
........
Suara air mengalir terdengar di sela-sela pintu toilet umum kampus.
Beberapa pintu terhempas oleh angin dan bergerak sendiri mengeluarkan suara desit yang agak menakutkan.
"ngiik ngiiik"
Ryan, seorang mahasiswa semester enam baru saja menyelesaikan urusannya di toilet, sejenak membersihkan tangannya di depan wastafel, merapihkan jambul kerennya di depan cermin, bersiul dengan irama lagu yang sedang populer.
"fhiuufiu" ada suara lain, pikirnya menghentikan siulannya, dikerutkan dahinya dalam mendengar lebih jelas, apa mungkin hanya perasaannya saja? ia yakin hanya dirinya saja yang ada di sana saat itu.
Dilanjutkan siulannya.
"fhiuuufhiu" saat tiba-tiba, langit-langit di atasnya bergerak, seperti gempa bumi, ia bersiap menyingkir tapi justru bingung arah mana yang harus diambil karena sepertinya semua bagian di atasnya bergejolak, suara patahan kayu dan retakan langit-langit yang seakan terkoyak.
"Kretek kretek"
"Wooh ada gempa yah?"
Ryan bersiap berlari saat langit-langit di atasnya tumpah dengan kerasnya seketika di lantai toilet.
"Waah!!"
Teriakannya keras,, beberapa siswa yang ada di luar toilet segera berhambur masuk melihat apa yang terjadi, semua diam, melihat bagaimana bisa tiba-tiba langit runtuh di toilet yang baru dibangun beberapa bulan lalu, dan saat jelas melihat apa yang menjadi penyebabnya, semuanya berteriak pergi.
"Waahhhh!!!"
Ryan masih berdiri di tempatnya berdiri mengamati lebih jelas, apa benar apa yang ia dan anak-anak lainnya lihat, kalau di depan mata mereka di antara bongkahan langit-langit yang runtuh ada sosok besar bulat menyerupai tubuh manusia, mungkin mayat, tak ingin cepat mengambil kesimpulan dan lari, tapi memang benar ada tubuh yang masih lengkap dengan pakaiannya, sudah menghitam semua karena membusuk, baunya juga tidak kira-kira, lalat besar memenuhi sekujur tubuh hingga wajah yang sudah sulit dikenali.
Ia menahan muak di dadanya, mungkin akan muntah jika ia berdiri lebih lama di sana, segera sambil menutup mulutnya ia berlari pergi.
"Wueeek"
+-+-+-+-+-+-+-+-
Gus tiba bersama Georgie, di depan TKP di toilet pria sudah dipenuhi beberapa mahasiswa dan umum yang penasaran dengan apa yang terjadi, beberapa dosen terlihat mengamati dari jauh.
Cody, Rio dan Tony sudah di dalam bersama team dari koroner, mereka melengkapi diri dengan masker dan pakaian pelindung yang rapat, bukan hal yang menyehatkan berada di dekat sosok jenazah yang sudah membusuk, baunya masih menyengat walau Cody sudah mengenakan masker rapat.
Rio menepuk lengan Cody.
"Cod, kalau sudah keluar saja, biar team Georgie membersihkannya, kau bisa sakit kalau kelamaan di sini"
Cody mengangguk "sudah sich sebentar lagi"
Rio berdiri di depan mayat sambil menggelengkan kepalanya.
"Heh akhir-akhir ini banyak mayat jatuh dari atas yah" ujar Rio melihat langit-langit toilet yang hampir semuanya runtuh tak bersisa.
Tony berdiri agak jauh di dekat pintu, sesekali mendongakkan kepalanya melihat mayat dari tempatnya berdiri.
"Hei Ton, ngapain berdiri di situ kau ini polisi bukan sich?" seru Rio.
Tony mendekat, agak ngeri karena itu mayat mengenaskan pertamanya. Ia mencolek lengan Cody.
"Eh, Cod, kok, kamu berani sih deket-deket gitu, gak takut mimpi buruk yah, yah ampun sampai bengkak begitu semua badannya, sudah lama mungkin yah tewasnya?"
Rio menepuk tangan Tony keras.
"Kau memang tidak tahu malu masih berani bilang begitu, Cody saja yang orang sipil berani, kau ini mau jadi polisi tapi kok takut begitu, cepat kumpulkan bukti sebelum Georgie membereskan tempat ini"
Cody menahan tawa, saat itu wajah Tony memang sangat lucu.
"hehe"
*-*-*-*-*-*-*-
Udara sore itu hangat, angin berhembus menerbangkan sedikit bunga yang layu dari pohon Kamboja ke atas permukaan tanah dengan lembutnya.
Beberapa mahasiswa di fakultas kedokteran di mana ditemukan mayat membusuk berlalu lalang di jalan setapak depan gedung utama, kondisi terlihat normal seperti biasanya.
Walau ada penyelidikan berjalan dari pihak kepolisian tetap tidak membuat aktivitas semuanya kontan berhenti, seakan tidak ada hal yang penting.
Cody duduk di depan taman di seberang gedung baru TKP berada, ia menunggu Rio dan lainnya sementara mereka masih sibuk membereskan pekerjaan sebelum kembali ke markas, mencari informasi bukti sebisanya apapun yang bisa menjadi petunjuk.
