
.............
Gelap malam.
Hujan turun sangat deras.
Tidak ada cahaya berlebihan di sekitarnya, hanya sedikit pancaran lampu dari tiang tinggi menyerupai Mercu suar, Cody menemukan dirinya berdiri entah di mana, basah, kedinginan.
Samar terdengar suara bel angin dari kejauhan. Ia berdiri di atas papan kayu, saat pandangannya mulai jelas ia menemukan dirinya berada di tempat menyerupai dermaga, angin berhembus keras membuat tubuhnya sedikit bergoyang.
"Hallo!"
Serunya, ia sendiri di sana?
Tapi apa yang ia lakukan? Di mana ini? Pikirnya kebingungan, air hujan yang turun deras bahkan terasa menusuk mata dan wajahnya, hawa dingin membuat ia tidak bisa banyak bergerak karena menggigil.
Ada beberapa kapal dari yang besar hingga kecil berlabuh tak jauh dari tempatnya berdiri, samar saat ia berputar juga tampak beberapa tumpukan peti kemas agak jauh di depannya, gudang besar tak jauh di lapangan, cahaya terang dari lampu sorot sebuah kendaraan yang seketika ditujukan ke arahnya.
"Halo, eh maaf, tapi.." kendaraan itu menyerupai sebuah sedan, berukuran lebih besar dari sedan biasanya, warnanya mungkin hitam, entahlah, pikir Cody karena lampu sorot membuat ia tidak bisa melihat jelas melaluinya, Cody berusaha melangkah mendekat, namun baru selangkah.
"Doooor!!"
Suara letusan senjata api, sejenak, Cody tidak bisa merasakan apa-apa, hingga ia jatuh terduduk.
"Ackkh!" Lutut kirinya sakit bukan main, seperti sesuatu menembus tulangnya dan meninggalkan dengung hingga sekujur tubuhnya, tak lama ada suara tawa begitu mengerikan dari arah kendaraan, dua, tiga orang mungkin, masing-masing berlindung di balik payung hitamnya yang lebar, keluar dari bayangan dan berdiri di depan sedan, semua menertawakannya.
"Hahaha!!"
Tak lama tembakan kedua terdengar.
"Door!!"
Suaranya sampai bergema di tengah gelapnya malam.
Tubuh Cody yang bagaimanapun berusaha tapi tak mampu bertahan hingga terjatuh dengan begitu mudahnya ke dalam air.
"Byuurrr!"
Tak ada lagi suara, saat sejenak lalu ia masih mendengar suara tawa orang-orang itu seakan merayakan tumbangnya, ia jatuh dan terus meluncur ke dalam air dengan ringannya.
Cody berusaha menggapai kakinya melepaskan pemberat yang membuat ia jatuh semakin cepat, tapi tidak bisa, peluru menembus tempurung lututnya hingga seakan darah yang keluar berbaur menjadi air yang semakin keruh, sangat berat, namun walau bagaimanapun ia harus berusaha menggapai permukaan.
"Eulp!"
Cahaya itu semakin jauh, kedinginan menusuk hingga ke dalam tulangnya, tak butuh lama hingga tak terasa apapun lagi, tidak ada suara, hanya hening, sepi, seakan semua panca inderanya mulai lumpuh.
Saat ia menoleh ke bawah, muncul sosok-sosok menyeramkan, dengan tangan-tangan panjang menggapai dan wajah-wajah gelap, seperti pria dan wanita dewasa berwajah gelap tanpa cahaya, menggerayangi tubuhnya, seakan menariknya.
"Eulp!"
Mereka terus menahannya, menggerayangi tubuh dan kakinya hingga ia terus jatuh ke dalam air yang gelap, walau sekuat apapun Cody berusaha menahan tapi ia tidak bisa, mereka terlalu kuat.
"Blukkk"
Ia menelan air terlalu banyak, nafasnya habis.
Cahaya di atasnya perlahan menghilang, tidak ada lagi gerakan, ia hanya membiarkan tubuhnya pasrah terus tertarik hingga ke bawah air yang sepertinya tidak berdasar, sekilas, semua bayangan kehidupan muncul di kepalanya, tapi, itu bukan hidupnya, bayangan itu, bukan dirinya.
"Hah!!"
Cody terbangun di ranjangnya,
ia terengah-engah, keringat membasahi wajah dan tubuhnya, seperti habis berlari jauh jantungnya masih berdetak sangat kencang, dan belum juga semua berakhir suara dengung itu muncul kembali.
"Ngguuungg"
"Ackhh!"
Hervant sudah berdiri di depan pintu kamar, cahaya matahari masuk menembus tirai dan Cody masih terduduk di ranjangnya menahan sakit di telinganya.
"Cody, kau kenapa?" Hervant mendekat.
Cody merintih kesakitan, saat diturunkan di telapak tangannya ada sedikit darah segar.
"Cody kau berdarah"
Setetes darah keluar dari telinga kirinya, dan sakitnya semakin tidak tertahankan.
"acckkh"
*-*-*-*-*-*-*
Markas besar polisi.
Di lorong salah satu divisi yang ruang kerjanya terletak di bagian belakang ruang administrasi yang begitu ramai, tidak dengan ruang kerja yang terlihat lengang hampir seperti tidak ada kehidupan, bagian crime scene unit team A.
