
........
Lampu jalan menyala otomatis.
Malam datang lebih cepat dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan saja karena hari itu Cody begitu sibuk sejak pagi sampai pukul tujuh malam dan masih di luar rumah, bahkan Lukas dan Hervant sudah menghubunginya berapa kali.
Beberapa orang sibuk mengantri di depan konter di resto cepat saji tak jauh dari kampus, Tony mendekat setelah membawa pesanan makanannya.
Pandangan Cody masih kesekitarnya, ia dan lainnya memutuskan duduk di luar resto untuk menikmati hangatnya udara malam itu, Rio sudah duduk manis di depannya menikmati minuman dinginnya.
Sepanjang trotoar cukup ramai, itu malam Minggu, beberapa pasangan asik bergandengan tangan menelusuri jalan yang lebar di mana di setiap pinggirannya tumbuh tinggi bunga flamboyan yang indah, tempat yang sangat menarik.
Walau mata Cody kerap melihat beberapa sosok yang seharusnya tidak ada di sana, beberapa mata gelap tanpa cahaya yang menatapnya seolah ia adalah benda berkilauan yang sangat menarik perhatian.
Pandangan mata yang sangat menakutkan sebenarnya, hawa negatif yang mereka sebarkan membentuk asap hitam yang mengelilingi arwah terikat yang sudah cukup lama berkelana dan belum mau pergi juga.
Cody sudah biasa, mungkin saat ia masih kecil ia akan bersembunyi di bawah selimut dan tak berani keluar malam walau hanya untuk ke toilet sekalipun, tapi kini ia sudah biasa, malah, yang menakutkan adalah justru adalah manusia yang masih hidup di sekitarnya.
"Cod" sentuhan Rio sedikit mengejutkan Cody, ia menoleh.
"Iyah Rio"
Rio tersenyum, sebenarnya ia agak merasa bersalah mengajak Cody keluar Sabtu itu kalau bukan karena tugas yang tiba-tiba datang.
"Pikirin apa? Cepat dimakan nanti kalau dingin tidak enak lo"
Tony melahap burgernya dengan mulut lebar. Lama Cody masih memperhatikan burger besar yang masih ada dalam bungkusan rapih di depannya, jadi teringat pemuda tadi, yang benar dikenal sebagai Irsan mahasiswa kedokteran semester akhir.
Pemuda itu, bahkan saat menjadi arwah masih terus menikmati makanannya, yang mungkin adalah makanan terakhirnya, ia harusnya kembali ke sana dan mencari tahu bagaimana ia bisa berakhir di atap seperti itu, tapi, ia tidak mungkin ke sana tiba-tiba dan bertanya langsung padanya.
Mengingat hal itu, Cody jadi tidak nafsu makan burger di depannya, hanya menatapnya saja.
"Kenapa? Tidak suka yah?" Tanya Rio.
Cody mengangkat kepalanya.
"Hah?" Tanyanya balik.
"Kau tidak suka burger? Mau pesan ayam saja? Tony tolong pesankan lagi"
Cody mengangkat tangannya menahan Tony saat polisi muda itu dengan mulut masih penuh berdiri dari duduknya.
"Eh tidak usah Ton, tidak apa-apa, lagipula, aku sedang tidak nafsu, aku makannya nanti saja Riana bilang ada masak banyak"
Rio tersenyum lebar melihat wajah Cody saat mengucapkannya "waah ada istri yang masak yah"
Ia dan Tony seketika menjadikan Cody objek pelampiasan di tengah kebosanan dan kecanggungan saat itu.
"Ciyeee Cody"
"Kalian ini bukan begitu, Riana akan marah kalau aku tidak makan masakannya, aku bisa makan dua kali kalau seandainya sekarang makan juga, maaf yah Rio"
Rio mengambil burger di depan Cody.
"Apanya yang maaf, bukan masalah besar Cod, si Tony ini bisa menghabiskan apa saja kok, tenang saja"
Tony menerimanya dengan tangan lebar.
"Tentu donk, perutku masih muat banyak hahahaha"
Cody ikut tertawa melihat wajah Tony yang konyol.
"Hehe sepertinya begitu yah"
"Hahahaha!"
*-*-*-*-*-*-*
Matahari bersinar sangat terang.
Sebuah rumah kecil di ujung jalan, pekarangan yang besar dan ring basket yang dipasang di depan garasi. Pohon rindang yang mengelilingi halaman, tiga anak tangga saat menaiki teras depan, dengan pagar mungil bercat putih dan beberapa tanaman gantung di atasnya.
Seorang wanita sebaya dengan rambut keriting seleher mengarahkan selang airnya yang menyala pada tanaman sekelilingnya, ia tersenyum lebar melihat seorang anak lelaki mungkin usianya sekitar sepuluh hingga dua belas tahun menaiki sepeda barunya mengelilingi jalan setapak depan rumah.
"Selamat pagi Bu!" Seru seorang pejalan kaki, wanita yang menyiram tanaman membalas dengan lambaian tangan.
"Yah pagi!"
Cody berjalan, tak lama berhenti di depan anak kecil yang sibuk mengendalikan sepeda tinggi yang baru dibelikan untuknya sebagai wujud ia telah tumbuh dewasa. Anak itu mengangkat kepalanya, tersenyum lebar melihat Cody di depannya.
"Hai pa!" Seru anak kecil itu melihat Cody, dengan tangannya, bukan telapak tangannya, pikir Cody, ia membelai kepala anak itu seakan sangat menyayanginya "Ben"
Sejenak Cody berdiri di tempatnya, seperti semua kebahagiaan itu terasa sangat nyata, walau, itu bukan perasaannya, ia yakin merasa sangat asing akan situasi saat itu, tapi entah kenapa, perasaan hangat itu menyelubungi dadanya.
