You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Mysterius Attacker



........


Matahari yang bersinar terik menembus hingga daun terdalam pepohonan yang tumbuh lebat.


"Srett srett"


Suara gesekan di tanah.


Cody membuka matanya, pandangannya buram, kepalanya sakit bukan main, ia setengah sadar, tampak langit putih di atasnya, pepohonan dan merasakan perlahan tubuhnya bergerak mundur, dua tangan dan kakinya terikat erat, seseorang menarik kakinya menyeretnya di atas tanah berdebu.


Ia tidak bisa merasakan apapun juga, sakit atau apapun, otaknya belum bisa mencerna dengan baik semua yang terjadi padanya, gamang, suara-suara sekitarnya seakan terpendam dan berdengung, tapi menurut ingatan terakhirnya yang pasti itu bukan hal baik, ia mungkin akan mati konyol sekarang juga.


"Heh"


Pria itu, memakai topi dan masker hitam menutupi wajahnya, tubuhnya cukup besar dan sangat kuat hingga menarik tubuh Cody seakan ia hanya sebuah karung berisi jerami yang ringan, ia membawa Cody ke tengah hutan, mungkin hutan kota karena suara kendaraan masih samar terdengar, Cody pasrah, ia tidak bisa bergerak, entah sudah berapa jauh orang itu terus menariknya tapi ia merasa sangat lama, lelah sekali, ia tak mampu menahan matanya untuk tetap fokus, juga pikirannya yang semakin keruh.


Hingga tiba-tiba suara keras menyadarkan otaknya seketika.


"Cody!"


Seseorang dengan cepat menerjang pria itu dari Cody, sekuat tenaga orang yang baru datang itu menghantam pria bertubuh besar itu kuat membuat pegangannya pada kaki Cody terlepas.


"Kurang ajar!"


Apa ia Rio? Tony? Pikir Cody hingga sosok orang itu muncul dan hilang di matanya, seperti lampu yang menyala dan mati, datang dan pergi.


"Ekch" Cody berusaha bergerak, setidaknya ia harus berusaha.


Sosok bertubuh tinggi itu mengarahkan pukulannya beberapa kali ke arah pria yang menarik Cody tadi, beberapa kali bergulat di atas tanah hingga terguling.


Namun pria yang membawa Cody tadi bukan orang biasa, dengan mudah ia memukul pria yang baru datang itu menjatuhkannya dengan keras ke atas tanah dengan mudahnya "brukk!"


"Akh" terdengar rintihan pria yang jatuh di tanah dengan keras. Walau begitu itu sepertinya bukan orang yang mudah menyerah, ia bangun kembali cepat.


"Lepaskan tanganmu dari Cody!" Pria yang jatuh itu berusaha bangun kembali menyongsong penculik, ia tidak membuat pria pertama gentar, pria itu mendekati Cody yang setengah sadar, harus menyelesaikan urusannya yang belum beres.


Pria bertubuh besar dengan masker hitam yang menutupi wajahnya itu kembali mendekati Cody dan merengkuh kerah bajunya. Dua telapak tangannya yang besar mencekik leher Cody kuat, sangat besarnya hingga telapak tangan itu menutupi leher Cody hampir seluruhnya.


"Eckh!"


Cody tidak bisa melawan, ia sudah kehabisan tenaga, kini mungkin ia juga akan kehilangan nyawanya, ia tidak bisa bernapas.


"Mati kau!" Suara geram pria itu terdengar menakutkan, walau pria yang datang menghantamnya mendekat dan berusaha menarik tangan pria itu dari leher Cody tapi ia tidak bergeming.


"Lepaskan Cody!"


Ia Edward, wajahnya terakhir terlihat di mata Cody sesaat sebelum kesadarannya menghilang.


"Lepaskan tanganmu!"


Dan suara keras selanjutnya terdengar.


"Door!!"


Suara yang menggema hingga ke langit-langit, letusan pistol yang keras seakan memecah langit yang tiba-tiba sunyi, tak ada lagi suara, hanya beberapa langkah kaki di atas tanah yang berhamburan ke arah lapangan di mana Cody ditemukan.


"Cody!"


*-*-*-*-*


"Heh orang ini mungkin salah satu komplotannya, tapi bagaimana ia bisa tahu kalau Cody punya informasi yang mereka inginkan?" Rio melihat layar laptop di mana muncul beberapa photo buronan yang sering lolos dari pengejaran polisi. Ia dan Tony duduk di meja bundar dalam kamar rumah sakit.


