[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Pingsan



Sebulan berlalu setelah Rey dan Aurora jalan bareng dan hari ini adalah hari yang dibenci oleh seluruh para pelajar, bagaimana tidak, ini adalah hari senin, hari dimana semuanya harus berdiri dilapangan dengan sinar matahari yang menyengat kulit.


Gadis yang berdiri dibarisan ketiga kini wajahnya nampak memucat, keringatnya mengucur ke pelipisnya, sesekali gadis itu meringis entah apa yang ia rasakan, membuat sahabat yang ada disampingnya menjadi cemas.


"Ra lo gak apa-apakan?" cemas Keyra karena wajah Aurora benar-benar pucat.


"Gak kok Key," jawab gadis itu dengan senyum tipis yang nampak sedikit dipaksakan.


"Beneran?" tanya Keyra memastikan.


Aurora hanya mengangguk, kepalanya benar-benar pusing saat ini, namun ia tak ingin membuat Keyra khawatir.


Didepan sana nampak tiga pemuda, yang berjalan dan di belakangnya ada Pak Tono yang mengawasi. Sepertinya mereka baru saja kedapatan pak Tono sedang bolos di warung babe Rojak.


"Kalian bertiga berdiri disitu!" tegas pak Tono dengan menunjuk tempat di sebelah kanan pembina upacara namun sedikit kedepan.


Ketiga pemuda itu berjalan dengan malasnya ke tempat yang ditunjukkan oleh pak Tono.


Pak Tono kembali kebarisan para guru, menyisakan pembina sekolah yang kini menghembuskan nafas lelah melihat ketiga siswanya ini.


Sebagian siswi DSHS memekik tertahan saat melihat wajah tampan ketiga pemuda itu sedikit terpapar matahari, membuat ketampanan mereka dua kali lebih tampan.


"Ya ampun Agra ganteng banget sih!!"


"Masa depan gue itu...!!"


"Alif aku padamuuuuu!!!"


"Deon nikahin aku doongg!!"


Begitulah pekikan2 siswi-siswi alay di DSHS, namun Agra tidak peduli dengan mereka, pandangan Agra hanya lurus menatap seorang gadis yang kini tampak berdiri gelisah dengan wajah pucatnya.


"Anak-anak, didepan kalian ini adalah contoh yang sangat tidak patut untuk di contohi. Membolos diwaktu upacara berarti sama saja mereka tidak menghargai jasa para pahlawan yang berjuang mati-matian demi negara kita ini. Pakaian yang sangat tidak mencontohi seorang pelajar. Rambut panjang yang menyalahi aturan....." kepala sekolah itu terus berceloteh namun Agra persetan dengan itu.


Mata hitamnya terus memicing melihat gadis dibarisan ketiga itu. Dadanya berdetak hebat, tiba-tiba saja rasa khawatir datang dari dalam dirinya, membuat ia penasaran, ada apa dengan gadis itu? Kenapa wajahnya begitu pucaf? Agra terus memikirkan itu, hingga sebuah pekikan membuatnya sadar dari lamunannya.


Brukk...


"Rara!!" pekik Keyra saat sahabatnya ambruk ke tanah.


Tanpa pikir panjang Agra berlari menembus barisan itu. Persetan dengan suara kepala sekolah yang memanggil namanya serta beberapa siswa lain yang ia tabrak.


Pemuda itu dengan cepat menggendong Aurora ala bridal style lalu membawanya ke uks. Menyisakan semua warga sekolah termasuk guru-guru dan juga kedua sahabatnya menganga tidak percaya dengan adegan ini, dan jangan lupakan juga seorang pemuda yang bernama Reynald Erlangga yang menatap kepergian mereka dengan tatapan kecewa. Ia kecewa kepada dirinya sendiri karena lagi-lagi ia kalah cepat oleh Agra dalam menjaga gadis manis itu.


***


Agra membawa gadis yang kini ada dalam gendongannya kedalam ruangan bernama UKS, wajah gadis itu benar-benar pucat. Agra membaringkan badan mungil itu diatas brankar uks. Setelah itu ia duduk dikursi yang telah disediakan dipinggir brankar itu.


Agra meneliti wajah gadis itu. Mata coklatnya tertutup rapat, serta bibir merah alami gadis itu kini memucat. Raut khawatir sangat terpampang jelas diwajah pemuda itu.


Dengan segala keberaniannya, Agra mengecek suhu badan Aurora menggunakan punggung tangannya. Sedetik kemudian pemuda itu membulatkan matanya lalu menarik tangannya. Benar-benar panas!!


"Dia demam?" gumam Agra dalam hati lalu tanpa fikir panjang pemuda itu berjalan cepat mencari obat yang dapat meredakan suhu panas gadis itu. Beberapa menit kemudian pemuda itu kembali ke brankar gadis itu. Baru saja ingin mencoba mensadarkan gadis itu, sesuatu terlintas difikirannya, membuat pemuda itu menepuk jidatnya.


"Oh iya! Gue kan gak tau dia udah makan atau gak!" gumamnya lalu meletakkan obat tersebut diatas lalu berlari keluar uks menuju kantin untuk membelikan gadis itu makanan.


