You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Broken Heart



.......


Jalan raya mulai padat.


Sesaat setelah Cody keluar area rumah sakit langit menjadi sangat gelap di luar, sudah waktunya pulang ke rumah.


Suara deru roda jeepnya dengan kokoh menapak jalan raya, saat tengah fokus dengan setirnya ponselnya bergetar, mungkin pesan masuk, pikir Cody akan membacanya nanti saja saat berhenti.


Kendaraan di depan mulai padat hingga akhirnya terjadi sedikit kemacetan memasuki pintu tol dan jeep hijau miliknya harus ikut berhenti mengantri bersama banyak kendaraan di depannya.


Mungkin Cody harus membaca pesannya di ponsel karena sudah berbunyi beberapa kali, siapa tahu penting.


"He" ia tersenyum, pesan dari Riana, dua, tiga empat, hingga lima kali masuk, di sertai emoticon yang manis pada akhirnya.


"Cody, aku sudah masak kari ayam kesukaanmu, cepat pulang yah, atau kalau tidak dua kucing liar di rumahmu akan segera menghabiskannya, mereka sudah tidak makan seharian"


Photo Hervant dan Lukas yang melihat mangkuk berisi kari ayam dengan mata bersinar-sinar.


"He dasar"


Cody hendak membalasnya, tapi kendaraan di depannya sudah maju, ia harus ikut bergerak atau kendaraan di belakangnya akan mulai memarahinya.


Dilanjutkan laju kendaraan kembali sesaat setelah memasuki pintu tol, kendaraan tidak begitu padat hingga Cody bisa menambah gigi dan pindah ke jalur cepat, mungkin akan sedikit lebih cepat tiba di rumah sebel benar-benar gelap,


Cody begitu fokus membawa Jeep kesayangannya itu dengan mantap hingga agak jauh beberapa kendaraan di depannya sebuah truk berbadan besar mengerem mendadak, salah satu roda belakangnya pecah menimbulkan suara ledakan yang keras.


"Boom!"


Dreeettttt!!!


Badan truk yang besar berusaha menghentikan laju yang sangat cepat hingga melintang di jalan tol yang membuat semua kendaraan berhenti mendadak menghindari tabrakan.


"Chiiiitttt !!! "


Suaranya yang keras terdengar bahkan hingga ke tempat Cody, dengan sigap ia menginjak rem kuat berusaha memperlambat laju kendaraan.


"Oh tidak !" Tapi jalan tol semua kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa bisa ia kendalikan sekuat apapun ia menginjak rem ia tidak bisa menghentikan Jeep dengan segera, ia berusaha membuang stir tapi kondisi jalan padat di kanan kirinya, ia tidak punya banyak pilihan, kejadian yang begitu cepat hanya sepersekian detik untuknya berpikir, ia menarik rem tangan dengan sekuat tenaga dan menjauhkan kakinya dari pedal gas saat kendaraan masih melaju dengan cepat.


"Chiiiiitttt"


Walau sudah berusaha sekuat tenaga tapi ia tidak bisa menghentikannya tepat waktu.


Semua kendaraan di depannya berhenti mendadak hingga bertubrukan satu sama lain.


"Bummm!"


Kendaraan di belakangnya yang juga berusaha berhenti menabrak body belakang jeepnya dengan keras.


"Brukkk!!"


Seperti gerak lambat tubuh Cody terhempas hingga ke depan stir, sabuk pengaman menahannya tetap di tempat namun tabrakan dari belakang tetap menghentakkan tubuhnya kuat ke depan.


"Akchh!"


*-*-*-*-*-*-


"Prang!!"


Riana tersentak, mangkuk kecil di tangannya jatuh dan pecah seketika beserta isinya di lantai.


Hervant dan Lukas mendekat cepat dari luar.


Gadis itu gagap, tangannya gemetar, mangkuk itu, mangkuk yang disiapkan untuk Cody.


"Co Cody" entah kenapa jantungnya berdebar sangat kencang, seolah sesuatu benar terjadi, sesuatu yang buruk, tidak bisa ia jelaskan dengan apapun.


Lukas menyentuh lengan Riana.


