[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Tempat Teduh



Sepulang sekolah Agra dan Aurora naik ke kendaraan yang sama yaitu motor sport hitam Agra. Banyak pasang mata yang melihat mereka dengan berbagai macam tatapan. Aurora yang sudah biasa ditatap seperti itupun hanya diam dan acuh. Toh! Ini hidupnya, dia yang jalanin semuanya, jadi kenapa harus peduli sama pendapat buruk orang lain? Gak guna!


Aurora memeluk pinggang Agra kala motor sport itu sudah melaju meninggalkan sekolah dan cibiran orang-orang yang kurang perhatian menurut Aurora.


"Agra kita mau kemana?" tanya gadis itu saat merasa ini bukanlah jalan menuju rumahnya.


"Kita makan dulu" jawab Agra yang membuat Aurora mengangguk.


Setelah 15 menit berkendara, akhirnya kedua pasangan itu sampai didepan sebuah kafe. Pemuda itupun turun dari motornya yang diikuti oleh Aurora lalu menggenggam tangan gadis itu memasuki kafe.


Saat masuk kedalam kafe, Agra dan Aurora disambut oleh berbagai tatapan-tatapan kagum oleh pengunjung wanita, ralat bukan Agra dan Aurora, tapi hanya Agra lah yang menjadi titik pusat pandangan mereka. Pemandangan ini pun membuat Aurora mendengus kesal. Selalu saja seperti ini saat bersama Agra. Akan ada tatapan-tatapan lapar dari cewek-cewek kurang belaian yang membuat Aurora muak sendiri! Gak liat apa kalo ada ceweknya yang ikut, pikir Aurora kesal.


"Udah gak usah cemburu. Gue sayangnya sama lo doang!" ujar Agra saat melihat raut wajah kesal gadisnya itu.


"Siapa yang cemburu!" kilah gadis itu tak mau kalah lalu duduk disalah satu meja paling pojok dan diikuti oleh Agra.


"Gak cemburu tapi bibirnya manyun-manyun gitu, kode minta dicium?" balas Agra dan terkekeh diakhir kalimatnya.


"Apaansih!!"


"iya-iya... Yaudah mau pesen apa?"


"Samain aja sama lo"


Agra pun mengangguk lalu memanggil pelayan dengan kode tangan dan menyebutkan pesanannya. Pelayan itupun tersenyum lalu pergi dari sana menyiapkan pesanan mereka.


"Ra nanti mau kuliah dimana?" tanya Agra memulai obrolan.


"Gak tau, belum kepikiran. Lo sendiri?"


"Entah.. Palingan gue disuruh bokap buat lanjutin perusahaan!"


"Agra? Enak gak sih jadi orang kaya?"


Agra terkekeh lalu menjawab pertanyaan Aurora.


"Ada enak dan gak enaknya sih?"


"Maksudnya?"


"Yah enak aja, kalo lo mau beli sesuatu pasti lo bisa beli tanpa harus takut duit lo habis. Gak enaknya itu lo harus nurutin semua keinginan orang tua lo, kalo lo gak mau terhempas dari kartu keluarga."


"Emang harus banget nurutin permintaan orang tua lo? Bukannya gue ngelarang lo buat nurutin kemauan mereka, tapi kalo misalnya mereka nyuruh yang gak sesuai keinginan lo?"


"Gak juga sih. Itu cuma dari sudut pandang gue, gue bilang gitu karena bokap gue orangnya pemaksa, sama sih kaya gue hehe... Semua keinginannya harus terwujud apapun caranya!"


"Agra... kalo misalnya orang tua lo gak suka sama hubungan kita gimana?" tanya Aurora dengan nada sendunya membuat Agra terdiam sejenak.


Agra menghela nafas lalu menggenggam kedua tangan Aurora dan menatap tepat di manik mata coklat milik gadis itu.


"Dengerin gue Ra, mau orang tua gue gak suka sama hubungan kita, gue gak peduli itu selagi lo mau berjuang bareng sama gue, dan ngelewatin semua tantangan yang bakalan dateng ke hubungan kita nantinya" terang Agra berusaha menenangkan.


Namun siapa sangka hati pemuda itu juga gusar kala memikirkan bagaimana orang tuanya nanti saat tau hubungannya dengan Aurora, apalagi papanya ada kemungkinan besar papanya akan menentang hubungan mereka jika mengetahui siapa Aurora.


