[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Pertemuan Dikantor



Mobil pribadi berwarna hitam telah sampai didepan sebuah gedung pencakar langit berlogo Demiand Corp. Seorang pria paruh baya turun dari mobil tersebut dan disusul oleh seorang pemuda tampan yang memakai kemeja berwarna putih dengan lengan yang digulung hingga siku, serta celana jeans berwarna hitam taklupa pula sepatu kulit hitamnya yang mengkilap dan jam tangan rolex silver di pergelangan kirinya.


Mereka adalah Bram Demiand dan Agra Fransisco Demiand. Sang ayah masuk kedalam gedung pencakar langit itu dengan wibawahnya sedangkan sang anak hanya berjalan santai dengan wajah datarnya.


Mereka berdua terus berjalan sesekali pria paruh baya itu menyapa karyawan dan karyawati-nya tapi tidak dengan Agra. Mereka telah sampai didepan sebuah lift, Bram terlebih dulu masuk lalu diikuti oleh Agra. Mereka akan naik ke laintai 4 gedung ini.


Setelah keluar dari lift Agra masih mengikuti ayahnya. Hingga sang Ayah berhenti didepan sebuah pintu berwarna Silver. Pintu itu terbuka lalu Bram masuk dengan Agra. Semua pebisnis-pebisnis ternama telah menunggu mereka didalam sana.


Bram duduk dikursi ujung meja layaknya seorang pemimpin sebuah rapat, dan Agra berdiri di sebelah kanannya. Agra meneliti wajah orang-orang yang datang ke acara papanya ini.


Paling ujung sebelah kiri papanya, ada sekretaris kepercayaan papa, didekatnya ada bendahara kepercayaan perusahaan, dan masih banyak lagi orang-orang didekatnya yang Agra tidak tahu siapa nama mereka.


Paling ujung sebelah kanan ada papa Fandy dan Alif yang tersenyum kepadanya dan dibalas senyum juga oleh Agra. Didekat Alif ada papa Ian dan juga Deon. Papa Ian juga melemparkan senyum kepada Agra dan dibalas sama olehnya, sedangkan Deon melemparkan senyum mengejek dan kerlingan mata padanya membuat Agra memutar bola matanya malas.


Didekat Deon ada pria parubaya yang Agra tidak tahu siapa namanya, namun pemuda didekat pria parubaya itu membuatnya sedikit terkejut. Pemuda itu adalah Reynald Erlangga. Berarti didekat Deon adalah papa Rey, pikir Agra.


Bram berdehem untuk memulai pertemuan ini. Semua orang yang ada diruangan ini menatapnya menunggu apa yang akan dikatakan oleh sang pemimpin perusahaan besar ini.


"Baik... Selamat pagi! Sebelum kita memulai saya meminta maaf sebelum nya karena hari ini saya kurang tepat waktu," ucapnya membuat semua orang senyum memaklumi kecuali 4 pemuda yang tak tahu acara apa ini.


"Pertama.. Saya ingin memperkenalkan putra tunggal saya yang kelak akan menggantikan posisi saya untuk memimpin perusahaan ini." Ucapnya lalu melihat Agra yang ada disebelah kanannya. "Perkenalkan dirimu nak!" suruh nya pada Agra.


"Selamat pagi! Saya Agra Fransisco Demiand, senang bertemu dengan anda semua." Tuturnya dengan senyum tipis dan membungkukkan setengah badannya sebagai tanda hormat.


"Wah... Anakmu benar-benar tampan yah Bram!" Ucap seorang pria parubaya didekat bendahara perusahaan.


"Haha pantas saja anaknya tampan papa-nya saja sudah sangat tampan!" timpal seseorang didekat Rey.


"Kamu sudah besar yah Agra, dulu waktu kamu pertama kali kesini masih sangat kecil," ucap seseorang lagi dengan kekehannya.


"Yah iyalah gue udah gede! Masa kecil terus!!"


Bram terkekeh mendengar semua penuturan teman bisnisnya itu. Namun Agra hanya tersenyum tipis.


"Papa Bram, Papa gak kasian liat Agra berdiri terus. Kan kasian kalo kakinya pegel." Celetuk Deon tanpa malu membuat semua orang terkekeh sedangkan Papanya tersenyum miris karena kelakuan anaknya.


"Deon..." desis papa Ian pelan. Dibalas oleh cengiran bodoh Deon.


"Benar juga yah Yon," bukannya marah atau apapun Bram justru menanggapi dengan ramah ucapan Deon. Karena ia tahu bagaimana sifat anak sahabatnya itu.


Bram mempersilahkan Agra duduk di ujung meja yang berhadapan dengan sang ayah. Agra pun menurut dan duduk disana, karena ia tidak mungkin berdiri berjam-jam disamping papanya.


