
......
Cody tidur dengan tidak tenang.
Keringat dingin terus membasahi wajah, bahkan punggungnya, nafasnya terdengar berat di balik masker oksigennya.
Ia bermimpi buruk.
"Cody" bisik Riana yang terus berada di sampingnya.
Cody menemukan dirinya berdiri di bawah hujan yang turun sangat deras.
Ia bisa melihat sekelilingnya dengan cukup jelas kini. Kapal angkut yang sangat besar, dengan nama yang cukup jelas walau di tengah remang lampu dermaga, Alily, nama kapal besar itu.
Ia berdiri di tengah dermaga dengan tubuh yang sudah basah, dingin, hening, hanya suara air dari langit yang turun seakan semuanya ditumpahkan ke atas kepalanya begitu saja.
Ada terang lampu sorot dari mobil kecil di depannya, terlihat ukurannya yang rendah mobil itu mungkin sejenis sedan berwarna gelap.
Lampunya berwarna putih, seperti kendaraan keluaran baru lainnya.
Ada empat orang berdiri di balik cahaya terang itu, suara tawa mereka, seakan Cody bisa mendengarnya tapi hanya gerak lambat, bahkan beberapa wajah tampak agak jelas di matanya.
Ia hendak bergerak pergi tapi salah satu kakinya tertahan sesuatu, ada yang mengikat kakinya dengan rantai hingga ia tidak bisa melarikan diri.
"Hahahaha!"
"Ia sepertinya sudah bosan hidup, ayolah Richard, buku itu tidak ada gunanya untukmu, alangkah baiknya kalau kau memberikannya pada kami dan kau bisa pergi dari sini dengan bebas" suara seorang wanita.
"Yah ia pikir ia bisa melawan kita semua Yun" suara pria lainnya,
Cody berusaha memperjelas pandangannya, di balik cahaya lampu sorot ia berusaha mengenali wajah-wajah itu, tapi sulit baginya, hingga salah seorang dari mereka mengarahkan senapan laras panjang ke arahnya.
"dooorr!!"
Suara letusannya seolah memecah keheningan malam. Bahkan gemanya masih terdengar, walau hujan yang deras sedikit meredamnya namun Cody bisa mendengarnya jelas hingga berdengung ditelinganya.
Ia jatuh dengan keras ke atas papan kayu, dermaga di mana kanan kirinya yang tampak adalah air, tubuhnya bagai tiang listrik yang disambar petir hingga jatuh tanpa bisa bertahan sedikitpun, sakit yang dirasakan membuat tubuhnya lumpuh tak berdaya.
"Ackh!"
Suara tawa kembali terdengar.
"Hahaha!"
Seakan tak ada habisnya, suara tawa yang menyatu dengan suara hujan seolah hanya itu yang bisa di dengarnya dengan sangat jelas. Cody bahkan masih berusaha menyadari keadaannya hingga tembakan kedua terdengar kembali.
"Dooorr!"
Kali ini, tubuh Cody yang sudah kehilangan topangan nya terjatuh langsung ke dalam air, salah satu kakinya diikat dengan tong kecil yang berat hingga terus menariknya ke dalam dasar air.
"Hah!"
Cody membuka matanya lebar, ia terbangun dan langsung terduduk di ranjangnya.
"Hoh hoh hoh" dikumpulkan nafasnya yang berat.
Riana yang baru menuangkan air panas ke dalam baskom langsung mendekati.
Keduanya langsung tersentak bangun, spontan berdiri dan mendekat ke arah ranjang.
"Ada apa ada apa?"
Cody menatap sahabat-sahabatnya dengan mata bulat besar, seperti habis mengejar atau melarikan diri dengan berlari jauh, dadanya naik turun dengan sangat cepat bahkan mungkin hampir meloncat keluar.
Riana menurunkan dada Cody membantunya berbaring kembali.
"Cody, tenang kau hanya mimpi buruk, eh Her tolong panggil dokter"
Tanpa pikir panjang Hervant berlari ke arah pintu, tapi suara Cody menghentikannya.
"Rio! Heh heh tolong, panggil Rio, aku, tahu di mana.. heh heh pak Richard berada"
Riana, Hervant dan Lukas saling berpandangan sejenak, hingga Lukas mendekati ponselnya yang ditaruh di atas meja tadi.
"Rio, mana nomornya Rio"
*-*-*-*-*-*
^^^"Bayangan, hanya sebuah esensi yang ditinggalkan karena terbentuk oleh cahaya yang menyertainya, tidak akan bayangan, jika tidak ada cahaya..."^^^
*-*-*-*-*-*-
Tony berlari masuk membawa buku catatannya.
"Rio"
Rio duduk di pinggir mejanya sambil berpikir keras, ia harus memutar otak mencari petunjuk lokasi yang dimaksud Cody.
Tony memaparkan hasil temuannya.
"Rio, kapal angkut Alily itu sebuah kapal angkut untuk kontainer, sudah sejak satu setengah tahun lalu berhenti beroperasi karena mengalami kebocoran dan menurut beberapa mekanik yang dulu sempat merawat kapal itu pemiliknya meninggalkan kapal itu begitu saja di salah satu pelabuhan dan tidak mau mengurusinya karena harus bayar segala pajak dan biaya parkir"
Rio menoleh, mengerutkan dahinya.
"Jadi sekarang di mana posisi kapal itu? Tidak mungkin kapal sebesar itu menghilang khan?"
Tony mengangkat pundaknya. Membuat Rio menghempaskan tangannya kesal.
"Heh aneh sekali, kenapa bisa pada tidak tahu"
Tony hanya mengerutkan bibirnya, ia tahu bagaimana Rio sangat percaya pada ucapan Cody dan begitu seksama mencarinya, walau ia tidak tahu pasti, tapi mengenal Rio membuat ia tahu kalau polisi muda itu memang serius dengan ucapannya.
Rio terlihat berpikir keras, mengepalkan tangannya sambil menggigit pinggir bibirnya dengan mata menatap kosong serius.
"Hemh" dan tanpa banyak aba-aba Rio menuju ke mejanya kembali.
"Tony, aku ingat waktu beberapa bulan lalu Cody pernah bilang kalau ia menaiki kapal dari pulau untuk tugas dokumentasi kampusnya, apa kau bisa mencari tahu di mana kapal yang dinaikinya berlabuh? Aku curiga mungkin Cody memang pernah melewati pelabuhan itu dan melihat Kapal besar itu tanpa ia sadari"
Tony berpikir sejenak, Rio bertanya hal yang ia sendiri bingung, tapi mungkin ia bisa mulai mencari tahu, salah satu cara paling cepat, mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Cody, atau teman-temannya.
"Iyah bisa jadi"
+-+-+-+-+-+-