
........
Bukan ide yang bagus, untuk klub yang legal seperti itu tidak mudah bagi seorang yang bukan anggota walaupun itu adalah polisi seperti Rio untuk bisa masuk ke dalamnya.
Ketiganya sudah berdiri di luar country klub, wajah Rio kesal sekali hampir menendang tanaman yang ada di dekat kakinya.
"Kurang ajar, harusnya kalau tidak ada yang disembunyikan mereka mengijinkan kita masuk? Semua semakin mencurigakan, Tony! ajukan surat perintah kita harus bisa masuk ke dalam dan menyelidiki apa hubungannya dengan kasus kita"
Tony gagap, tiba-tiba Rio memintanya.
"Eh surat perintah Rio? Tapi, eh kita ada bukti apa? Maksudnya, jaksa tidak bisa memberikan surat perintah seenaknya tanpa dasar khan, mereka pasti minta bukti atau apa gitu semacamnya.."
Rio menarik nafas berat, ia tahu hal itu, menyebalkan sekali pikirnya, dilihat Cody yang melihat sekelilingnya seksama kemudian maju dan menarik tangan Cody pergi.
"Ayo Cod, kita kembali ke markas, lihat apa lagi yang ada dalam jurnal milik Dian"
Cody gagap saat Rio menariknya tanpa aba-aba.
"Eh Rio, kita memangnya sudah selesai yah?"
Tony mengikutinya.
Ketiganya menuju ke lapangan parkir.
"Sudah, kita juga tidak akan dapat apa-apa di sini, cari petunjuk lagi di jurnalnya Dian siapa tahu kita melewatkan sesuatu, ayo cepat"
"Rio tunggu ach" protes Cody tanpa bisa menolak.
Moncong kamera panjang mencuat dari jendela mobil hitam, mengikuti setiap langkah Cody dan lainnya keluar dari country house.
"Klik klik "
Setiap langkah hingga tiga pemuda itu menuju ke kendaraan mereka.
Cody menurunkan tas dari pundaknya sambil merunduk masuk kendaraan Rio.
"Kita tidak lanjutkan tempat lain saja? Masih ada beberapa petunjuk lokasi di jurnal Dian"
Rio menghidupkan kendaraannya.
"Sudah kembali dulu, aku traktir makan dech"
*-*-*-*-*
Pemuda itu duduk agak jauh darinya, melambaikan tangannya ke atas dan melemparkannya senyumnya yang paling indah. Entah apa yang dipikirkan Cody saat mendekatinya, tapi yang jelas hatinya merasa sangat hangat melihat wajah cerahnya, ia tidak bisa membentuk wajah itu dengan jelas tapi cukup melihat senyumnya saja ia seperti sangat mengenalnya. Cody mendekat, duduk tepat di samping pemuda di kursi yang memang sengaja disisakan untuknya. Suasana cafe, atau mungkin bar cukup ramai, walau begitu suara keramaian apapun tidak terdengar oleh Cody, hanya suara senyum pemuda di depannya kini seakan seluruh dunia ada padanya.
Pemuda itu menepuk tangan Cody yang ada di atas meja bar. Perasaan itu tidak bisa digambarkan dengan apapun, seperti melihat keindahan yang sangat menyejukkan jiwa, perasaan yang tenang, kehangatan dan bahagia hingga seakan tertawa dalam hatinya, udara yang dihirup seperti oksigen yang langsung menenangkan dadanya sangat nyaman.
"Kau mau pesan minum apa? Aku sudah pesankan makanan favoritmu"
Cody tersenyum, ia yakin pemuda di depannya bukan Hervant, Lukas, atau Charlie, bahkan Rio dan Tony, lalu ia siapa? Kenapa perasaannya begitu akrab?
"Apa saja boleh" jawab Cody, pemuda itu tersenyum kembali, ia menepuk pundak Cody intim seperti melebihi teman atau sahabat, atau bahkan mungkin saudara, ia mengangkat tangannya pada pelayan yang segera mendekat.
"Permisi!"
Suara bisingpun terdengar, Cody ikut menoleh saat seseorang mendekati mereka dan menyapanya lantang.
"Hai Ricky! Bagaimana kabarmu!" Seseorang menepuk pundaknya dari belakang memanggilnya.
Tiba-tiba semua seperti potongan film yang diputar mundur, Cody dengan cepat sudah terhempas kembali ke ranjangnya.
Ia bermimpi.
"Hoh hoh hoh" matahari sudah menerjang masuk ke kamarnya, sudah terang, pukul delapan pagi.
