
........
Rio menghempas tangannya kesal, ia dan Cody sudah kembali ke ruangan mereka.
"Kurang ajar dipikir mereka itu siapa? Kalau bukan karena petunjuk dari team investigasi mana mungkin bisa menangkap komplotan itu begitu cepat, sombong sekali" gerutunya,
Cody duduk di meja barunya, dengan santai mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan mengeluarkannya ke atas meja.
Rio mendekat kembali menatap wajah Cody lama, pemuda itu memang manis orang yang baru melihatnya pertama kali semua mengatakan seperti itu.
"Hei, kau ini bersuara atau apa begitu membiarkan orang meledekmu begitu, diam saja tidak membela diri sudah biasa yah"
Cody hanya tersenyum, tak butuh waktu lama layar laptopnya menyala.
"Kenapa kau yang pusing Rio mereka khan hanya bergurau"
Rio duduk di pinggir meja Cody.
"Apanya yang bergurau, kau tidak kenal dengan yang namanya Bryan itu, dia itu diam-diam bisa menusuk dari belakang mana ada berguraunya dia itu, lain kali setidaknya kau harus pasang tampang galak atau apa gitu"
Cody hanya senyum-senyum melihat Rio yang kebakaran jenggot sejak tadi, ia baru pertama kali melihat rekan kerja atau bisa dibilang juga sahabatnya itu menggerutu dengan kesal seperti tadi, ia terlihat marah sekali.
Rio hendak melanjutkan gerutunya saat Tony masuk dari pintu dan mendekat.
"Rio, ini info yang kau minta aku carikan, memang benar korban adalah mahasiswa tingkat akhir di fakultas kedokteran, ia sedang menyusun skripsi dan sudah berapa minggu tidak masuk kuliah, ada yang bilang ia menjalankan tugas lapangan di luar kota dan baru kembali beberapa minggu lalu karena tugasnya sudah berakhir, apa kau masih mau ke sana?"
Rio meraih buku catatan milik Tony, anak muda itu masih menurutinya dengan menuliskan semua secara manual di buku kertas dibandingkan menggunakan tab seperti yang biasanya ia lakukan dulu.
"Yah kasus ini agak mencurigakan, ayo Cod kita jalan"
Cody mengangkat kepalanya, ia baru saja hendak mengerjakan tugasnya dan membaca jurnal yang ditinggalkan Dian dalam flashdisk.
"Aku? Kenapa tidak ajak Tony saja"
Rio menarik tangan Cody.
"Ayo jangan malas, kau khan sudah digaji sebagai konsultan jangan banyak alasan walau kau pangeran sekalipun, Tony masih ada tugas lain di sini"
Cody menurut saja saat Rio menarik pakaiannya keluar dari tempat duduknya.
"Aduuh Iyah sebentar Rio"
*-*-*-*
Rio berdiri di depan gedung utama kampus, setelah mewawancarai beberapa teman dekat korban dan juga beberapa dosen ia merasa perlu melihat situasi di kampus terkenal yang cukup populer sebagai tujuan akademis andalan.
Ia melirik hingga ke atas gedung tinggi sepuluh lantai di depannya sebagai gedung lama, lalu agak jauh di ujung jalan setapak di belakangnya gedung asrama lima lantai, di samping depannya gedung enam lantai yang juga baru diresmikan tak lama lalu.
Cody yang tengah mengambil photo di lokasi menghentikan gerakannya saat melihat seseorang yang dikenalnya dari agak kejauhan, seseorang yang kini menoleh ke arahnya setelah sibuk bercengkerama hingga tertawa bersama teman-temannya tadi.
"Hai Cody! sedang kerja?" Ia Edward, yah pasti akan bertemu dengannya di sana, Cody dan Rio sudah mengunjungi kampusnya pagi-pagi untuk mendapat beberapa informasi soal korban pada kasus terbaru mereka.
"Hai, Iyah nih, em ada kuliah pagi yah?" Tanya Cody.
Ed mengangguk.
"Iyah begitulah, menjelang sidang midterm banyak yang harus dikerjakan, mahasiswa kedokteran yah begitu banyak hal yang harus dilakukan sebelum menjadi dokter sebenarnya, emm kau terlihat jauh lebih segar pagi ini"
Ed menatapnya lama, matanya seakan meneliti Cody di setiap inci wajahnya, hingga tanpa Cody sadari pemuda itu mengangkat tangannya menyentuh kepalanya membuat Cody membeku di tempatnya.
