
........
Udara pagi yang sangat cerah, Cody dan lainnya sudah menanjak naik ke arah puncak di waktu masih sangat pagi, sejak pukul lima tadi.
Matahari tepat bersinar di pinggir tebing, tidak sia-sia perjuangan mereka naik walau dengan kadar oksigen yang semakin menipis.
Lukas paling depan, ia paling semangat, menyusul Hervant dan Cody di bagian paling belakang, bukan tanpa alasan, ia menunggu Riana yang jauh tertinggal.
Gadis itu terengah-engah, ia sudah hampir kehabisan nafas.
"Hoh hoh hoh aduh, ini sudah sampai belum, aku mau pingsan rasanya" gerutu Riana.
Cody mengerutkan dahinya, ia sudah sangat kesal karena Riana memaksa ikut tadi, sedang ia tahu gadis itu pasti akan jadi beban karena ia kerap mengeluh sepanjang jalan.
Diambil ransel dari punggung Riana yang berat.
"Sini ranselmu, tadi khan sudah bilang tidak usah ikut, sudah gitu mau ikut bawa barang banyak begini, memang kita mau tinggal berapa lama?"
Riana menjatuhkan dirinya duduk, sejengkal lagi menuju puncak tapi ia benar-benar sudah kelelahan.
"Aduh Cody, ini khan makanan untuk kalian, kalau lapar di jalan bagaimana? Kata Charlie Cody tidak boleh telat makan, kalau gula darah turun bisa pingsan, lalu kalau Cody pusing bagaimana? Khan masalah"
Cody tahu Riana hanya mencemaskannya, tapi semua sudah melebihi batas, ia berjalan kembali meninggalkan Riana yang masih sibuk mengumpulkan nafasnya.
"Heh dasar cewe ini, memangnya aku anak kecil semua harus diawasi, buat apa lagi kau selalu mendengarkan kata Charlie" sambil menggerutu kesal Cody pergi.
"Achh Cody tunggu!" Seru Riana yang mau tidak mau menyusul Cody, walau tubuh lelah tapi demi pemuda itu gadis itu rela lakukan apa saja.
"Cody tunggu!"
*-*-*-*-*-*
Waktu makan.
Menjelang tengah hari dan mereka sudah kelaparan, harus diakui keteguhan Riana membawa makanan jadi sangat membantu, mereka bisa menikmati makan siang mereka sesaat setelah tiba di puncak.
"Waah ini enak sekali RI, tidak sia-sia kau bawa berat-berat dari bawah" puji Hervant,
Riana tersenyum paling lebar, seakan piknik di taman, ia membawa makanan lengkap, roti lapis tuna, kesukaan Cody, sup kacang merah, untuk Cody, sup ayam jamur, juga untuk Cody, roti panggang asin, untuk semuanya, tapi terutama, untuk Cody.
Gadis itu tersenyum lebar sambil menyodorkan mangkuk berisi sup yang disodorkan pada Cody, selelah apapun, sesulit apapun semua buyar saat melihat Cody menikmati makannya, ini yang benar dinamakan cinta, pikir Riana yang tak merasa keberatan sedikitpun.
"Ini, sup kacang merah, Cody harus banyak makan makanan sehat, kata Charlie tidak boleh kurang dan.."
"Charlie itu bawel sekali" potong Cody, sebenarnya Lukas dan Hervant tahu kalau sebenarnya Cody ingin meledek Riana juga, tapi ia tidak mungkin membuat Riana sedih karena ucapannya, gadis itu begitu tulus padanya, apapun akan dilakukan untuknya.
"Hehe memang, Charlie yang bawel seperti nenek-nenek"
Melesat ke rumah sakit pusat di tengah kota, di ruang kerja Charlie.
"Hattchie! Hattchie!!"
Ia tidak berhenti bersin "kurang ajar, ada yang mengataiku sepertinya"
Kembali ke puncak gunung.
