You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Jane Doe



.....


Rio menoleh, ucapan dokter Ali sangat memberinya ide "pencurian organ?"


Sejenak ia masih berpikir, hingga diambil berkas di tangan dokter itu dan menandatanginya.


"Sebentar lagi teamnya Georgie akan datang mengambilnya, semua barang-barangnya ada khan?"


"Ia tidak bawa banyak barang, percayalah, hanya selimut itu saja" ujar dokter Ali menunjuk pada kantong plastik di bawah meja.


"Baiklah kalau begitu, aku tinggal yah"


Rio hendak membalik ke arah pintu sampai dokter Ali berseru menghentikan langkahnya.


"Oh yah, tolong bilang Georgie jangan sering-sering meng-tag namaku untuk setiap photonya, para followers-ku bisa kabur karena dia"


Rio membalikkan tubuhnya, mengerutkan dahinya kurang mengerti dengan apa maksud ucapan dokter itu.


"Hah? Apa tadi? Meng-tag, apaan tuh?"


Tony mendekat setelah membersihkan mulutnya di wastafel. Rio melirik padanya bertanya.


"Itu, meng-tag itu seperti, menyertakan nama account-mu di setiap photonya"


Sejenak Rio berpikir, hingga mengibaskan tangannya meneruskan langkahnya ke arah pintu.


"Ach tahulah, bilang saja sama orangnya sendiri, urusan kalian itu"


"Yah dia terlalu sibuk untuk membaca pesanku! Followers-ku sudah pada komplain tuh" seru dokter Ali.


Rio masih mendumel sekeluarnya dari kamar jenazah.


"Orang-orang tua ini, banyak sekali kelakuannya sampai ada followers-lah apalah, apa aku yang sudah ketinggalan zaman yah?"


Tony menyusulnya.


"Kau buat saja Rio, gampang kok nanti aku jadi pengikutmu yang pertama deh"


Sepanjang jalan menuju ke lift keduanya terus bicara.


"Malas ah, emm, apa, Cody juga punya yah? Anak trendi seperti dia pasti banyak pengikutnya khan" tanya Rio penasaran.


"Banyak sih tapi Cody itu postingannya membosankan, semua photo gak jelas, itu juga bisa sebulan sekali update, kurasa kau dan dirinya cocok, sama-sama anti modernisasi"


"Oh yah? Cody juga begitu?"


*-*-*-*-*-*-*


Riana menggandeng tangan Cody saat taksi pesanan mereka sudah tiba di lobi.


Malam sudah larut dan sayang sekali Jeep Cody masih tertahan di lokasi kecelakaan dan belum bisa diambil keluar.


Cody menghentikan jalannya, ia menoleh pada pintu keluar di mana ada seseorang yang menarik perhatiannya, sosok itu, hanya berdiri diam di dekat tanaman tinggi dalam pot, ia menggandeng seorang anak kecil.


"Cod, ada apa?" Tanya Riana pelan, ia tahu Cody pasti melihat penampakan lagi di sana, pandangannya sejak tadi hanya tertuju pada samping pintu keluar masuk lobi.


Banyak orang berlalu lalang, tapi sosok itu, seorang wanita, pikir Cody karena pakaiannya yang panjang melambai, dan rambutnya juga, wajahnya samar karena tertutup bayangan cahaya lampu, tapi terlihat jelas ada seorang anak kecil yang berdiri di belakangnya.


"Eh" Cody hendak mendekat, tapi dua orang pria berjalan menghalanginya "eh maaf"


Saat pria-pria itu tidak lagi menghalanginya, wanita itu sudah tidak ada di sana, ia menghilang.


"Cod, apa, ada.." Tanya Riana yang menyusulnya, Cody menarik nafas berat, memang ada, tapi, kini sudah tidak ada di sana, di manapun Cody melihatnya.


"Iyah, tapi, sudah tidak ada"


Hari sesudahnya,..


Rio menggetok-getok meja dengan ujung pulpennya, ia sepertinya serius mengamati laporan yang akan disusunnya di layar monitornya, beberapa petunjuk yang belum juga jelas, ia bisa gila.


Waktu sudah siang, jam makan siang baru saja lewat dan Tony mendekat dengan makanan yang dipesan Rio.


"Ayo, kita makan dulu, siapa tahu setelah makan dapat ide" ujar Tony mengeluarkan makanan dan minuman dingin dalam kotak ke atas meja.


