
"Klik klik!"
Nyala lampu flash kamera memenuhi ruangan, rumah kecil di ujung jalan yang sepertinya sudah lama tidak terurus, pintu yang rusak, dinding yang berjamur, ceiling yang koyak di beberapa tempat, bahkan air sisa hujan yang turun semalam bocor hingga memasuki ruangan yang lantainya sudah tidak karuan bentuknya.
Rio dan team sudah memasuki rumah yang diduga sebagai tempat penyekapan korban penculikan selama sepuluh hari kasus mereka yang sedang aktif saat ini.
Polisi bagian brimod sudah menyerbu masuk setelah mengintai selama beberapa hari, hanya ada beberapa kawanan penculik yang ada di dalam rumah yang kini sudah menjadi tubuh-tubuh penuh luka tembak tanpa nyawa, bahkan beberapa lubang bekas peluru masih mengeluarkan asap yang tertinggal dari sisa timah panas.
Beberapa diangkut bagian forensik untuk dibawa ke markas, ada empat orang dan satu orang sempat melarikan diri dan yang paling penting hingga kini keberadaan korban juga masih belum ditemukan.
Tony menunjukkan lokasi yang harus diambil gambarnya oleh seorang pemuda baru, yah dia anggota baru, mungkin karena baru masa percobaan, membawa tas kamera besarnya yang terlihat sangat berat mengelilingi rumah sambil mengabadikan beberapa bukti, tipikal anak baru, ia begitu rajin dan teliti, bahkan tidak mengalihkan pandangannya sekalipun karena begitu seriusnya, bahkan melirik anggota lain juga tidak.
Rio mencolek Tony, berbisik padanya.
"Dia yang kata Gus mau menggantikan Cody itu?" Bisiknya, Tony mengangguk.
"Yah, dia lulusan akademi polisi bagian dokumentasi, katanya sih baru lulus dengan nilai sangat menarik"
Rio melihat pemuda yang bertubuh agak subur itu, lebih pendek dari Tony, dengan tas ransel besar di punggungnya, kacamata tebal, wajah yang serius, tidak suka tersenyum dan fokus, ia benar-benar terlihat seperti seorang lulusan akademi yang pintar, ia memasang wajah serius antara itu memang wajah aslinya atau jaga image sebagai anak baru, sebelumnya memang sudah diberitahu kalau anak baru itu tidak boleh pecicilan.
"Wahh, kalau Cody tahu dia bisa ngambek, pak Gus ini maksudnya apa sih" seru Rio.
Tanpa Rio sadari, Cody memang sudah berdiri di belakangnya, dengan wajah datar tanpa ekspresi seperti biasanya.
"Maksudnya apa kalau aku tahu?" Tanyanya.
Rio dan Tony seperti agak meloncat kaget, tak menyangka Cody datang secepat itu ke lokasi.
"Duh, kau sudah datang Cod? Hehe" Rio menggaruk-garuk kepalanya, Cody melirik tajam ke arah pemuda baru yang sibuk mengambil gambar dengan kamera moncong panjangnya.
"Oh itu orang baru yang Gus bilang yah?"
Rio dan Tony saling berpandangan, keduanya gagap saling melempar kode.
"Eh itu"
Cody senewen, lebih dari biasanya, kalau sudah ada photographer baru kenapa ia masih dipanggil juga, menganggu waktunya, ia masih banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan, tapi berpikir lagi ini mungkin memang yang seharusnya ia kerjakan.
Cody melihat sekelilingnya, rumah kecil itu, yang diduga menjadi tempat penyekapan seorang gadis muda putri tunggal pejabat daerah yang menghilang sepuluh hari lalu, tapi, ia tidak melihat sosok atau apapun di sana, apa ini kabar baik? Ada kemungkinan gadis itu masih hidup?
Cody melangkah kembali melihat setiap ruangan, bau anyir dari ruangan yang lama tak terurus, hawa kematian yang kental, tekanan berat yang sangat terasa.
Rio mengikutinya, pemuda itu mungkin tidak marah karena Gus mengantikan dirinya dengan anggota baru, atau, mungkin karena sudah diberitahu kalau ia akan menempati posisi baru sebagai konsultan kepolisian? jabatan tertinggi untuk orang sipil yang banyak berjasa bagi tugas kepolisian, apapun itu semua membuat pikiran di kepala Rio berputar, Cody sangat sensitif tapi tertutup rapat, ia marah atau tidak juga tidak ada yang tahu.
