You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Rest In peace?



.........


Kembali ke apartemen Cody.


Hervant dan Lukas tidak berhenti tertawa mendengar cerita Rio barusan.


"Ha ha ha ha lucu, orang itu ketakutan? Dan mengira kalian minta suap begitu?" ulang Lukas, Rio memasukkan makanan kecil ke dalam mulutnya.


"Iyah, bodoh sekali khan? Aku hampir membuatnya koma kalau tidak ada Cody"


Suara tawa mereka begitu keras, bahkan Cody yang sudah tertidur lelah di kamarnya tidak merasa terganggu sedikitpun.


Rio menoleh, tersenyum menyadari apa yang telah Cody lakukan untuknya.


"Terima kasih yah!" seru dua pria di depan Cody kini, keduanya terharu, mengingat Cody telah mengabulkan keinginan terakhir mereka, bahkan sampai menangis dan mengeluarkan ingus.


"Ems kalau bukan karena kau, keluarga kami, tidak akan dapat uang itu, apa yang bisa kami lakukan untuk membalas jasamu"


Cody terharu, dua pria bertubuh besar bertampang seram, yang seumur hidupnya dulu bekerja sebagai tukang pukul dan debt kolektor untuk Gordon, keinginan mereka menagih hutang itu adalah demi untuk keluarga mereka yang mereka tinggalkan, setelah selama hidup mereka merasa telah menyusahkan anak istri mereka.


"Sekarang kalian sudah bisa istirahat dengan tenang" ujar Cody, suara tangis mereka tambah keras


"huaaaa"


Dan kini Rio lega, akhirnya, ia bisa juga kembali ke rumahnya tanpa merasa ada yang menakutinya, tapi, teringat sesuatu.


"Aduh lupa"


Rio segera berdiri, ia masuk kamar Cody dan menggoyang-goyang tubuh Cody yang sudah terlelap.


"Cody bangun! Ayo Cod, kau masih lupa yang satu lagi, yang di kamarku, ingat tidak? Cody" namun Cody begitu menikmati tidurnya hingga hanya menepis tangan Rio darinya.


"Ach Rio jangan ganggu deh"


"Cody ayolah, aku mau pulang malam ini, yang di kamarku masih ada khan? kau bilang kemarin"


Hervant dan Lukas berdiri di depan pintu.


"Kenapa lagi si Rio itu?"


"Kemarin Cody bilang apa soal hantu yang ada di kamar Rio?" tanya Hervant, Lukas nyengir.


"Katanya biarkan saja, habisnya hantu itu juga tidak mau pergi sebelum urusannya selesai"


"Urusan apa?"


Rio masih berusaha membangunkan Cody, yang walau langit runtuh akan susah sekali dibangunkan.


"Cody!"


Hervant menahan tawa setelah mendengar penjelasan Lukas.


"He yang benar?"


"Iyah, maka itu Cody tidak bisa mengusirnya pergi, sebelum urusannya selesai"


Keduanya tertawa, menjauh dari pintu kamar.


"Ha ha ha ha ha biar tahu rasa si Rio itu"


*-*-*-*-*-*


Rio berdiri di depan kamarnya, menjatuhkan tas pakaiannya di mana ia numpang menginap di apartemen Cody selama beberapa hari ini,


seorang nenek tua renta sudah menunggunya di depan ranjang.


"He he he he ayo anak muda, kapan kau mau buka pakaianmu, aduh nini sudah tidak tahan nich"


"Aduh Cody, awas yah kau!" seru Rio keras


Membayangkan itu membuat Cody tertawa dalam tidurnya "he"


.........


^^^"Kematian, seperti jarum jam yang terus berdetak, kau akan merasakan ia tetap hidup selama ia terus berdetak, seperti setiap detik yang diputar dalam lingkaran jam, seperti itu hidup yang dijalani manusia, akan terus berputar hingga pada akhirnya berhenti, dan mati.."^^^


^^^Walau, .. sebagian ada yang tidak berhenti hanya di kematian sekalipun^^^


.......


Cody bergerak menjauh dari apoteker, ia kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan atas luka karena kecelakaannya dulu.


"No 105!" Seru petugas apoteker.


Sejenak ia duduk di kursi tunggu bersama banyaknya pasien lainnya.


Disandarkan pundaknya ke bahu kursi menarik nafasnya sedikit panjang.


Banyak bayangan hitam di sekitarnya.


Mengapa rumah sakit adalah tempat yang paling tidak disukainya, salah satu alasannya adalah itu, tempat itu adalah tempat di mana ia paling bisa merasakan hawa negatif yang kental karena beberapa kematian yang kerap terjadi di sana, seakan rumah sakit adalah tempat di mana asap hitam berkumpul, malaikat penjemput selalu datang.


