You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Informan



......


Di pusat kota.


Cody berhenti di samping jeepnya, karena pinggir jalan di depan resto sudah penuh ia harus memarkirnya agak jauh di jalan kecil antar gedung di sebrang restoran tempat pertemuan selanjutnya, baru saja menambatkan tas ke pundaknya saat ponselnya bergetar.


Telepon dari Rio.


"Yah Rio"


Dengan hati-hati Cody menyebrangi jalan. Sebuah kendaraan hitam baru saja berhenti memberi jalan untuk Cody, seorang pria duduk di belakang setir mengamati Cody seksama hingga pemuda itu berbaur dengan pejalan kaki lainnya di trotoar.


"Aku ada janji sebentar dengan teman kampus, yah sebentar lagi akan ke kantor, kalian sudah makan siang? Baru saja mau ku belikan ayam goreng"


Suasana restoran cepat saji ramai menjelang jam makan siang, Cody masuk dan melambaikan tangannya ke atas ke arah pria yang duduk di dekat jendela, di sampingnya duduk pria sebaya lainnya, ia tidak mengenalnya, mungkin itu informan yang akan ditemuinya.


"Yah bye Rio"


Cody mematikan ponselnya saat tiba di depan pria itu, pria dengan usianya mungkin sekitar empat puluhan, rambut yang agak panjang hingga bisa disangkutkan di belakang telinganya, senyum yang lebar dan ramah, ia Rudy, pria yang dikenal Cody lewat kontak yang ada di jurnal Dian, salah satu kenalan Dian yang memberi kontribusi banyak dalam beberapa artikel yang diterbitkan Dian, walau ia tidak ada hubungan dengan kasus yang diselidikinya, tapi ia rupanya kenal dengan salah satu pria yang pernah juga ditemui Dian, beberapa hari sebelum Dian menghilang.


Ady, pria sebaya yang duduk di sampingnya juga berdiri menyambut Cody dan menyalaminya.


"Selamat siang Pak Ady" sapa Cody, pria itu mungkin sebaya dengan Rudy, tapi tatapan matanya yang lelah pundaknya yang menurun gontai menunjukkan pengalaman hidupnya mungkin jauh lebih sulit dibanding Rudy, Cody mengetahui sedikit dari Rudy yang sebelumnya sudah memberitahukan riwayat pria itu padanya.


Menjadi salah satu orang yang dicurigai sebagai donor bayaran, Ady harus menjual ginjalnya karena tuntutan ekonomi, walau ia tidak mendapatkan bayaran yang tinggi dari organ yang harganya kalau di pasaran gelap bisa mencapai milyaran, namun setidaknya cukup untuk menopang hidupnya pada saat itu.


Tapi kini, semua menjadi penyesalan yang terlambat ia sadari, kehidupannya yang semakin sulit, tubuh yang lemah, dan penyakit yang datang bertubi-tubi tidak sebanding dengan apa yang didapatkannya dulu.


Ia menemui Dian dulu, karena Dian menulis artikel soal penyaluran organ tubuh di pasar gelap, banyak yang menjadi korbannya, bahkan ada yang hilang tanpa kabar, Ady hanya salah satu yang beruntung bisa hidup setelahnya, walau kini hidup baginya sama seperti mati.


Pria itu tadinya berencana akan melaporkan pelaku pemborong yang menawarkannya untuk menjual organnya, ia sudah mengantongi beberapa nama yang kini juga dibagi bersama Cody.


Setelah ini, pria itu akan pasrah menghadapi apapun tuntutan yang akan diterimanya, hidupnya juga sudah tidak lama lagi sejak satu ginjalnya yang tersisa juga sudah mengalami kerusakan parah, ia siap menghadapi apapun.


Beberapa jam berlalu, matahari sudah lurus tepat di atas kepala.


