You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Take a Deep Breathe



Hervant mendekati Cody cepat, memeriksa kondisinya.


"Cody, Cody buka matamu"


Jantung Rio berdebar sangat kencang,ia sangat tegang hingga seakan semua energinya terkuras untuk itu, tapi melihat Cody masih dalam kondisi aman ia kini bisa menurunkan dadanya lega, sedikit lagi saja mereka mungkin akan terlambat, ia mendorong dokter Dody pada seorang petugas yang segera memborgolnya.


"Luk panggil dokter, ayo cepat" seru Hervant.


Walau bagaimanapun, mereka tidak terlambat, Rio mendudukkan dirinya, ia bisa pingsan karena terlalu tegang tadi, dan tersenyum sendiri karena ia berhasil, mereka berhasil menemukan Cody tepat waktu.


"Heh Cody ini" bahkan telapak tangannya masih gemetar.


*-*-*-*-*-*


Langit subuh yang gelap perlahan menjadi terang.


Matahari awalnya malu-malu muncul di sisi timur. Aktivitas kembali berjalan seperti biasanya.


Charlie berdiri di depan beberapa dokter, sejak tengah malam ia sudah di rumah sakit pusat membantu Riana dan lainnya di mana akhirnya mereka menemukan Cody dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sedikit saja, mereka mungkin bisa kehilangan sahabat mereka.


Beberapa petugas kepolisian pusat bolak-balik di lantai rumah sakit membawa beberapa tersangka dan barang bukti ke markas.


Dokter Dody dan teamnya, yang selama ini mungkin adalah pelaku pencurian organ tubuh ilegal yang ternyata sudah terjadi di rumah sakit itu secara tersembunyi.


Itu menurut deputi direktur rumah sakit Robert. Pihak rumah sakit mengaku kecolongan dan tidak tahu bagaimana dokter Dody dan teamnya bisa melakukan semua tindak kejahatan itu di sana tanpa mereka ketahui.


Rio merasa ada hal yang disembunyikan, tapi sementara mereka harus kembali melakukan penyelidikan kembali untuk mengusut tuntas semuanya.


Mila menghentikan langkahnya saat melewati kamar Cody, dua tangannya di borgol di depan, seorang polisi wanita berseragam mengiringnya "Cody"


Riana menyadarinya, ia berdiri, keluar kamar dan mendekati Mila.


"Mila"


Mila menundukkan kepalanya, hampir tidak berani melihat mata Riana, hatinya hancur, malu, sangat merasa bersalah, hampir saja membiarkan orang yang sangat berarti dalam hatinya, Cody berada dalam bahaya.


"Ri"


"Kalau, bukan karena kau, kami, mungkin terlambat menolong Cody, jadi, eh, terima kasih yah" Mila mengangkat kepalanya, sedikit terharu mendengar kata-kata itu keluar dari Riana, setelah apa yang ia lakukan.


"Ems Ri, a aku"


Riana tersenyum, diangkat tangannya menepuk tangan Mila pelan.


"Aku, minta maaf telah bertindak kasar padamu, kau sendiri tahu bagaimana berharganya Cody untuk semuanya, kalau ia tahu aku bisa dimarahinya habis-habisan olehnya" Riana tersenyum, ia melanjutkan ucapannya.


"He Cody, punya hati yang sangat lembut Mil, aku, tidak aneh kalau kau juga menyukainya, dan, he, kau membuktikannya, dengan mengatakan di mana ia berada, kau tidak tahu, betapa besar artinya itu buat kami, semua sahabat Cody, terima kasih saja tidak akan cukup, eh, kau sabar yah, setelah sehat betul, aku yakin, Cody akan menjengukmu di sana"


Mila menahan tangan Riana "jangan Ri" Riana mengerutkan dahinya.


"Jangan? Jangan apa?"


Airmata menetes kembali menuruni pipi Mila yang mulus.


"Jangan, tidak usah menjengukku, aku, ingin mengagumi Cody, dalam bayangan saja, kumohon, jangan datang melihatku, melihat wajahku yang menyedihkan, em, aku, yang sangat jahat, semua tindakanku selama ini, huks, aku, tidak tahu, kenapa aku begitu tega membiarkan orang-orang itu, mereka tidak bersalah, dan aku, ems..." Mila menundukkan kepalanya dalam.


Riana diam, ia tidak tahu bagaimana bentuk perasaan Mila saat ini sebenarnya, namun yang jelas saat itu gadis itu terlihat sangat menderita. Riana berusaha menahan diri agar tidak ikut menangis.


"Ems kau, tidak ingin melihat Cody lagi?"


"Ia, baik-baik saja khan?"