Entah bagaimana tapi ia bisa secara tanpa sadar membedakan antara arwah terikat dan manusia yang hidup, walau secara pandangannya mereka hampir tidak ada bedanya.


Di manapun matanya melirik ia akan selalu melihat arwah terikat yang baru saja keluar dari raganya. Berkeliling sesaat di antara manusia yang masih hidup lalu menghilang di ujung jalan.


"Whoosh!"


Ada juga yang kerap melihat sekitar dan belum juga mau pergi.


Yang paling mengagetkannya adalah arwah yang muncul entah di lorong yang sepi atau di depan toilet, ia tidak akan terbiasa walau sudah sering melihat mereka muncul tiba-tiba, seperti saat memasuki pintu rumah sakit tadi Cody bahkan melihat seorang anak gadis dengan pakaian gaun panjang berwarna krem yang berdiri di depan UGD, sekilas anak itu tampak normal saja, tapi ia mengejutkan Cody saat menoleh padanya, sebelah wajahnya yang lain sudah setengah hancur dengan bentuk yang sudah tidak jelas, ia meninggal karena kecelakaan, bukan hal menyenangkan yang ingin ditemui bahkan berusaha ia hindari.


Cody melihat seorang wanita yang sering sekali dilihatnya waktu ia menginap di rumah sakit.


Berdiri di pojok sebelah vas bunga besar dekat pintu tangga darurat.


Mungkin, ia harus mulai mendekatinya dan mengajaknya bicara, sudah waktunya Cody mencoba membantu, jika itu yang memang diinginkannya karena selalu mendatanginya seakan, ia meminta tolong.


Perlahan, Cody melanjutkan jalannya masuk ke dalam pintu tangga darurat, di mana ia mungkin akan lebih leluasa di sana, tentunya tidak akan ada yang melihatnya sebagai orang gila karena berbicara sendiri.


"Hai, eh, apa, kau, ingin bicara denganku?" Cody menatap wanita muda di depannya sejenak, seorang gadis kecil manis digandeng di tangannya.


Wanita itu mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan awal tiga puluh, wajahnya cantik alami dan menarik, kulit tidak terlalu putih, rambut panjang agak ikal, dengan tahi lalat agak besar di samping mata sebelah kirinya.


Ia tersenyum, walau Cody melihatnya sebagai arwah tapi ia lebih menyerupai manusia lainnya, bedanya, ia hanya bayangan yang tidak bisa di sentuh karena tak lagi memiliki raga.


"Tolong kami, kami sudah lama di sini, tapi, entah kenapa kami masih di sini dan belum pergi hingga sekarang, seolah, kami tidak ada, kau, sangat bersinar, hanya kau yang bisa melihat dan membantu kami"


Cody melihat wanita itu lama, lalu anak gadis di tangannya, ia, seperti pernah melihat anak gadis itu, tapi, di mana? Apa hanya pikirannya saja?


"Apa, kau ingat siapa namamu?" Tanya Cody, wanita muda itu mengangguk, tapi ia menundukkan kepalanya.


"Tahu, tapi, hanya nama depan"


*-*-*-*-*-*


"Dian?" Ulang Lukas.


Cody mengangguk, ia sudah kembali ke apartemen dan menceritakan pertemuan singkatnya dengan wanita muda yang mengaku bernama Dian di rumah sakit.


Hervant dan Lukas sangat seksama mendengarkan.


"Apa, kau sudah coba tanya rumah sakit? Soal pasien bernama Dian, dan kau kenal wajahnya khan dari sekian banyak Dian pasti ada yang sama khan?"


Cody memajukan duduknya.


"Tadi aku sempat bertanya, tapi, mereka tidak mungkin memberi informasi seperti itu ke sembarang orang, akan sangat susah mencari tahu apakah ada pasien bernama Dian dengan ciri-ciri yang sama di sana"


Lukas yang kini menegakkan duduknya.


"Kenapa tidak minta tolong Rio saja?"


Cody menoleh, mengerutkan dahinya.


"Tapi, urusan seperti ini kenapa harus mencari Rio, dia itu super sibuk, pasti bilangnya seperti itu, mana mau dia bantu"


Hervant menepuk pundak Cody.


"Pasti mau Cod, ia khan masih berhutang padamu karena kau berhasil mengusir hantu di rumahnya, harusnya dia mau membantu donk"


"Rio itu bawel and super banyak ingin tahu, ia pasti banyak tanya dech, heh"


Cody menyenderkan pundaknya kembali, ia menarik nafas panjang.


"Heh, nanti saja aku pikirkan lagi bagaimana caranya, kasian kalau Dian dan lainnya harus terus di sana sepanjang umur mereka"


+-+-+-+-+-+-