
.....
Tony mendekati meja Rio membawa buku catatannya, ia sudah berkeliling mencari informasi selagi Rio sibuk dengan urusannya sendiri, tentu saja pekerjaan yang banyak membuat mereka harus kadang berpencar untuk mempercepat hasil.
"Rio, aku dapat kabar dari bagian penculikan, mereka ingin menutup kasus Aneke karena tersangka sudah ditetapkan, dan penculik yang terakhir sudah ditemukan tidak bernyawa di selokan dekat tol"
Rio mengangkat kepalanya, ia melirik Cody yang sibuk dengan laptop di atas meja tak jauh di sampingnya.
Rio menegakkan duduknya.
"Kok tidak ada yang bilang kalau pelaku terakhir sudah ditemukan, aku khan sudah bilang kabarkan padaku"
Tony duduk di depan Rio, menggaruk kepalanya dengan ujung pulpen.
"Yah gimana, aku juga baru tahu waktu berkunjung ke bagian buser, mereka baru menemukan jenazah tak dikenal dan setelah diselidiki ternyata orang itu adalah salah satu anggota komplotan penculik.."
"Bagaimana ia tewasnya?" Tanya Rio memotong ucapan Tony.
Tony membuka buku catatan kecilnya ada di lembar belakang.
"Em menurut otopsi sich diduga karena tabrakan, tubuhnya mental beberapa meter dari lokasi awal tabrakan dan meninggal seketika di tempat, hampir tidak dikenali wajahnya"
Rio melihat wajah Tony sejenak, Tony menelan ludahnya bulat, ia mengerti kenapa Rio selalu marah akhir-akhir ini, kerja keras mereka selalu diselesaikan oleh team lain padahal mereka yang bersusah payah mengumpulkan informasi.
"Lalu, info apa yang kau dapatkan dari keluarga Aneke? Mereka bilang akan menutup kasusnya kenapa memberikan informasi lagi padamu?"
Tony membalik buku catatannya kembali.
"Emm oh yah, menurut keluarga dekat pak pejabat, beberapa bulan lalu pak Erison pernah memanggil beberapa tamu undangan ke rumahnya, lalu ada juga pejabat baru, pejabat lama, ada arisan.."
Laporan Tony mulai membosankan, pikir Rio karena tidak menemukan titik terang apa yang dicarinya.
"Tony Tony, ada yang lebih penting tidak? Pejabat berkumpul bersama pejabat lainnya bukannya sudah biasa yah, buat apa kau kumpulkan informasi seperti itu, aku tahu kau memang agak kesulitan bekerja sendiri tapi kau harus mulai membiasakannya karena pembagian pekerjaan yang ketat hingga kita mungkin akan sering pergi sendiri-sendiri, ayo ada yang lebih penting tidak?"
Tony sampai terdiam mendengar ucapan panjang lebar Rio, seniornya itu memang sedang kesal sepertinya. Pria muda itu jadi agak ragu membalik catatannya lagi karena ia mungkin akan membuat Rio semakin kesal.
"Eh itu.."
Rio bangun dari duduknya, meraih jaketnya dan keluar.
"Ayo, kita cari informasi lagi, kamu ini memang harus banyak latihan, kita ke mana sekarang? Kebetulan aku juga sedang kosong"
"Eh, i itu, ada satu klub di mana mereka sering sekali berkumpul, konon klub itu hanya boleh di masuki oleh anggota-anggota pilihan, namanya emm.. Blue Bag.."
Mendengar itu Cody yang sedang serius dengan pekerjaan di atas laptopnya mengangkat wajahnya ia melihat Tony lama.
"Eh apa tadi namanya?" Tanyanya lagi, Rio jadi semangat saat Cody yang sejak tadi diam bersuara, terlebih pemuda itu sepertinya cukup serius.
"Yang mana Cod?"
Cody berdiri mendekat pada Tony, menunjuk pada catatan di tangan polisi muda itu.
"Tadi nama klubnya, apa tadi? Blue bag?" Ia memastikan.
Tony mengangguk.
"Iyah, nama klubnya, aneh yah, kok ada nama klub seperti itu yah?"
Rio menoleh pada Cody, mencolek lengannya.
"Memangnya kenapa? Kok nanyanya begitu? Kau tahu nama itu?"
