You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Case Close?



.......


Tony membalik berkasnya yang tumpukannya mulai menipis, dari arah pintu masuk Ardy photographer baru yang baru selesai bertugas dari luar, karena sementara tidak ada kasus lain ia harus pergi membantu bagian lain untuk dokumentasi.


Tony diam-diam tersenyum geli, kalau Cody mereka tidak akan menyuruhnya ke mana-mana, walau team lain berkeras ingin meminjamnya sampai kapanpun Rio tidak akan mengijinkannya, perlakuannya yang sangat berbeda dengan anak baru itu.


"Em, Ardy, itu jenazah yang kemarin ditemukan, Georgie sepertinya sudah selesai mengotopsinya, dan Rio bilang ia butuh photo menyeluruh seluruh badan untuk filenya" seru Tony, Ardy baru saja hendak menggigit burgernya, makan siangnya dan menghentikan gerakannya saat mata Tony melihat padanya bulat.


"Eh, sekarang?" Tanyanya agak ragu.


Tony melirik pada jam dinding di depan mereka, waktu sudah lewat pukul dua siang.


"Yah donk masach besok, pagipula ini sudah jam berapa kau baru makan nanti kalau dilihat pak Gus bisa di-SP loh, beliau paling tidak senang melihat orang makan pada jam kerja"


Mendengar itu Ardy menghentikan gerakan tangannya, diletakkan burgernya kembali cepat, tepat saat Gus masuk dari pintu, dengan tanpa banyak melakukan gerakan berlebihan agar tidak kena omel Ardy mendorong burgernya ke pinggir meja.


"Selamat siang pak!" Sambut Ardy semangat, Gus hampir loncat kaget mendengar sambutan bersemangat tinggi secara tiba-tiba dari anak baru itu.


"Eh i yah, selamat siang, hai eh, siapa yah..." saat pria itu tengah berpikir Tony mendekat.


"Ada apa pak?"


"Eh itu, Tony, bagian sergap sudah menemukan dokter Yunita, aku ingin kau ke sana dan bertanya soal apapun yang kau bisa sementara Rio masih di luar, aku tidak mau kalian ketinggalan jauh yah"


"Siap pak!" Seru Tony, Gus menuju ke pintu kembali, sebelum ia keluar sempat melirik ke atas meja Ardy,


"Eh, apa, kau akan memakannya?"


Ardy gagap, ia berdiri tegap dengan posisi siap sempat mengerutkan dahinya karena apa yang dimaksud Gus mungkin adalah burger miliknya,


"Eh, ti tidak pak, bapak mau?"


Wajah Gus seketika sumringah,


"Waah benar nich, terima kasih anak muda"


Tak lama kemudian, setelah chief itu pergi meninggalkan ruangan, Ardy dengan lemas duduk kembali di kursinya.


"Heh"


Tony mencuri-curi tertawa geli, anak baru itu kena batunya, pikirnya jahil.


"Hihihi"


*-*-*-*-*


Kembali ke apartemen Cody.


Hervant baru selesai dari kamar mandi dan berhenti saat melihat Cody duduk sendiri di ruang tengah menatap layar televisi yang saat itu dalam kondisi mati.


Cody bahkan tidak menengok saat ia duduk di sampingnya.


"Woi, melamun saja? Masih tidak enak badan?" Tanyanya, Cody seperti tersentak saat tangan Hervant menepuk pundaknya.


"Yah?" Tanya Cody balik, Hervant tersenyum, sejak pulang dari rumah sakit untuk check up Cody tidak banyak bicara, hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke depannya tadi.


"Kau ini, melamun begitu, nanti kesambet bagaimana"


Cody menggaruk kepalanya.


"He maaf, aku kelihatan melamun yah? Hanya, sedang berpikir kok"


"He, memang aku begitu Her? Kau ini berlebihan"


Hervant mengangguk.


"Yah, itulah dirimu"


Sejenak, Cody diam, ia berpikir keras lagi, dahinya berkerut dalam, ia tidak mungkin bisa menyembunyikannya di depan Hervant yang sudah lama mengenalnya.


"Emm, aku, mimpi buruk Her, seperti pada kasus pak Richard, aku melihat seseorang, seorang pemuda, usianya mungkin tak jauh beda dengan kita, wajahnya seperti membusuk hingga tak berbentuk, ia sangat tertekan dan tidak mengatakan apapun, tempat itu juga sangat asing, apa, ia meminta tolong agar aku menemukannya yah?"


Hervant menahan nafas sejenak, melihat wajah sahabatnya lama, semua yang dialami Cody sudah berlebihan pikirnya, tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak, selain mendukungnya dari belakang, dan ia juga tahu, bahaya akan selalu membayangi Cody, semua yang ia lakukan, memang selalu penuh dengan bahaya.


