
Jeepnya Cody
Di depan sebuah gedung tua lima lantai yang tidak terurus.
Tanaman jalar yang tumbuh menutupi sebagian dinding gedung, pohon yang sangat lebat hingga daun yang jatuh menumpuk di bawahnya. Tumpukan batu sisa reruntuhan yang masih dibiarkan begitu saja di pojokan. Bangunannya sudah sangat rapuh, beberapa atap bahkan tampak reyot dan berlubang, pintu dan jendela terkoyak hingga lantai yang retak di beberapa bagian seperti terkena gempa.
Itu sebuah rumah sakit lama, terlihat dari tempat Cody berdiri di sebrang jalan, Cody pikir mungkin bisa mulai mencari di sana, ia mendapatkan alamat itu dari hasil pencarian bersama Lukas dan Hervant semalam soal gedung tua yang tidak terurus, entah apa yang akan ia temukan tapi dua sahabatnya mungkin akan sangat marah karena ia pergi duluan tanpa memberitahu keduanya.
Jalan ke arah gedung yang berada di ujung jalan cukup membingungkan, kalau bukan karena petunjuk beberapa warga ia mungkin tidak akan menemukan gedung sebesar itu di sana, belum lagi pohon tinggi lebat yang menutupi gedung hingga tidak terlihat dari jauh.
"Oh gedung itu, ada di jalan masuk sebelah sana, tapi gedungnya agak anker gitu, kalau malam suka ada suara aneh-aneh makanya banyak yang tidak pakai jalan masuk di sana" ujar salah seorang ibu-ibu yang berkumpul di dekat sebuah sekolahan saat Cody bertanya.
"Bruk" suara pintu Jeep.
Ia baru menutup pintu jeep nya saat ponsel di sakunya bergetar, ia enggan mengangkatnya sebenarnya karena nama Rio muncul di layar, tapi kalau tidak mengangkatnya Rio akan semakin mengganggunya.
"Heh, yah Rio"
Posisi Rio dan Tony sendiri sebenarnya berjarak tak jauh dari gedung tua, sekitar satu blok setelah memarkir kendaraan mereka dan mencari dengan berjalan kaki ke alamat yang mereka dapatkan tadi.
"Kau di mana? Masih marah yah?"
Cody berjalan menjauh dari jeep nya, didongakkan kepalanya melihat ke atas di mana gedung tua bekas rumah sakit di depannya, memang terlihat sedikit mengerikan, beberapa kali ia melihat bayangan yang muncul di jendela dan menghilang dengan cepat, asap hitam seolah mengambang di sekitar gedung, tidak diragukan lagi itu memang gedung anker.
"Aku sedang ada urusan pribadi, tadi pagi khan sudah bilang" ia meneruskan jalannya menuju ke bagian depan gedung, pagar tinggi yang sudah rusak dan hampir jatuh ke tanah, ia hanya melangkahinya sedikit dan sudah bisa masuk ke dalam.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke depan pintu utama, mungkin lobinya, yang atapnya sudah miring sebelah, permukaan lantai tak terlihat karena kotoran dan rumput liar yang menutupinya, suara angin lewat membuat suasana semakin mencekam karena tidak ada apapun di sana selain dirinya, walau sebenarnya ia memang tidak sendirian.
Sambil memegang ponselnya Cody berusaha mengintip ke balik pintu yang sedikit terbuka, mungkin bisa mendorongnya sedikit dan masuk melihat-lihat.
Rio menyipitkan matanya melihat sekitarnya, matahari bersinar cukup terang mengenai mata hingga membuat ia harus mengenakan kacamata hitamnya.
"Aku ada di daerah Avenue5, kau di mana? Mau ke sini tidak? Siapa tahu aku membutuhkanmu untuk mengambil photo rumah tersangka, beberapa orang dari bagian forensik ada di kota belahan lain nich" bujuk Rio, ia sebenarnya sedang berusaha membujuk Cody sejak pertemuan terakhirnya tidak terlalu mengenakkan, dan ia jadi deg-degan menunggu jawaban Cody.
Sedikit kerepotan, Cody sudah masuk ke dalam gedung tua itu, ia mungkin salah dengar tadi "eh di mana? Avenue5? Aku juga, em, memangnya, alamat tersangka ada di sekitar sini?"
"Yah, gedung tua bekas rumah sakit" jawab Rio.
Ucapan Rio membuat Cody menghentikan langkahnya sebentar.
