You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Body For Sales



......


Dingin.


Hal pertama yang terasa saat perlahan inderanya kembali. Suara monitor ekg seperti ada di rumah sakit, ada suara lain, perlahan juga terdengar samar.


"Detak jantungnya normal, tapi tekanan darahnya sangat rendah, kami akan terus memantaunya hingga besok malam, kalau kau tidak menemukan pembeli yang terakhir kemungkinan kami akan langsung memanennya dengan sedikit kerugian" suara itu, suara yang cukup dikenalnya.


Cody berusaha membuka matanya. Silau, cahaya lampu di atasnya sangat terang hingga membuat matanya sakit. Bayangan itu terus bergerak tak bisa membentuk dengan jelas, ia gamang.


Cody tidak bisa bergerak, tabung infus mengantung di sampingnya, dua kaki dan tangannya seakan lumpuh, ia mungkin dalam pengaruh obat, atau mungkin hanya mimpi, pikir Cody berusaha memantapkan pikirannya, mengumpulkan fokusnya tapi tidak bisa.


"Oh"


Suara obrolan berhenti. Ini, mungkin hanya mimpi, pikir Cody tak bisa menolak saat matanya sangat lelah sekali.


Tapi, seseorang merunduk ke arahnya. Tersenyum lebar padanya, samar, Cody seperti mengenali wajah itu, walau pandangannya tidak jelas tapi sesaat ia bisa melihatnya jelas.


"Hai Cody, kau sudah bangun, tambahkan obat tidurnya, ia harus banyak istirahat untuk operasi besarnya" seru orang itu.


Operasi? Pikir Cody, apa yang terjadi padanya? Kenapa ia harus menjalani operasi? Ia berusaha bicara, tapi suaranya tidak bisa keluar, selang oksigen sudah menempel di hidungnya, lagi, apa ia jatuh?


Atau kondisinya bertambah parah? Kenapa ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.


Dokter itu, dokter Dody menegakkan berdirinya, memasukkan isi jarum suntik yang diterimanya dan menghabiskan dalam selang infusnya.


"Heh"


Dokter itu merunduk kembali, tersenyum dan merapihkan rambut depan Cody.


"Tidurlah kembali, kau ini spesial Cody, biasanya, mereka akan pergi dengan cepat, kami tidak perlu susah payah menunggu, tapi, kau lain Cod"


Suara dokter itu kian menggema dalam telinga Cody, ia mungkin akan tidur kembali, apapun obat yang diberikan dokter itu tapi ia benar-benar lelah sekali sekarang, walau sekuat apapun ia mencoba membuka matanya.


"Tunggulah sebentar lagi anak manis, saat semua orang berkumpul, organ tubuhmu yang sangat berharga bernilai empat kali lipat dari biasanya"


Hingga semua suara pun hilang, menenggelamkan Cody dalam hingga tidur yang sangat dalam.


*-*-*-*-*-*


Di dalam kamar.


Dian berusaha mendekati Hervant dan terus berteriak padanya, tapi sangat tidak mungkin pemuda itu dan teman-temannya mendengarnya,


"Haloo! Kalian harus segera menolong Cody! Ayolah!" Seru Dian.


Lukas dan Riana duduk di atas sofa, masih di kamar rawat Cody, pihak rumah sakit sejauh ini cukup bekerja sama membantu penyelidikan karena bagaimanapun Cody menghilang di rumah sakit mereka.


Hervant yang baru membeli makan siang untuk mereka berhenti di depan Lukas dan Riana.


"Rio bilang tidak ada petunjuk Cody meninggalkan rumah sakit dari kamera cctv cafe di sebrang, sepertinya Cody mungkin masih di rumah sakit, hanya entah di mana saat ini" ujar Lukas pada Hervant yang mendekat.


"Heh ia bisa ada di mana? Kakinya masih sakit begitu, heh anak itu apa lagi yang ia lakukan hingga membuat dia dalam bahaya seperti ini, seperti biasa ia senang sekali melakukan semuanya sendiri"


Riana mencoba tenang, saat ini ia harus tetap tenang, semakin banyak yang berpikir logis semakin ia bisa membantu. Ia berdiri dari duduknya, seperti mengingat sesuatu.


"Ri, kau mau ke mana?" Tanya Hervant melihat Riana hendak pergi.


"Aku, akan cari tahu soal Dian, mungkin, eh pasti ada yang kenal khan, em Eni, perawat itu, ia pasti tahu sesuatu" segera Riana menyambar tasnya di atas sofa dan menuju ke pintu. Hervant melirik pada Lukas.


