
.........
Di kantor polisi.
Rio dan Tony melihat seksama video rekaman cctv yang baru Tony dapatkan.
Agak jauh di depan gedung tua eks rumah sakit ada minimarket yang memiliki cctv. Kejadian di mana Cody ditabrak dan pelaku melarikan diri sempat terekam olehnya.
"Lihat Ton, ini detik-detik Cody ditabrak"
Keduanya seksama melihat layar laptop milik Rio,
"Cody bilang ada yang mendorongnya hingga ia bisa sedikit menghindari dari benturan" ujar Tony, Rio mengerutkan dahi setelah melihat rekaman.
"Tapi tidak ada orang lain di sana, apa Cody tidak berkhayal saja yah" lanjut Tony, Rio menunjuk pada kendaraan yang berhenti setelah menabrak Cody.
"Lihat, pengemudinya seperti sengaja melihat apa Cody sudah benar jatuh atau tidak, ia, berhenti cukup lama"
Dari rekaman terlihat Rio yang berlari dari jauh mendekat saat kendaraan itu melesat pergi.
"Heh kalau kau tidak muncul ia mungkin akan mundur kembali memastikan korbannya"
Rio berpikir, dikepalkan tangannya di atas meja.
"Heh sepertinya benar kalau tersangka itu mungkin mengincar Cody sejak awal, tapi kenapa? Apa yang mungkin Cody ketahui dan kita tidak"
Menjelang siang.
Rio duduk di kursinya, pandangannya jauh kedepannya, entah ke mana karena sepertinya ia sedang melamun.
Tony mendekat menarik kursi yang menimbulkan suara keras.
"krekk!"
Namun suara sekeras itu tidak membuat Rio bergeming, membuat Tony malah menatapnya aneh.
"Eh, sedang melamun Rio?" Tanya Tony, Rio mengerutkan bibirnya.
"Emm, aku sedang berpikir Ton, kalau memang orang itu benar mengincar Cody, kenapa ia tidak melakukannya sejak di dalam gedung? Maksudku, di dalam ruangan itu hanya ada Cody dan tersangka, ia bisa dengan mudah membunuh Cody tanpa Cody bisa menghindar, hmm"
Tony berpikir, ia mengangguk "hemm Iyah juga sich, aku pikir juga aneh, Cody bukannya bisa melawan kalau orang itu tiba-tiba menyerangnya, kenapa harus menunggu sampai di luar dan menabraknya?"
Rio menyenderkan pundaknya, melihat catatan yang ada di papan putih di depan mereka, ia berdiri, berhenti di depan papan menatapnya lama seolah mencari sesuatu, tapi ia sendiri tidak mengetahui apa yang dicarinya.
"Heh orang itu sengaja mengajak kita keluar dan mengejarnya, apa yang Cody ketahui yang kita tidak? aku merasa semua ini sangat mencurigakan Ton"
Tony ikut berdiri.
"Kita masih berusaha menemukan komplotannya, dalam kasus sebesar ini pelaku pasti lebih dari satu, semua peralatan yang ada di ruangan itu adalah peralatan medis, dengan riwayat pelaku yang lulus sekolah dasar saja tidak, sepertinya memang sangat janggal kalau ia bertindak sendiri"
Rio menurunkan dadanya "yah, itu maksudku juga Ton, semua masih jauh dari selesai, kita bahkan belum mulai"
Saat Rio dan Tony masih berpikir, suara telpon di meja berbunyi.
"Kriiingg!!"
Tony mengangkatnya "yup, oh Georgie"
*-*-*-*-*-*
Tak lama kemudian di ruang autopsi jenazah.
Georgie baru selesai melakukan otopsi pada mayat pelaku tabrak lari Cody yang juga dicurigai sebagai tersangka pembuangan mayat dalam koper.
Tony berusaha memalingkan wajahnya melihat sesosok mayat yang sudah hampir menjadi arang karena hangus terbakar.
"Kau lihat bagian ini?" Tanya Georgie menunjuk pada bagian tenggorokan pelaku yang sudah dibedahnya, Tony hendak menghindar tapi sekali lagi tangan Rio menahannya agar tidak menjauh.
"Jadi?" Rio menunggu, Georgie malah menatapnya balik, sesekali matanya melirik pada jenazah di depannya.
"Yah tebak donk, kau pasti sudah tahu khan maksudnya"
Rio gemas, Georgie itu sudah mulai ketularan Anna dan main tebak-tebakan dengannya, dihempas kertas yang sejak tadi di tangannya ke depan Georgie.
