You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
The Basement



..........


Mila merintih, pegangan tangan Riana sangat kuat seakan ia akan mematahkan tangannya, Lukas menahan tangan Riana, gadis itu pada akhirnya tak bisa menahan diri.


"Ri tenanglah" Lukas melirik Mila kembali dengan mata serius, ia tidak pernah terlihat seserius itu sebelumnya.


"Mila, apa kau tahu siapa yang sudah membawa Cody? Kau tahu khan ia mungkin dalam bahaya saat ini, kami mohon"


Kedua mata Mila sudah merah karena menangis sejak tadi, ia sangat cemas hingga suaranya terbatah-batah.


"D dokter Dody, dokter Dody yang menyembunyikannya, a aku sudah mencari di tempat biasanya tapi ia tidak ada, a aku, aku sudah berusaha"


Riana yang menahan geram akhirnya mendorong Mila dengan kasar jatuh ke atas lantai.


"brukk!"


Semua mata kembali memandangnya, kemarahan Riana saat ini, ia bahkan tidak bisa bicara karena terlalu marahnya, gadis itu tahu di mana Cody berada tapi ia diam saja sejak tadi.


"Kau! apa salah Cody padamu! Kenapa kau melakukan ini padanya? Kenapa kau begitu jahat!!" Suara Riana keras dan bergetar.


Dengan segenap tenaganya Riana memukul Mila yang sudah jatuh terduduk di lantai, berusaha menendangnya kalau saja Lukas tidak segera mengangkat tubuh Riana dan menjauhkannya dari Mila.


"Riana tenanglah kendalikan emosimu!"


"Kenapa kau melakukannya! Kenapa kau begitu jahat sama Cody!!"


Mila tidak melawan. Ia tidak akan melawan, semua yang dikatakan Riana ada benarnya, ia tahu dan diam saja selama ini hingga Cody kini benar menghilang, di mana ia bisa menemukannya? Memikirkan semua hal terburuk yang mungkin akan terjadi pada Cody, membuat dada Mila semakin sakit.


"Huks maaf, maafkan aku"


*-*-*-*-*


Rio melihat cctv seksama, informasi dari Mila kalau dokter Dody ada dibelakang menghilangnya Cody membuat satu team sibuk mencari keberadaan dokter itu.


Anggota kepolisian sudah memenuhi kamar vvip sebagai tempat kerja mereka.


Tempat Cody terakhir terlihat ternyata hanya sebuah gedung kosong tanpa peralatan apapun yang berfungsi, tidak mungkin kalau Cody disembunyikan di sana karena semua kunci pintu pun belum berfungsi.


Sementara Dokter Dody terakhir kali terlihat di lantai satu kemarin sore, dan tidak terlihat lagi sejak pagi tadi.


Tapi kartu pengenalnya beberapa kali terlacak digunakan untuk membuka beberapa ruangan akses terbatas di lantai satu dan juga basement, Rio dan team bisa mulai dari sana.


Waktu sudah menunjukkan kurang dari pukul dua belas malam, menjelang tengah malam dan Mila ingat apa ucapan dokter Yunita kalau pada tengah malam ini mereka akan memanen semua organ tubuh Cody, ia mungkin bisa terlambat hingga saat itu.


*-*-*-*-*


Cody membuka matanya, garis-garis cahaya putih di langit-langit yang terus bergerak.


Beberapa orang dengan pakaian biru seperti dokter dan perawat mendorong brankarnya menuju ke ujung lorong.


"Cody! Bangun Cody, Cody!!"


Suara itu semakin jelas, Dian yang terus mengikuti brankarnya, tapi Cody tidak bisa bergerak, ia tidak juga bisa mengeluarkan suara, seakan ia lumpuh.


"Cody bangun! Ayo cepat bangun! Aku ingat apa yang mereka lakukan padaku, jangan sampai orang itu melakukannya padamu juga, ayo bangun!!"


Suara keras Dian tidak bisa membantunya, pandangan Cody tetap buram, otaknya mungkin bisa berfungsi dengan baik tapi tidak dengan tubuhnya, ia tidak bisa mengendalikan matanya untuk tetap terbuka, sangat berat sekali.