"Ri kau kenapa? Shock begitu"


Riana menatap dua pemuda di depannya yang melihatnya cemas, dan tanpa pikir panjang ia segera menghampiri ponselnya di atas meja.


"Cody,.." segera ditekan nomor ponsel Cody, wajahnya semakin cemas karena tidak ada nada apapun setelahnya, bahkan juga nada sibuk.


*-*-*-*-*-


Mila duduk di ruang gantinya.


Sudah waktunya pulang, shiftnya sudah berakhir. Ia menarik nafas berat, hari ini hari yang sangat panjang untuknya, terlebih pertemuannya dengan Cody sore tadi, wajah Cody, yang tidak bisa dihilangkan begitu saja dari benaknya, wajah yang membuat ia susah tidur, bahkan bernafas pun berat, semua karena pemuda itu, yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang tanpa alasan.


Cody menatap Mila sejenak, hingga pemuda itu tersenyum padanya.


"Mungkin ini hanya perasaanku saja, tolong tanggapi jika aku salah yah, maksudku, eh, kau, tidak mungkin suka padaku khan? Karena, eh, kau mungkin tahu kalau aku sudah punya seseorang..."


"Tapi ia bukan pacarmu khan?" Potong Mila.


Cody gagap, ia tidak menduga gadis itu akan segera menanggapinya dengan sangat cepat. Mila menurunkan kepalanya, meneruskan makannya dengan lesu.


"Eh Mila, .."


"Selama Cody belum resmi pacaran, berarti aku masih ada harapan, he, Aku, akan giat berusaha, Cody pasti tidak akan menyesal"


Ucapan Mila membuat Cody semakin serba salah, tujuannya menemui Mila adalah untuk itu, agar gadis manis itu tidak menghabiskan waktu untuknya, ia tidak bisa mengkhianati Riana dan di sisi lain memberi harapan buta untuk orang lain, entah apa yang membuat banyak orang di sekitarnya yang terlalu banyak berharap padanya, sedangkan ia sendiri tidak mengerti apa yang bisa dilakukannya lebih daripada orang lain, kadang, ia merasa tidak menjadi apapun yang bisa berguna.


Ia menemukan sinar mata Mila seperti pada Riana, tapi ada hal yang sedikit berbeda.


"Mila, aku harap kau mengerti, aku bukan siapa-siapa, heh, jangan buang waktumu untukku yah, maaf" Cody berdiri dari duduknya.


Ia baru hendak melangkah saat mendengar suara lengkingan Mila.


"Huaaaaa!" Ia menangis keras, tiba-tiba.


"Hiks huuu" semua mata memandang ke arahnya, Cody yang berdiri di depan gadis itu sampai tidak tahu harus bertingkah bagaimana karena semua orang berpikir ia adalah penyebabnya.


"Mila, eh jangan menangis, maaf yah"


Gadis itu terus menangis kencang, tidak juga merendahkan suaranya walau semua orang terus melihatnya aneh. Ia sakit hati, ia terluka ditolak mentah-mentah oleh Cody, setelah lama ia akhirnya menemukan seorang yang disukainya, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Huks huuuu"


Kembali ke ruang tunggu perawat, Mila mengerutkan bibirnya, mengumpulkan semangatnya, menghempas nafas panjang dan berdiri perlahan menuju ke arah pintu.


Setibanya ia di luar ruangan. Kondisi lobi rumah sakit sudah tiba-tiba ramai, beberapa petugas medis dari UGD sudah bersiap di depan pintu.


Mila menghentikan salah seorang perawat bertugas yang lewat di depannya.


"Eh ini kenapa? Kok ramai sekali?" Tanyanya. Perawat muda bertugas itu menunjuk ke arah pintu masuk UGD.


"Ada kecelakaan beruntun di pintu tol sudah ada beberapa ambulans yang menuju ke sini kabarnya banyak korban, aku akan menyiapkan ranjang kosong" segera setelah itu perawat muda itu beranjak pergi, kecelakaan di malam tanpa angin dan hujan saat ini, sepertinya shiftnya tidak akan berakhir secepat itu malam ini.


+-+-+-+-+-+-+-