"Ada tiga orang yang berhasil dilumpuhkan polisi, diduga satu lagi melarikan diri, dan hingga kini polisi brimob belum menemukan keberadaan gadis itu, entah disembunyikan di mana dia, heh"
Rio menarik nafas berat, ruangan tempat mereka berdiri kini, kamar dengan ukuran 3x3, sebelumnya mungkin digunakan para penculik untuk istirahat karena ada ranjang dan televisi kecil di pojok ruangan, beberapa peralatan makan kotor, baju kotor, tapi hanya itu saja yang ada.
Dari alis mata Cody yang tajam, Rio yakin ia masih belum menemukan apapun yang ia cari di sana.
"Apa, benar tidak ada apa-apa? Bahkan, gadis itu? Ini, pertanda bagus khan?" Tanyanya pelan.
Cody melirik pada Rio, sejenak melihat polisi muda itu, lalu menunjuk keluar.
"Eh, dia yang kata Gus dapat nilai bagus di akademi itu?" Tiba-tiba Cody bertanya soal orang baru itu lagi, membuat Rio agak gagap, harus hati-hati menjawab Cody.
"Eh I itu, em katanya sih"
"Eh yah, kita lihat selama apa ia bertahan, tadi sih waktu lihat mayat tersangka yang habis diberondong peluru mukanya agak pucat gitu, apa karena ia belum sarapan mungkin" lanjut Rio.
Tony mendekat, ikut berbisik pada Cody dan Rio, mereka membicarakan orang baru itu tak jauh di belakangnya.
"Iyah itu sih cuma alasan saja, lihat saja nanti kalau sampai ia melihat mayat tanpa organ, yang dimutilasi, digorok lehernya, ichh" Tony sampai merinding saat membicarakannya,
Rio menggetok kepala Tony.
"Awww sakit bos"
Tony merintih sambil meraba kepalanya.
"Seperti kau bisa saja, sombong sekali mentang-mentang kau tidak lagi jadi junior yah"
Cody tertawa geli melihat keduanya, wajah Tony saat diledek Rio memang lucu.
"Hehe"
Tak lama kemudian,
Team bersiap untuk meninggalkan lokasi, sejauh ini tidak ada apapun yang menjadi petunjuk lokasi gadis itu berada, menjelang tengah hari dan mereka sudah menghabiskan waktu sejak subuh di sana.
Rio membuka pintu sedan-nya hendak masuk, tapi ia tidak melihat Cody di mana-mana.
"Loh, Cody ke mana?"
Tony menoleh ke sekitarnya, ia menunjuk ke depan di mana tampak Jeep hijau milik Cody diparkir.
"Jeepnya masih ada di sana, mungkin jalan-jalan"
Rio menutup pintu mobilnya kembali, tidak bisa membiarkan Cody sendiri, bahaya selalu mengintai anak itu di manapun ia berada.
"Heh dia itu, sudah lapar ini katanya mau makan"
Segera Rio dan Tony bergegas menyusul Cody.
Perlahan, Cody hati-hati melangkah, bangunan agak jauh di sebrang jalan rumah kecil tadi membuatnya penasaran, setiap bangunan yang mengeluarkan asap hitam patut dicurigai, bangunan tua itu menyerupai rumah toko yang sudah lama tidak ditinggali. Sisa batu bangunan di sepanjang jalan masuk, juga puing yang mungkin sengaja ditumpuk warga di halaman karena bangunan itu tidak lagi dipedulikan oleh pemiliknya, bahkan beberapa membuang dan membakar sampah di sana.
Cody menghentikan langkahnya, sesuatu menarik perhatiannya agak jauh di depan pintu samping bangunan yang cukup besar itu.
Ia yakin melihat seseorang di sana, menatapnya lurus sesaat lalu berlari pergi dengan cepat.
"Hei tunggu!"
Cody berlari mengejarnya, ia melompati beberapa tumpukan puing dan tanah dan akhirnya berhasil menyusul sosok tersebut.
Cody menelan ludahnya bulat, seorang gadis muda, dari pakaiannya menyerupai seragam sekolah salah satu sekolah swasta, rambutnya tidak beraturan, wajahnya penuh lebam dan sebagian kotor oleh darah yang mulai mengering, mata lembab dan bengkak karena menangis terlalu lama, ia menatap Cody dengan tatapan kosong, sangat miris hingga menyakitkan dada Cody, kondisi gadis itu bukan seperti yang dipikirkannya.
Cody menghempas nafasnya, ia terlambat, mereka sudah terlambat, gadis itu, mungkin gadis yang selama ini mereka cari, Aneke Erison, putri salah satu pejabat di kota, Ia muncul di depan Cody, sebagai arwah.
"Heh Aneke"
^^^"Like a thunder in the middle of heavy rain, it will always strikes as loud as it "^^^
+-+-+-+-+-+-+-