"Bukannya gue gak mau berjuang bareng sama lo. Tapi gue cukup sadar bu-"


"Ra! Lo sendiri kan yang pernah bilang ke gue, kalo lo gak akan pernah mau nyerah sama keadaan!" ujar Agra sedikit kesal.


"Maaf" ujar Aurora memohon membuat Agra menghela nafas, lalu mengelus tangan Aurora yang ia genggam.


Tak lama kemudian makanan mereka pun datang. Kedua pemuda dan pemudi itupun memakan makanannya sesekali bercanda dan melupakan permasalahan mereka yang tadi.


***


Sepulang dari restoran tempatnya bekerja, Aurora kini kembali berkutat dengan beberapa buku dimeja belajarnya. Gadis itu nampak tengah serius membaca bukunya sesekali terlihat mencatat.


Setelah satu jam kemudian gadis itu berkutat dengan bukunya, Aurora merentangkan tangannya untuk merileks kan badannya dan berjalan menuju ranjang sederhanya namun nyaman yang ia miliki.


Baru saja matanya akan terpejam suara ketokan diluar pintu utama, membuat matanya terbuka kembali. Siapa yang dateng malam-malam begini? Pikir Aurora.


"Jangan-jangan maling lagi?!" batin Aurora was-was.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya Aurora pun membuka pintu kamarnya lalu berjalan pelan ke arah pintu utama dari rumah khas betawi itu. Untuk berjaga-jaga siapa dibalik pintu itu, Aurora pun memutuskan untuk mengintip dijendela kayu rumahnya. Siluet tubuh seseorang dengan setelan jas kerja membuat Aurora mengernyit bingung. Siapa dia? Siluet tubuhnya nampak seperti pria?


Dengan segala keberaniannya, Aurora mengambil sapu yang ada didekat pintu, lalu dengan gerakan cepat membuka pintu rumahnya.


Baru saja Aurora akan melayangkan sapu itu kepada orang tersebut. Namun orang itu lebih dulu ambruk ke pelukannya, membuat sapu yang ia pegang jatuh begitu saja kelantai.


"Agra?!!" tanpa melihat wajahnya pun Aurora sudah tahu bahwa pria itu adalah Agra. Aroma tubuh pemuda itu sangat Aurora hafal. Tapi yang Aurora bingungkan kenapa Agra ke rumahnya malam-malam begini? Apalagi dengan pakaian formalnya?


Aurora melepaskan pelukan Agra yang kini terlihat sangat lemas. Mata Aurora membulat kaget saat melihat wajah Agra yang penuh dengan warna biru ke ungu-unguan serta beberapa bercak darah.


"Astaga!! Kenapa lo bisa kek gini Agra?" pekik Aurora kaget bertambah khawatir melihat wajah tampan itu penuh dengan luka yang sepertinya pemuda ini baru saja berantem, entah dengan siapa!


Agra tidak menjawab, bibirnya perih untuk sekedar bicara.


Dengan sigap pun Aurora mendudukkan Agra dikursi teras rumahnya dengan hati-hati. Bukannya Aurora tidak membiarkan Agra masuk kerumahnya, melainkan ia takut jika ada tetangga yang melihat mereka dan akhirnya menimbulkan fitnah.


"Kenapa bisa kek gini, hm?" tanya Aurora lembut, namun Agra hanya memejamkan matanya, kepala pemuda itu pusing dan bibirnya sulit terbuka gara-gara luka disudut bibirnya.


Aurora menghela nafas pelan, lalu beranjak memasuki rumahnya berniat mengambil kotak P3K.


Tak berselang lama Aurora pun keluar dengan kotak berwarna putih bersimbolkan tanda tambah ditangannya lalu mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Agra.


Aurora terlebih dahulu membersihkan wajah Agra dengan hati-hati, setelah itu ia pun mengobati luka Agra. Sesekali pemuda itu meringis namun dengan cepat Aurora mengelus pipinya membuat Agra tidak meringis lagi.


Setelah mengobati luka Agra, Aurora pun menyimpan kotak obat itu lalu beralih menatap Agra yang memejamkan matanya.


Tangan Aurora bergerak mengelus pipi biru Agra membuat sang empunya membuka matanya yang terpejam.


"Kenapa bisa kek gini, hm?" tanya Aurora lembut dengan mata yang menatap manik mata hitam Agra dan tangan yang masih mengelus pipi pemuda itu dengan lembut.


Tangan Agra bergerak untuk memegang tangan Aurora yang ada dipipinya lalu tersenyum tipis melihat raut khawatir Aurora.


"Gue dikroyok sama Leon dan temen-temennya pas pulang dari kantor papa" jawab Agra dengan pelan.


