[DMS#1] AGRA

[DMS#1] AGRA
Puncak kemarahan Rey



Dengan kasar, Rey menarik kerah kemeja sekolah Agra ke belakang sekolah. Wajah cowok itu yang biasanya ramah, kini terlihat sangat dingin. Sesampainya di tujuan, ia melempar tubuh Agra hingga tersungkur.


"Lo kenapa, anj1ng! Main nyeret orang aja!" Bentak Agra kesal. Tentu saja ia kesal. Sedang asik-asiknya makan bersama teman-temannya Rey malah datang dan tanpa aba-aba menyeretnya secara tidak manusiawi ke sini.


Rey maju lalu menghadiahi tinju pada pipi Agra. "Lo masih nanya kenapa, brengsek?!" Sudut bibir Agra robek akibat pukulan tak main-main dari Rey.


Dipukul tanpa alasan yang jelas membuat Agra marah. Ia meludah kemudian bangkit dan menyerang balik Rey dengan memukul pipi cowok itu juga.


"Gue gak tau masalah lo apa sama gue!"


Rey menggeram marah, kakinya terangkat menendang dada Agra hingga punggung Agra menabrak pohon. "B4jingan lo! Gak usah pura-pura gak tau! Lo emang brengsek! Mati lo!!" Rey memukul Agra habis-habisan. Namun, bukan Agra namanya jika tidak bisa melawan.


Perkelahian keduanya berlangsung sengit tanpa ada satupun yang memisahkan. Suasana yang sepi dibelakang sekolah menguntungkan bagi Rey untuk menghabisi Agra sekarang. Bisa-bisanya cowok itu asik bersenang-senang bersama sahabatnya tanpa merasa bersalah pada Aurora.


"Bicara yang jelas anj1ng!! Gue gak tau masalah lo apa!!" Agra kembali membentak. Wajah keduanya sudah babak belur namun Agra yang paling parah. Mulutnya berdarah, keningnya sobek begitupun dengan hidungnya yang mengeluarkan darah. Sementara Rey, hanya berdarah dibagian mulut dan lebam dipipi.


Dengan napas yang tersenggal-senggal, Rey menarik kasar kerah Agra. Matanya menghunus tajam pada mata Agra. "Lo kemana semalam, hah? Sama siapa lo semalam?!"


Tubuh Agra langsung membatu. Matanya membulat tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya. Melihat itu, Rey menyeringai. Menghempas tubuh Agra ke tanah lalu meludah ke samping.


"Kenapa? Lo kaget gue tau?!"


"Tadi malam, gue ketemu Aurora dihalte. Dia bilang lagi nunggu taksi buat keluar. Gue percaya. Tapi setelah ngeliat lo di taman semalam, gue jadi mikir kalo sebenarnya bukan taksi yang ditunggu Aurora. Tapi lo, Agra, pacarnya!" Rey kembali melayangkan tinjunya pada pipi Agra namun kini cowok itu tidak melawan lagi.


"Sedangkan lo yang dia tunggu entah udah berapa jam, malah asik-asikan ketawa-ketawa sama cewek lain! Brengsek!" Rey menendang kepala Agra, membuat cowok itu terkapar di tanah.


Sudah Rey bilang, jika Agra berani menyakiti Aurora, maka ia tidak akan tinggal diam.


"Coba lo pikir, kalau seandainya yang datang semalam bukan gue dan malah penjahat gimana, hah?! Ngomong lo!" Rey menarik kerah Agra lagi yang terkapar. Darah sudah memenuhi wajah cowok itu, tetapi Rey tidak peduli.


"Mana suara lo?! Mana Agra yang selalu bisa ngalahin orang?!" Mata sayu Agra menatap Rey. Sekarang, Rey bisa melihat adanya penyesalan di sana. "Kenapa? Baru sekarang lo ngerasa bersalah, hah?! Dari tadi lo kemana aja setan!!"


Agra kembali mendapatkan pukulan. Ia sama sekali tidak ingin melawan. Rasa bersalah pada Aurora lebih mendominasi dibanding rasa sakit dari pukulan Rey.


Rey benar. Ia berengsek. Ia baj1ingan. Tidak seharusnya Agra bersenang-senang sementara ada Aurora yang butuh penjelasannya. Tidak seharusnya ia bersama cewek lain sementara ada Aurora yang menunggunya. Tapi Agra harus bagaimana? Bersama Lena semalam, ia benar-benar lupa akan Aurora.


"AGRA!!"


Teriakan itu membuat keduanya menoleh. Rey menarik napas berat begitu Aurora datang dan langsung memangku kepala Agra. "Gra, lo kenapa?" tanyanya. Agra hanya berkedip sayu. Aurora mendongak menatap Rey, meminta penjelasan namun cowok itu berlalu begitu saja.


"Maaf, Ra," gumam Agra sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.