"Luk temani Riana, jangan sampai ia berbuat aneh"


*-*-*-*-*-


Mila berdiri di depan meja dokter konsultan, tertulis plat nama di atas meja dokter Yunita. Ia menggigit kukunya gugup hingga menoleh cepat saat pintu dibuka dari luar.


Dokter Yunita melangkah masuk dengan seorang perawat di sampingnya.


"Jadwalkan untuk pertemuan selanjutnya, keluarganya ingin ia menjalani operasi itu, jadi ia butuh dibujuk" seorang perawat muda di sampingnya mengangguk sambil menandai laporan di tangannya.


"Baik dok"


Dokter Yunita menghentikan langkahnya saat melihat Mila sudah berdiri di depan mejanya. Wajah gadis itu seperti cemas, mata bulat besar melihat ke arahnya.


"Ku kira cukup untuk hari ini, aku ada janji sore ini jadi jadwalkan pasien lain untuk besok saja yah, terima kasih Din" perawat itu mengangguk, ia lalu beranjak keluar pintu, menutupnya dari luar.


"Di di mana Cody?" Tanya Mila tiba-tiba pada dokter Yunita. Dokter itu menoleh ke pintu, cemas kalau orang lain mungkin akan mendengarnya, tapi pintu sudah ditutup rapat.


Dokter itu menarik tangan Mila menjauh dari pintu.


"Kau gila? Aku sudah bilang jangan masuk ruangan ku sembarangan kau ingin orang mulai curiga?"


Mila menarik tangannya dari pegangan dokter itu, air mata sudah membasahi pipinya hingga maskara di bawah matanya luntur.


"Di mana Cody? Kau sudah janji tidak akan melukainya sementara aku mencoba mencari informasi darinya, kau sudah janji!"


Suara Mila semakin keras, tidak bisa menahan isaknya.


Dokter Yunita menyeringai.


"He, lucu, kenapa aku tidak ingat kapan aku berjanji yah? Kau sudah diberi waktu untuk mengorek keterangan darinya tapi kau banyak membuang-buang waktu dengannya tanpa hasil, anak itu sejengkal lagi menemukan semua hasil kerja keras semua orang bahkan kau akan sangat dirugikan kalau sampai semua ini terbongkar"


"Aku tidak perduli!" Suara Mila keras menghentikan ucapan dokter Yunita, dokter itu duduk di kursinya dengan tenang, mengambil beberapa dokumen melihatnya dengan santai.


"Pembeli sudah hampir delapan puluh persen, menjelang tengah malam anak itu akan menjadi seperti lainnya, dan organ tubuhnya.."


"Hentikan! Ku mohon hentikan! Hiks hu" Mila menutup telinganya rapat, ia memejamkan matanya dan berharap semua mungkin hanya mimpi. Diturunkan tubuhnya, jatuh bertumpu pada lututnya di depan meja dokter Yunita.


"Ku mohon, huks jangan dia, jangan Cody, ku mohon sekali ini, lepaskan dia, ku mohon, aku akan membawanya pergi, aku akan membuat ia menghentikan semua yang ia kerjakan sekarang, ku mohon jangan dia, ku mohon"


Dokter Yunita menahan nafas sejenak, ia terlihat sangat kesal hingga berdiri dari duduknya dan mendekati perawat muda itu.


"Kau gila? Apa kau sudah tidak berpikiran waras lagi sekarang? Kau tidak mungkin bisa menghentikannya, kau tahu betapa berharganya nilai jual organ tubuh dengan darah selangka itu? empat kali lipat harga normal, bahkan ada beberapa orang yang menawar organ yang sama, he kau ingin pensiun khan? Setelah ini kau bisa pensiun, uangmu lebih dari cukup untuk berapa lama"


Mila mengangkat kepalanya, diangkat tangannya meraih tangan dokter Yunita, memohon padanya.


"Jangan Cody, kumohon lepaskan dia, ku mohon, ma"


Dokter Yunita menatap Mila dengan mata lebar, hingga dihempaskan telapak tangannya keras ke pipi Mila "prakk!"


Mila terjatuh terduduk, rasa sakit di pipinya yang sudah merah bahkan tidak terasa sedikitpun, yang ada hanya ada sakit di dadanya. Ia terus terisak memikirkannya, apa yang sudah ia lakukan?


"Huks ma, ku mohon, lepaskan Cody"


Dokter Yunita berdiri.


"Jangan bercanda lagi! Semua ini bukan keputusanku saja, anak itu tidak ada keluarga jadi tidak akan ada yang mencarinya, kau harus mulai menganggap semua ini tidak ada, biasakan dirimu!"


"Ma ku mohon!!"


+-+-+-+-