"Lo dikroyok?" pekik Aurora tak percaya.


"Hm"


"Temen-temen lo gak ada yang nolongin?"


"Kan gelang itu ada sama lo, jadi gue gak bisa ngasih tau mereka kalo lagi darurat"


Mendengar itu Aurora menundukkan kepalanya, dalam hati ia merasa bersalah. Ini semua karena dirinya. Andai saja waktu itu dia berhasil kabur dari Leon, pasti Agra tidak akan memberikan gelang pelacak itu kepadanya.


"Maaf" gumam Aurora dengan nada rendah dan sedihnya.


Mendengar itu Agra mengernyit bingung lalu mengangkat dagu Aurora untuk menatapnya.


"Kenapa minta maaf?"


"Maaf... Karna gara-gara gue, lo gak punya gelang pelacak itu lagi, gu-"


"Rara... Gue gak pernah nyesel karna udah ngasih gelang itu ke elo. Justru dengan adanya gelang itu sama lo, gue bisa tenang dengan keadaan lo."


"Tapi gelang ini punya lo. Kalo lo mau ambil gue bak-"


"Lo gak mau kan gue khawatir?" Aurora mengangguk menanggapi ucapan Agra.


"Yaudah kalo gitu, jangan pernah lepas gelang ini dari tangan lo! Gue gak mau orang yang gue sayang kenapa-kenapa. Ngerti?" ujar Agra dengan nada lembutnya.


Mata Aurora berkaca-kaca kala mendengar perkataan Agra yang seperti takut dirinya kenapa-kenapa. Dengan cepat Aurora pun memeluk Agra dengan erat. Pemuda itu terkekeh lalu membalas pelukan Aurora dan mencium puncak kepala gadis itu berkali-kali. Sungguh! Ia tak ingin gadis ini kenapa-kenapa. Lebih baik dia saja yang bonyok seperti ini dari pada Aurora yang menjadi sasaran Leon.


"Jangan luka lagi Agra" lirih Aurora dalam pelukan Agra namun pemuda itu masih bisa mendengar lirihan Aurora.


Agra tersenyum lalu mengeratkan pelukannya.


Benar! Mau sebanyak apapun luka Agra, pemuda itu tidak akan pernah merasa terluka jika bersama Aurora, entah karena apa, rasa sakit itu langsung meluap digantikan dengan rasa hangat saat melihat raut khawatir di wajah gadis yang kini masih ada dalam pelukannya. Agra janji akan melindungi gadisnya ini sekuat yang ia bisa.


"Oh iya! Lo kenapa bisa bonyok gini?" tanya Aurora setelah melepaskan pekukannya yang membuat Agra diam-diam mendengus. Merusak suasana!


"Tadi pas pulang dari kantor papa, ditengah jalan Leon dan temen geng-nya ngehadang gue. Awalnya gue males buat berantem, tapi pas dia nyerang duluan yaudah gue bales, berhubung dia lebih banyak akhirnya gue yang kalah, bayangin aja, 15 lawan 1 orang. Kalo gue gak cape habis dari kantor habis tuh orang" tutur Agra panjang lebat membuat Aurora mendengus. Agra pernah bilangkan, kalo dia dengan senang hati menyambut orang yang cari masalah dengannya? Dan itulah yang terjadi.


"Terus kenapa bisa ada disini?"


"Pas gue kabur, gue gak sengaja ngeliat rumah lo, dan ternyata tempat gue dikroyok gak jauh dari sini. Yaudah gue kesini aja."


"Lo jalan kesini?"


"Hm... Mobil gue, gue tinggalin disana, nanti biar montir gue yang ambil"


Aurora manggut-manngut mendengar penjelasan Aurora. Heran saja Agra datang malem-malem ke rumahnya dengan tampilan kacau, ternyata dia habis dikroyok. Aurora sedikit tidak percaya Agra bisa dikalahkan juga. Ayolah Ra, Agra juga manusia! Gimana sih!


Aurora menggeleng kan kepalanya membuat Agra mengernyit bingung.


"Kenapa?"


"Eh..." keget Aurora lalu menatap wajah Agra. "Enggak!"


"Terus kenapa geleng-geleng kepala?"


"Lo jelek soalnya" Agra melongo sendiri mendengar ucapan Aurora yang frontal tanpa bismillah dulu.


"Mata lo kali, rabun!" balas Agra tak terima.


"Enak aja! Mata gue masih sehat yah!"


"Rabun itu! Ganteng gini dibilang jelek!"