Setelah Agra duduk, meeting pun dimulai dengan dipimpin oleh Papa Agra. Bram mulai menjelaskan beberapa keperluan perusahaan, pengeluaran perusahaan, serta beberapa invertasi dan kerja sama dengan perusahaan lain. Agra, Alif, Deon, dan Rey hanya menyimak, mereka benar-benar tak tahu harus melakukan apa selain menyimak.


Beberapa jam kemudian penjelasan Bram pun selesai. Setelah beberapa menit pintu ruangan terbuka menampilkan seorang gadis dengan pakaian khas pelayan sebuah restoran berjalan masuk dengan meja dorong yang diatasnya ada berbagai macam jenis makanan pengganjal perut dan beberapa minuman serta air mineral.


Ke empat pemuda itu belum menyadari kehadiran gadis tersebut namun setelah gadis itu mengeluarkan suaranya mereka tersentak kaget.


"Permisi..." Ucap gadis itu.


"Suara itu??"


Namun mereka berempat hanya mengabaikannya tidak mungkin dia ada disini.


"Silahkan Aurora!" suara Bram kembali membuat keempat pemuda itu tersentak kaget. Agra yang memejamkan matanya sontak membuka mata, Rey dan Alif yang sibuk dengan ponselnya juga membulatkan matanya dan Deon yang tadi mengobrol dengan papanya, kini berhenti mengobrol.


Mereka berempat lantas memandang ke arah yang sama dimana gadis itu berada.


"Aurora?!"


"Aurora?!"


Gumam mereka bersamaan.


Bram yang melihat ekspresi anaknya kini tersenyum miring entah apa artinya. Gadis itu berjalan dengan terus membagikan makanan yang ada dimeja dorong tadi ke depan orang-orang yang ada disini.


Gadis itu tidak kaget saat tak sengaja mata coklatnya bertubrukan dengan mata hitam pekat milik Agra, karena sebelum masuk kesini ia membaca logo pengenal perusahaan ini.


Gadis itu terus membagikan makanan, hingga ia sampai didepan Alif. Alif memandangnya meminta penjelasan namun gadis itu hanya tersenyum tipis. Selanjutnya Deon setelah papa Ian.


"Ra?" gumam Deon pelan dibalas senyum tipis Aurora.


Selanjutnya gadis itu memberikan makanan pada Rey setelah memberikan makanan untuk papa Rey.


"Ra.. Kenapa lo bisa ada disini?" tanya Rey bingung.


"Kerja," jawabnya pelan, membuat Rey tambah bingung. Maksudnya kerja? Apakah gadis itu kerja sebagai pelayan di kantor papa Agra?. Baru saja Rey ingin bertanya lagi namun gadis itu kembali berjalan membagikan makanan pada pria parubaya didekat Rey lalu terakhir pada Agra.


Agra hanya diam dengan wajah datarnya. Pemuda itu hanya memikirkan kenapa gadis ini ada disini? Bukankah dia bekerja di Sonny Resto? Lalu kenapa dia ada disini?. Agra menepis pertanyaan yang mengiang-ngiang dikepalanya. Pemuda itu hanya memandang papanya yang kini tengah memakan makanannya dengan santai, entah apa arti pandangan itu.


Detik berikutnya sebagian makanan Bram ada yang terjatuh, pria parubaya itu melihat Aurora akan keluar dari pintu ruangan kembali memanggilnya membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihat siapa orang yang memanggilnya.


"Aurora," panggil Bram


"Iya Tuan?" sahutnya sopan.


"Tolong kamu pungut makanan saya yang tadi terjatuh dilantai dekat kursi saya." Suruhnya lalu beranjak dari kursinya menuju toilet, menyisakan Aurora yang terdiam ditempatnya. Alif dan Deon yang menghentikan acara makannya, Rey dan Agra yang diam-diam mengepalkan tangannya sementara yang lain hanya menikmati makanannya sambil bercengkrama karena ini bukanlah apa-apa bagi mereka.


Aurora menghela nafas sabar lalu berjongkok untuk memungut makanan yang jatuh itu. Gadis itu memandang nanar makanan tersebut. Bukan karena merasa kasihan pada makanan itu. Tetapi merasa kasihan pada dirinya sendiri. Serendah ini kah dirinya? Hingga makanan milik orang lain yang jatuh pun harus dia yang memungutnya? Tidak adakah kata lain selain kata pungut yang harus pria parubaya itu lontarkan?


Gadis itu menghela nafas menahan sesak didadanya. Ia cepat-cepat mengambil makanan itu lalu memasukkannya ke tempat sampah yang ada di dalam ruangan itu. Setelah itu ia cepat-cepat pergi sebelum air matanya keluar didepan orang-orang.


Setelah gadis itu keluar Rey berniat menyusulnya namun melihat Agra yang lebih dulu berjalan tergesah-gesah keluar ruangan membuatnya mengurungkan niatnya.