Riana mengangguk "iyah, kata dokter ia bisa segera pulang, tidak ada masalah besar, Cody sangat kuat, ia sering jatuh dan pada akhirnya, ia pasti akan bangkit kembali, kau, juga harus begitu yah, kalau kau memang mengenal Cody, kau akan sadar betapa hidupmu sangat berarti, apapun dan siapapun dirimu dulu, Mila, jadilah kuat, untuk Cody"


Mila menangis tersedu-sedu, ia tak mampu menahan haru lagi saat mata Riana menatapnya tulus, petugas itu membawa Mila melanjutkan jalannya "ems terima kasih Ri, sampaikan salamku untuk Cody yah"


*-*-*-*-*-*


Charlie berdiri di samping ranjang, baru saja menyetel infus Cody setelah tadi memberikan obat lagi padanya.


Sejenak, ia berdiri melihat wajah pucat Cody, lalu perlahan duduk di pinggir ranjang.


Dirapihkan rambut depan Cody yang turun tak beraturan, ia hampir kehilangan pemuda itu, semua hampir kehilangan dirinya, ia tidak bisa membayangkan kalau itu sampai terjadi.


Charlie meraih jemari Cody, menepuknya pelan dan perlahan mengenggam tangan dingin itu erat, ia tersenyum mengingat betapa anak kecil yang sama sekali tidak memiliki teman itu dulu kini memiliki semua orang yang sangat menyayanginya melebihi apapun, semua, sangat mengkhawatirkan dirinya.


Ia ingat saat pertama melihat Cody yang berusia sebelas tahun duduk meringkuk di tengah hujan deras, tak jauh di depan rumahnya.


"hei, kau kenapa duduk di sini?"


Charlie remaja berusia lima belas tahun mendekat dengan membawa sebuah payung lebar di tangannya, jongkok menunggu anak kecil kurus itu mengangkat kepala dan melihat ke arahnya, Charlie tersenyum, diulurkan tangannya.


"Ayo, kita ke rumahku, aku akan buatkan coklat hangat, kau pasti suka"


Cody kecil melihat Charlie lama, lalu tangannya, hingga dengan agak sedikit ragu ia menerima uluran tangan itu, dan ikut berdiri bersamanya.


Charlie merangkul Cody yang sudah basah seluruh badannya dan kedinginan, ia sudah mengamati anak kecil itu sejak awal Cody pindah ke lingkungan itu beberapa Minggu lalu, yang pada akhirnya Charlie tahu kalau itu adalah orang tua asuh yang ditunjuk negara untuk merawatnya,


Cody, akan selalu menunggu di depan rumah setiap pulang sekolah dan tidak berani masuk sebelum salah satu orang tua asuhnya pulang, dan, tak berapa lama setelah itu, Charlie baru tahu apa alasannya.


Tak lama dua orang tua asuh Cody ditemukan meninggal dengan cara mengenaskan di dalam rumahnya, menurut Cody ada arwah penasaran yang sangat kuat di dalam rumah, dua orang tua asuhnya tidak mempercayainya dan menganggap ia gila sebelum kejadian buruk itu akhirnya terjadi.


Dan sampai Cody dewasa, orang tua Charlie begitu baik hati menawarkan diri untuk merawatnya, setidaknya sampai usia Cody tujuh belas tahun saat ia melanjutkan kuliah dengan bekal beasiswanya.


Charlie tidak akan pernah melupakan ekpresi wajah sedih Cody, saat ia merasa tak berdaya dan membuat orang di sekitarnya terluka, walau bukan karena dirinya, ia akan menganggap itu semua adalah salahnya, Cody, dengan pikirannya yang dalam.


Charlie menarik nafas panjang, ia tersenyum melihat Cody perlahan membuka matanya.


"hei kau sudah sadar"


Lama, Cody hanya diam menatap wajah Charlie, hingga mempererat pegangannya.


"heh Charlie"


Charlie tersenyum, ia menepuk pundak Cody pelan.


"Istirahatlah, tubuhmu masih lemah, jangan paksakan dirimu yah"


Cody menggeser tubuhnya ke arah Charlie, membenamkan kepalanya dalam tangan besar Charlie, mengangkat tangannya merangkul pinggang Charlie.


"heh Cody"


Charlie tahu Cody tertekan, semua kejadian buruk yang hanya bisa dirasakannya sendiri, ia, tidak bisa membaginya, juga tidak mau sampai orang lain merasakan apa yang ia rasakan, seperti biasa, ia kerap memendam semuanya sendiri, Charlie, hanya bisa membelai rambut Cody lembut.


+-+-+-+-+-