
.....
Hujan turun lagi siang ini.
Tengah hari, tapi langit seakan turut berduka, menurunkan airnya yang paling deras menghapus semua air mata kepedihan yang keluar tak terbendung di sana.
"Drap drap drap!!"
Suara jatuh air hujan keras menghantam payung hitam lebar milik Cody. Ia berdiri di pinggir area pemakaman di mana tak jauh di depannya pemakaman penuh duka seorang sahabat, saudara, rekan kerja yang dicintai begitu banyak orang dilaksanakan.
Langit mendung tadi seketika menjadi hujan deras yang turun seakan ikut berduka.
Beberapa sahabat dan rekan kerja Dian datang memenuhi lokasi. Ia tidak ada keluarga dekat, tapi beberapa sahabat bahkan banyak anak-anak jalanan yang sudah seperti saudaranya sendiri ikut menghantarnya pergi, berdiri dengan wajah sendu di bawah tenda yang dibangun di atas tanah pemakaman.
Beberapa hari lalu.
"Terima kasih Cody" suara Dian membangunkan Cody, cahaya matahari langsung menerjang masuk tirai, pagi itu begitu cerah, suara burung masih terdengar di dahan pohon dekat jendela, benar-benar udara yang segar.
Tak lama lalu Cody masih tertegun berdiri di depan lemari pendingin jenazah, awalnya ia mungkin hanya akan memastikan saja, kalau jenazah tanpa nama tanpa organ yang ditemukan Rio dan lainnya di lokasi kecelakaan beruntun dulu adalah mungkin Dian. Ciri-cirinya sama, tahi lalat di sebelah matanya, juga beberapa aksesoris yang dilihat Cody dikenakan arwah Dian, dan ditegaskan lagi dengan pemeriksaan rumah sakit, cek DNA dengan bekal sikat gigi dan sisir peninggalan Dian, akhirnya memang benar kalau, jenazah dengan kondisi menyedihkan itu adalah milik Dian, dan, anak kecil yang ditemukan di dalam koper merah, itu adalah Luisa.
"Dian"
Cody tersenyum, wajah Dian telah tertunduk di depannya, ditarik perlahan seseorang mendekati ranjang, seorang anak gadis cantik, rambut panjang keriting, wajah putih merona, senyumnya sangat menawan.
"Namanya Luisa, Luisa, ini kak Cody"
"Hai Luisa, bagaimana kabarmu?" tanya Cody, gadis kecil itu tersenyum, di angkat tangannya membelai pipi Cody.
Ia tidak bisa bicara karena bisu, tapi Cody mengenali bahasa tangannya.
"Kak, terima kasih yah, kata kak Dian karena kak Cody, kami semua jadi bisa keluar dari sini"
"He bukan karena kak Cody, tapi, semua ini karena kak Dian-mu, dia begitu gigih, he, karena dia, kakak juga bisa ada di sini sekarang"
Cody berdiri tegar di bawah payung besarnya, ia tak bergerak, bahkan setetes airmatapun tidak bisa dikeluarkannya, yang ia tahu, hatinya merasa sakit, tapi ia tidak bisa melakukan apapun untuk itu, ia hanya tidak bisa berpikir bagaimana seorang sebaik Dian bisa meninggal dengan kondisi menyedihkan, ia seorang yang tulus membantu anak-anak jalanan, seorang aktivis yang memperjuangkan hak beberapa anak yang dibuang oleh keluarganya, bahkan oleh negara karena kehadiran mereka seakan tidak pernah ada. Catatan apapun tidak ditemukan, seorang bocah berusia sembilan tahun Luisa pun seakan lenyap, tanpa jejak.
Ia, dulu juga anak yang harus kehilangan orang tuanya saat ia masih kecil, tapi keberuntungan masih berada di pihaknya, jauh lebih beruntung dari apa yang terjadi pada anak-anak lainnya.
Cody menggenggam barang dengan bungkusan coklat agak tebal di tangannya erat. Beberapa peninggalan Dian yang kini diserahkan padanya oleh Dian sendiri, semenjak ia tidak ada keluarga dekat, dan seorang yang bisa menyelesaikan semua misteri ini mungkin adalah Cody, Dian, meninggalkan sesuatu yang sangat penting untuknya, mungkin, Cody bisa membantu sedikit.
Hujan turun semakin deras.
Angin yang berhembus menembus hingga tulang meninggalkan rasa dingin yang dalam.
Riana yang duduk di dalam Jeep bersama Hervant dan Lukas tak sabar ingin menyongsong mendekati Cody. Tangannya sudah di handel pintu sejak tadi, tapi tepukan Lukas membuatnya menoleh. Pemuda itu menggeleng, mengatakan pada Riana kalau Cody mungkin butuh sendiri untuk saat ini.
Riana menurunkan tangannya lagi, ia tahu, Cody pasti tengah berpikir keras, tapi, ia tidak seharusnya sendiri, ada dirinya, Hervant, Lukas, juga Rio, bahkan opanya kini, ia tidak sendiri lagi seperti apa yang dipikirkannya, ia tidak akan pernah sendiri, harusnya Cody memikirkan itu.
"Cody"
.........
"Daun yang tumbuh, pada akhirnya akan layu, dan jatuh ke atas tanah, menghilang, bersama waktu, tidak terlihat lagi. Manusiapun demikian, waktu, adalah rintangan paling besarnya, dalam sekejab, tidak tahu apa yang telah waktu lakukan, pada hidup yang sejak awal telah disusun begitu rapih, begitu sempurnanya. Tidak ada yang bisa menipu hidup, diri sendiri, dan juga orang lain, semua akan terlihat, dengan begitu nyata, bagaimanapun bentuk, yang akan diperlihatkannya.."
...........
^^^"Darkness, it's like a color, it's just black and you can't see anything on it, but it doesn't mean, there aren't anything in there, always something, or some 'thing' in there, and maybe, it's watching you too..."^^^
.........................