"Jangan main-main cepat saya tidak ada waktu ini"
"Ich Kau ini tidak bisa diajak main sedikit yah Rio, kau harus menebak ini bagian di mana kau mengeluarkan kemampuan analisa nomor satumu donk"
Wajah Rio mulai semakin kesal.
"Aku tidak perlu mengeluarkan ilmu apapun, cepat saja beritahu, Georgie ini kebanyakan gaul dengan Anna yah jadinya aneh-aneh gitu"
"Yah bagaimana yah, heh"
Akhirnya pria itu mulai mengutarakan hasil yang ia dapatkan.
"Oke, lihat bagian ini dan ini, semuanya bersih, kau mengerti kalau korban yang tewas karena terbakar hidup-hidup itu salah satu ciri-cirinya apa? Eh Tony?"
Georgie menoleh pada Tony kali ini, semua membuat Rio semakin gemas, ia hampir berteriak tapi Georgie mengangkat tangannya sebelum ia bersuara.
"Gus bilang aku harus mengetes anak baru, Tony ini khan anak baru, yah khan Ton? kau ini lulusan akademi kepolisian dengan nilai yang cukup bagus, pasti tahu donk ciri-ciri paling dasarnya"
Tony menoleh pada Rio sejenak, ia tidak boleh membuat Rio malu karena menjadi partnernya, didekati mayat tersebut walau agak ngeri tapi ia harus mulai melihatnya bagaimanapun juga.
"Eh, tenggorokannya masih bersih, kalau ia mati karena terbakar harusnya tenggorokannya ikut hitam karena menghirup asap"
Georgie langsung berseru.
"yah tepat sekali! Kau lulus Ton, jangan gemetar begitu donk"
Tony menelan ludahnya kembali, ia bisa menurunkan dadanya yang sejak tadi tegang "hoh"
Rio mengerutkan dahinya, walau ia sudah bisa menduganya sejak awal.
"Jadi, tersangka ini, tewas sebelum mobilnya meledak? Apa, kau menemukan luka lainnya? Ia masih bisa membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi berarti jarak kematian seharusnya tidak jauh khan?"
Georgie menyimak kain penutup mayat, menunjukkan luka lain yang ditemukannya pada Rio.
"Sejauh ini, pendarahan berlebihan di area perut, ada dua butir peluru yang bersarang, itu mungkin menjadi penyebab kematiannya, dan kondisi mayat seperti ini agak sulit memastikan kalau ia baru tewas atau sudah lama, aku perlu melakukan tes lainnya"
Rio mengangguk, sementara ia masih berpikir, Georgie mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar mayat di depannya, membuat Rio berpikir.
"Eh memangnya anak buah mu Diki ke mana? Kau harus mengambil gambar sendiri? Dengan ponsel lagi?"
Georgie menegakkan tubuhnya, ia tersenyum sambil mengibaskan ponselnya.
"Hehe ini untuk koleksi pribadiku, akhir-akhir ini media sosial sedang ngetrend, aku tidak boleh ketinggalan, Minggu ini mayat pertama yang datang adalah ini, aku sudah lama tidak update nich"
Rio hampir tersedak ludahnya sendiri, pria tua di depannya serius apa main-main?
"Yang benar saja Georgie ini, serius nich? Kau mau memposting gambar-gambar mengerikan begini ke media sosialmu? Memangnya ada yang mau lihat?"
Georgie terkekeh, ia sibuk menekan beberapa gambar untuk di-posting di profilnya.
"Yah sejauh ini ada yang lihat, bulan lalu sih ada yang melaporkan gambar ku sebagai kontent yang berbahaya, orang-orang yang aneh"
Tony hampir meledak menahan tawa melihat wajah Rio yang gemas karena sikap Georgie.
"Kau yang aneh! Mana ada orang yang posting gambar-gambar mengerikan seperti itu, siapapun akan melaporkannya"
Georgie menjawab dengan santai.
"Yah pasti adalah"
"Memangnya, jumlah followers anda sudah berapa banyak pak?" Tony bertanya iseng, sementara Rio masih melirik-lirik mayat di depannya dengan seksama.
"Yah, masih sedikit Ton, baru dua ribu, oh yah Ton, kau kamu jadi followers-ku khan? Apa nama media sosialmu ayo berikan padaku"
Sementara Tony masih tercengang dengan jumlah follower dokter tua itu "woow dua ribu banyak juga yah" Rio segera menarik tangannya.
"Ayo Ton, kita sudah selesai di sini jangan lama-lama dengan pria tua ini"
Georgie berusaha mengejar Rio yang langsung menuju ke arah pintu
"eh Rio ini, aduh pelit sekali dia"
+-+-+-+-+-+-