Catatannya sudah memenuhi hampir setengah buku kecil itu, semua mimpi yang selalu datang padanya, dan kini ia mendapat petunjuk baru, Ricky.
Cody membasuh keringat dinginnya, walau sedingin apapun kamarnya kini tapi ia merasa sangat lelah, mimpi, yang selalu menguras energinya.
Diturunkan dua kakinya dari atas ranjang, ia baru hendak beranjak bangun saat mendengar getar ponselnya di atas meja.
"Dreeett"
Ada pesan masuk, pesan dari orang yang beberapa hari ini didatanginya untuk mendapatkan informasi.
"Orang yang kau cari sudah ada, kalau mau datang siang ini sebelum makan di restoran" isi pesan tersebut.
Saat ia masih sangat serius membacanya pintu kamarnya diketuk dari luar, tampak Hervant membuka pintu dan memasukkan kepalanya.
"Cod, sarapan sudah siap, aku akan ke kantor redaksi sebentar lagi, kau mau ikut tidak? Katanya mau mencari informasi soal informan Dian?"
Cody menatap Hervant sejenak, sahabatnya itu tidak tahu kalau ia sudah mencari tahu semua sendiri selama ini, ada beberapa hal yang tidak bisa dibagi karena semua sepertinya semakin berbahaya, orang-orang di sekitarnya mungkin akan kena imbasnya, tapi, kalau ia bertindak sendiri lagi seperti apa yang selalu ia lakukan, sahabatnya mungkin akan sangat kecewa padanya.
Cody tersenyum.
"Emm iyah tentu, sebentar saja, aku masih ada janji dengan Rio siang nanti"
*-*-*-*
Menjelang siang di salah satu perkantoran.
Cody dan Hervant baru selesai bertemu dengan reporter yang dulu sempat mengenal Dian, tapi petunjuk soal kasus yang tengah diselidiki Dian tidak ada yang tahu, rupanya Dian mengerjakan semua tanpa ada satupun rekannya yang tahu.
Cody dan Hervant berhenti di depan lift di mana beberapa orang juga mengantri untuk masuk.
"Ada salah satu artikel di dalam flash disknya, penulisnya adalah Richard, selama ini informan Dian mungkin salah satunya adalah pak Richard" simpul Cody.
Keduanya memberi jalan saat pintu lift terbuka dan ada beberapa orang yang keluar, beberapa orang mengantri bersama Cody, salah satunya pria tinggi berpakaian hitam mengenakan topi dan masker yang berdiri selang beberapa orang di samping Cody, yang sempat melirik ke arah Cody dengan pandangan tajam.
Walau Cody dan Hervant tidak menyadarinya dan mereka masuk ke dalam lift untuk turun.
"Heh semua petunjuk samar Cod, kita tidak bisa dapat apa-apa dari semua ini khan?"
Cody menahan nafas sebentar, ia melirik Hervant di sampingnya.
"Yah semua sangat samar, tapi, aku merasa mungkin semakin menemukan petunjuk Her, walau sedikit, tapi mungkin bisa sangat membantu"
Hervant menepuk pundak Cody.
Mereka turun di lobby, pria itu masih di belakang Cody dan bergegas meneruskan langkahnya saat Cody dan Hervant berhenti di tengah lobby.
"Sudah, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini, langsung ke kantor polisi khan Cod? Jangan berpikiran macam-macam yah untuk mengerjakan semuanya sendiri"
Cody tersenyum, ditepuk tas laptop yang menyangkut di pundaknya.
"Yah aku masih banyak kerjaan juga, kasus di kantor masih banyak yang belum diselesaikan, sampai ketemu nanti sore yah!"
Cody melambaikan tangannya dan membiarkan Hervant kembali ke kantornya.
"Bye Cod" seru Hervant.
Cody bergegas keluar gedung.
Pria berpakaian, topi dan masker hitam ikut bergerak keluar bersama beberapa orang yang melewatinya menuju ke pintu besar.
Saat melewati pintu sesuatu menghentikan langkah Cody, entah kenapa saat tiba di pintu tadi ia menghentikan langkahnya tiba-tiba dan melihat siapa yang baru melewatinya, ada bau yang sangat kuat, bau yang tidak umum untuk orang-orang yang melewatinya, sekilas ia menciumnya dengan sangat jelas, bau yang pernah diungkit oleh salah satu arwah yang pernah tewas akhir-akhir ini, tapi tidak ada orang lagi di depannya, siapapun itu orang itu mungkin sudah pergi jauh.
+-+-+-+-