![[DMS#1] AGRA](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/-dms-1--agra.webp)
"Ra lo mau ikut apa dipensi kali ini?" tanya Keyra pada Aurora yang kini sedang memakan baksonya. Mereka berdua berada di kantin, karena memang semua pelajaran kelas XI telah selesai semenjak selesainya ujian kenaikan kelas.
"Gak tau. Gue juga males banget mau ngikut gitu-gituan!" jawab Aurora sesekali memakan baksonya.
"Yah... Padahal kan suara lo bagus banget. Sayang tau kalo gak disumbangin buat ngeramein pensi!" Keyra mendesah kecewa kala mendengar jawaban Aurora yang sepertinya tak ada niat dalam pensi kali ini.
"Maunya sih gitu tapi gak tau kenapa gue males aja ngikut acara gitu-gituan!"
"Ayolah Ra..." bujuk Keyra dengan wajah memelasnya namun Aurora tetaplah Aurora.
"Nanti gue us-"
"OYY!!" Aurora langsung tersedak disaat tangan seseorang menepuk bahunya dan mengagetkannya.
Uhhuk! Uhhuk!
Dengan sigap sebuah tangan kekar mengambilkannya minuman yang ada didepan Aurora lalu menyodorkan kepadanya. Ternyata dia adalah Agra.
Agra menatap tajam kepada Deon yang tadi mengagetkan Aurora dan membuat gadisnya tersedak makanannya. Untung saja baksonya kecil, kalo tidak! Tamat riwayat Deon!
Pletak!
"Kalo cewek gue kenapa-napa karna keselek bakso, mati lo ditangan gue!" ancam Agra pada Deon yang kini mengusap bekas jitakan Agra dikepalanya lalu cengengesan menatap Agra.
Agra memutar bola matanya malas lalu duduk disamping Aurora diikuti oleh Alif dan Deon.
"Lo ngikut ngeramein pensi Ra?" tanya Agra setelah duduk disamping Aurora lalu meminum gelas yang berisi air minum bekas Aurora. Aurora tidak protes, Agra sudah biasa seperti ini.
"Gak"
"Kenapa?"
"Males aja"
"Padahal suara lo bagus loh Ra!" bukan Agra yang menyahut melainkan Alif.
"Hooh! Suara nenek gue aja kalah sama lo" celutuk Deon tanpa dosanya.
Pletak!
"Diem lo taik!" kesal Keyra.
"Sewot aja lo!"
"Siapa juga yang sewot?!"
"Ya lo lah masa sempaknya Alif!"
"Lo kok malah bawa-bawa ****** gue sih!" timpal Alif tak terima saat ****** mahalnya dibawa-bawa. Sementara Agra dan Aurora sudah pergi saat melihat keributan mereka.
"Emang kenapa? masalah?" sahut Deon tak santai.
"Ya iyalah ****** gue semuanya limited edition malah lo bawa-bawa!"
"Alah ****** micky mouse aja dibilang limited edition!"
"Eh... Sabunin yah mulut lo! ****** gue tuh semuanya keren-keren! Emangnya lo yang ngoleksi ****** Hello Kitty!"
"Sembarangan yah lo kalo ngomong!"
"Emang bener kan? ****** nenek gua aja kalah sama lo!"
"Emang lo pernah ngeliat ****** nenek lo?"
"Ya iyalah! Waktu itu gue gak sengaja ngeliat nenek gue ngebungkuk mau ngambil sesuatu, eh sempaknya malah keliatan. Mana warnanya pink lagi!"
"Pffftt... Hahah lo-"
Kedua pemuda itu cengengesan menatap Keyra, membuat gadis itu mendengus.
"Eh?! Rara sama Agra mana?" pekik Keyra saat melihat kursi Aurora dan Agra kosong.
Alif dan Deon menolehkan wajahnya ke arah pandangan Keyra, dan benar kedua pasangan absurd itu sudah tak ada ditempatnya.
"Lo sih! Rara pergi kan!" hardik Keyra kesal pada Alif dan Deon lalu beranjak meninggalkan kedua pemuda yang kini saling memandang heran setelah Keyra pergi.
***
"Hai Rey!" Rey terpelonjak kaget saat suara seorang gadis menyapa telinganya. Rey lantas menoleh ke arah suara dan mendapatkan gadis itu tengah menunjukkan cengirannya membuat Rey menghela nafas. Rey menatap gadis itu kesal karena berani-beraninya mengganggu dirinya yang sudah hampir tidur dalam kelasnya.
