You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Eyes in The Dark



........


Ketiganya meloncat kaget mendengar barang jatuh begitu keras tepat saat pemuda itu mendorong pintu.


"Apa itu?"


Terutama Donna yang berdiri semakin menempel, sebentar lagi ia mungkin akan mengompol di celana karena takut setengah mati, entah pikiran gila dari mana yang membuat ia menyodorkan diri ikut dua sahabatnya uji nyali ke sana sejak awal, padahal ia bukan tipe pemberani dan penasaran yang mau melakukan hal seperti itu.


Suara lain kembali muncul, banyak barang yang terbengkalai jatuh dengan keras seakan tadinya menumpuk di belakang pintu.


Teddy mengarahkan senter ponselnya ke barang jatuh tepat di depan kakinya.


"Heh hanya barang tua girls, tidak mungkin ada yang aneh-aneh khan"


Emili mengarahkan senter ponselnya ke sekeliling ruangan, tidak ada sedikitpun cahaya dari luar hingga benar-benar tak terlihat apapun, namun, senter Emili berhenti saat ia merasa melihat sesuatu yang membuat matanya berkerut.


"Em guys, memang, ini dulunya pabrik apa?" Tanya Emili santai, perlahan ia yang sok berani maju menuju ke arah di mana ia merasa menemukan sesuatu yang menurutnya agak aneh.


Teddy mendekat, spontan Donna mengikutinya cepat.


"Guys jangan jauh-jauh"


Sejenak ketiganya berdiri di depan benda yang menurut Emili aneh, walau hanya melihat dari lampu sorot dari ponselnya dan tidak jelas apa yang ada di depan mereka kini.


"Eh g guys, kok, ba baunya, aneh yah?" Tanya Donna gemetar, Teddy mengarahkan senternya melihat lebih jelas, sepasang mata, lalu menuju ke bawah, ada tangan, dan juga pakaian lusuh menghitam, mungkin karena pencahayaan yang kurang.


"Eh, ini, seperti manekin, seingatku, ini bukan pabrik garment dech, kok ada manekin di sini?" Tanya Teddy.


Sejenak, lagi, ketiganya diam, mengamati, hingga akhirnya Emili yang memutuskan untuk berlari duluan.


"Oh tidak guys!"


Disusul Teddy kemudian, meninggalkan Donna yang masih tertegun di tempatnya.


"Bukkk! Bukk!!!"


Derap kaki cepat.


Sepi kemudian setelah dua temannya kabur meninggalkannya tanpa peringatan.


"Gu guys, kalian ke mana? Guys achhh"


Donna tidak berani bergerak, ia ketakutan setengah mati hingga kaki dan lututnya kaku, perlahan, diputar kepalanya menoleh ke belakangnya, lampu senternya langsung menemukan sosok yang ada tepat di belakangnya. Seketika gadis itu berteriak keras.


"Akkhhhh!!!!"


Suara teriakannya mencekam hingga merusak keheningan malam, atau apapun yang tertinggal setelahnya.


*-*-*-*-*


Rio baru menutup pintu mobilnya,


"buk"


Ponsel masih menyala di tangannya.


"Kau ambil jalan keluar di sebelah kanan, tetap ambil kanan lalu ada pertigaan ambil yang tengah" polisi muda itu menuju ke lokasi di mana sudah dipasang garis batas polisi.


Seorang petugas muda lapangan mengangkat pembatas untuknya lewat.


Rio masuk ke dalam gudang, di mana di depannya sudah ada beberapa kendaraan dinas termasuk bagian forensik teamnya Georgie yang sudah ada duluan di sana.


"Iyah yang ada jalan agak rusak lurus saja, sudah khan, jangan lama-lama nanti mayatnya kabur" selesai dengan teleponnya, pemuda itu memasukkannya ke balik saku jaketnya, masih tersenyum geli setelah mengejek Cody di telepon tadi.


Ia berdiri di lokasi di mana ada laporan dari beberapa orang yang menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan di sana.


Tepat di depan Rio di mana ada seonggok jenazah, sudah membusuk, dengan wajah hampir tidak bisa dikenali lagi karena dagingnya mungkin sebagian sudah di makan belatung.


Kedua matanya melotot seakan hendak jatuh dari songketnya, dari pakaian yang dikenakan juga sepatu yang masih menempel di tulang yang masih menempel sedikit daging, sosok mayat itu mungkin adalah seorang pria.


Rio menarik nafas panjang.


"Heh, disaat semua orang berpikir badai sudah mereda"


*-*-*-*-*


Cody baru mematikan mesin jeepnya tepat di lapangan di mana beberapa kendaraan termasuk milik Rio sudah diparkir di sana.


Ia keluar dan membuka pintu belakang mengambil tas perangkat kameranya.


Disangkutkan tali kamera yang cukup besar itu ke pundaknya, sebaiknya mengambil kameranya saja keluar tidak usah mengeluarkan dengan tasnya yang cukup berat.


Susah payah akhirnya menemukan lokasi itu, dengan bantuan pengarahan oleh Rio tadi di ponsel tentunya.


Cody menarik nafas panjang, subuh-subuh sekali Rio menghubunginya meminta ia datang ke lokasi yang jauh dari kota.


Ia sedikit senewen karena ia bukan polisi, kenapa ia harus ikut semua kasus aneh yang ditangani Rio juga? Heh, hesahnya sambil menutup pintu Jeepnya dan bergerak ke arah gudang.


Sejak Rio tahu ia bisa sangat berguna untuk semua kasusnya Rio bahkan mengajukan namanya untuk menjadi konsultan di team investigasi, artinya ia mungkin akan sering sekali ke sana ke sini lebih dari sekedar menjadi photographer, walau Cody menyukainya tapi menjadikannya sebuah pekerjaan akan membuat semuanya berubah, kalau opanya tahu beliau mungkin akan sangat menentangnya keras, pikirnya.


Cody berhenti sejenak saat tiba di sebuah pohon paling besar menuju kawasan pabrik tua.


Sejenak, melirik ke atasnya, tepat di dahan besar pohon tua tersebut, di mana ada sosok tubuh yang menggantung di sana, sisa-sisa arwah penasaran yang masih berkelana di sekitar area itu, sosok itu tergantung dengan tali tambang melilit di lehernya, mata membelalak lebar dengan lidah yang terjulur sedikit keluar, sejenak angin dingin lewat di leher Cody.


Kadang Cody berpikir apa yang dikatakan para sahabatnya soal dirinya mungkin benar adanya, kalau dia itu memang 'flat' minim ekspresi, ia sudah sangat biasa melihat 'mereka' hingga tidak ada rasa takut atau apapun lagi yang tersisa.


"Whoosh"


Daerah itu memang angker, setelah sosok di depannya menghilang muncul lagi sosok lain yang berdiri di balik pohon, tepat di belakang pohon beringin besar yang usianya mungkin lebih lama dari pabrik itu sendiri, hanya diam, melihat lurus ke arah Cody dengan matanya yang dipenuhi kegelapan.


Mereka arwah terikat yang tak lagi peduli atau sudah lupa dengan masa lalu mereka, sebagian hanya berkelana dengan batas waktu tak terbatas hingga akhirnya jenuh dan menghilang seiring dengan waktu, beberapa mungkin kalah dengan energi di sekitarnya, itu sebabnya tempat seperti di pabrik tua ini arwah terikat akan bertahan lebih lama, mereka akan terus ada di sini, di tempat di mana tidak ada manusia hidup berada, tempat yang sempurna.


+-+-+-+-+-