Gadis yang tadi membawa makanan kedalam ruangan mewah itu sekarang duduk di taman belakang kantor papa Agra.


Memang kantor papa Agra sengaja menyediakan taman belakang, agar bisa menjadi pelepas rasa bosan karyawan-karyawannya atau tempat beristirahat selain kantin.


Gadis itu duduk di kursi taman yang telah tersedia disana. Pandangannya menatap lurus kedepan seolah menerawang jauh.


Seorang pemuda berdiri di ambang pintu belakang kantor yang menuju taman belakang. Pemuda itu menghela nafas lalu memilih menghampiri gadis itu.


Pemuda bernama Agra itu duduk disamping gadis bernama Aurora. Gadis itu tidak menyadari keberadaan Agra. Ia hanya menatap lurus kedepan. Agra memperhatikannya, ternyata gadis itu melamun?


"Awas kesambet lo." Celutuknya membuat gadis itu tersentak kaget dengan ekspresi lucunya membuat Agra terkekeh dalam hati. Gadis itu menoleh kesamping dan mendapatkan Agra yang kini tersenyum tipis dengan alis terangkat satu.


"Agra?!" kaget gadis itu.


"Lebay!" cibirnya pelan.


"Ishh..."


Mereka kembali diam. Gadis itu kembali menatap kedepan, mengabaikan Agra yang kini memperhatikannya dari samping.


Lama diperhatikan oleh Agra gadis itu merasa risih, lalu kembali menoleh pada Agra dengan wajah kesalnya.


"Ngapain sih ngeliatin gue kek gitu?!" ketusnya.


"Gak boleh?" balasnya masih menatap Aurora dalam-dalam.


Bukannya tidak boleh, namun jantung Aurora kembali konser saat diperhatikan seperti itu oleh Agra.


"Gak sih!"


"Tapi jantung gue yang bermasalah!!!"


"Berarti gue bebas dong natap lo."


"Ih.. Terserah lo deh!" balasnya kesal lalu memalingkan wajahnya.


Agra terkekeh melihat gadis itu kesal karena salah tingkah.


"Gak usah salting kali." Ucapnya terkekeh.


"Siapa yang salting?!" balasnya masih dengan menatap sekitar.


"Trus kenapa gak mau liat gue?"


"Ngapain harus ngeliat lo?"


"Kali aja gitu, ngeliat gue langsung buat hidup lo berkah."


"Yang ada ngeliat lo buat hidup gue penuh masalah!" balasnya cuek namun berhasil membuat Agra bungkam.


Mendengar tak ada lagi balasan dari pemuda itu. Aurora pun beralih menatap Agra yang kini menunduk disampingnya.


Aurora menaikkan satu alisnya bingung.


"Lo kenapa?"


"Maafin gue yah Ra," ucap pemuda itu seperti benar-benar bersalah terbukti dari nada suaranya.


"Ngapain minta maaf?"


"Selama ini gue slalu buat hidup lo dalam masalah, pertama gue sering ngehina lo, gue slalu cari masalah sama lo, gara-gara gue lo juga terlibat dengan Leon, dan tadi kelakuan bokap gue sama lo... Gue ben-"


"Bagus kalo lo sadar," balasan gadis itu membuat Agra mendongakkan wajahnya, menatap Aurora dengan wajah bersalahnya lalu kembali menunduk.


"Maaf..." gumamnya rendah.


Gadis itu terkekeh. Sudah berapa kali ia melihat Agra menunduk dan meminta maaf didepannya?.


"Gue gak nerima maaf, lebaran masih lama!" balas Aurora sedikit bercanda.


"Serius Raa..." ucapnya memelas


"Traktir gue es krim?" ucap gadis itu dengan menaik turunkan alisnya.


Agra menghela nafas, bisa-bisa dompetnya terkuras lagi. Tapi tak apa yang penting Agra bisa membuat gadis ini senang lagi setelah kelakuan papanya.


"Siap-siap dompet gue habis ini mah!" gumam pemuda itu pelan namun masih bisa didengar gadis disampingnya. Membuat gadis itu tertawa mendengarnya.


"Lo udah miskin?" ejeknya pada pemuda yang kini memicingkan matanya padanya.


Pemuda itu lantas mengacak-acak rambut terkuncir rapi itu dengan gemas, hingga membuat sang empu rambut itu menatapnya tajam, dan dibalas oleh cengiran tampan Agra.


"Besok pulang skolah tunggu gue?"


"Oke.."


"Lo gak kerja?"


"Gue gak akan telat cuma karna beli es krim".


"Hufft.. Gak ada alesan dong, biar duit gue tetep utuh." balas Agra membuat Aurora tetawa lagi. Benar-benar tawa favorit Agra dan juga pemuda yang dari tadi melihat mereka di ambang pintu belakang. Tawa gadis itu juga tawa favoritnya namun sayang bukan dia yang menciptakan