You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Heart Attack!



....


"Cod!" Charlie mengejar Cody yang keluar kamar cepat, beberapa kali menahan tangannya tapi pemuda itu menepisnya.


"Charlie aku tidak apa-apa"


Charlie akhirnya bisa menahan tangan Cody menghentikan langkahnya, dua pemuda bertubuh tinggi itu menutup koridor dengan berdiri di tengah jalan, Charlie menarik Cody minggir.


"Kau hampir mati tadi, kau tahu jantungmu sempat berhenti selama beberapa menit kau tidak bisa menganggap masalah ini tidak penting!" Seru Charlie, ia ingat betul beberapa waktu lalu ia dan team dari UGD berusaha menyadarkan Cody yang tak sadarkan diri, pedal pemacu jantung berapa kali mendarat di dadanya.


Cody menarik nafas panjang, ia masih bisa merasakan nyeri di dadanya karena mesin pengecut dan cpr, tapi hanya itu saja, tidak ada yang lain, kenyataannya ia sangat sehat, bahkan sakit apapun tidak dirasakannya kini, tapi tatapan mata Charlie dan belakangan Riana yang cemas membuat ia tidak bisa berbuat banyak.


"Aku tidak apa-apa Charlie"


Charlie masih menahan tangan Cody.


"Cody, kita lakukan tes lagi yah, heh bagaimana kau bisa berpikir kau baik-baik saja tapi kenyataannya tidak, kami yang melihatmu terbaring kaku, bayangkan bagaimana perasaan kami Cod!"


Mata Charlie menatap Cody lekat, ia hampir mati jantungan melihat Cody kaku tadi, sama sekali bukan hal yang diharapkan melihat pemuda itu terbaring seakan mati seperti itu.


"Cody" Charlie masih memegang lengan Cody erat.


Dari arah lift Hervant dan Lukas berlari mendekat, keduanya mendapat kabar soal kondisi Cody yang gawat, tapi kini keduanya justru bingung melihat sahabat mereka itu berdiri di sana dan terlihat baik-baik saja.


"Loh, katanya.." tanya Hervant.


Cody masih menatap Charlie dalam, hingga melepaskan pegangan dokter muda itu dan menyingkir pergi.


"Cod" dokter itu tak bisa lagi mencegahnya, pemuda itu sudah pergi tanpa bisa di halanginya.


Riana melewatinya, berhenti sejenak di depan Charlie, menyerahkan sesuatu ke telapak tangan dokter muda itu.


"Ini, berikan pada Rio, jangan sampai Cody memegangnya lagi"


Sebuah gelang rantai emas putih, ia ingat betul Cody menggenggam benda itu di tangannya saat berada di ruang ICU, dan saat benda itu terjatuh dari tangan Cody, jantung Cody berdetak kembali, benda itu, bagaimana bisa menyebabkan semua hal buruk itu? Hal yang sulit sekali dimengerti olehnya, atau siapapun.


*-*-*-*-*-


Cody menuju ke jeepnya, dengan segera Riana mendahuluinya dan mengambil kunci mobil yang sudah ada di tangan Cody.


"Ri"


Gadis itu mengulurkan kunci ke depan Lukas, lalu membuka pintu belakang untuk Cody.


"Lukas tolong antar kita pulang, Cody harus banyak istirahat"


Lukas yang sempat menganga terdiam di tempatnya mengangguk cepat.


"I Iyah"


*-*-*-*-


Udara di luar cukup panas.


Riana menatap Cody yang duduk termenung melihat keluar jendela lama.


Apapun yang dipikirkannya, Riana tahu ia tidak bisa berbuat banyak membantunya, tapi hanya bisa mendukungnya lebih dari apapun, gadis itu meraih tangan Cody, menggenggam telapak tangannya erat, menurunkan kepalanya ke pundak Cody yang lebar.


"Cody jangan sakit yah, aku akan masak lebih banyak, lebih sehat dan lebih enak untuk Cody, asal Cody tidak sakit yah"


Lukas dan Hervant saling berpandangan sejenak, menaikkan pundak mereka tidak tahu apa yang terjadi tadi.


*-*-*-*


Rio dan Tony menatap sebuah rantai gelang emas putih yang kini ada di atas meja di dalam plastik untuk menyimpan barang bukti.


"Hmmh, ini aneh, gelang siapa lagi ini? Kalau bukan milik Cody kenapa ada di antara barang-barang miliknya?" Tanya Rio,


"Apa harus bawa ke lab untuk dicheck oleh Anna, siapa tahu bisa menemukan DNA atau apapun yang menjadi petunjuk pemiliknya" saran Tony, Rio mengelus dagunya, Tony tidak tahu apapun soal kemampuan Cody, akan aneh memberitahukan padanya kalau efek yang diberikan gelang itu sangat luar biasa terhadap Cody, ia menarik nafas panjang.


"Hmh, yah bawa ke lab, lakukan apapun yang diperlukan untuk menemukan petunjuk soal pemilik gelang, mungkin ini sangat penting hingga Riana memberikannya pada kita langsung, bisa jadi berkaitan dengan kasus kita selama ini"


Tony mengangguk, diambil rantai dalam plastik itu dan membawanya pergi.


"Yes bos!"


End of Vol 1


*-*-*-*


Intro....


Bruk!!


Suara pintu tertutup sendiri dengan keras.


Anak itu berdiri di tempatnya, tangannya menggenggam kuat, dua kakinya berdiri dengan gemetar tidak bisa bergerak, di dalam kamar itu, di dalam kamar Collin sesuatu, atau seseorang berdiri tepat di belakangnya.


Anak itu Cody, mungkin usianya sekitar delapan tahun, wajah putihnya terlihat semakin pucat dan mata membelalak lebar menatap sosok tinggi besar yang berdiri tepat di belakang Collin, kakak kembarnya.


"C Collin" suaranya tertahan di tenggorokannya, hanya bisa mengeluarkan suara bisikan yang bahkan tidak terdengar oleh saudaranya itu, Collin tidak melihatnya, sosok yang tinggi kepalanya hampir menyentuh langit-langit kamar dengan jubah hitam hingga menutupi kepalanya dan diselubungi asap hitam yang seolah keluar dari tubuhnya.


Ada suara bergumam dari sosok itu, Cody takut ia bisa kencing berdiri karenanya, akhir-akhir ini ia sering melihatnya di sekitar rumah, sosok itu, yang kepalanya perlahan berputar seakan hendak melihat ke arahnya.


Seakan bisa mendengar suara gemeratak dari tulang kepala yang berputar, Cody menelan ludahnya bulat, tangannya mengepal semakin keras hingga melukai telapak tangannya sendiri dengan kukunya, ia ingin lari, tapi Collin ada di dalam, ia tidak bisa membiarkan sosok itu di dalam mengikuti kakaknya, apalagi sampai melukainya.


Sosok itu, pria tua yang matanya yang menghitam seluruhnya, wajah yang keriput dan kurus hingga hanya hanya terlihat seperti kulit yang berbalut tulang saja, mulutnya bergerak seolah ia terus bergumam, ia menatap Cody lama, hingga dengan secepat kilat melayang ke arah Cody yang juga maju cepat ke arahnya.


"Jangan ganggu Collin!!"


Suara teriakan Cody menggema hingga lantai bawah rumah besar itu, menghilang di balik hujan dan suara petir yang menggelegar di tengah malam saat itu.


+-+-+-+-+-