You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Encounter and Encounters



........


Hari berikutnya.


Cody, Hervant dan Lukas kembali ke kantor praktek dokter Yunita, siapa tahu mereka dapat petunjuk, entah dari dokter Yunita, atau siapapun di sana, namun, saat tiba di depan meja resepsionis.


"eh keluar kota?" ulang Hervant, gadis di balik meja mengangguk "iyah, sejak kemarin, kalau dokter Agus mau?" tawar gadis itu,


Hervant melambaikan tangannya.


"Tidak eh, tidak usah, kami hanya ingin bertemu dokter Yunita saja, eh kalau begitu, apa, kami boleh minta ijin masuk ke ruangannya?" gadis itu mengerutkan dahinya, permintaan yang aneh dari Hervant.


"Apa tadi? Tentu saja tidak boleh, ruang kantornya bukan tempat umum, memangnya bisa masuk sembarangan, tidak ada dokter Yunita kalian ngapain masuk ke dalam?"


Hervant gagap, tidak tahu harus bicara apa hingga Lukas yang maju.


"eh maksudnya, eh kemarin waktu kami masuk, ada barang kami yang ketinggalan di dalam, jadi, eh kami perlu mengambilnya begitu"


Gadis itu tidak percaya begitu saja, menatap Lukas tajam.


"Barang apa? Sini, biar aku saja yang ambil?"


Hervant dan Cody hampir tertawa, melihat wajah Lukas yang pucat saat gadis itu bertanya, ketahuan ia berbohong "eh itu, itu, he"


Akhirnya mereka keluar dengan tangan kosong, tidak dapat petunjuk apapun yang ada justru omelan dari resepsionis dan pandangan sinis dari para tamu.


"Fhuh, hampir saja" ujar Lukas.


"He he he ide mu itu sudah basi Luk, harusnya jangan bilang mau ambil barang tadi" ujar Hervant.


"Yah habis mau bilang apalagi, bagus kalau dia percaya akan alasan kita, heh, ternyata cewek itu galak sekali, cantik-cantik kok galak ichh"


Mereka menuju ke jalan besar di mana jeep diparkir di sebrang, Cody berjalan paling depan, saat tiba-tiba seseorang muncul dari balik Jeep dan tanpa bisa menghindar tabrakan pun terjadi.


"Aduh" beruntung tidak terlalu keras, namun semua barang bawaan gadis itu jatuh semua ke trotoar.


"Aduh maaf"


Cody segera membantu memungutnya, gadis itu tersenyum, ia tahu ia juga salah karena terburu-buru hingga tidak melihat Cody dan lainnya di balik jeep.


"Eh aku yang salah, maaf yah buru-buru jadi begini deh"


Hervant menepuk lengan Lukas, melihat Cody yang sibuk sendiri.


"He si Cody itu paling bisa menarik perhatian cewek"


Lukas mengangguk "iyah, aduh jurusku kalah deh"


Gadis itu berdiri, selesai memungut semua bukunya, diangkat kepalanya dan menemukan senyum Cody di depannya, menyodorkan bukunya yang terakhir.


"Bukunya banyak sekali"


"Iyah eh" gadis itu terpana, terdiam di tempatnya, saat Cody mengangkat wajahnya ke arahnya, matanya yang bersinar menatapnya lurus, mata yang begitu indah, warna coklat muda yang sedikit transparan saat terkena cahaya matahari terik siang itu, membuat jantungnya hampir copot, belaian angin yang lembut lewat sedikit membelai rambut depan Cody yang kecoklatan.


Cody tersenyum, sikap bengong gadis manis itu yang terus menatapnya tanpa kedip membuat pipinya merah "he maaf yah, eh"


Hervant mendekat "Hi Cody, wah, dapat kenalan baru yah" suara Hervant yang sengaja diperkeras membuat lamunan gadis itu buyar, ia malu, menyadari telah menatap Cody demikian.


"Eh ma maaf, aduh, ehh" gadis itu mengaitkan rambut sebahunya ke belakang telinganya gugup, degup jantungnya cepat seperti habis berlari sangat jauh dan masih kelelahan karenanya.


"He he namanya Cody, mau tahu nomor hp-nya juga?" goda Lukas pada gadis itu, Cody menyodok perut Lukas yang tiba-tiba datang merangkulnya dari belakang.


"Hei apa-apaan Luk"


Gadis itu terlihat malu, Hervant dan Lukas terus saja menggodanya, ia menundukkan kepalanya dan permisi "eh maaf, permisi"


"He he he he Cody Cody, kau ini memang seperti magnet, di mana saja bisa membuat para cewe histeris, padahal, ehm dibilang kalah ganteng, aku juga tidak, kok mereka tidak melirikku yah" seru Lukas, ketiganya menuju ke jeep kembali.


"Sudah, jangan cerewet Luk, kau membuat cewe itu malu tadi" protes Cody.


Lukas menghidupkan mesin mobil "yah habis, dia melihatmu seperti dunia ini tinggal kalian berdua saja, memangnya tidak ada orang lain"


Gadis itu menoleh, tersenyum malu, mata Cody tadi, tatapannya yang dalam. Mata yang sangat indah itu telah mencuri perhatiannya, pertama kali melihatnya, ia mungkin tidak akan bisa melupakannya begitu saja "he Cody yah"


*+*+*+*+*


Rio memimpin jalan, kali ini mereka berkumpul di rumah Rio, yang dengan sangat begitu baik hati polisi bagian lab satu itu mengundang Cody dan teman-temannya ke rumah kecil yang baru ditinggalinya di pinggir kota.


"Jadi kasusnya sudah selesai?" tanya Hervant, sambil membuka kunci pintu Rio mengangguk "yah mau bagaimana lagi, pihak keluarga sudah mengambil jenazah kemarin sore, walau polisi masih ingin menyelidiki lebih lanjut, tapi, sepertinya pihak keluarga sudah pasrah, mereka merelakan kepergian Richard dengan atau tanpa tahu apa penyebab beliau terbunuh"


Pintu dibuka, segera Hervant dan Lukas masuk setelah Rio, namun, Cody tertahan di depan pintu, menelan ludahnya bulat-bulat, lehernya tiba-tiba dingin.


"eh Cod, kenapa, gak masuk?"


Lukas mulai curiga, apalagi gelagat Cody yang demikian, pasti ada apa-apanya, ia dan Hervant dengan cepat keluar, meninggalkan Rio yang sudah berdiri di ruang tengah menunggu mereka.


"Wah ini gawat" bisik Hervant.


"Hei kalian kenapa berdiri saja di sana? Kenapa gak masuk? Rumahku begitu jelek yah!" seru Rio, Lukas menarik lengan baju Cody.


"Cod, ada, berapa?"


Lukas memberanikan diri bertanya, Cody menoleh, walau ia sering bertemu dengan mahkluk halus atau apapun namanya, namun ia tetap selalu merasa takut, manakala bertemu dengan mereka pertama kalinya.


Rio merasa aneh, ia jadi horor memikirkan kalau Cody saja tidak berani masuk ke rumahnya, itu berarti.


"eh Cod, jangan bercanda deh, masach, ehh"


Angin dingin bertiup, buluk kuduk Rio tiba-tiba dingin.


"icchh"


+-+-+-+-+-+-