Kereta yang membawanya berhenti, mungkin masuk ke sebuah ruangan, pikir Cody yang gamang setengah sadar, tubuhnya dingin, pakaiannya tipis, sejenak melihat ini bukan pakaiannya, mereka menanggalkan semua pakaiannya dan membiarkan ia kedinginan di atas brankar dengan hanya ditutupi selembar selimut tipis, ini bukan hal baik, pikir Cody berusaha fokus.


Seorang pria merunduk ke arahnya, tersenyum lebar melihat wajah Cody dari dekat.


"Heh sayang sekali anak muda, andai kau tidak ingin banyak tahu"


Suaranya berdengung di telinga Cody, ia tidak bermimpi saat ini, semua ini nyata, tapi apa yang bisa ia lakukan? ia bahkan tidak bisa mengerakkan jari tangannya.


Dokter Dody mendekat lagi, suaranya berdengung di telinga Cody, datang dan pergi.


"Kau ini beruntung anak muda, kami akan terus membiarkan jantungmu yang sangat berharga itu berdetak hingga detik-detik terakhir, itu yang paling penting di antara semuanya, hehehehe sayang sekali, kau harus mengusik ketenangan orang nomor satu di kota ini, hingga kini kau tidak bisa ke mana-mana, tidurlah, setelah kau bangun, semua ini akan berakhir"


Suara dokter itu masih terdengar samar hingga Cody tak mampu lagi menahan matanya yang lelah karena pengaruh anestesi.


"Berikan ia tambahan kentamine, kita tak mau sampai kejadian tadi terulang lagi, berikan sebanyak yang kalian bisa asal jangan membuat jantungnya berhenti, jantung itu sangat berharga"


Dian berusaha membangunkan Cody.


"Cody! Bangunlah Cody!" Suara Dian terakhir didengarnya.


*-*-*-*-*-*


Rio menyiapkan senjata apinya, kalau petunjuk mereka benar, kemungkinan dokter Dody mungkin menyembunyikan Cody di ruang basement itu, ia, Tony, Hervant dan Lukas juga beberapa anggota polisi yang beberapa berpencar ke arah lain.


Rio menunjuk ke arah pintu dengan nyala lampu di ujung ruangan, ia memberi aba-aba pada Tony agar maju perlahan.


Ruang basement yang merupakan ruangan untuk pasien psikiatris karena beberapa hal ditutup sementara oleh pihak rumah sakit. Berada di gedung utama bukan di gedung baru seperti yang diduga Rio sebelumnya, mereka berusaha mengelabui semua orang dengan melakukan hal ilegal di tempat paling tidak terduga.


Tadinya Mila sudah mencari ke sana dan tidak menemukan apapun, tapi penampakan dokter Dody terakhir terlihat di kamera pengawas membuat semua orang curiga kalau ia mungkin kembali ke sana.


Rio menahan nafas, berdiri di depan pintu kamar yang lampunya menyala di antara kamar lainnya. Ia berharap Cody ada di sana, tapi juga berharap kalau mereka tidak terlambat, pikiran buruk yang membuat ia cemas hingga sesaat ia tidak bisa bergerak.


Tony menepuk pundak Rio menyadarkannya.


Rio mengangguk, menyatakan ia siap, ia segera memberi aba-aba pada anggota teamnya untuk maju.


Suara monitor ekg mendominasi ruangan. Beberapa peralatan operasi sudah disiapkan di samping ranjang. Dokter Dody menganggap scapelnya tinggi, ia siap menggores kulit perut Cody saat mendengar sesuatu tepat di telinganya.


"klek" gerakannya terhenti, sebuah benda keras dan dingin sudah menempel di kepala belakangnya.


Perlahan dokter itu menegakkan berdirinya, membalikkan badannya melihat seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya, dengan benda yang dari jarak sangat teramat dekat di kepalanya seperti sebuah senjata api. Rio siap menembakkan senjatanya kalau pria bertubuh gempal itu semili lagi menggunakan pisau kecilnya.


"Kau lakukan itu, kau lukai Cody sedikit saja dan pungut sendiri pecahan otakmu di atas lantai" suara Rio terdengar menahan geram, Tony dan beberapa petugas lain sudah menahan beberapa orang dokter dan perawat yang ada di dalam kamar itu.


+-+-+-+-+-