"Cod!" Seseorang memanggil namanya, seseorang yang mengenal dirinya, bukan wanita dan anak itu yang seakan lalu tidak menghiraukannya.
"Cody!" Seakan ia tertarik tiba-tiba dengan cepatnya, kembali ke tubuhnya yang kini tengah berdiri di trotoar pejalan kaki di taman pagi hari itu. Tadi itu seperti mimpi, tapi ia tidak sedang tidur sekarang, ini bahkan di tempat umum "eh Ri"
Wajah Riana tampak jelas di depan matanya, sudah memegang tangannya dengan raut wajah cemas karena sejak tadi ia memanggil Cody dan pemuda itu hanya diam saja mematung di sana.
"Cod, kau tidak apa-apa khan? Gak enak badan yah? Mana yang sakit Cod?"
Ingatannya terkumpul kembali, ia ingat sejenak lalu ia dan Riana berjalan bersama menikmati udara pagi, tapi kenapa, ia begitu jelas melihat semuanya tadi, apa itu hanya ilusi saja? Atau, ia benar-benar sudah hilang akal?
"Akch" di pegang telinganya, dengung itu kembali datang dan semakin kuat, seakan ingin menghancurkan gendang telinganya.
"Cody kau kenapa? Cod" Riana sangat cemas hingga berusaha menahan tubuh Cody yang membungkuk menahan sakit, beberapa mata pejalan kaki lain melihat mereka.
"Cod!"
Riana makin panik saat melihat darah keluar dari telinga Cody.
"Cody!"
*-*-*-*-*-*-*
"Crip crip, crip Crip"
Burung Pipit mendarat di dahan pohon yang lebat, di paruh kecilnya beberapa ranting mengering yang dikumpulkan untuk memperbaiki sangkarnya setelah semalaman rusak di terjang hujan. Angin yang berhembus pelan seakan membuat dahan pada pohon besar di depan rumah sakit pusat bergoyang lembut bak tubuh penari yang gemulai.
Masih pagi, pukul sembilan dan matahari sudah bersinar sangat terang membawa hawa yang semakin hangat bersamanya.
Riana dan Cody duduk di ruang tunggu bersama puluhan pasien lain.
Riana terus menempel pada Cody dengan wajah cemas, tubuhnya sangat dekat hingga tak melepaskan pegangannya pada tangan Cody sejak tadi.
"Ri, jangan nempel gitu gak enak dilihat banyak orang"
Cody berusaha melepaskan pegangan gadis manis itu, tapi Riana seakan tidak perduli dengan apapun yang orang lihat, ia sangat cemas hingga jantungnya mau meloncat keluar saat melihat Cody tidak berdaya, ia bahkan belum pulih dari shocknya, matanya masih sedikit berkaca-kaca, ia memang cengeng, pikir Cody.
"heh"
Ponsel di dalam saku celana Cody bergetar, nama Charlie muncul.
"Hai Char"
Charlie berdiri di depan jendela salah satu rumah sakit swasta besar di sisi lain kota.
"Kenapa kau masih ke sana, khan aku sudah bilang kalau aku pindah, kau tidak apa-apa khan? aku kaget lihat Riana telpon pagi-pagi saat aku masih ada tugas jaga"
"Bukan masalah apa-apa Char, Riana saja yang cemas, sebentar lagi juga pulang, hanya ambil vitamin saja kok" jawab Cody.
Mata Cody melihat sekitarnya, rumah sakit pusat yang selalu ramai didatangi pasien bahkan di pagi hari demikian, sesuatu yang cukup dikenalnya mengalihkan pandangannya, berdiri di pojok dekat dengan pintu keluar, seorang wanita muda, di tangannya menggandeng seorang anak gadis, menatap lurus ke arahnya.
Sejenak jantung Cody berdebar kencang, hingga ponsel jatuh dari pegangannya.
"Ach"
"Cody, kau kenapa lagi?" Cemas Riana, ia berdiri cepat hendak dihentikan salah seorang perawat yang lewat. "eh maaf mba.." tapi tangan Cody menghentikannya.
"Tidak usah Ri aku gak apa-apa kok"
Di antara keramaian pasien seorang dokter wanita yang baru hendak memasuki ruangannya berhenti, agak jauh di depan Cody, ia mengenalnya, membuat gerakannya berhenti dan melihat Cody dari tempatnya.
"Makanya Cody harus banyak makan, setiap kali makannya sedikit doank sih, jadi dech gampang sakit" seru Riana.
"Heh mungkin juga karena sering bermimpi aneh Ri, ayo ach kita pulang, sudah selesai belum?"
"Gara-gara orang bernama Richard itu, Cody jadi susah begini"
Dokter wanita yang tak lain adalah Yunita membelalakkan matanya lebar, sesuatu dalam ucapan Riana tadi mengejutkannya, ia membuka pintu dan masuk ruangannya cepat saat Cody dan Riana sempat melihat ke arahnya..
"Bukan karena itu juga Ri, akhir-akhir ini khan juga banyak kerjaan, ayo masih ada tugas kuliah nich harus dikerjakan"
Riana berdiri menghampiri apotek.
"Iyah iyah tunggu sebentar Cod"
Sejenak, dokter Yunita berdiri di belakang pintu, wanita sekitar empat puluhan tahun itu terlihat gelisah, sesekali menggigit jarinya, sedikit gemetar dikeluarkan ponselnya, masih ingat wajah Cody pemuda yang walau hanya bertemu sekali cukup membuat lututnya lemas.
"Ayo kita pulang, aku akan masak sup ayam untuk Cody" seru Riana merangkul tangan Cody makin erat.
"Ri kamu berat tahu" protes Cody.
+-+-+-+-+-+-+-
House with White Fence