
........
Tiba kembali di kantor polisi.
Sementara menunggu Georgie mengotopsi korban, Rio dan lainnya harus mencari petunjuk yang ditinggalkan korban, photo-photo yang sebelumnya sudah diambil team lain sebelum mereka tiba ke lokasi menjadi salah satu petunjuk mereka.
Sementara Rio terus mengerutkan dahi dan mulutnya melihat photo-photo di papan putih, Tony malah melihat Cody seksama, dari bawah kaki hingga atas kepala.
"Hemm, kau ini, ada, keturunan peramal yah Cod? Eh, apa, kau bisa melihat, bagaimana masa depanku di sini? Apa, aku bisa jadi kapten atau.."
Rio mendekat dan menggeplak kepala Tony dengan kertas di tangannya.
"Bicara apa kau ini, sudah ambil hasil di ruangan Anna sana, duduk saja sejak tadi"
Tony menegakkan duduknya, Cody menahan tawa melihat wajah Tony yang berubah.
"Barusan tadi diberikan mana mungkin sudah selesai, Anna itu bawel bisa -bisa aku dimarahinya lagi"
Rio duduk di kursinya.
"Kau ini, sudah tungguin saja, kalau tidak begitu dia akan nyantai dan mengerjakan yang lain, sana"
Dengan wajah cemberut Tony berdiri dari duduknya,
"Iyah dech"
Cody menahan tawa, walau kini giliran Rio yang melihat ke arahnya lama, mengerutkan dahinya dalam.
"Heh, apa yang ingin kau tanyakan Rio? jangan melihatku seperti itu" Tanya Cody,
Rio membenarkan duduknya.
"Yah, banyak, soal, bagaimana kau bisa tahu soal..., eh, heh, aku bahkan tidak tahu apa yang harus ku tanyakan, kalau kau tidak ada di sini semalaman kami mungkin akan mulai mencurigaimu sebagai pelakunya, dan, eh, selama ini juga kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh, atau, Iyah?"
Rio mulai berpikir Cody memang penuh dengan misteri, ia baru menyadarinya sekarang.
Cody menahan nafas sebentar, ia tahu menjelaskannya akan butuh waktu yang panjang dan lama, walau, ia memang harus memulainya bagaimanapun juga.
"Eh, sebenarnya, .." tapi baru saja ia hendak mengatakan semuanya, ponsel di sakunya bergetar, telpon dari Riana.
"Yah Ri"
Cody berdiri dari duduknya, sementara Rio masih menunggu penjelasannya,
"Yah aku akan ke sana sebentar lagi, tenang ini baru jam berapa, memangnya filmnya main jam berapa?"
Tak lama menunggu Cody kembali mendekati Rio, detektif muda itu masih menunggu penjelasan darinya.
"Jadi, apa tadi katamu? Sebenarnya kau.." tanya Rio lagi.
Cody menatap Rio sejenak, ditahan nafasnya sebentar.
Cody menghentikan ucapannya, itu dia, ia sudah mengatakannya, semua yang harus dikatakan, kurang lebih yang perlu diketahui Rio sebagai awalnya.
Tapi, Rio hanya menatapnya diam, ia tidak menduga itu yang akan dikatakan Cody padanya.
"Eh, maksudnya melihat arwah itu, orang mati? itu, he, serius khan Cod? Kau, sedang tidak bergurau Khan? He.."
Rio tertawa kecil, tapi Cody hanya diam melihatnya, ia cukup serius, pikir Rio menghentikan tawanya.
"Eh, he, sepertinya memang bukan bergurau yah, em, aku tidak tahu harus bicara apa"
Cody sudah menduga reaksi Rio akan demikian, itu kenapa ia tidak mau memberitahukan padanya, Cody tersenyum,
"Yah, aku sudah menduganya"
Cody bergerak ke arah pintu, Rio menahan nafas sejenak dan segera mengejarnya, menahan tangannya menghentikan Cody.
"Cody tunggu, eh, ini, terlalu aneh, bukannya aku tidak percaya padamu, hanya eh.."
