You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Fierce Riana



......


Tony dengan sangat ceria membantu Riana memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas, kamar rawat itu sudah seperti hotel, apa saja ada di sana.


Rio duduk di samping ranjang Cody.


Pagi yang cerah dan Cody terlihat jauh lebih baik hari itu.


"Apa, kau ingat sesuatu yang mungkin kau temukan? Yang mungkin adalah petunjuk kasus ini? Orang itu sepertinya sangat berniat sekali melukaimu Cod, belum lagi pria yang datang ke kamarmu semalam, heh mereka mungkin akan mencoba lagi lain waktu"


Cody berpikir, ia tidak menemukan alasan kenapa ada orang yang ingin melukainya, apalagi sampai membunuhnya.


"Emm, aku tidak tahu Rio, apa, mungkin mereka salah sasaran saja?"


Riana mendekat.


"Apa, ini ada hubungannya dengan pak Richard itu Cod?"


Cody terlambat mencegah Riana dengan mengangkat tangannya.


"Ri"


Rio mengerutkan dahinya, sepertinya memang ada yang disembunyikan Cody darinya,


"Cod mereka harus tahu, siapa tahu memang ada hubungannya, selama ini khan kau selalu mencari informasi soal pak Richard itu, dan Rio"


Riana teringat sesuatu.


"Aku ingat waktu berapa hari lalu, sebelum Cody ditabrak, aku yakin sekali ada yang mengikuti kami saat jalan-jalan di kota, tadinya mungkin hanya perasaanku saja, tapi setelah dipikir-pikir, sekarang aku jadi semakin yakin kalau mereka sudah mengincar Cody sejak awal"


Rio baru mendengar info itu, ia menoleh pada Cody yang menahan nafas, Riana yang bawel dan berlebihan, pikir Cody.


"Aku baru tahu soal ini, Cod, kau, kok tidak pernah cerita yah?"


Riana mengerutkan bibirnya, seolah menanggapi ucapan Rio dengan sinis "he, kau mana percaya, kalau diceritakan kau akan bilang Cody hanya terlalu banyak berpikir"


Rio menggaruk belakang kepalanya, ia memang sudah salah karena meragukan Cody kemarin, tapi mereka tidak boleh terus menghukumnya hanya karena ia tidak mengerti pada awalnya.


"Heh Iyah juga"


Pintu dibuka dari luar, Dokter Dody dan dua orang perawat masuk untuk pemeriksaan siang itu.


"Eh, Cody, bagaimana perasaanmu siang ini, apa masih terasa pusing?"


Dokter segera meraih catatan pasien di ujung ranjang.


Sementara perawat yang kerap datang Eni mengganti tabung infus yang sudah mulai habis, Riana dan Rio berdiri dari duduknya.


Dokter itu menoleh pada Rio dan Tony, dua polisi muda itu agak gagap.


"Eh kami? He kami hanya datang berkunjung, bukan sebagai polisi kok hehe" keduanya saling berpandangan.


"Aku rasa aku tidak apa-apa dok, hanya sedikit pusing, kurasa sejak dulu juga sudah seperti ini" jawab Cody.


"Yah kau mengalami benturan cukup keras di kepalamu Cod, wajar kalau kau akan merasakan sakit kepala berat selama beberapa waktu ini, kau juga banyak kehilangan darah dan asal kau tahu jenis darahmu itu sangat jarang jadi rumah sakit tidak bisa banyak membantu dengan transfusi, kau harus berusaha sendiri untuk itu" sambung dokter Dody.


Riana duduk menggenggam tangan Cody, memandang wajah Cody dengan cemas "Iyah Cod, jangan bandel istirahat saja yang banyak, Rio ini jangan sering-sering bertanya ini itu deh, kalian ini merepotkan Cody saja"


Salah lagi, pikir Rio dan Tony yang saling berpandangan kikuk kembali.


"heh salah lagi kita"


Setelah dokter selesai dan keluar dari kamar, Rio mendekat dan melirik catatan pasien di kaki ranjang.


