
.......
Tak lama kemudian di ruang tengah.
Riana berhenti di depan Charlie, menaruh segelas jus jeruk di atas meja di depannya.
"Minum dulu Char"
"Kenapa tidak ada yang beritahu kalau Cody digigit ular? Lukanya sepertinya masih baru, apa kejadiannya saat kalian pergi keluar kota?"
Riana menggaruk kepalanya, perlahan ia duduk sambil menundukkan kepalanya menghindari tatapan Charlie yang tajam.
"Eh itu, karena, Cody yang mau, dia bilang kau pasti akan membesar-besarkan masalah jadi.." volume suaranya makin kecil takut Charlie akan semakin kesal mendengarnya, tapi dasar Charlie memang mendengarkannya dengan seksama, matanya sudah besar melihat padanya, ia marah.
"Apanya yang membesar-besarkan! Memang harus besar karena itu ular berbisa, kalian juga mendukungnya?"
Riana mengangkat kepalanya.
"Tapi sudah diobati kok, beruntung saat kejadian ada temannya yang mahasiswa kedokteran di sana jadi bisa cepat dilakukan pertolongan pertama, tenang saja Char"
"Yah tetap saja Ri, setidaknya Cody harus dibawa ke rumah sakit, siapa tahu ada efek sampingnya atau hal lainnya, heh"
Charlie menyenderkan pundaknya ke belakang.
Diturunkan dadanya yang sejak tadi kesal, ia sudah terlalu banyak marah-marah hari ini, mana tidak, siangnya yang sangat tenang dikejutkan secara tiba-tiba oleh telepon dari Rio soal kondisi Cody, untuk kesekian kalinya, ini sudah jadi kebiasaan yang tidak baik untuk jantungnya.
Ditarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya. Kali ini lebih tenang.
"Heh, sejak dulu, Cody itu punya tubuh yang lemah, waktu ia kecil, saat semua orang sedang bersenang-senang ia akan tiba-tiba jatuh dengan sendirinya di pojok ruangan, tak sadarkan diri, beberapa kali seperti itu, ia masih kecil hingga tidak mengerti apa yang terjadi padanya, tapi seiring dengan waktu, kami jadi mengerti kenapa ia bisa tiba-tiba pingsan seperti itu, selain ia anemia memang ada arwah yang berusaha menganggunya, awalnya Cody tidak bisa membedakan mereka dari manusia hidup lainnya sehingga ia selalu meladeni mereka, kadang, arwah itu ingin masuk ke dalam tubuhnya, tapi menurut orang pintar karena energi roh Cody terlalu kuat ia hanya akan pingsan dan mereka tidak bisa merasukinya"
"Oh, pantas Cody tidak pernah kesurupan yah"
"Yah, karena ia yang demikian membuat semua orang di sekitarnya sangat cemas padanya, dan, waktu SMP, ia pergi ke acara pesta ulang tahun teman sekelasnya dan belum pulang juga hingga keesokan harinya, ia tidak ada di mana-mana, selama dua hari ia menghilang dan aku tidak berhenti mencarinya, hingga akhirnya tanpa sengaja aku berhasil menemukannya yang tertidur di sebuah pondok kosong di tengah hutan, katanya, kakak kelasnya memintanya menemani ia ke hutan untuk mencari adiknya yang hilang, he Cody yang bodoh dan naif, ia sebenarnya tahu kalau kakak kelasnya mungkin hanya mengerjainya, tapi ia tetap melakukannya, karena, memang benar, adik perempuan dari kakak kelasnya menghilang di hutan beberapa Minggu lalu, dan ia, sudah tidak bernyawa, arwahnya datang menghampiri kakaknya, dan hanya dapat dilihat oleh Cody yang mengikutinya hingga ke dalam hutan, mencari jenazahnya yang terkubur di antara pohon-pohon tinggi dan gelap yang tidak bisa dijangkau oleh orang dewasa, Cody, sangat sedih karena kejadian itu, ia, jatuh sakit setelah pulang ke rumah, melihatnya sangat menderita membuatku juga sangat sedih, heh, sejak saat itu, aku bertekad akan menjadi orang yang bisa menjaganya, itulah yang menjadi salah satu alasan aku menjadi seorang dokter, untuk menjaganya dari sakit"
Riana melihat wajah Charlie lama, dokter muda itu berusaha menahan air matanya, ia berusaha keras hingga hanya ada setitik embun di ujung matanya.
"Cody selalu cerita kalau Charlie, memang selalu menjaganya, tapi, kau tidak bisa selalu menjaganya, Cody bukan anak kecil lagi, ia bisa melakukan apa saja yang ia inginkan, kita, tidak bisa mencegahnya, hanya bisa membantunya dari belakang, kami, juga tahu kalau apa yang dilakukan cukup berbahaya, ia juga mengetahuinya, tapi, semua ini adalah Cody, ia memang orang yang seperti itu khan"
Charlie tersenyum, berusaha menahan emosinya.
