
........
Suara kendaraan samar terdengar, lorong antar gedung malam itu sudah sepi, hampir tidak ada pejalan kaki berlalu lalang lagi di sana.
Waktu menunjukkan pukul dua subuh, seharusnya memang semua orang sudah larut dalam kegelapan malam dan tenggelam dalam mimpi-mimpi panjang.
Jalan setapak masih tersisa sedikit genangan air dari sisa hujan tadi sore. Baru saja sepasang kaki panjang ramping bergegas melewatinya.
"Tuk tuk tuk" suara ketukan hak sepatu di atas permukaan trotoar.
"Kamu di mana? Katanya depan gang? Ini sudah malam kenapa tidak jemput di depan kantorku tadi, duuuh" bisiknya sambil menggenggam ponselnya erat.
Seorang wanita, terlihat dari remang lampu jalan seorang wanita muda dengan rambut coklat ikal, blazer warna merah dengan rok mini selutut, tubuhnya tinggi semampai, sepatu Stiletto merah senada dengan pakaian yang dikenakan malam itu.
Ia bergegas keluar ke trotoar menunggu jemputannya, yang seharusnya sudah ada sejak tadi.
Seakan berlari karena merasa ada yang terus membuntutinya sejak ia keluar kantor .
"Aku lembur, khan sudah ku bilang tadi datanya sudah harus siap besok pagi, memangnya aku mau begitu, kamu di mana?"
Wanita muda itu mendongakkan kepalanya, ia ketakutan hingga tubuhnya gemetar, memang ada orang yang mengikutinya sejak tadi, sosok berpakaian hitam yang ikut berhenti mengamatinya.
Tak lama wanita itu berdiri di pinggir jalan, orang berpakaian hitam itu berlari mendekat.
Wanita itu bersiap berlari.
"Jangan mendekat! Eh to tolong!"
Merasa dirinya terancam, wanita itu berteriak, tapi jalan yang begitu sepi, hampir tidak ada pemukiman apalagi orang lain di sana, suara dibalik ponselnya cemas "ada apa? Rik!"
Wanita itu semakin panik apalagi orang itu mulai mengeluarkan sesuatu di balik jaketnya.
"Tidak, jangan mendekat! Tolong!!"
Ia berlari hingga tidak ada lagi tempat untuk berlari baginya, saat pria itu dengan cepat merangsek maju ke arahnya.
"Akchh!"
Teriakannya bergema hingga ke segala penjuru arah, tapi tidak ada orang lain di sana, ada satu dua kendaraan yang melintas cepat dan setelahnya hening, meninggalkan sosok tubuh yang terlungkup seakan benda yang tidak berharga, suara di balik ponsel masih tersambung.
"Rik! Rika! Rika"
Pukul tiga pagi, di tengah gelap Cody tersentak bangun dari tidurnya, nafasnya terengah-engah seperti habis berlari jauh, lagi, keringat dingin memenuhi wajah dan tubuhnya, mimpi yang sangat nyata itu, seperti, melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Cody menyalakan lampu baca di samping ranjangnya, masih pukul tiga pagi, tapi debar jantungnya sudah dipenuhi adrenalin yang mendesaknya untuk bangun, mungkin akan sulit untuk tidur kembali setelahnya.
Disibak selimutnya, duduk sebentar di pinggir ranjang sebelum akhirnya berdiri dan menuju ke arah pintu keluar.
Nyala lampu dari lemari es membuat dapur kecilnya sedikit terang, air dingin, mungkin bisa mendinginkan otaknya saat ini, pikir Cody segera menyambar botol air dinginnya, diteguknya sekali banyak.
"Gluk gluk gluk!"
Ditutup pintu kulkasnya, ia hampir meloncat kaget karena dalam gelap seseorang sudah berdiri di dekat meja dapurnya, dari posturnya itu mungkin Hervant, pikir Cody.
"Heh Her, kau mengagetkan ku saja, heh aku baru dapat mimpi buruk" perlahan Cody yang masih terengah duduk di kursi tak jauh di dekatnya, orang yang dipikirnya adalah Hervant masih berdiri di tempatnya tadi, tidak bergerak.
Cody menaikkan rambut depannya yang basah oleh keringatnya sendiri padahal apartemennya sudah cukup dingin.
"Heh semua semakin aneh Her, seolah, tadi itu bukan mimpi, semua sangat detail" Cody melanjutkan ucapannya, hingga diteguk kembali minuman dinginnya.
Saat ia mendongakkan kepalanya, pintu kamar Hervant yang ada di depannya terbuka, tak lama kemudian Hervant keluar, dengan mata sembab dan sedikit sempoyongan melewatinya, ia menuju ke toilet.
"Hai Cod, hooaahhh"
Cody membeku di tempatnya, kalau Hervant barusan melewatinya, lalu, orang yang tadi berdiri di belakangnya siapa?
Perlahan, Cody membalikkan kepalanya, orang itu masih berdiri di belakangnya, masih tidak bergerak, Cody berdiri.
