You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
In Search For Dian



.......


"Sabar ini tidak akan sakit" ujar perawat itu lembut.


Riana yang ngeri sedikit mengintip sambil mengelus dada Cody.


"Cody jangan bandel makanya"


Sejenak kemudian, Cody melihat wajah Eni, mungkin perawat itu tahu sesuatu karena ia bekerja di rumah sakit ini cukup lama.


"Em, kak Eni, apa, sebelumnya, em, apa, kau mungkin kenal, dengan seorang pasien, namanya Dian, usianya sekitar awal tiga puluh, ia dulu pasien di sini"


Eni mengerutkan dahinya berpikir, ia tersenyum.


"He tentu saja, ada beberapa pasien bernama Dian di rumah sakit ini, di lantai dua ada yang menderita sakit jantung, tapi sudah agak berumur, juga beberapa pasien rawat jalan yang ku kenal, siapa nama belakangnya?"


Cody menggeleng.


"Sayangnya aku tidak tahu nama belakangnya, eh, usianya sekitar tiga puluhan tahun, eh, lalu, juga ada seorang gadis kecil, rambutnya panjang keriting, wajahnya putih dan cantik seperti boneka, ia, .." Cody berpikir sebentar, sepertinya ia ingat melihat bagaimana postur gadis kecil yang ada di samping Dian, sesuatu, yang tidak mungkin terlewat olehnya, Rio sudah menemukan tubuh anak kecil tapi hingga kini mereka bahkan belum tahu identitasnya, mungkin, itu adalah anaknya, tapi masalahnya kini, cara dan tempat kematiannya masih menjadi misteri.


"Anak kecil itu, usianya mungkin tidak lebih sepuluh tahun, kakinya, pincang sebelah"


Eni menegakkan berdirinya, selesai dengan pekerjaannya. Ia masih berpikir tentang apa yang ditanyakan pemuda itu, entah ia benar bertanya dengan serius ingin mendapat jawaban atau sekedar bertanya saja.


"Em, Dian, dengan seorang anak gadis yang sedikit pincang? Entahlah Cod, banyak sekali pasien yang datang dan pergi, mungkin ada, atau tidak, kami tidak bisa selalu mengingat mereka satu persatu, kalau kau punya nama belakangnya mungkin akan lebih mudah memeriksanya di data rumah sakit"


Cody menarik bibirnya. Ia tahu tidak mudah mencari informasi yang ia sendiri tidak tahu apa, ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Ini akan sangat sulit sekali.


"He yah, terima kasih Kak"


Riana merapihkan selimut Cody saat Eni sudah selesai dan keluar kamar, dibelai bibir Cody yang sedikit tersisa makanan sekaligus menyadarkannya dari lamunannya.


"Cod"


Cody tersenyum, wajah Riana saat itu, gadis itu seperti tahu kesusahan yang ada dalam hatinya, dan ia hanya menggenggam tangannya, tanpa banyak bertanya, seperti yang selalu ia lakukan selama ini, selalu mendukungnya, apapun yang ia lakukan.


*-*-*-*-


Lorong yang gelap. Lampu sudah mati, tidak ada lagi cahaya yang terlihat sepanjang lorong mirip seperti lorong yang ada di rumah sakit.


Suara derap sepatu berlari cepat.


"Ayo Luisa, kita harus pergi!" Seorang wanita, terlihat dari remang cahaya luar, mengandeng seorang anak gadis berlari secepatnya sambil sesekali menoleh ke belakangnya.


Nafasnya sudah terengah-engah, ia sudah berlari cukup lama dan masih ada beberapa orang mengejarnya dari ujung lorong.


"Ayo kau harus kuat" dengan sekuat tenaga yang tersisa wanita yang tak lain adalah Dian mendorong pintu tangga dan masuk, anak gadis yang digandengnya sudah sangat kelelahan, ia tak sanggup lagi, dilambaikan tangannya pada Dian.


Ia tidak bisa bicara, tidak ada suara yang keluar darinya, hanya menarik-narik lengan baju Dian memintanya berhenti saat wanita itu terus menariknya menuruni anak tangga.


Namun pelarian mereka sepertinya akan sia-sia, di bawah anak tangga sudah ada beberapa pria yang menunggunya. Beberapa pria dewasa dengan pakaian hitam seperti mafia, badan besar dan wajah sangar, saat Dian yang dadanya sudah naik turun karena kelelahan mendongak di atas juga sudah ada beberapa pria yang menunggunya.


