menjadi alasan kebahagiaan cewek itu.


"Gue harap lo bener-bener bahagia sama Agra, Ra. Kalo sampe dia berani nyakitin lo dan ngebuat lo ngeluarin air mata, gue bakal jadi orang paling pertama yang bakal ngasih dia pelajaran."


Aurora begitu berarti untuk Rey. Bagaimana cewek itu menjalani hidup seorang diri sangat menginspirasi Rey. Aurora yang tidak punya orang tua, saudara dan keliarga, tetap kuat menjalani hidup. Berbeda dengan Rey yang mudah putus asa setelah Papanya menikah lagi setelah ibunya meninggal.


"Gue gak tau, Ra, gimana hidup gue ke depannya. Yang jelas, gue gak bakal bisa mencintai seseorang sebagaimana gue cinta sama lo. Lo berhasil ngebuat gue jatuh sejatuh-jatuhnya."


Benar. Rasa cinta Rey pada Aurora begitu besar. Bahkan ia tidak yakin bisa mencintai seseorang lagi sebesar ia mencintai Aurora. Cewek itu terlalu istimewa menurutnya. Aurora yang kuat, Aurora yang optimis, Aurora yang pantang menyerah, Aurora yang punya semangat membara, sukses membuat seorang Reynald Erlangga tidak bisa berpaling pada sosok lain.


"Kalo seandainya gue datang lebih awal, apa mungkin perasaan lo bakal tertuju ke gue? Bukan Agra?"


Rey selalu menduga-duga. Kalau saja yang lebih dulu dikenal Aurora adalah dirinya dan bukan Agra. Cewek itu pasti akan menaruh hatinya pada Rey. Bukan Agra. Tapi sayang, waktu dan semesta sepertinya tidak berpihak karena nyatanya, Rey selalu kalah start dengan Agra Fransisco Demiand.


Rey memejamkan mata. Menikmati angin sepoi-sepoi yang menampar halus pipinya. Berharap, patah hatinya lenyap mengikuti angin.


"Kadang ikhlas emang susah, Rey. Tapi hasilnya bakal indah. Lo cuma perlu belajar buat ikhlasin Aurora sama cowok yang dia cintai dan lo tetap ngelanjutin hidup."


Suara celetukan itu membuat Rey membuka matanya kembali. Ia menoleh dan mendapati Keyra yang berdiri disampingnya. Menatap ke depan dengan senyum manis diwajahnya.


Keyra terkekeh tanpa menatap cowok itu. "Udah lama. Lo aja yang sibuk mikir sampe gak ngeh ada gue."


Mengangguk-angguk, Rey kembali memusatkan pandangannya ke depan. Keyra beralih memandangi cowok itu dari samping.


"Jadi gimana? Lo mau belajar buat nge-ikhlasin Aurora? Atau, lo mau stuck di patah hati lo aja tanpa ngelanjutin hidup?"


Rey menunduk menatap ujung sepatunya. "Gak ada yang namanya ikhlas, Key. Yang ada cuma terpaksa lalu terbiasa," balasnya pedih.


Keyra menatapnya lamat-lamat. Kemudian seulas senyum hadir dibibirnya sebelum kembali menatap ke depan. "Kalau gitu, lo paksa diri lo buat ngerelain Aurora. Lama-lama lo juga bakal terbiasa sampe akhirnya rasa sakit itu udah gak ada setiap ngeliat Aurora sama Agra."


Rey menggeleng. "Gue gak bisa, Key. Susah."


Berdecak, Keyra menatap sebal pada cowok itu. "Bukan gak bisa, Rey. Lo cuma belum nyoba aja. Life must go on! Lo gak bisa diam di masalah itu terus. Lo harus berani. Percaya sama gue. Lo pasti bisa!"


Rey menatap Keyra yang tersenyum sembari mengangguk seolah meyakinkannya. Bisakah Rey melakukan itu?