"Heh dari mana mobil itu jalan sebenarnya? Yang menyewa juga namanya palsu, kenapa hari gini orang kok gampang sekali menyewakan mobil ke sembarang orang seperti ini, hah ini semua semakin membingungkan"


Tony menyedot jus dinginnya sedikit, masih sibuk mengerutkan dahinya.


"Hem, apa, menurutmu kasus ini ada hubungannya dengan pembunuh berlian itu yah? Kok Gus masih memberikan kita kasus ini yah? Kerjaan kita banyak sekali"


Rio mengambil jusnya, menyedotnya sedikit.


"Heh, karena pengurangan anggaran tahun ini penerimaan orang baru sedikit sekali, jadi kita yang dikorbankan mau bagaimana lagi"


Saat keduanya sedang menikmati minuman mereka, dari arah pintu tampak Cody masuk mendekat.


"Rio, kau, tidak ke mana-mana hari ini?" Tanya Cody, Rio mengerutkan dahinya, tidak biasanya anak itu bertanya, dan lagi, ia tidak begitu suka ke kantor kalau tidak dipanggil, tapi hari ini kenapa Cody muncul di sana?


"Kenapa kau bertanya begitu? Kau tahu khan kita ada kasus baru, pembunuhan baru mayat yang ditemukan di bagasi kemarin itu"


Cody menggaruk kepalanya, ia sebenarnya ingin bertanya sesuatu pada Rio, karena Rio dan Tony adalah polisi, mencari data orang hilang bukanlah masalah besar bagi mereka.


"Iyah itu.." Cody baru mau mengutarakan maksudnya saat ponsel Rio di atas meja bergetar, nomor tak dikenal.


"Siapa yah? halo!"


Tak lama kemudian Rio meraih jaketnya yang ditambat di bahu kursi, sepertinya ia akan pergi setelah menerima telepon tadi.


"Eh Ton, coba kau periksa lagi alamat yang diberikan penyewaan mobil, lalu, coba cari data orang orang dengan ciri yang sama, kita harus mulai mempersempit pencarian, siapa tahu bisa mendapatkan sedikit petunjuk"


Tony mengerutkan dahinya, ia belum menyadur semua pesan Rio tapi senior-nya itu sepertinya terburu-buru.


"eh Ri Rio"


Rio menarik tangan Cody.


"Ayo Cod, kita ke toko berlian, tadi manajernya telepon dan bilang sudah mengumpulkan data untuk kita"


Cody gagap saat Rio terus menarik tangannya "eh, a aku tidak ikut dech, aku temani Tony saja kumpulkan data yah"


Namun Rio tidak melepas pegangannya hingga keduanya tiba di luar kantor.


"Sudah tidak usah ditemani, biar dia belajar sendiri, kau harus menemaniku karena aku yang justru tidak nyaman ke tempat itu, ayo"


"Eh Rio"


*-*-*-*-*-*-*


Tiba di toko perhiasan mewah Shine & Glow.


Rio mengerutkan dahinya karena sejak tadi ia dan Cody masuk ke dalam toko, perlakuan para karyawan di sana menjadi sangat ramah, jauh sekali jika dibanding pertama mereka ke sana.


"Selamat datang di toko kami, silahkan masuk"


Rio berdiri di tengah ruangan memasukkan dua tangan dalam sakunya, melihat sekitarnya.


Toko itu memang luar biasa, bahkan di jam tanggung seperti saat itu masih didatangi beberapa customer yang dengan gaya pakaian dan gerakannya bukan orang biasa seperti ia dan Cody.


"Waah ramai juga yah"


Cody hanya menggaruk kepalanya, apa yang harus ia lakukan di sana, padahal ia tadinya ke kantor hendak menanyakan soal masalahnya.


"Heh" menarik nafas.


Tak lama dari pintu kantor muncul August yang segera mendekati mereka.


"Aduuh maafkan kalian jadi harus menunggu, tadi sedang tanggung ada pembicaraan bisnis, hehe" pria itu menoleh ke arah Cody dan tersenyum simpul sambil memainkan matanya, Cody sendiri agak aneh sebenarnya, apa yang membuat pria itu melihatnya demikian.


August segera mengajak Rio dan Cody menuju ke kantornya.


"Ayo silahkan masuk, saya sudah siapkan datanya sejak tadi"


+-+-+-+-+-+-+