Cody melangkah keluar dari restoran, setengah hari yang penuh dengan kegiatan, ia bahkan sudah menemukan bukti lain untuk kasus Dian, walau mungkin harus menyelidikinya lebih jauh karena menangkap beberapa orang kecil tidak akan membuat pelaku utama kasus itu terkuak.


*-*-*-*-*-


Cody mendekati jeepnya, saatnya menuju ke kantor polisi untuk pekerjaannya sisa setengah hari itu, Rio sudah terus menghubunginya sejak tadi.


Ia baru mengeluarkan kunci jeepnya dari dalam tas saat tiba-tiba ada bayangan yang melesat di depannya hingga karena terkejut kuncinya terjatuh.


Sosok itu menghilang cepat bahkan saat Cody belum sempat melihat wajahnya, sebenarnya sudah tidak aneh dan menakutkan lagi baginya untuk arwah datang tiba-tiba di depannya, walau begitu ia tetap tidak bisa menahan rasa terkejutnya.


"Aduh"


Cody menurunkan tubuhnya memungut kuncinya, saat jongkok, tampak sesuatu yang mencurigakan di balik roda jeepnya, Cody memperjelas penglihatannya menelan ludahnya bulat melihat apa yang kini ada di depan matanya, bukan hal yang bagus tapi sekilas ia tahu apa yang terjadi, Cody terjatuh ke belakang, ada sepasang mata melotot penuh darah di belakang jeepnya, seseorang yang sudah terkapar dengan berlumuran darah, darah yang sangat banyak dan mengalir hingga membasahi roda jeepnya.


"Yah ampun" Cody bergegas berdiri dan hampir tersandung saat menuju ke belakang jeepnya, tampak sesosok tubuh pria, penuh darah di sekujur tubuhnya, ia mengenalinya.


"P pak Ady?" Pria itu, Ady, informan yang baru saja ditemuinya tadi, sedikit gemetar Cody mencoba memeriksa apakah pria itu masih hidup apa tidak.


Tidak ada denyut nadi, ia sudah meninggal. Cody mundur, hampir terjatuh lagi ke belakangnya, tidak ada orang yang berlalu lalang di sana jam makan siang sudah lewat dan suasana juga mulai sepi.


Cody mengeluarkan ponselnya, ia harus fokus dan tetap tenang, harus menghubungi Rio segera, tapi baru saja menekan layar panggilan cepat, seseorang tiba-tiba mendekat dari belakang mendekap tubuhnya erat dan membungkamnya keras, ponsel yang dipegangnya jatuh dengan keras tepat di depan kakinya.


"Umpp!"


Cody berusaha meronta, tangan itu sangat besar menahan lehernya, dan satu tangan lainnya membungkamnya dengan kain, orang itu mungkin bertubuh sangat tinggi hingga Cody merasa dua kakinya terangkat dan tak mampu melawan. Sekuat tenaga Cody berusaha melepas pegangan itu namun obat bius di kain membuatnya lemas,


"Ummp!!" Cody terus melawan hingga tak ada lagi tenaga tersisa, ia harus menyerah pada akhirnya.


Di kantor polisi,


Rio yang duduk di mejanya baru menerima sambungan telepon dari Cody, namun tidak ada suara di baliknya, pria muda itu mulai curiga saat mendengar suara aneh di balik telepon.


"Cody! Cody apa yang terjadi?"


Tony mendekat, dari raut wajah Rio ia tahu rekannya itu terlihat cemas.


"Rio ada apa?"


Rio menunjukkan layar ponselnya di mana nomor Cody tersambung padanya.


"Tony, coba cari tahu di mana Cody berada sekarang, tiba-tiba aku punya firasat buruk, ia menghubungi tapi tidak ada suara apapun"


Tony mencoba mendengarkan ponsel Rio, ia juga mengerutkan dahinya, tapi hanya ada suara keramaian dan kendaraan seperti di pinggir jalan, tidak ada suara pemuda itu.


"Apa yang terjadi?"


+-+-+-+-+-