Sepuluh menit kemudian Agra sudah kembali dengan kantung kresek hitam dan air mineral ditangan kanannya. pemuda itu tersentak kaget saat melihat ada beberapa orang didalam uks itu. Mereka adalah, Keyra, Alif, Deon dan Rey. Semuanya menatap Agra membuat sang empunya menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa?" tanya pemuda itu saat semua menatapnya.


"Lo dari mana?" tanya Keyra membuka suara.


Agra memperlihatkan kantung kresek yang tadi ia tenteng membuat Keyra mengangguk mengerti.


Agra berjalan ke tepi brankar Aurora, pemuda itu sedikit mendorong Rey kebelakang membuat Rey menatapnya sinis.


"Minggir lo!" dengan berat hati pun Rey sedikit memberikan ruang untuk Agra.


"Ra... Bangun.." ucap pemuda itu lembut dengan menepuk-nepuk pipi Aurora pelan.


"Gra coba deh lo cium Aurora siapa tau aja dia sadar. Kan di film-film kartun yang sering sepupu gue liat, katanya princess Aurora bisa bangun dari tidurnya karna dapat ciuman dari cinta sejatinya." celutuk Deon tanpa dosa.


Pletak!!


Alif menjitak kepala Deon sementara Agra dan Keyra menatapnya datar. Bisa-bisanya dia bercanda disaat seperti ini, sedangkan Rey terus memandangi wajah damai Aurora yang sangat menggemaskan ketika matanya tertutup.


"Diem lo bego?! Pendapat lo lagi gak dibutuin saat ini!" sewot Alif.


"Kan kali aja gitu beneran!!" balas Deon dengan bibir mengerucut kesal.


"Korban dongeng lo!!" timpak Keyra


"Yeuu... Dari pada lo! Korban php!!" balas Deon tak santai.


"Enak aja kalo ngomong! Sorry yah... Gue paling anti sama yang namanya di php-in!!"


"Alahh... Alesan paling juga kalo ketemu cowok di php-in mulu!"


"Sembarangan yah lo!! Lo kali yang suka php-in cewek!"


"Hellow!! Gue tau gue emang ganteng. Tapi sorry yah gue anti php-php club!!"


Perdebatan Deon dan Keyra terus berlanjut membuat semuanya mendengus jengah melihat mereka. Keyra dan Deon memang seperti ini saat bertemu. Mereka bahkan lebih para dari Agra dan Aurora dulu.


"Nngghh..." Suara lenguhan itu menghentikan perdebatan Keyra dan Deon.


Mereka semua beralih menatap ke arah sumber suara, disana Aurora telah sadar dan berusaha untuk bangun namun dengan cepat dicegah oleh Agra membuat semua temannya termasuk Rey menatap tak percaya, apalagi saat mereka menangkap raut khawatir diwajah pemuda itu.


"Eh... Eh... Jangan bangun dulu!" cegah Agra dengan menahan pundak Aurora. Dengan terpaksa pun Aurora kembali berbaring.


"Ada yang sakit hm? Lo kenapa bisa kek gini sih? Lo gak sarapan? Pasti gak kan?" tanya Agra bertubi-tubi membuat mereka tambah tak percaya termasuk Aurora yang kini menatapnya bingung.


"Paansih Gra.." ucap gadis itu lemah.


Agra menghela nafas!


"Lo udah makan?" tanya pelan dibalas gelengan oleh Aurora, membuat pemuda itu lagi-lagi menghela nafas.


Agra mengambil sesuatu didalam kantung kresek itu yang ternyata adalah sebungkus nasi uduk.


"Nih makan." suruhnya setelah membuka bungkus nasi itu.


Aurora ingin mengambil nasi itu, karena jujur ia benar-benar lapar, pagi ini ia bangun telat sehingga melupakan sarapannya yang bisa membuat penyakit maag-nya kambuh. Aurora mengernyit bingung saat Agra menjauhkan nasi itu saat tangannya sudah hampir mengambil nasi uduk itu.


"Kenapa?" tanya Aurora bingung. Sementara yang lainnya hanya menonton mereka dengan senyumnya, Keyra juga merekam adegan langkah ini. Sementara Rey setia dengan tatapan datarnya.


"Biar gue yang suapin!" jawabnya lalu meyodorkan sesendok nasi kemulut Aurora namun gadis itu menggeleng membuat Agra mengernyit bingung.


"Gak suka?"


Aurora menggeleng!


"Terus?"


"Gue bisa sendiri kok!" balas Aurora namun Agra menggeleng tegas.


"Gak. Biar gue aja!" tegasnya membuat Aurora menghembuskan nafas pasrah.


Agra pun menyuapi Aurora dengan telaten. Gadis itupun menerima dengan baik suapan demi suapan yang Agra berikan.


Teman-temannya tersenyum penuh arti melihat Agra dan Aurora. Keyra masih setia merekam adegan ini. Sementara Rey memalingkan wajahnya. Tanpa mereka sadari ada hati yang tergores melihat drama ini. Ralat, bukan mereka karena Keyra menyadari ini. Ia hanya menatap Rey dengan senyum tipisnya. Ia juga sedikit kasihan dengan pemuda yang baru-baru ini menjadi teman baiknya dengan Aurora.