You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Not Time for Party Guys!



........


"Dua orang pria? Tinggi besar, hitam, dan wajah menakutkan?" ulang Rio, keempatnya sudah duduk di restoran fastfood beberapa gang dari rumah Rio menikmati makan malam mereka, akhirnya tidak berani masuk rumah Rio karena apa yang diungkapkan Cody, Cody mengangguk, mulutnya penuh melahap burger ayamnya.


"Yup, dua, dan, eh satu lagi, di kamarmu, tapi, yang itu sepertinya baik sich, aku belum lihat wajahnya, hanya bisa merasakannya"


Rio menelan ludah bulat-bulat "eulk"


"He apa saja yang kau lakukan Rio? Sampai pelihara hantu begitu banyak di rumahmu?" seru Lukas.


"Em aku, tidak tahu bagaimana cerita pastinya, tapi, em kata orang-orang sebelum aku pindah di rumah itu memang pernah terjadi hal mengerikan, eh dua penghuninya ditemukan.., aduh aku hampir lupa kalau kau tidak mengatakannya, memang ada dua orang pria yang mati mengenaskan karena overdosis di sana, tepat di ruang tengah, tapi aku pikir, itu sudah lama khan? Sudah, sejak sebelum aku pindah, em tiga bulan"


"Memangnya, kau tidak pernah merasa terganggu Rio?" tanya Hervant.


"Memang sih sering dengar suara aneh-aneh kalau malam, tapi, he aku pikir itu tikus atau cicak atau teman-temannya, aku tidak pernah memperhatikan, setiap pulang langsung masuk kamar dan tidur, jarang menghabiskan waktu di ruang tengah juga"


Cody begitu menikmati makanannya, tidak dengan Rio yang wajahnya sudah resah, bagaimana ia bisa pulang nanti? pikirnya buruk.


"Cod, hei jangan cuma mengatakan hal yang bisa menakuti orang donk, apa solusimu?"


"Tenang saja Rio, kau ini seorang polisi, biasanya hantu tidak berani menganggu polisi apalagi polisi yang tidak pernah berbuat curang, kau aman deh" ujar Cody,


Rio menyipitkan matanya pada Cody.


"Yang benar saja, aku mana bisa lagi pulang ke rumah dengan keadaan seperti ini, setelah apa yang kau ceritakan kau berharap aku pura-pura tidak tahu begitu?"


Cody mencolek sambal kentang gorengnya, begitu menikmati makanannya, ia baru menyadari setelah lama ditempel makhluk halus ia merasa begitu lapar dan tidak ingin melewatkan kesempatan makan apa saja saat ini.


"Cod, aku mau pesan lagi, kau mau apa?" tanya Lukas berdiri dari duduknya, Cody mengerutkan dahinya sebentar "emmh kentangnya tambah lagi deh Luk, oh yah, tolong eskrim coklatnya yah"


Hervant ikut "Aku juga mau Luk, eh Rio, kau pesan apalagi?" tanyanya, Rio kesal, ucapannya sama sekali tidak dianggap oleh mereka.


"Hei kalian ini"


-*-*-*-*-"


Keesokan harinya kembali ke rumah Rio.


"Tidak bisa Rio, aku takut juga, kau tidak lihat wajah mereka, mereka menyeramkan" ujar Cody, Rio terus mendorongnya ke rumahnya, sementara Cody terus saja menolak, ia ingin kabur sebenarnya, tapi dasar ia tertipu Rio yang katanya akan mengantarnya langsung pulang segera setelah dari kantor polisi.


"Aku tidak mau tahu Cod, kau yang mengatakannya padaku, kau harus menyelesaikannya, kemarin-kemarin aku tidak tahu apa-apa, masih bisa duduk dan tidur dengan tenang, tapi sekarang terima kasih banyak buatmu yang senang sekali menakuti orang"


"Aku tidak menakutimu Rio! aduuh" Cody memegang daun pintu saat Rio mendorongnya masuk rumahnya "ayo Cody, jangan jadi pengecut begitu"


"Aku tidak, aduh" Cody bahkan mengaitkan kakinya ke pintu untuk menahan tubuhnya.


Rio mendorong Cody langsung masuk, dan tiba-tiba, ruangannya berubah, dekorasi ruangan yang jauh berbeda dengan ruang tengah Rio tadi, juga perabotan yang letaknya tidak beraturan, begitu berantakan, dengan hati-hati Cody melangkah, pelan agar tidak menginjak perabotan yang berserakan, namun, langkahnya tiba-tiba terhenti.