"eh"
"Ada daun kering di rambutmu Cod, untung bukan ulat yang jatuh yah"
Cody tersenyum, dipikir apa membuat ia sempat khawatir tadi tapi pemuda di depannya memang tidak seperti teman-temannya yang lain, pemuda itu memang terkadang membuat ia salah tingkah, perhatiannya melebihi yang ia duga.
"He iyah untung bukan ulat"
Rio menurunkan kepalanya saat melihat Cody dari kejauhan, pemuda itu permisi ke toilet sebentar sebelum mereka selesai dan ia kembali bersama seseorang.
"He yah sampai ketemu nanti malam yah"
Senyum Cody melambai pada Edward yang lalu bertolak pergi.
Rio mendekat.
"Itu Edward? Oh yah dia kuliah di sini juga yah, apa dia kenal dengan korban?"
Cody menggeleng, diangkat ransel ke pundaknya.
"Tadi sih dia bilang tidak kenal"
Keduanya meneruskan pembicaraan sambil berjalan menuju ke gerbang keluar.
"Hmm, memang satu angkatan sih, tapi melihat banyaknya mahasiswa di sini memang wajar kalau mereka tidak saling kenal, oh yah kau bilang sampai ketemu nanti malam dengan Ed, memangnya kalian mau ke mana?" Tanya Rio dengan mata curiga.
"Tidak ke mana-mana, cuma Ed bilang ia baru beli perangkat laptop baru dan katanya belum bisa dipakai ia tanya apa aku bisa membantu untuk mensettingnya"
Rio menyeringai.
"He memang sekarang kau menjadi teknisi juga? aneh bukannya bawa ke tokonya saja, iseng sekali jangan-jangan kau mau diapa-apain lagi di kamarnya ichh" godanya.
Cody menepis tangan Rio yang menyender di pundaknya..
"Sudah ach jangan punya pikiran aneh, kau ini makin tidak jelas saja"
*-*-*-"
Matahari sudah tenggelam beberapa menit lalu. Riana sudah selesai menyiapkan makan malam untuk semua orang di apartemen Cody, wajahnya tidak pernah lebih senang dari apapun saat berada di sana, ia mungkin gadis paling bahagia kini karena sejak tadi tak berhenti tersenyum.
Hervant mendekat, ia langsung menuju ke dapur saat tidak menemukan siapapun di ruang tengah.
"Waah ada yang masak enak sekali sepertinya, em Cody mana? Bukannya dia sudah pulang yah?"
"Di bawah, di kamar Edi" jawab Riana enteng.
Hervant mengerutkan dahinya, saat itu malam Minggu, bukannya keluar dengan Riana kenapa anak itu malah ada di kamar orang lain, aneh sekali.
"Edi itu maksudnya Edward?"
Riana seperti sudah selesai dengan supnya, mematikan api dan menutup panci dan bergerak ke meja potong kembali.
"Iyah siapa lagi"
Hervant berdiri menyender pada dinding sebelah kulkas.
"Emm, apa, kau tidak cemburu RI? Sepertinya Edward itu naksir sama Cody deh"
Riana menoleh pada Hervant tajam.
"Maksudnya apa? Mereka khan sesama cowok mana ada yang begitu, jangan punya pikiran aneh-aneh dech"
Hervant terkekeh, Ia memang menggoda Riana supaya gadis itu sedikit waspada setidaknya.
"Hehehe siapa tahu, Cody itu manis sekali dan imut seperti anak gadis kau saja yang tidak sadar, yah sudah aku mau mandi, habis mandi mau makan ach!" Seru Hervant menuju keluar dapur.
"Siapa yang mau kasi kau makan! Heran"
Masih terdengar suara kekeh Hervant walau ia sudah keluar dapur, setelah ia pergi Riana terdiam, jadi kepikiran apa yang diucapkan Hervant tadi, tapi itu tidak mungkin, dibuyarkan imajinasinya yang berlebihan.
"Ach, dasar Hervant itu"
+-+-+-+-+-