"Apa yang kalian inginkan? Lepaskan kami! Lepaskan dia, dia hanya anak kecil!" Seru Dian keras.


Para pria itu menyeringai, wajah mereka sangat menakutkan, tapi Dian mempererat gandengannya pada tangan kecil gadis itu.


"He" seorang pria lalu keluar dari kumpulan para pria bertubuh besar itu, seorang, berpakaian sangat rapih, layaknya seorang yang cukup berkuasa.


"K kau" Dian membelalakkan matanya lebar, ia tidak menyangka, pria itu, yang ada dibalik semua ini, ditarik Luisa pelan ke belakangnya.


"Anda, kenapa anda melakukan ini? Kenapa?"


Pria itu menyeringai, ia lalu terkekeh dengan wajah jahat.


"Hehehe anda ini sangat ingin banyak tahu yah, bagaimana, kalau aku tunjukkan saja semua pada anda" sebuah cincin dengan batu agak besar kemerahan di jari tangan kanannya, saat ia mengangkat tangannya menyuruh semua anak buahnya meringkus Dian dan anak itu.


"Tidak jangan! Lepaskan kami! Tolong!"


Teriak Dian sekeras-kerasnya, walau mungkin itu akan sia-sia, suasana gedung baru kosong membuat tidak ada seorangpun di sana, walau ia berteriak sekeras apapun akan percuma.


Cody terbangun dari tidurnya.


"Hoh hoh hoh" ia bermimpi lagi, tapi semua mimpi yang sering ia alami lebih seperti petunjuk, tadinya ia pikir setelah arwah Richard tak lagi menempelnya mimpi buruk itu akan berkurang, tapi kenyataannya ia tetap mengalaminya, bahkan beberapa lebih parah seperti benar mengalaminya sendiri.


Malam sudah sangat larut. Riana tertidur lelap dengan posisi duduk di samping ranjang, ia pasti sangat kelelahan hingga tidak biasanya ia tidak bangun saat Cody bermimpi buruk seperti ini.


Ruangan kamar VIP gelap. Ada sedikit cahaya dari luar jendela dan luar kamar. Cody bisa melihat di pojok ruangan ada seseorang berdiri menatapnya lurus diam, rambut panjangnya terlihat mencuat dengan tatapan hanya lurus ke arahnya, ciri khas arwah yang penasaran, hanya melihat diam seolah ia mengamati dari kegelapan saja tanpa berani mendekat lebih jauh.


Menurut Cody, arwah yang keluar dari tubuh manusia tidak begitu kuat sebenarnya, kadang hanya asap hitam yang begitu ringan dan bisa menghilang cepat oleh angin, tapi, kadang arwah yang meninggal dengan cara tak wajar memiliki tekanan lebih besar hingga bisa membentuk hawa negatif di sekitarnya yang membuat ia makin lama semakin kuat, itu mengapa arwah yang mati tak wajar disebut arwah penasaran, Dian, mungkin akan menjadi arwah seperti itu jika ia lebih lama di sana, semakin lama ia akan mengumpulkan energi negatif di sekitarnya dan membentuk identitasnya yang baru, arwah penasaran.


"Dian" perlahan Cody menyibak selimutnya, kesempatan ini saat semua orang sedang tertidur, mungkin ia bisa menemukan informasi yang dicarinya.


Riana tertidur sangat lelap hingga mungkin ia tidak akan bisa mencegahnya keluar.


"Ekch" ditarik jarum infus di tangannya, sedikit merintih karena jarum panjang itu menusuk hingga ke dalam. Dengan hati-hati diraih kruk yang tertambat di sisi lain ranjang, menurunkan dua kakinya dan sedikit tertatih berdiri.


Sejenak, Cody melirik Riana lama, mungkin ia akan kena omelan dari gadis itu besok karena sudah kabur tengah malam, tapi ia tidak bisa terus membiarkan semuanya berlarut-larut, ia harus mencari tahu dengan segala cara yang ia bisa.


"Heh maaf Ri"


Riana mengigau dalam tidurnya, ia tertidur di sofa besar empuk tepat di samping ranjang Cody.


"Cody sayang, ayo makan"


+-+-+-+-+-