"Cody, apa, kau tidak takut, kalau, mungkin semua arwah yang datang padamu, akan selalu membawa bahaya padamu? Kau selalu terancam, terakhir kau hampir kehilangan nyawamu, aku, tahu mungkin setidaknya ini yang bisa kau lakukan untuk mereka, tapi kau juga harus tahu, dirimu sendiri sangat penting Cod, untuk semua orang dan kau tidak sendiri lagi, dulu kau pikir, kau mungkin anak yatim piatu yang tidak akan meninggalkan siapapun saat kau pergi, tapi sekarang sudah berbeda Cod, kau punya opa kandung, yang walau belum bertemu muka tapi beliau selalu menjagamu dari belakang, dan kami, kau tahu kami tidak akan pernah membiarkan kau sendiri, kau harus memikirkan semua itu Cod"


Cody menoleh, menatap Hervant dan tersenyum, ia tahu semua orang akan selalu mencemaskannya, bahkan Charlie sudah sangat tidak sabar padanya dan marah besar, padahal sebelumnya sahabatnya itu adalah orang paling lembut yang pernah ia kenal, bahkan tidak pernah mendengar ia mengeluh sebelumnya, sekarang Charlie selalu menunjukkan wajah kesalnya saat bertemu dengannya, ia tahu itu lebih kepada cemas daripada marah.


"Aku, akan berhati-hati Her, maaf sudah membuat kalian cemas karena aku selalu celaka, he, aku juga tidak tahu kenapa aku begitu ceroboh, tapi, aku akan berusaha lebih waspada lagi"


Hervant tersenyum.


"He, kau ini, memang semua orang bahkan arwah memang sangat mencintaimu yah, sampai tak bisa menghindar dari siapapun, hemh, kita akan cari tahu, soal pemuda itu, bagaimana, kalau mulai saat ini kau tuliskan secara detail mimpimu dalam catatanmu dan memberikannya pada kami, siapa tahu ada yang bisa kami bantu bersama, pokoknya kau tidak akan menjalaninya sendiri Cod"


Cody mengangguk.


"Yah, kurasa itu ide yang bagus Her, aku juga sering lupa apa saja detailnya saat pagi, jadi mungkin aku akan bangun tengah malam dan menulisnya"


*-*-*-*-*-*


Konferensi pers oleh pihak kepolisian.


Ruang serba guna di lantai bawah gedung kepolisian sudah dipenuhi beberapa media yang datang untuk meliput perkembangan kasus penjualan organ oleh beberapa oknum dokter. Kasusnya sudah merebak di masyarakat luas hingga menyebabkan kecemasan hingga pihak kepolisian dituntut untuk memberi hasil penyelidikan agar warga lebih tenang.


Gus termasuk salah satu gugus tugas yang terlibat dalam keberhasilan pemecahan kasus ikut duduk di kursi depan.


Rio dan Tony, juga Cody berdiri di dekat pintu, sejak awal dibuka suasana konferensi pers sudah sangat ramai.


"Jadi kasusnya ditutup begitu? Dokter Dody dan komplotannya termasuk biang kerok pencurian organ selama berapa tahun ini? Maksudnya begitu?" Tanya Tony.


Rio mengangguk,


"Yah, gugus Sergap juga sudah menemukan komplotan dokter Dody termasuk dokter Yunita, yang bertugas di lapangan, beliau yang mencari pembeli, dan dari bukti juga ditemukan keterlibatan kuat mantan kepala rumah sakit dua tahun lalu, Arman Russ, jadi menurut komisaris itu cukup untuk menutup kasus ini"


Cody berpikir sebentar, ia ingat ada lima orang yang dilihat malam saat pak Richard di bunuh, empat di depan mobil, dan satu di kursi belakang mobil, ia bisa melihatnya walau hanya tangannya saja, ia yakin orang itu cukup berpengaruh karena ia hanya duduk di belakang sementara yang lain membereskan masalahnya di depan.


Lamunan Cody membuat Rio bertanda tanya.


"Cody kau kenapa? Memikirkan apalagi, sudah selesai khan sekarang setidaknya Dian dan korban lainnya sudah bisa beristirahat dengan damai"


Cody menoleh, menatap Rio dengan pandangan tajam, sorot mata yang membuat Rio semakin penasaran, ia sudah kenal Cody cukup lama hingga tahu apa maksudnya.


"Cody, jangan berpikir yang bukan-bukan, memangnya kau tidak mau kasus ini selesai, jadi kita tidak akan menemukan korban lagi setelah ini"


"Aku, juga berharap begitu Rio, tapi, semua tidak sesederhana ini, kita masih jauh dari selesai, menurut jurnal terakhir dari Dian, orang di balik pencurian organ itu mungkin adalah organisasi yang tidak kecil, apa, kau percaya hanya dengan beberapa orang saja, bisa menjalankan sesuatu sebesar itu dan tidak tersentuh selama bertahun-tahun, dan pula dokter Dody mengatakan, kalau aku mungkin sudah mengusik orang yang sangat penting, itu, hal besar khan?"


Terdengar hesahan nafas berat dari Rio, ia menoleh kembali ke arah di mana konferensi pers berlangsung.


"Heh aku juga berpikir seperti itu Cod, tapi tanpa bukti yang nyata, semua hanya asumsi belaka, tulisan Dian juga tidak bisa dibuktikan karena apa yang ia tulis semua masih belum bisa temukan petunjuknya, mungkin, untuk saat ini kita hanya bisa menunggu"


+-+-+-+-+-