"Cody, kau sudah sadar?" Charlie yang duduk di samping ranjang menegakkan tubuhnya saat melihat Cody membuka matanya.


Dokter muda itu merundukkan tubuhnya memeriksa Cody yang masih terlihat kebingungan,


Ia kembali lagi terbangun di sana, di ranjang rumah sakit, bau yang sering ditemuinya, jarum infus yang entah sudah berapa kali menusuk nadinya.


Tapi ia masih hidup, setidaknya ia masih hidup, Cody menarik napasnya berat.


"Heh Charlie"


Rio dan Tony mendekat.


"Hei kau sudah sadar Cod? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Rio.


Cody berusaha menarik tubuhnya bangun, sekujur tubuhnya seperti remuk ditimpa bangunan, lehernya sakit bukan main, masih terlihat memar kebiruan bekas cekikan,


"Apa, yang terjadi?" Tanyanya.


Rio duduk di samping ranjang, menepuk kaki Cody.


"Justru kami yang harusnya bertanya, bagaimana kau bisa sampai di sana? Kalau bukan karena seseorang yang memberitahukan lokasimu kami mungkin akan menemukan tubuhmu yang sudah kaku, kau ini, ckckck"


Cody menyandarkan kepalanya, Charlie menaikkan sandarannya.


Terakhir yang diingatnya dengan jelas adalah mayat pria itu, pak Ady, yang baru saja ditemuinya, pria itu tewas dengan cara mengerikan, semua mungkin kesalahannya, ia yang membujuk pria itu keluar, menyampaikan apa saja informasi yang dulu diberikan pada Dian, ia membuat pria itu terekspos dan akhirnya harus berakhir dengan cara menyedihkan.


"Heh pak Ady"


Rio dan Tony saling berpandangan, lalu kembali pada Cody.


"Heh pukulan mematikan di kepala belakang, dan beberapa kali tusukan, sepertinya orang itu memang sengaja menyerang dengan cara paling mematikan, pak Ady meninggal seketika di tempat" papar Rio.


"Cod kau istirahat dulu, kau hampir kehilangan nyawamu jangan pikirkan hal lain dulu" ujar Charlie,


Cody tersenyum, ia memang hampir kehilangan nyawanya, hanya selang berapa waktu, mungkin akan terlambat, dan Edi, datang tepat waktu menyelamatkannya, pemuda itu sudah berdiri di depan pintu bersama Hervant di sampingnya.


"Cod" Hervant mendekat.


Cody melihat Ed dari atas kaki hingga kepala, telapak tangan kanannya dibalut perban, wajahnya lebam di beberapa tempat, itu mungkin karena dirinya, ia melihat bagaimana Ed begitu berusaha keras melawan pria yang tubuhnya jauh lebih besar darinya dengan sekuat tenaga.


"Ed"


Edward tersenyum.


"He Cod, untung kau baik-baik saja, tapi maaf, aku tidak bisa menyelamatkan tasmu, orang itu membawanya pergi dengan cepat, kau tidak apa-apa khan?"


Cody menyandarkan kepalanya lelah, ia masih lelah, semua kejadian itu sangat cepat hingga membuat dadanya sakit, ingin menangis rasanya, membayangkan apa yang baru saja terjadi pada pak Ady, tapi ia seorang laki-laki, ia tidak bisa menangis, walau rasa sakit di dadanya sangat kuat mendesaknya tapi ia tidak bisa mengeluarkan air mata itu.


Charlie menyadari hal itu, ia menepuk pundak Cody.


"Cody tenangkan dirimu, semua bukan salahmu"


"Heh Char" Cody menurunkan kepalanya ke lengan Charlie "aku lelah, lelah sekali" Charlie menarik nafas panjang, hingga mengangkat tangannya mendekap Cody yang sudah seperti adiknya sendiri, menepuk punggungnya pelan.


Charlie menatap Rio, Tony, Hervant dan Ed bergantian, ia tahu bagaimana saat ini menjadi pukulan yang sangat keras untuk Cody, saat ia berpikir orang lain celaka karena dirinya, ia jatuh di jurang yang paling dalam, sulit untuk keluar.


+-+-+-+-