
....
"hoh"
Cody membuka matanya lebar, walau sekelilingnya masih terus berputar tanpa henti, ranjangnya seperti bergoyang, rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"akh" ia berusaha bangun, walau tangannya gemetar, tubuhnya gemetar tanpa tenaga, tapi ia harus berusaha.
"Cody!"
Dian muncul dari pintu, ruangan itu, mirip ruang operasi, ada beberapa ranjang tak jauh darinya, sosok hitam yang berdiri di pokok ruangan dengan asap hitam menyelubunginya.
"ekh" Cody berusaha mencabut jarum infus di tangannya, selang oksigen yang mungkin membuat ia semakin lemah, perlahan berusaha menurunkan dua kakinya dari atas brankar hitam yang dipersiapkan untuk dirinya,
Tapi, Cody lemah, ia tidak bisa banyak bergerak, seketika lututnya lemas saat menyentuh lantai yang dingin dan tanpa bisa mengendalikannya ia terjatuh kembali.
Dian berusaha membantunya tapi ia tidak bisa, setiap pegangannya langsung menembus tubuh Cody.
"Cody ayo, kita harus segera keluar sebelum orang-orang itu datang, ayo"
Cody tahu itu, tapi ia tidak bisa mengendalikan semuanya, kepalanya berat sekali.
"akh Dian, cari heh cari bantuan, aku, tidak bisa"
Wajah Dian cemas, beberapa kali ia mengeluarkan kepalanya dari dalam pintu keluar, dan mendekati Cody kembali.
"Ayo Cody, kau harus kuat mereka akan datang lagi, ayo kau harus keluar dari sini!"
Cody berusaha, ia berusaha menarik tubuhnya, bagaimanapun ia tidak bisa membiarkan dirinya mati konyol tanpa berusaha.
Ia berhasil menarik tubuhnya hingga mendekat ke arah pintu, tapi,
"ceklek"
Pintu dibuka dari luar.
Nafas Cody habis, ia berusaha mendongak melihat orang itu, yang perlahan menundukkan tubuh di depannya, menyeringai dengan wajah menyeramkan,
"wah wah Cody yang manis, kau mau kemana?"
Orang itu menepuk pipi Cody pelan, Cody tak kuat, pengaruh obat itu masih sangat kuat dirasakannya, perlahan, kepalanya terjatuh kembali di atas lantai, tepat di depan sepatu mengkilap milik orang tersebut.
"heh"
*-*-*-*-"
"Rio" Tony mendekati Rio yang masih mencari data orang hilang di layar laptopnya.
Tony meletakkan laptopnya di depan Rio.
"Lihat ini, apa menurut mu ini Cody? Gambarnya sangat tidak jelas dan cahaya juga tidak ada, hanya ada baju putih, dengan langkah sedikit pincang"
Rio menanggapi cepat, digeser layar laptop ke arahnya melihat lebih jelas.
Dikerutkan matanya melihat layar dengan rekaman cctv yang didapatkan Tony, gambar dalam video yang diperbesar agak buram karena kualitasnya yang standar.
"Sepertinya sich Iyah ini Cody, ini, di mana Ton? Kok bukan seperti di rumah sakit"
Tony menegakkan berdirinya,
"Ini gedung di samping rumah sakit, ada gedung tua yang baru dibeli pihak rumah sakit beberapa tahun belakangan dan baru direnovasi awal tahun ini"
Rio melihat Tony sejenak, tanpa pikir panjang ia meraih jaketnya di atas kursi dan keluar dari mejanya.
"Tunggu apa lagi, ayo kita ke sana!"
*-*-*-*-*
Rio dan Tony dengan satu team dari kepolisian menyisir gedung tua di samping rumah sakit, berbekal surat perintah yang didapatkan dengan bukti cctv mereka diperbolehkan untuk melakukan penyelidikan selama waktu yang mereka perlukan.
Rio mengelilingi lantai satu, tidak ada kesan kegiatan apapun terjadi di sana, beberapa peralatan tukang untuk renovasi masih tergeletak di lantai.
*-*-*-*
Riana duduk di kursi depan kamar Vvip dengan perasaan kacau, jantungnya berdebar sangat keras membayangkan apa yang mungkin terjadi pada Cody saat ini.
Langit di luar sudah mulai gelap. Artinya sudah seharian Cody di luar sana, ia masih sakit, kondisinya tidak memungkinkan untuk terikat di lantai yang dingin, atau tidak diberi makan dan minum, memikirkannya Riana semakin resah.
"Ems Cody" tanpa sadar air mata Riana menetes jatuh, ia tahu ia harus tetap fokus agar bisa membantu mencaritahu di mana Cody saat ini, tapi ia tidak bisa, semua pikiran buruknya terus muncul.
