You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Cody's Fame



........


Emili dan Donna yang baru selesai diwawancarai petugas polisi menuju ke kendaraan mereka. Emili menghentikan langkahnya cepat saat melihat seseorang yang sangat dikenalnya melewati mereka.


"Oh God, Donna, lihat siapa yang lewat"


Donna mengikuti arah pandang Emili.


"Siapa Em?" Keduanya langsung terdiam di tempat.


Cody lewat tepat di depan mereka.


"Cody? Anak jurusan psikologi itu yah?" Perjelas Donna.


Emili mengangguk "Iyah siapa lagi, ayo, ini kesempatan kita, kapan lagi bisa melihat Cody dari dekat begini, dia khan sibuk sekali" tanpa pikir panjang Emili menuju ke lokasi di mana sudah dipasang garis polisi di mana Cody masuk tadi, walau percuma karena petugas langsung menghadang mereka.


"Maaf kalian tidak bisa lewat"


"Ta tapi, eh Cody!" Seru Emili.


Di dalam gudang.


Cody sudah berdiri di samping Rio.


"Sudah datang? Tidak susah khan mencari lokasi ini?" Tanya Rio sambil menyerahkan sebuah masker untuk dipakai Cody.


Cody menyiapkan kameranya, melihat di depannya seonggok mayat masih menggantung, hembusan angin yang lewat seperti membuatnya sedikit bergoyang. Bau yang di keluarkannya menyerupai mayat membusuk pada biasanya, semua orang di dalam sama sepertinya sudah terbiasa.


"Apa, kalian tidak akan menurunkannya?" Tanyanya.


Georgie dan team sudah melakukan pemeriksaan singkat atas mayat tersebut,


"Yah, itu juga yang ku tanyakan apa mau diturunkan? Karena kami ingin segera bekerja nich!" Seru Georgie sinis dengan mata melotot ke arah Rio.


Rio menunjuk ke arah Cody.


"Kalian ini, photographernya baru datang, sabar sedikit donk buru-buru sekali sih" suara Rio santai.


Cody melihat ke sekitarnya, siapa tahu ada sisa-sisa dari jenazah itu di sana, arwah atau apapun yang bisa memberikan petunjuk, kondisi jenazah yang sudah hampir menjadi tulang kemungkinan meninggal dalam waktu yang sudah cukup lama, mungkin sangat lama, ia juga tidak melihat sosok yang menyerupai korban di depannya di depan tadi.


Sementara Cody begitu serius mengambil photo, Rio menepuk pundaknya menunjuk ke arah luar di mana ia bisa mendengar nama Cody dipanggil.


"Cod, sejak kapan kau ada fans? Mereka berasal dari kampusmu yah? Sepertinya sangat mengenalmu?"


Cody tidak banyak merespon, hanya fokus pada pekerjaannya, atau ia tidak tahu? Pikir Rio mengerutkan dahinya.


"Mungkin, aku tidak kenal" jawab Cody santai lalu meneruskan pekerjaannya.


*-*-*-*-*-*


Tak lama kemudian.


Cody sudah berdiri di depan Emili dan Donna yang menunggunya selesai bekerja. Tampak team Georgie sudah mengevakuasi jenazah ke dalam mobil dinas.


"Kalian berdua saja ke sini? Tempat sejauh ini?" Tanya Rio mendekat. Dua gadis itu saling melirik, lalu memasang wajah kesal mereka.


"Tadinya ada Teddy, tapi ternyata dia penakut sekali, masach dia lari duluan meninggalkan kami di sini awas saja ketemu di kampus habis dia" gerutu Emili.


Cody tersenyum, sementara Donna tidak henti memandang wajahnya dari dekat, ia terpesona hingga lupa akan traumanya barusan.


"Eh Cody, nomor handphonemu berapa? Boleh tahu tidak? Yah siapa tahu kita ada pertemuan mahasiswa di mana gitu, semua orang akan senang sekali kalau Cody bisa ikut"


Cody gagap, entah ia boleh memberi tahu nomornya lagi atau tidak, terakhir Lukas memberi nomor ponselnya dan pesan masuk tidak ada hentinya setiap hari.