Cody menggeleng, tapi ia lalu mengangguk
"Tadinya, aku pikir itu benar-benar tas berwarna biru, karena catatan dari Dian tidak memberikan petunjuk yang jelas, mungkin ia juga kurang tahu"
Rio dan Tony membaca artikel yang tengah dibaca Cody di laptopnya.
"Waktu menyadap pembicaraan seorang informan ada salah satu pejabat yang menyinggung soal Blue bag, dan mengatakan akan mengisinya Sabtu ini di tempat seperti biasa, saat informan ingin menarik info lebih jauh rekan kerja pejabat itu mendekat dan membuat pembicaraan mereka teralihkan, mungkin itu adalah kode, walau apapun menurut informan pejabat itu memang tengah memegang tas besar berwarna biru, tapi, apa yang akan mereka isi?"
Rio menegakkan berdirinya kembali, mengerutkan dahinya dalam.
"Ini, apa, Dian tidak menulis nama pejabat yang ia maksud di jurnalnya? Sepertinya ia semakin dekat dengan pelaku besarnya"
"Yah, itu yang mungkin menyebabkan kenapa Dian menjadi korban mereka untuk menutup mulutnya" lanjut Tony.
Cody duduk kembali di kursinya.
"Iyah, mungkin selama ini ia juga tidak tahu apa arti Blue bag itu, tapi kalau memang benar kalau pak Erison ikut bergabung dengan klub itu, itu artinya beliau mungkin mengetahui masalah ini lebih dari yang kita duga"
Rio mengelus dagunya berpikir.
"Yah, itu juga artinya kalau ia mungkin terlibat secara langsung atau tidak dengan pelaku pencurian organ, heh kasus ini sepertinya semakin membesar"
Tony menggaruk kepalanya kembali, apa, itu artinya ia sudah memberikan informasi yang penting? Memikirkannya membuat ia tersenyum geli sendiri.
"Hehe" ia terlena hingga tak sadar kalau Rio dan Cody sudah meninggalkannya keluar ruangan.
"Hei Tony ngapain lagi di situ? Ayo cepat kita harus jalan sudah mulai gelap nich!" Seru Rio.
"Si siap!" Seru Tony semangat berlari menyusul Rio dan Cody cepat.
*-*-*-*-*
Cody, Rio dan Tony tiba di depan pintu besar sebuah country house, suasana sangat tenang, terlihat beberapa orang datang dan menikmati waktu senggangnya di sana.
Ketiganya sempat dihentikan di depan pintu, namun berbekal identitas Rio akhirnya petugas membiarkan ketiganya masuk ke lobby dengan akses terbatas.
Rio mengamati beberapa orang yang baru datang, kebanyakan tamu yang datang tidak lain adalah orang-orang paling kaya yang duitnya berlebihan dan pejabat yang mendapat sponsor atau semacamnya, kalau tidak orang biasa akan susah menjadi anggotanya.
Blue Bag, salah satu klub yang namanya jarang muncul ke permukaan tapi menurut informan mereka klub itu merupakan salah satu klub terpenting di sana.
Mata Rio, Cody dan Tony melirik beberapa orang berpakaian rapih yang membawa tas biru dengan lambang yang sama, itu pasti anggota klub Blue bag.
Ketiganya hendak mengikuti beberapa orang itu menuju ke salah satu ruangan di ujung lorong.
"Ayo Cod!" Ajak Rio semangat, dua orang pria berpakaian rapih, mereka terlihat seperti pejabat muda, keduanya berjalan masuk menuju lorong yang dijaga ketat dua pria bertubuh besar dengan mudahnya cukup menunjukkan identitas mereka.
Rio sangat bersemangat mengikuti, tapi ketiganya dihentikan tepat di depan lorong oleh petugas keamanan.
"Maaf mana id membernya?" Tanya salah satu pria bertubuh besar, ukurannya hampir dua kali lipat Rio, tidak mungkin melawannya, pikir Rio menelan ludahnya bulat.
"Eh kami bersama yang tadi, kami ini asisten mereka" seru Rio.
Tapi dua pria itu tidak percaya, keduanya masih berdiri di posisi semula menghadang ketiganya.
"Tolong id membernya"
Rio kesal sekali karena dua pria tadi sudah jauh masuk ke dalam, bahkan pintunya tertutup sebelum mereka sempat melihat apapun di dalam.
"Ichh kalian ini.."
+-+-+-+-