Cody melepaskan tangan Rio, ia tahu semua orang yang tidak tahu pada awalnya dan diberitahukan olehnya akan menganggapnya gila, ia mungkin hanya berkhayal, ia bisa mengerti apa yang dipikirkan Rio saat ini, ia bisa melihat tatapan Rio padanya yang bimbang, ia tidak ingin menyakitinya tapi detektif muda itu juga seakan tidak percaya padanya, mungkin kasihan padanya hingga mengarang sedemikian rupa.
"Tidak apa Rio, aku mengerti, em aku ada janji nonton dengan Riana, aku pulang duluan yah"
Rio hanya gagap, ia tidak bisa mencegah Cody yang berjalan keluar pintu,
"Heh"
*-*-*-*-*-*-*
Kelas itu ramai, jam istirahat di kelas lima sekolah dasar di salah satu sekolah swasta.
Anak-anak kecil usia sepuluh tahun, beberapa berkumpul di pojok, beberapa duduk di kursinya masing-masing dan bersenda gurau bersama.
Hanya ada satu anak yang duduk sendiri di kursi paling belakang, pandangannya jauh ke luar jendela, menatap ke atas di mana langit biru terbentang luas, awan-awan kecil yang menggumpal seakan berkumpul bersama dan bergerak perlahan mengikuti arah angin.
Ia Cody, anak kecil manis dengan kulit putih dan pipi chubby yang memerah. Ia sadar, anak-anak sekitarnya tidak ada yang mau duduk bersamanya, hingga satu kursi di depan dan sampingnya kosong, semua menghindarinya, sejak Cody selalu mengatakan hal-hal aneh, hingga terkesan menyeramkan yang membuat semua anak sekelasnya, bahkan satu sekolah ketakutan, bahkan tidak ada yang berani menyapanya.
Cody selalu sendirian, ia makan siang sendiri mengerjakan tugas kelompok sendiri, jam bermain ia hanya akan duduk sendiri di pinggir lapangan melihat yang lainnya main, ia tidak keberatan, lagipula ia juga tidak begitu menyukai anak-anak itu, mereka terlalu berisik menurutnya.
Kondisi fisiknya yang menurut guru-gurunya lemah karena seringkali tak sadarkan diri tiba-tiba membuat ia tidak diwajibkan mengikuti olahraga fisik apapun, tapi Cody suka sekali duduk di luar gedung.
Kadang-kadang ia akan duduk diam dengan pandangan kosong, dan bisa sekali waktu jatuh tak sadarkan diri tiba-tiba, semua masa kecil yang seharusnya indah, tapi tidak, bagi Cody, masa kecilnya sangat samar dan tidak ada ingatan menyenangkan sekalipun.
Saat tengah duduk di pinggir lapangan melihat teman-temannya main, Cody perlahan akan menoleh ke arah pohon tua di depan ruang administrasi, pohon tua yang ada sebelum sekolah ini dibangun, yang menurut orang anker karena terlalu tuanya, dan mereka benar, karena Cody sering sekali melihat beberapa orang asing berdiri di sana melihat ke arahnya, kadang anak kecil, kadang nenek tua, kadang bapak tua, tapi mereka semua tidak ada yang mendekatinya apalagi mengganggunya, kecuali yang ada di dalam gedung.
Cody mendongakkan kepalanya melihat ke jendela-jendela kaca di lantai satu hingga empat, ada beberapa orang yang berdiri di pinggir jendela, kerap mengganggunya, orang-orang dewasa sekitarnya tidak ada yang percaya padanya, lagipula Cody juga tidak mungkin membuat semua orang lari karenanya, tapi di dalam gedung itu, gedung di mana menjadi tempat berkumpulnya banyak arwah-arwah berupa asap hitam dan esensi yang tidak bisa disentuh, tapi bisa menganggu orang lain, beberapa, mungkin usianya lebih lama dari gedung itu sendiri, walau tidak takut tapi Cody kadang suka tak sadarkan diri saat diganggu mereka, seakan, arwah-arwah itu tidak akan meninggalkannya sendiri, beberapa bahkan kerap mengikutinya pulang.
"Heh" hesah Cody.
+-+-+-+-+-+-