"Eks rumah sakit? Yang di ujung jalan khan? Kebetulan aku sudah di sini, kalian ke sini saja"
Rio menghentikan jalannya, Tony yang melihatnya ikut berhenti "ada apa Rio?"
Rio membuka matanya lebar, melihat ke sekitarnya, siapa tahu melihat Jeep milik Cody di sana.
"Eh kau di mana Cod? Kau tahu dari mana? Memangnya ada yang memberitahumu? Anna yah?"
Cody menggeleng, ia berjalan terus ke sepanjang lorong yang cukup dikenalnya, ia sepertinya pernah melihat lorong itu dalam mimpinya,
"Ummm! Umm!
**Bayangan di kepala Cody.
Seorang anak gadis yang ditarik rambutnya sepanjang lorong, perlahan Cody meneruskan langkahnya, ada jejak di lantai seperti bekas menyeret sesuatu di sepanjang lorong hingga berakhir di ujung.
"Cody jangan matikan teleponnya, eh anak ini, Tony coba cari di mana gedung itu berada cepat!"
Rio cemas, firasatnya mengatakan Cody mungkin bisa dalam bahaya sendiri di sana, dan pemuda itu sudah mematikan sambungan teleponnya.
Cody berjalan perlahan ke ujung lorong, jantungnya berdebar makin kencang, entah apa yang akan ditemukannya di sana tapi ia mulai merasa ide yang sangat buruk untuk pergi ke sana sendirian saat ini.
Tony berlari ke ujung jalan, ia sepertinya melihat Jeep milik Cody diparkir tak jauh di ujung jalan depan.
"Rio di sini!"
Tanpa pikir panjang Rio berlari, ia dan Tony langsung mendekat ke arah Jeep yang diparkir tepat di depan gedung tua yang mereka cari, alamat terakhir tersangka terlihat oleh warga.
Rio mengeluarkan senjata yang di selip di sabuk di balik jaketnya.
"Ayo Ton, panggil bantuan"
Seru Rio sambil berlari masuk ke arah gedung.
*-*-*-*-*
Pengap, ada hawa yang tidak enak dihirup, menekan hingga ke dalam dada, asap yang lewat seakan hidup dan sejenak berhenti melihat ke arah Cody, melayang di sekitarnya.
Sesuatu mengawasinya..
Cody mematikan sambungan ponselnya, perlahan dibuka pintu yang tertutup di depannya, bentuk daun pintu masih sempurna, handelnya pun tampak seperti baru diganti karena warnanya berbeda sendiri dan masih mengkilap, sejenak ia ragu, tetap waspada.
Sisa cahaya remang dari luar menyelinap lewat tirai jendela yang sudah terkoyak, jendela kaca buram menjadi saksi betapa gedung itu memang sudah lama tak terurus.
Siapapun, apapun bisa muncul di depannya kini. Dihidupkan video ponselnya, sekedar mengabadikan apa yang akan ditemukannya di dalam ruangan itu.
"Srekkk"
Suara gesekan di lantai saat pintu dibuka, lantai kamar yang kotor dan tak terurus, di tengah ruangan hanya ada satu brankar, seperti meja operasi, lalu ada tiang untuk tabung infus yang sudah kotor dengan sisa carian di dalamnya tergantung.
Di pojok ruangan ada beberapa mesin kecil seperti alat pengejut jantung, ada meja dengan beberapa pisau operasi, ini, seperti ruangan operasi pada umumnya, hanya, semuanya kotor dan tidak terawat, ini mungkin sisa peninggalan bekas rumah sakit ini, pikir Cody masih selangkah demi selangkah masuk kian dalam.
Tapi baunya, tercium samar, bau amis darah, dan tanpa sengaja Cody menginjak sesuatu di bawah kakinya, darah yang masih sedikit lembek, bukan darah kering.
Cody menutup mulutnya, bau darah makin kental tercium, mendesak hingga perutnya, ia belum sarapan pagi ini.
"ooh"
Saat ia menghindari genangan darah lain sesuatu mengejutkannya, ia hampir meloncat kaget, sesosok hitam berdiri di pojok ruangan, gelap dan kusam, pria itu, mungkin, sepasang mata yang gelap menatapnya lurus.
"Eh, maaf" Cody berdiri di tempatnya, tapi pria itu tidak diam saja di sana, dalam sekejap ia sudah melesat tepat ke depan wajah Cody.
"Kembalikan jantungku!!"
Suara yang sangat keras hingga berdengung dan memekakkan telinga, Cody sampai harus menutup mata karena tekanan yang diberikan arwah itu sangat kuat
"akch!"
+-+-+-+-+-+-