"Berhenti di sana!" suara yang sangat keras, Cody tak berani bergerak, dua orang pria bertubuh besar, hitam, tato di hampir semua permukaan kulit lengan dan dadanya yang sedikit terlihat di balik kaos singlet tipis mereka, kotor, dan bau, seperti lama tidak mandi.


"Eh he he he a aku aku salah alamat yah"


Cody membalikkan badannya, menghindar, namun, ia menelan ludahnya bulat saat tiba-tiba salah seorang pria sudah berdiri di belakangnya.


"Mau ke mana kamu?"


Gawat, pikir Cody, ia tidak melihat Rio di mana-mana, dua orang hantu marah sekaligus? Ini bukan hal yang baik.


"A aku tidak akan menganggu kalian, maaf yah, abis ini aku pergi deh"


Namun pria itu tidak menggeser posisinya, membuat Cody tidak bisa maju, walau ia tahu, orang itu tak lebih dari arwah, tetap saja ia takut kalau tangan besar orang itu bisa meremukkannya, pria itu mengangkat tangannya.


"Aduh Rio, kurang ajar kau!"


*-*-*-*-"


Tony duduk mendengarkan walau masih mengerutkan dahi dengan apa yang Cody dan Rio bisikkan berdua, mereka seperti sengaja tidak memberitahukan padanya hingga ia hanya bisa menguping dari tempat duduknya, walau keduanya bicara dengan suara sangat kecil sekalipun, ini sangat mencurigakan sekali, dua orang itu seakan menganggap ia tidak tampak di sana.


"Hah? Lima ratus juta? Gila? Sebanyak itu? Pantas mereka tetap bertahan di sini"


Rio tidak percaya dengan apa yang baru saja diceritakan Cody, Cody mengangguk.


"Yah, ini, namanya" diambil kertas tempat ia mencoret-coret tadi, Rio menatap lembar kertas dengan tulisan nama dan alamat di atasnya.


"Kau yang urus yah"


Rio menahan lengan Cody saat pemuda itu bangun dari duduknya.


"Eits mau ke mana? Ini juga urusanmu khan?"


"Aduh, tolong Rio, kerjaanku sudah banyak, itu khan rumahmu, hantunya milikmu, kau yang urus yah"


Tangan Rio masih menahan Cody erat, tidak melepaskannya.


"Cody"


Cody menarik nafas panjang.


"Hoh Rio!"


*-*-*-*-"


Cody berjalan paling belakang, setelah Rio, Hervant, dan Lukas.


Keempatnya mengunjungi tempat di mana alamat dan nama yang diberikan dua hantu itu, sebuah klub malam.


Suara musik keras kontan terdengar begitu memasuki pintu.


"jep jep jep jep!"


"Wah ini hebat sudah lama gak klubing" seru Lukas, suara musik yang keras, dan lampu remang membuat mereka harus berteriak untuk bicara satu sama lain.


Semakin ke dalam, suasana semakin liar, musik terdengar kian keras.


Rio berhenti di depan bar, bertanya pada salah seorang bartender.


"Permisi" ditunjukkan lencananya, sedikit pamer, pikir Cody dan lainnya.


"Apa, ada yang bernama Gordon di sini?" tanya Rio, bartender itu berpikir sebentar, tadinya ia tidak mau memberitahu, tapi melihat alis galak Rio yang di angkat tinggi, mau tidak mau pria muda itu menunjuk ke tengah ruangan.


"Itu, yang ada dua orang gadis di sampingnya, yang badannya gendut"


Tapi bukan hal yang mudah, datang ke tempat orang, tanpa satu dan lain sebab tiba-tiba menagih hutang, yang terjadi selanjutnya sudah dapat ditebak.


"Prang!!"


Suara nampan dan segala isinya jatuh keras dari atas meja, juga kursi, piring berterbangan, botol pecah, gelas pecah, orang yang terlempar "akkhh!"


"Cody!" seru Lukas keras, mereka terlibat dalam tawuran, sementara Rio begitu gagah menghadapi lawannya, tidak dengan Cody dan lainnya yang kelabakan karena situasi semakin kacau.


"Aduh aku sendiri kerepotan di sini Luk, jangan panggil-panggil dech!" seru Cody, seorang pria menindihnya, dengan sekuat tenaga Cody berusaha melawan.


"Yang benar saja!"


+-+-+-+-+-+-