"Lo lagi, lo lagi!" sahut Rey malas.
Gadis itu cemberut karena mendengar sahutan Rey yang seperti jengah dengannya.
"Sensi amat sih. Gue kan cuma mau ngobrol sama lo" seru Fania cemberut.
Yah gadis itu adalah Fania. Dia adalah cewek yang berdandan seperti tante-tante menurut Rey. Namun siapa sangka, meskipun dandanannya seperti itu tapi dia adalah siswa yang baru saja pulang dari Australia karena pertukaran pelajar. Meskipun dandanan norak, namun otak tetap diatas!
Awalnya Fania suka sama Agra, tapi pada saat hari pertamanya kembali ke Demiand Senior High School lagi, ia mendapat kabar dari teman-temannya bahwa Agra tengah dekat dengan Aurora.
Awalnya dia tidak percaya tapi saat melihat Agra dan Aurora Fania pun percaya, dan saat melihat pancaran mata Agra yang sepertinya sangat menyayangi Aurora, ia pun memilih mundur saja, dan saat itu juga ia bertemu dengan Rey dimana pemuda itu tengah memperhatikan Agra dan Aurora dengan tatapan yang sulit di artikan, tapi Fania tahu satu hal tentang Rey.
Pemuda itu menyukai Aurora terlihat dari pandangannya pada gadis itu yang terlihat terluka saat melihatnya bersama Agra.
Dan saat itu juga Fania tertarik pada Rey, ingat hanya tertarik.maybe. Awalnya Fania cuma penasaran dengan Rey, tapi entah kenapa semakin kesini rasa penasarannya semakin besar, dan itulah alasannya ia ingin mencoba mendekati Rey.
"Buang-buang waktu!" ketus Rey lalu kembali menelungkupkan wajahnya ke liapatan tangannya yang ada diatas meja.
"Rey mah... Temenin gue ngobrol kek" rengek Fania membuat Rey mendongak dan menatapnya kesal.
"Gue gak punya waktu buat ngeladenin celotehan lo!"
"Jahat banget sih jadi cowok"
"Emang gue peduli?" sarkas Rey lalu beranjak dari kursinya dan keluar dari kelas.
Meskipun Rey dingin dengannya, Fania tidak putus asa, cewek itu dengan cepat berlari keluar kelas menyusul Rey.
"Rey!! Tungguin gue!" teriak Fania dan menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Rey.
"Ck! Ngapain lagi sih lo?" sentak Rey saat Fania sudah ada disampingnya.
"Gak ngapa-ngapain kok!" balas Fania polos.
"Terserah!" sahutnya lalu berjalan cepat meninggalkan Fania yang menggerutu.
"Eh Aurora!" suara Fania yang menyerukan nama Aurora lantas membuat Rey menghentikan langkahnya. Fania tersenyum miring melihat itu.
"Ra, gimana sih cara ngejinakin Rey? Soalnya dia dingin banget sama gue!" Rey sontak berbalik saat mendengar suara Fania lagi.
Dan....
"Shit!" umpat pemuda itu saat menyadari bahwa dirinya hanya dikerjai oleh Fania, karena nyatanya tak ada Aurora disana, hanya ada dia dan Fania serta siswa-siswa lain yang berlalu lalang.
Berbeda dengan Rey, Fania malah tertawa melihat raut wajah kesal Rey. Namun siapa sangka, hati Fania sedikit teriris saat mengetahui bahwa Aurora begitu berpengaruh bagi Rey, bahkan dengan mendengar namanya saja sudah berhasil menarik perhatian Rey, Fania juga tidak tahu mengapa hatinya sedikit sakit saat mengetahui itu.
"Sialan lo!" umpat Rey pada Fania yang kini hanya terkekeh.
"Ih... Rey mulutnya jangan kek gitu.."
"Bodo amat!" ucapnya lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Fania yang tersenyum kecut.
"Bahkan dengan dengar nama dia dong udah bisa narik perhatian lo. Sedangkan gue? Gue udah mencak-mencak kek gini tapi lo tetep aja dingin ke gue" gumam Fania pelan di ikuti dengan senyum kecutnya menatap punggung tegap itu yang sedikit demi sedikit mulai menghilang diujung koridor.