Seorang pemuda, tubuh sangat gendut, wajahnya dan tubuhnya bahkan jari-jari tangannya membulat semua, walau tubuhnya sudah besar demikian ia masih sibuk memasukkan burger yang ada di tangannya ke dalam mulutnya.
Pemuda itu seperti ingin mengatakan sesuatu, ia sempat bergumam, berbisik halus.
Namun, dengan cepat ia menghilang, seperti angin "whoosh!
Seseorang yang mendekat membuatnya pergi dengan cepat, hanya sekejap bersama angin yang lewat. Cody mengerutkan dahinya ia bahkan belum bertanya apa-apa "ehh"
"Hai!"
Seorang mahasiswa sudah berdiri di depan Cody, tersenyum lebar melihat ke arahnya.
"Hai, eh, kau, yang kemarin itu yah?" Sapa pemuda itu, wajah yang sangat bersahabat dan langsung duduk di sampingnya, Cody mengenalnya, ia pemuda yang tempo hari menyelamatkannya dari kecelakaan konyol yang mungkin bisa terjadi kalau bukan karena orang itu, mereka sudah sering berjumpa beberapa kali sebelum itu jika Cody tidak salah ingat.
Pemuda itu punya postur tubuh yang tinggi tegap, dada yang lebar dengan mengenakan kemeja putih yang kancingnya agak terbuka hingga menunjukkan dadanya yang bidang, rambut coklat tebal yang melambai di belai angin yang lewat, wajahnya yang tampan dengan mata yang bening menatap Cody jenaka, tersenyum ramah.
"Hai!" Sapa balik Cody.
"Em kau di sini? Kita bertemu lagi yah!" Serunya semangat.
Cody tersenyum "he Iyah, ada kasus" jawab Cody sambil menunjuk ke arah TKP.
Pemuda itu menarik nafas panjang "heh Iyah, wah kampus kami bisa jadi terkenal dech setelah ini, ada saja yah, di hari yang begitu cerah tanpa angin tanpa hujan"
Cody tersenyum mendengar ucapan pemuda itu, ia sangat supel, pikir Cody karena pemuda yang baru dikenalnya itu bersikap akrab terhadapnya.
"Hehe aku Cody, maaf aku lupa bilang terima kasih untuk yang kemarin itu" Cody mengulurkan tangannya.
Pemuda itu menyalami tangan Cody, lama ia menatap wajah Cody masih dengan senyumnya yang sangat lebar.
"he hai Cod, aku Edward, panggil saja Edi, yah bukan masalah besar, kebetulan saja aku lewat, bisa gawat kalau kau celaka di tengah-tengah tugas khan, ngomong-ngomong, memangnya kau kerja di kepolisian, sepertinya, masih sangat muda"
"He aku magang" jawab Cody mengangkat kameranya, Edi membulatkan bibirnya "ooh begitu, hehe pantas saja"
Cody menunjuk tas yang masih ada di pundak Edi "kau kuliah di sini?"
Edi mengangkat tasnya "oh yah tentu aku kuliah di sini, tuh di gedung depan sana, gedung ini baru selesai diresmikan bulan lalu, mungkin, kalau ada kejadian aneh pun seharusnya sekitar waktu sebelum diresmikan, karena setelahnya gedung baru ini sangat ramai"
"He kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"
Edi mengerutkan dahinya berpikir.
"Em perkiraan saja, eh dan emm"
Edi melihat sekelilingnya, sebelum ia mendekat dan berbisik di telinga Cody.
"Dengar-dengar, korbannya adalah Irsan yah? Asal kau tahu anak-anak memanggilnya gentong, dan, kupikir, kau harus bertanya pada beberapa anak yang sangat dekat dengannya belakangan, jangan bilang kau dapat info dariku yah"
Cody mengerutkan dahinya, walau masih bingung dengan ucapan Edi tapi ia seperti tahu apa maksud Edi dengan pandangan yang tertuju ke arah kumpulan mahasiswa yang duduk di depan pintu gedung utama.
Tony keluar dari dalam gedung setelah selesai dengan Rio.
"Cod, sudah yuk!" serunya.
Edi berdiri dari duduknya.
"Yah sudah aku akan kembali ke kelas, kalau ada butuh informasi apapun datang saja kemari mencari ku yah"
Cody menganggukkan kepalanya "yah tentu, thanks Ed"
Setelah pemuda itu pergi Tony mendekat, dikerutkan dahinya sambil menunjuk ke arah Edi yang menjauh.
"Siapa Cod?"
"Itu Edward, mahasiswa kedokteran semester akhir, yang kemarin itu loh"
Tony membulatkan bibirnya.
"Oh begitu, pantas sepertinya pernah lihat"
Cody mengamati langkah Ed hingga ke arah gedung, di bawah pohon tampak sosok pemuda bertubuh gendut tadi seperti bersembunyi dari Ed, ia menundukkan kepalanya saat pemuda itu lewat, padahal walau ia di balik pohon tetap tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang besar, tapi, kini sepertinya ia tidak perlu khawatir akan hal itu, karena bagaimanapun tidak ada lagi yang bisa melihatnya, selain Cody.
+-+-+-+-+-
Its a body! Real one!