"Emang lo jelek kok!"


"Kalo jelek ngapain lo mau jadi pacar gue?" tantang Agra.


"Kan duit lo banyak!" balas Aurora dengan polosnya.


Agra terkekeh mendengar jawaban itu. Ia tahu bahwa Aurora tidak serius mengatakan itu, terbukti saat gadis itu menolak jika Agra ingin membelikannya barang-barang bermerk pasti akan langsung menolak.


"Ohh.. Jadi selama ini lo cuma suka sama duit gue?!" seru Agra dengan wajah sok tak percayanya.


"Ya iyalah!"


"Yaudah kalo gitu pacaran aja sama duit gue!"


"Enggak ah!"


"Kenapa?"


"Pacar gue galak soalnya"


"Emang lo punya pacar?"


"Punyalah!"


"Siapa coba?"


"Agra!"


"Agra siapa?"


"Agra Fransisco Demiand!"


"Ganteng gak orangnya?"


"Ya iyalah ganteng! Emang lo? Jelek!"


Agra tertawa kecil mendengar jawaban gadis itu. Benar-benar menggemaskan.


Tangan Agra bergerak mengacak rambut gadis itu, lalu kembali menatapnya.


"Gih masuk! Udah malem banget ini. Lo belum ngantuk?" seru Agra saat melihat mata gadis itu mulai memerah karna menahan kantuk.


Aurora menggeleng menjawab seruan Agra yang membuat pemuda itu terkekeh. Apanya yang enggak? Orang matanya udah merah.


"Mata lo udah merah tuh. Tidur gih! Gue juga udah mau pulang"


"Pulang sama siapa?"


"Nanti gue telfon Alif buat jemput gue disini!"


"Gue nungguin lo balik aja dulu"


"Masuk aja Rara... Alif pasti lama kesininya, jarak dari sini kerumah Alif tuh jauh!" jelas Agra namun Aurora tetap menggeleng membuat Agra menghela nafas.


"Yaudah sini deketan!" seru Agra menyuruh Aurora mendekat.


Aurora pun mendekat ke hadapan Agra dengan wajah bingungnya.


Grep


Sedetik kemudian Agra pun membawa Aurora kepelukannya saat gadis itu sudah berada didekatnya.


"Udah tidur aja" sahut Agra dengan mengelus rambut Aurora lembut saat merasakan gadis itu ingin protes.


Aurora pun tak protes lagi, matanya sudah benar-benar berat saat ini.


Tak lama kemudian Agra dapat merasakan nafas gadis itu sudah teratur didadanya, itu artinya Aurora sudah tertidur dipelukan Agra.


Agra tersenyum kala melihat wajah lelah gadis itu terlelap, pasti gadis ini sangat lelah dikarenakan harus bekerja lalu melanjutkannya dengan belajar malam harinya. Sejenak Agra merasa tak berguna menjadi pacar gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, meskipun Agra mau membantu Aurora lah yang selalu menolak bantuannya. Katanya takut merepotkan.


Agra mencium sekilas puncak kepala Aurora lalu merogoh saku celana kerjanya dan mengambil benda pipih berbentuk persegi itu. Tangannya bergerak men-dial kontak bertuliskan Alif🦍


"Jemput gue skarang!" seru Agra saat panggilan itu sudah terhubung ke kontak Alif.


"Lo dimane?" sahut Alif diseberang sana.


"Gue di rumahnya Rara, cepetan jemput!"


"Hah? Rara siapa? Wah... lo punya cewek lainya? Gue kasih tau Ar-"


"Rara itu Aurora bego!! Udah cepetan jemput gue! Gak usah ngebacot!"


"Iya-iya! Eh... Eh... Gue kan kagak tau rumahnya Aurora dimane!"


"Ck! Jalan Anggrek, rumah nomer 37! Cepetan!"


tut! tut!


Panggilan telfon itu terputus saat Agra mematikan secara sepihak membuat pemuda disebrang sana menggerutu kesal.


30 menit kemudian motor sport berwarnah biru navy terparkir didepan rumah Aurora. Alif turun dari motornya lalu menghampiri Agra yang duduk diteras rumah itu dan Aurora yang berada dipelukannya.


"Lo ngapain sama Aurora peluk-pelukan kek gitu?"


"Gak usah ngebacot, lo tunggu sini gue bawa dia masuk dulu"


Alif pun mendengus kesal, dan membiarkan Agra membawa Aurora masuk.


"Jangan apa-apain anak gadis orang!"


"Bacot lo!"