"Eh itu.."


"Maaf girls, Cody ini spesial tidak boleh sebar nomor telpon sembarangan, kalau ada perlu khan kalian bisa bertemu di kampus atau langsung cari di kantor polisi"


Mendengar itu Emili dan Donna langsung melirik Rio tajam "ich kok gitu sih"


"Yah memang begitu, sudah ayo kalian ikut ke kantor untuk membuat berita acara, lagipula anak gadis kok hobinya aneh yah, malam buta ke tempat seperti ini"


Rio mengangkat tangannya meminta seorang petugas dinas mendekat.


"Eh tolong antar gadis-gadis cantik ini ke markas yah antarkan saja pada Tony" polisi muda itu mengangguk, lalu menggiring Emili dan Donna yang sepertinya masih enggan menjauh.


"Eh kami naik mobilnya Cody saja deh, dia khan mau ke markas juga khan yah Cod"


Tapi Rio terus mendorong keduanya "sudah ikut mobil polisi sana jangan bawel atau kalian akan ditangkap yah"


Suara Emili dan Donna masih terdengar jelas bahkan hingga keduanya sudah mendekat ke arah kendaraan dinas polisi muda tadi.


"Ach Cody"


*-*-*-*-*-*-*


Hari berikutnya.


Di rumah sakit pusat.


Melanjutkan pencariannya.


Cody masih berusaha mencari tahu soal siapa Dian sebenarnya, namun beberapa staf rumah sakit yang ditanya tidak ada yang bisa memberikan jawaban untuknya. Bukan hal yang mudah datang dan menanyakan data pribadi seseorang di tempat di mana semua rahasia harus dijaga, seperti rumah sakit contohnya.


Akhirnya menjelang siang dan Cody duduk di kafetaria menikmati burger ikan pesanannya, dengan laptop di depannya yang menyala tidak ada salahnya mencari di internet walau ia tidak pasti dengan apa yang dicarinya.


Tak lama seseorang dengan jubah Salem mendekat. Seorang perawat muda yang berhenti di depan Cody.


"Cody"


Cody mengangkat kepalanya, menyambut Mila, gadis muda yang beberapa hari belakangan ini sering sekali mengirim text ke ponselnya.


Cody tahu cepat atau lambat ia akan bertemu dengan gadis itu, walau bagaimanapun ia berusaha menghindar, dan menghindar memang bukan jawabannya, hingga ia memutuskan untuk membalas pesan Mila dan meminta waktunya sebentar di sela jam kerjanya.


"Kau makan burger saja? Memang kenyang yah?" Tanya Mila menggeser kursi di depan Cody dan duduk, ia sudah membawa makan siang pesanannya.


"Yah lumayan, eh, kau sedang istirahat khan?"


Mila mengangguk, ia memesan nasi dengan ayam goreng untuk makan siangnya saat itu.


"Yah aku punya waktu setengah jam, akhir-akhir ini juga sibuk sekali, jadi kalau bisa lebih cepat lebih baik, eh, Cody, sedang apa di rumah sakit? Periksa lagi yah?"


Cody menggeleng "eh tidak, he, tadi ada keperluan sebentar dekat sini, khan juga ada janji dengan Mila, em, kau, sudah kerja di sini berapa lama?" Tanya Cody.


Mila mengerutkan dahinya berpikir.


"Emm, belum lama sich, aku khan masih mahasiswi, jadi hitungannya magang di sini, eh sudah sekitar dua tahun belakangan ini sih"


Cody membulatkan mulutnya.


"Ooh"


Beberapa kali gadis manis itu menyangkutkan rambut panjangnya ke belakang telinganya. Senyumnya tak ada habisnya, entah kejatuhan rezeki dari mana tapi ia sangat senang bukan main ketika Cody membalas pesannya dan mengajak bertemu setelah beberapa ia mengacuhkannya.


Gadis itu tidak mungkin berharap lebih, tapi mungkin itu yang dipikirkan saat Cody mulai meluangkan waktu untuknya.


+-+-+-+-+-