"He, ia anak yang kuat, ia lupa apa yang terjadi sebelum usianya sepuluh tahun, dan soal bagaimana ia kehilangan orang tua kandungnya, aku tahu ia sangat frustasi karenanya, tapi ia tidak pernah menunjukkannya, ia akan selalu berusaha menutupinya di depan orang lain dan menganggap masalahnya tidak ada, tapi, itu ada, heh, Cody itu"
Riana menepuk pundak Charlie pelan, dokter muda itu pasti sudah lama menahan semua di dalam dadanya, dan akhirnya bisa meluapkannya sekarang, ia juga tahu hidup Cody sangat keras sejak ia kecil, tapi semua itu akan hilang, seiring dengan semua cinta yang akan diterimanya, semua penderitaan itu akan hilang dengan sendirinya, itulah kenapa ia tidak pernah sedikitpun menyerah padanya, karena ia akan selalu menjadi cinta yang sangat besar untuk Cody-nya, itu yang ingin dikatakannya pada Charlie, dan mungkin, tanpa ia mengatakannya pun, Charlie pasti sudah tahu.
*-*-*-*-*
Tony melewati meja kerja Rio, membawa beberapa tumpukan berkas yang diminta Rio sebelumnya, tapi polisi muda berpangkat setara supervisor itu bahkan tidak menggubrisnya, ia mengacuhkannya, sangat tidak biasanya, pikir Tony.
Ia mendekat kembali ke meja Rio.
"Rio, mikirin apa? Memang cederanya Cody serius yah?"
Rio mengangkat kepalanya, seakan tersadar dari lamunannya, dihempas tangan Tony dengan kertas yang sejak tadi dipegangnya.
Tony menggaruk kepalanya, ia tidak menyangka ucapannya tadi membuat Rio begitu emosi.
"He bukan itu maksudnya, aku hanya aneh saja melihat kau melamun begitu, Cody anggota team kita tentu saja kita semua cemas, jangan berpikiran seperti itu Rio"
Rio berdiri dari duduknya, menatap Tony sejenak, hingga ia mengulurkan tangannya.
"Mana, data yang tadi aku minta, soal riwayat awal penculikan hingga permintaan uang tebusan"
Tony bergerak ke mejanya kembali, mengambil di tumpukan berkas paling atas, sebuah map dengan beberapa informasi yang berhasil dikumpulkannya.
"Ini Rio, riwayat lengkap saat Aneke diculik hingga hari ini, semua ada di sini, aku mengumpulkan semua informasi menjadi satu, agak ribet juga sih tadi karena bagian penculikan sempat mengulur informasi, mereka itu pelit sekali sih"
Rio membalik kertas berkas selembar demi selembar setelah membacanya.
"Kau harus bisa membujuk mereka, atau kalau tidak mau bawa saja nama Gus nanti juga dikasi, mereka itu cuma luarnya saja terlihat galak tapi sama seperti kita yang butuh informasi dari mana-mana, ini sudah semuanya?"
Tony mengangguk.
"Yah, kurang dan lebihnya, aku masih berusaha mengumpulkan informasi dari team lain, Hemh, akan lembur malam ini" Tony menoleh pada tumpukan berkas yang ada di atas mejanya, menarik nafas panjang.
"Heh"
"Apa kalian sudah menemukan pria itu? Yang memukul Cody dan berhasil melarikan diri?" Tanya Rio lagi.
Tony menggelengkan kepalanya,
"Belum, aneh sekali, ia seperti menghilang ditelan bumi"
"Heh Cody itu, dia itu seperti magnet, menarik hantu hingga penjahat mendekat padanya"
Tony mengerutkan dahinya mendengar ucapan Rio.
"Eh, hantu? Maksudnya apa tuh Rio"
Rio salah bicara, pikirnya cepat, ia lupa kalau hanya dia yang tahu soal kemampuan Cody melihat arwah atau hantu, dan Cody juga mungkin tidak akan nyaman kalau sampai semua orang di sana mengetahuinya, ia bisa marah besar padanya.
"Eh yah, itu maksudnya, dia itu sering sekali celaka, seperti diikuti hantu saja, benarkan kataku?"
Tony membulatkan mulutnya, ia kembali ke tempat duduknya.
"Oh begitu, memang dia itu seperti dikejar hantu, selalu kena masalah"
Rio menurunkan dadanya lega, ia beruntung Tony yang tidak terlalu penasaran hingga ia tidak akan menghiraukannya lagi, Rio berdiri dari duduknya.
"Aku akan ke apartemen untuk mengecek kondisi Cody, dan siapa tahu ia bisa memberi petunjuk soal orang yang memukulnya"
Diraih jaketnya di bahu kursi dan bergerak meninggalkan ruangannya.
+-+-+-+-+-+-