Gus membaca laporan yang diberikan Rio, baru saja rapat singkat mereka selesai dan Tony masuk dengan membawakan makanan siang pesanan semua orang, ia detektif muda yang baru bergabung minggu lalu ke team Rio dan sangat bersemangat tinggi, masih baru, pakaiannya rapih dan lengkap dengan tanda pengenal yang masih mengkilap.
"Berapa banyak cabenya?" Tanya Rio saat Tony menggeser kotak makanan pesanannya ke depannya, menyusul jus jeruknya.
"Katamu yang paling pedas, sepertinya banyak sekali saya lupa menghitungnya"
Rio mengambil jusnya duluan.
"emm segarnya, thanks Ton"
"Jadi korban semalam, Deni, itu masih ada hubungan keluarga dengan korban yang dulu ditemukan di lapangan rumput itu, siapa tuh, Herman" ujar Gus membalik lembar demi lembar laporan dari timnya.
Rio mengangguk
"Ternyata menurut teman sekantor mereka, dulunya Herman itu pernah kerja di sana, sudah berhenti kurang lebih dua tahun lalu, beliau merekomendasikan Deni karena saat itu keponakannya itu baru selesai kuliah, cukup kebetulan yah"
"Yah ini bukan kebetulan namanya, pasti ada hubungannya khan, kenapa keduanya menjadi korban pembunuhan misterius, dan kenapa ada banyak berlian yang ditemukan, dan yang lebih aneh lagi, kenapa Cody bisa tahu? Anak itu jeli sekali yah" pikir Gus sambil mengelus dagunya.
Rio mengangkat pundaknya.
"Tidak mengerti juga" dilebarkan dua tangannya dan menyilangkannya di belakang kepalanya.
"Semakin menarik, dan para pelaku juga sangat hati-hati, sedikitpun tidak ada jejak, heh, sepertinya harus selalu kerja lembur"
Rio menoleh pada Tony yang baru membuka mulutnya menikmati mienya, saat menyadari Rio melihatnya demikian ia kontan berhenti.
"Kenapa Rio?"
"Buruan makannya, kita akan ke-TKP setelah ini"
Wajah rookie itu berubah, ia jadi lebih bersemangat "benar nich? Serius Rio?"
Ia melirik Gus juga bosnya, Gus mengangguk.
"Iyah, memangnya mau di belakang meja terus"
Tony langsung berdiri,
"Ayo! Sekarang aku sudah siap!"
Padahal ia belum sedikitpun menikmati makanannya, gantian Rio yang hampir tersedak saat mie sudah ada di mulutnya.
"Ich anak ini" Rio menatapnya tajam,
Gus tersenyum geli "hehe semangat sekali, makan dulu Ton, kau bisa pingsan nanti malah memalukan"
Tony duduk kembali, digaruk kepalanya malu "hehe Iyah, maaf pak, setelah makan yah"
*-*-*-*-*-*-*-*
Charlie mendekati Cody yang duduk di ruang tunggu,
"Hasil tes belum keluar tapi seperti biasa tidak ada masalah besar"
Cody menoleh, Hervant buru-buru mengantarnya ke rumah sakit setelah sakitnya belum juga reda, disusul darah dari telinganya yang belum berhenti, dan sekarang ia seperti tidak merasakan apapun, sakit atau darah apapun tidak adalagi semua seperti tiba-tiba menghilang.
Disenderkan kepalanya ke bahu kursi di belakangnya,
"Apa karena mimpi itu yah? Mimpinya, seperti nyata sekali Char, aku bahkan bisa merasakan sakitnya, seperti mengalaminya sendiri, apa, aku mulai stress yah, seperti beberapa orang yang punya kemampuan mistis menjadi gila karena sering melihat hal-hal aneh"
Charlie menepuk pangkuan Cody, ia tersenyum "he apa kau mau seperti itu? Ini aneh sekali khan karena kau bukannya melihat dan berkomunikasi dengan mahkluk lain baru sekarang saja khan, sejak kecil juga sudah bisa khan"
Cody berpikir, benar apa kata Charlie.
"Iyah sich, lalu, ini apa donk Char? Heh semua semakin aneh"
"Apa, kau tidak berpikir, ini seperti arwah yang sering datang dan meminta tolong padamu khan? Datang dan pergi, tanpa meninggalkan jejak?"
Cody menoleh, matanya membuka lebar seperti baru menyadari sesuatu, ia berpikir keras.
Hervant mendekat setelah selesai mengurus administrasi. Mengerutkan dahinya saat Cody menatapnya aneh.
"Kenapa Cod? Char?" Tanyanya.
"Emm, apa, mungkin kalau aku, kesurupan yah Her?"
Hervant diam, ia hendak tertawa tapi sepertinya Cody serius dengan ucapannya.
"Eh, ini, serius Cod, mana mungkin kau kesurupan, sejak kecil kamu tuh paling anti kesurupan khan, ingat tidak saat semua orang kesurupan dan hanya kau yang sama sekali tidak diganggu sedikitpun, kau itu medium, kalau ada yang mengganggumu maka para arwah itu akan rugi" seru Charlie.
Hervant dan Charlie saling berpandangan, keduanya saling menggeleng dan mengangkat pundaknya tak mengerti dengan ucapan Cody.
"Tidak tahu"
+-+-+-+-+-+-+-
Dream.