Cody tersenyum "he bukan masalah Rio, itu hanya nama"


"Okelah kalau begitu, heh, aku dan Tony akan kembali dulu ke kantor, akan ada seorang dari kepolisian yang bertugas di depan pintu bergantian untuk menjagamu, sementara kau di sini istirahatlah, jangan pikirkan hal lain yah, kami akan mencari tahu siapa yang namanya Richard itu dan apa hubungannya dengan kasus ini"


Cody mengangkat tangannya saat Rio hendak membalik pergi.


"Eh Rio, apa, tidak berlebihan menaruh polisi di sana, akan ada yang melihat dan berpikir macam-macam"


"Yah lalu? Itu masalah mereka, asal kau tidak apa-apa, pembunuh itu bisa datang lagi kapan saja kalau kau lengah, sudah biarkan saja ia di sana, tidak akan menganggu kok"


Rio hendak beranjak lagi tapi suara Cody kembali menghentikannya.


"Pak Richard, eh.."


Rio mendekat kembali.


"Eh, beliau pergi ke kampus hari itu, dan tidak kembali ke rumahnya setelahnya, menurut istrinya, beliau memberi kabar terakhir kalau ia akan menemui seorang siswanya yang sedang sakit, tapi sejak pesan terakhir, ia sudah tidak kembali lagi, tepatnya, sudah hampir dua tahun berlalu, apa, beliau sudah,.."


Cody menghentikan ucapannya, berpikir, kalau seandainya pak Richard benar sudah meninggal, harusnya ia kembali sebagai arwah di depannya, tapi, kenapa ia tidak pernah menemuinya?


Dan lagi, waktu yang berlalu sudah selama dua tahun, apa mungkin, ia sudah tidak ada di sana, di mana pun ia berada, memikirkan itu kepala Cody semakin pening, seperti ingin pecah rasanya.


"Ackh!"


Riana segera mendekat.


"Cody, kau ini sudah dibilang jangan berpikir terlalu keras" Riana mendekati meja dan menuangkan air minum ke dalam gelas, mendekati ranjang Cody kembali.


Rio menepuk tangan Cody. "sudahlah kau tidak usah terlalu keras pada dirimu, kami ini khan polisi, itu adalah tugas kami, biar kami yang cari tahu yah, aku akan kembali malam ini yah, istirahat yang banyak karena kami sudah tidak sabar kau untuk kembali ke kantor"


Riana yang mengelus-elus punggung Cody saat pemuda itu minum, ia menatap Rio tajam.


"Memangnya Cody bagian dari team kalian? gara-gara jadi polisi begini khan dia, sudah pergi sana"


Rio dan Tony agak tersentak mendengar suara galak Riana, ia sudah seperti istri Cody yang menjaganya ketat.


"Ich Riana ini kok galak sekali yah"


"Pelan-pelan Cod, sudah jangan pikirkan soal hal lain dulu, tidur dulu yah" Riana menurunkan nadanya saat bicara dengan Cody kembali.


"Ach Ri aku tidak apa-apa kok"


"Ayo tiduran"


Dengan nada yang tegas Riana menyuruh Cody menurunkan tubuhnya dan berbaring, semakin membuat Rio dan Tony tidak berani mendekat lagi, gadis itu, benar-benar seperti singa betina.


Rio masih berdiri di tempatnya tidak banyak bergerak sambil melihat Cody yang perlahan tertidur, Riana masih sesekali menatapnya tajam hingga gadis itu mendekat setelah menaikkan selimut Cody.


"Tunggu apalagi, mau tunggu di usir yah?"


Rio tersenyum "he kau ini Ri, galak sekali sih"


"Iyah kalau bukan karena kalian sering memintanya datang jadi detektif ia tidak akan kena masalah seperti ini, Cody khan hanya orang sipil untuk apa ikut-ikut masalah polisi"


Tony menggaruk kepalanya, gadis manis di depannya memang luar biasa, ia bisa jadi istri yang sangat baik untuk Cody kelak, pikirnya


"hehe Riana ini"


+-+-+-+-+-+-