Saatnya turun, memang bukan hal yang menyenangkan, pikir Riana, kenapa mereka susah-susah naik kalau untuk turun lagi cepat, gerutunya, ia membereskan bawaannya dan menumpuk semua dalam ranselnya, dan sangat menyebalkan lagi, pikir Riana saat ia hendak ke toilet dan tidak leluasa di sana, ia harus berjalan agak jauh ke rerimbunan semak-semak dan melakukan aktivitas biologisnya.
"Dasar orang-orang kurang kerjaan, sudah capek-capek naik tapi mau turun lagi, sebel"
Ia selesai ke toilet, dan bersiap berkumpul bersama lainnya untuk turun, tapi, sesuatu membuat langkahnya terhenti, ada suara di semak-semak membuat ia takut untuk menoleh, apa, ada yang menintipnya tadi?
"Eh haloo, a ada orang di sana?"
"Riana diam di tempat!"
Saat itu Cody sudah berdiri beberapa langkah agak jauh di depan Riana yang berdiri membeku, ia tidak berani bergerak, tatapan Cody membuatnya cemas.
"Co Cody, a ada apa? Jangan bercanda"
Hervant dan Lukas mendekat dari belakang, "Cody ada apa?"
Perlahan, selangkah demi selangkah Cody mendekati Riana.
"Diam di tempatmu, biar aku yang maju yah"
Riana melirik pada Lukas, yang juga melihatnya dengan was-was.
"Luk, ada apa? Kalian sedang mengerjaiku khan? Jangan bercanda donk kok serius banget nich aku takut"
Lukas mengangkat tangannya.
"Ri, jangan panik yah, seperti kata Cody tetap diam di tempat yah"
"Lukas!" Seru Riana.
"Ada ular di belakang sebelah kirimu Ri, jadi sebaiknya kau diam yah, jangan sampai ularnya menyerangmu karena kau panik" lanjut Lukas.
Benar saja, ada seekor ular kecil dengan warna agak kehijauan di belakang sebelah kiri Riana, sejajar dengan pundaknya, ular kecil yang terlihat berbahaya dengan posisi siap menyerang, Cody menoleh ke sekitarnya, siapa tahu bisa menemukan ranting atau apapun yang panjang untuk menyingkirkan ular tersebut.
"Cody mau apa? jangan mendekat kalau ada ular khan bahaya" cemas Riana, Cody tetap bergerak selangkah demi selangkah pelan, walau bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan Riana dalam bahaya.
"Tenang di tempatmu Ri, aku akan mendekat yah"
Riana panik, dengan sifat Cody yang ia tahu ia yakin Cody akan lakukan apa saja tanpa melihat itu bahaya atau tidak, ia tidak bisa membiarkan itu, lebih baik ia yang terluka dari pada Cody.
"Cody jangan mendekat"
Cody menghentikan langkahnya, Riana mungkin akan berbuat konyol kalau ia tidak berhenti.
"Ri aku hanya akan menyingkirkan ularnya"
Riana berkeringat dingin, ia berusaha menoleh, sedikit demi sedikit sangat perlahan.
"Ap apa, ularnya galak?"
Semua menahan nafas, Riana mungkin akan berhasil menghindar sendiri, tapi..
"Krekk!!" Ada suara dari arah semak membuyarkan konsentrasi semua orang, bahkan Riana yang terkejut dan seketika berlari panik.
"Akchh!"
Gadis itu berlari cepat ke arah Cody yang beberapa langkah di depannya, Cody yang fokus pada ular itu segera menghampiri Riana cepat, memeluknya tepat saat ular kecil itu menyerang ke arah keduanya.
"Ri!"
Semua terjadi begitu cepat, bahkan Hervant dan Lukas baru menyadari apa yang terjadi saat Cody dan Riana sudah terjatuh di depan mereka.
"Cody!"
"Riana!"
Seru keduanya bersamaan.
+-+-+-+-+-