Lukas mendekat dengan gelas teh hangat di tangannya.
"Ri, minumlah dulu tenangkan pikiranmu, Rio dan Tony sedang berusaha mencari Cody, mereka akan segera menemukannya"
Riana mengangkat tangannya menerima gelas teh tersebut. Lukas duduk di sampingnya.
"Luk, apa, Cody akan baik-baik saja? Ia selalu terluka, semua yang dilakukannya selama ini hanya terus mengancam nyawanya, tapi, ia terus begitu, aku bilang akan selalu ada di sisinya, tapi, aku justru tidak bisa melakukan apapun untuk melindunginya, ems, andai, aku tidak tertidur sangat lelap tadi malam.."
Lukas menyentuh pundak Riana, menghentikan ucapan gadis itu, ia mulai menyalahkan dirinya, seperti biasanya.
"Ri, jangan salahkan dirimu, kau tahu sendiri Cody itu bagaimana, ia sangat keras kepala dan punya pikirannya sendiri, kita tidak bisa mencegahnya dan hanya bisa mendukungnya dari jauh, dan ia selalu beruntung, kali ini ia juga pasti akan bisa melaluinya dan kembali dengan utuh pada kita, yakinlah yah"
Riana menghapus air matanya, ia sudah tidak bisa mengendalikan air matanya.
"Ems, Cody, akan marah kalau tahu aku menangis, ia selalu bilang aku cengeng dan tidak akan menggubrisku kalau tahu aku menangis lagi"
Lukas mengelus pundak Riana, ia tersenyum.
"He aku tidak akan bilang pada Cody, ayolah, kita harus mencari informasi lagi, tetap semangat Ri kita butuh itu saat ini"
Riana berdiri dari duduknya, ia dan Lukas akan kembali ke kamar melanjutkan pencarian mereka, tapi, seseorang yang cukup dikenalnya berdiri melihat ke arah mereka dari balik dinding di dekat meja informasi.
Riana menahan tangan Lukas saat ia hendak melanjutkan langkahnya.
"Luk, itu" Riana menunjuk ke arah di mana Mila berdiri melihat ke arah mereka.
Perlahan Mila keluar dari tempatnya, mendekati Riana dan Lukas.
"Kau Mila khan?" Tanya Lukas. Mila mengangguk, wajahnya terlihat gugup, dua tangannya diremas di depan dadanya. Riana merasa gadis itu memang aneh,
"Kau tahu di mana Cody berada?" Tanya Riana tanpa banyak basa-basi, entah kenapa tapi ia merasa gadis itu mencurigakan.
Mila mengangkat wajahnya, ia semakin gagap saat mata Riana dan Lukas menatapnya lekat, seolah menunggu jawabannya.
"Eh I itu"
Riana mulai tidak sabar ia segera maju menarik pakaian Mila keras menghentaknya agar segera sadar karena ia masih termangu di sana.
"Kau pasti tahu di mana Cody khan? Katakan di mana dia!" Suara Riana yang keras mengejutkan semua orang, termasuk Lukas yang tidak menyangka gadis itu akan demikian emosinya, ditahan tangan Riana.
"Ri tenanglah! Ia belum tentu tahu di mana Cody berada kenapa kau mendesaknya begitu?"
Riana melepaskan tangannya, ia masih menatap Mila dengan pandangan tajam, sejak awal ia sudah tidak menyukai gadis itu, sejak ia selalu masuk kamar Cody saat Riana keluar sebentar, dan datang di malam hari saat Cody sudah tidur, ia punya perasaan kalau Mila mungkin tahu sesuatu.
Riana mengepalkan tangannya menahan diri, ia tahu ia setidaknya harus bisa berpikiran dingin saat ini demi Cody.
Mila menatap Riana dan Lukas bergantian, ia menundukkan kepalanya, dari gelagatnya Lukas juga mulai mencurigainya.
"Mila, hidup Cody mungkin dalam bahaya saat ini, kalau kau mungkin tahu keberadaannya saat ini, ku mohon, cepat katakan di mana dia" bujuk Lukas hati-hati.
Dengan sedikit gagap akhirnya Mila bicara.
"A aku, sudah coba mengikutinya, aku coba mencari tahu di mana mereka menyembunyikannya, aku sudah cari di tempat biasa tapi tidak ada, aku heh.."
Riana menahan tangan Mila keras, ia tahu pasti gadis itu memang menyembunyikan sesuatu.
"Siapa Mil? Siapa yang menyembunyikan Cody? Di mana ia saat ini? Katakan di mana dia sekarang!"
+-+-+-+-+-