"Eh, maaf, tapi" ia berdiri, orang itu, atau arwah itu, siapapun, tidak ada yang pernah mengikutinya sampai ke rumahnya, apa, mungkin ia hanya bermimpi, Cody hendak mendekat, tapi sosok itu tiba-tiba menghilang dalam kedipan mata, tidak ada lagi di tempatnya.
"Hei!"
Cody melihat sekitarnya, berputar mencari, tapi sosok itu sudah tidak ada, tadi ia yakin melihat orang itu berdiri di sana tadi.
Hervant keluar dari toilet.
"Cod, kau kenapa?" Ia mengerutkan dahinya melihat Cody yang berdiri di tengah dapur.
Cody terengah, Hervant menelan ludahnya bulat, mata Cody saat itu, mata yang dikenalnya seperti habis melihat hantu. Hervant menoleh ke sekitarnya, bulu kuduknya ikut berdiri.
"Hervant"
*-*-*-*-*-*-*-*
"Hmm"
Riana celingak-celinguk di depan mesin penjual minuman otomatis, lembar uang sudah ditelan mesin besar yang masih mengkilap tersebut, tapi minuman pilihannya belum juga keluar.
Ia menoleh ke sekitarnya, memang ada beberapa orang lalu lalang di lobi apartemen tapi mereka semua terlihat buru-buru, lagipula Riana malu kalau sampai orang berpikir ia kampungan karena tidak pernah memakai mesin itu sebelumnya.
Ditengok kembali mesin, menekan segala tombol yang ada, dan tray masih kosong. Ia sampai menengok hingga ke bawah-bawah sampai tidak menyadari ada seorang pemuda berdiri di belakangnya.
"Ehem" pemuda itu memberi kode, Riana segera menegakkan tubuhnya, rambutnya yang panjang seketika seperti terhempas ke wajah pemuda itu.
"Eh sorry, he tidak lihat ada orang, maaf yah"
Pemuda bertubuh tinggi tegap dan wajah tampan itu tersenyum, hanya tidak banyak bergerak sementara Riana memberi ruang untuknya, mungkin ia akan beli minuman juga, pikir gadis manis itu.
"He tidak masalah, emm, sedang beli minuman? Sudah?" Tanyanya.
Riana menggaruk kepalanya malu.
"Hehe iya, tapi, sejak tadi kok mesinnya diem aja yah, apa mungkin rusak, hehe"
Pemuda itu melirik mesin tinggi besar yang masih tercium bau barunya.
"Emm mau yang mana?" Tanyanya, Riana berdiri mengerutkan dahinya berpikir, lalu menunjuk jus jambu merah yang ada diurutan kedua "ini, sejak tadi aku tekan tidak keluar"
Dasar mungkin Riana memang tidak bisa mengoperasikan mesinnya, pemuda itu hanya menekan beberapa tombol, dan tak lama minuman kaleng itu jatuh ke atas tray pelan, tak butuh waktu lama.
"Waaah hebat" seru Riana girang.
Pemuda itu tersenyum, wajah Riana memang terlihat lucu seperti anak kecil yang baru mendapat pencerahan.
"Hehe cuma harus ditekan agak lama karena pendorongnya harus bergerak"
"Oh begitu yah, terima kasih yah, emm, tinggal di sini yah?" Tanya Riana basa basi.
Pemuda tinggi itu mengangguk, terlihat dari penampilannya sepertinya ia seorang mahasiswa, atau eksekutif muda.
"Iyah, kau? Di lantai berapa?"
Riana menunjuk ke atas.
"Di atas, tempat teman sich, em pacar dech" ralat Riana cepat, pemuda itu tertawa kecil.
"Hehe yah telat donk, ngomong-ngomong aku Edward, panggil saja Edi"
"Hai Edi, aku Riana"
"Waah namanya saja bagus yah"
Riana tersipu seperti pemuda itu sedikit merayunya, keduanya asik ngobrol sampai tidak menyadari seseorang yang sudah berdiri tak jauh di dekatnya.
Melihat Riana lama tepat di depan mukanya, membuat gadis itu hampir meloncat kaget.
"Yah ampun, mengagetkan saja ich!"
Riana segera mendorong pemuda yang tak lain adalah Lukas, yang sudah kembali dari cutinya.
Lukas melihat Riana dan pemuda itu dengan pandangan tajam,
"Ri, sejak tadi aku sudah berdiri di sana kau saja yang tidak sadar"
Edi, pemuda itu menyingkir pergi ke arah pintu keluar, sesekali Lukas masih melihatnya dengan mata tajam.
"Aku duluan yah, bye Riana"
"Bye Edi"
Riana masih sempat melambaikan tangannya pada Edi sebelum ia membalik kembali pada Lukas masih dengan tatapan tajamnya.
"Kenapa tidak bilang kalau kembali hari ini? Mengagetkan saja"
Keduanya menuju ke arah lift, menunggu sejenak di depannya.
"Kau selingkuh yah? Bilangin Cody yah"
Gantian Riana yang melirik Lukas tajam.
"Apa kau bilang? Mau cari mati yah? Mana mungkin selingkuh dari Cody"
Keduanya masuk ke dalam lift.
"Yang bener, tadi akrab sekali sepertinya"
"Sudah ach bawel"
+-+-+-+-+-+
Women In Red