You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Cody Missing!



.......


Malam semakin dalam,


Udara dingin tidak menghalangi Cody yang mengendap di sisi lain gedung rumah sakit, di gedung lama yang sedang dilakukan renovasi.


Dian mengikuti di belakangnya.


"Kau yakin di sini Cod? Em, maaf tapi aku tidak bisa ingat apapun"


Cody menoleh kesekitarnya, jaga-jaga kalau ada yang mengikutinya. Dengan sedikit kewalahan karena kakinya yang masih diperban ia berjalan menelusuri jalan setapak yang sudah basah oleh hujan tadi sore dengan bantuan kruknya.


Sepatu karet putih yang dikenakan Cody sampai kotor sekali karena lumpur di sekitarnya.


Dalam mimpinya ia melihat Dian dan Luisa berlari di lorong, dan anak tangga darurat, ada jendela di tangga darurat itu, Cody mendongak dan memang ada beberapa jendela di sepanjang tangga darurat.


Jaraknya yang cukup jauh dari gedung utama rumah sakit hingga memungkinkan semua aktivitas dilakukan tanpa diketahui orang lain.


Perlahan Cody melangkah kembali, ia harus melihat ke dalam, pikirnya, mungkin, ia akan menemukan jenazah Dian dan lainnya di sana.


"Ayo Dian, kita ke sana"


*-*-*-*-*


Air yang jatuh di atas lembar daun masih perlahan turun menetes ke permukaan tanah, angin dingin berhembus dan membawa beberapa daun yang kecil dan ringan bersamanya.


Lorong rumah sakit mulai didatangi keluarga pasien atau pasien yang rawat jalan walau waktu masih sangat pagi sekalipun, suara keramaian seakan tidak ada hentinya.


Riana duduk gemetar di kursinya.


Rio dan Tony sudah datang sejak subuh saat Riana tidak bisa menemukan Cody di mana-mana.


Rio berdiri di depan beberapa staff rumah sakit dengan wajah emosi.


"Bagaimana seorang pasien bisa tiba-tiba menghilang? Bagaimana dengan cctv? Kenapa semua rekaman semalam bisa hilang tiba-tiba?" Seru Rio kesal kepada beberapa petugas keamanan hingga supervisor yang bertanggung jawab.


Seorang manajer lantai juga hadir di dalam kamar rawat Cody, sudah ada beberapa petugas forensik termasuk Tony yang sibuk mencari jejak di dalam kamar.


Tidak ada sedikitpun petunjuk soal keberadaan Cody hingga saat ini, gardu listrik yang konslet karena hujan deras semalam membuat aliran listrik ke kamera pengawas mati hingga semua rekaman hilang. Saat yang sangat tepat sekali, pikir Rio curiga.


Tony mendekat. Ia mendekat dengan seorang petugas keamanan yang berjaga di pintu bawah semalam.


"Rio, bapak ini bilang kemungkinan Cody menuju ke arah jalan besar, setelah itu ia tidak melihat ia kembali"


Bapak tua dengan usia sekitar lima puluhan itu mengangguk, ia menunjuk ke luar jendela.


Rio menatap pria tua itu sejenak. Pria itu menelan ludahnya, Rio merasakan aneh, nada bicaranya sangat lancar, tapi, ia gagap saat selesai bercerita.


"Anda yakin? Apa bapak lihat wajahnya? Mungkin ia bukan Cody" tanya Rio.


Pria itu mengangguk "yah tidak tahu juga, emm, ada perban di kepalanya, wajahnya cakep, putih, eh.."


Rio menarik nafas panjang, apa mungkin Cody pergi sendiri? Ia tidak mungkin tiba-tiba pergi tanpa kabar, pasti ada sesuatu yang terjadi pikirnya curiga.


Segera setelah pria itu pergi Tony mendekat.


"Rio"


"Aku agak curiga padanya Ton, coba kau selidiki apa benar semalam ia berjaga di lantai bawah atau tidak jam segitu, lalu, kamera cctv mati, di sekitar sini banyak gedung yang memiliki Cctv coba kau lihat di sebrang, kalau benar Cody menyebrang pasti akan terlihat di kamera"


Tony mengangguk "Baik Rio" ia segera beranjak, tapi tangan Rio menahan bajunya menghentikan langkahnya.


"Eh Ton, em, kita punya kasus ini sekarang, aku akan telpon team dan kita sisir lokasi untuk mencari informasi, jadikan ini prioritas kita karena Cody adalah bagian dari kita, aku khawatir, Cody mungkin sudah terlibat sesuatu yang sangat membahayakan tanpa kita ketahui"


Tony mengangguk "pasti Rio"


Hervant dan Lukas yang sudah ada di samping Riana mendekati Rio saat polisi muda itu keluar dari kamar.


"Rio, Cody tidak mungkin pergi tanpa bicara apapun, ia mungkin akan berkeliling sesaat tapi tidak mungkin ia akan menghilang dan membuat semua orang cemas mencarinya, pasti, sudah terjadi sesuatu" ujar Hervant, Rio menarik nafas berat.


"Heh aku juga tidak percaya begitu saja Her, kalian harus tetap tenang, tetap di sini sampai kami menemukan Cody siapa tahu ada yang melihat Cody ke mana, kalau Cody tidak pergi sendiri, kemungkinan ia pasti sudah diculik, tapi, untuk apa?"


Seseorang berdiri di balik dinding. Ia Mila yang matanya membelalak lebar mendengar kabar soal hilangnya Cody, tidak mungkin tidak tahu karena kepolisian sudah membentuk team dan membatasi perimeter, bahkan memeriksa orang yang lewat. Digigit kukunya gugup, jantungnya juga berdebar kencang "oh tidak Cody"


"Apa, mungkin ini berhubungan dengan orang bernama Dian?" Ujar Riana, semua mata menoleh padanya, termasuk Rio yang mengerutkan dahinya.


"Dian? Siapa itu?"


Hervant dan Lukas juga melirik pada Riana.


"Yang Cody bilang arwah yang dlihat di rumah sakit ini?" Tanya Lukas. Riana mengangguk.


"Iyah, belakangan, Cody sangat giat mencari info soal Dian, apa, mungkin ia sudah berhasil, oh Cody" Riana menghentikan ucapannya, takut pikirannya mungkin benar, kalau memang begitu, Cody mungkin dalam bahaya besar.


"Apa, kalian akan mulai memberitahukan ku perihal ini? Kali ini Cody mungkin terlibat hal besar kalau sampai ada yang menculiknya, ini gila, rumah sakit sebesar ini, disaat yang sangat tepat dan Cody menghilang" ujar Rio gemas.


+-+-+-+-+-+-