
........
Kembali ke kantor polisi.
Tony melihat kertas yang dibawa Rio tadi dari toko berlian.
"Bayar cash, wow orangnya kaya sekali yah, namanya, tidak ada Rio?"
Rio menambatkan jaketnya kembali ke bahu kursi, ia duduk namun sesekali matanya masih melihat ke arah Cody yang berdiri kikuk di depan meja.
"Kau akan berdiri saja di sana Cod? ambil kursi, malam ini akan jadi malam yang panjang"
Cody menoleh sekitarnya, mencari kursi, walau sebenarnya ia tidak mau berlama-lama di sana, tapi, ia juga butuh informasi.
"Emm, apa, boleh aku di sini lama-lama? aku khan orang sipil, kalian bukannya harus merahasiakan hal seperti ini yah ke orang luar yah?"
Tony menggeser kursi untuk Cody, ia tersenyum melihat wajah Cody yang kusut, ditahan pundak Cody memaksanya duduk.
"Hehe kau sudah terlibat, tidak bisa kabur Cod, ayo duduk"
*-*-*-*-*-*-*
Malam masih sangat panjang.
Gelapnya kondisi di luar markas membuat semua orang pun menyingkir dari jalan utama.
Suara angin yang berhembus, desakan dedaunan di atas pohon-pohon lebat bagai musik ninabobok yang mengantarkan semua makhluk untuk beristirahat.
Namun, di tengah gelap malam yang sangat dalam, suara menyeramkanpun terdengar.
"Srekk srekkk" seperti suara kain keras yang menyentuh tanah berpasir ketika ditarik.
Suara itu seakan menggema di tengah malam di jalan setapak di mana hanya ada pohon dan semak-semak di sekitarnya.
Suara itu muncul kembali semakin jelas terdengar.
"Srekk srekk"
Ada seseorang, dengan tubuh tinggi berpakaian hitam, jubah yang panjang hingga tutup kepala, menutupi wajahnya yang sudah tidak tampak dalam kegelapan, ia menelusuri jalan setapak pelan, tangan kanannya menarik sesuatu, yang sepertinya sangat berat hingga seakan terseret saat menyentuh tanah
"Srekk srekk"
Sebuah koper berukuran agak besar, dari remang cahaya seperti koper dari kain kanvas berwarna merah, ada tulisan merk terkenal di atasnya.
Orang itu, mungkin pria, karena bentuk postur tubuhnya, menarik koper yang sudah rusak dengan salah satu roda bawah yang hilang menelusuri jalan setapak.
Ia terus menarik koper itu, terus hingga ke ujung jalan, suara yang dikeluarkan, seakan hanya suara itu yang ada di sana.
Tiba di ujung jalan, di atas jalan di mana ada tumpukan sampah di bawahnya, orang itu menarik koper dengan dua tangannya, dan menendangnya kuat. Seketika koper merah itu menggelinding berapa kali, dan jatuh dengan keras di atas tumpukan sampah.
"brukk"
Orang itu berdiri sejenak di sana, tepat di sampingnya berdiri ada tiang tinggi dengan nama lokasi, ia berdiri, mengamati, hingga membalik kembali ke arah ia datang tadi.
Koper besar berwarna merah itu tergeletak di sana, tidak ada suara lagi, tapi, dari ujung tas keluar sedikit demi sedikit cairan yang menetes, cukup kental seperti darah, dari sela-sela resleting tas yang sudah rusak itu, tampak menyeramkan mata manusia yang muncul, melotot seperti melihat keluar.
*-*-*-*-*-*
"prang!" suara kursi terjatuh keras ke lantai,
Cody bangun begitu cepat hingga menjatuhkan kursi yang didudukinya ke atas lantai.
Tony yang sudah hampir tertidur tersentak bangun dengan refleks.
"Hoaaa" ia menoleh, menyipitkan matanya melihat Cody yang tadi tidur begitu nyenyak, kini tiba-tiba bangun dan berdiri di sampingnya.
"Ich kau ini Cody"
Cody seperti habis berlari jauh, nafasnya terengah, matanya melotot, keringat dingin mengucur dari dahinya.
"Hoh hoh, ja jalan Garuda no. 10"
Tony mengerutkan dahinya, Cody bangun dan tiba-tiba bicara demikian walau dengan nafas yang masih terengah-engah,
"Apa sih Cody ini"
Cody menuju ke meja, mencari sesuatu.
Ia mencari kertas dan pulpen, Tony menemukannya lebih dulu, walau masih dengan dahi berkerut bingung, ia tetap menuruti Cody yang seperti kesurupan itu.
"Iyah Iyah, jalan Garuda no 10"
Rio yang baru dari luar setelah mengisi botol minumnya mengerutkan dahinya melihat Cody dan Tony.
"Ada apa? Kalian tadi bukannya ketiduran yah"
Tony menyerahkan buku notenya ke tangan Rio.
"Ini, anak aneh ini tadi tidur terus tiba-tiba bangun dan menyuruh orang menulis apa ini?"
"Jalan Garuda no 10, apa ini Cod? Alamat siapa ini? Kenalanmu?" Tanya Rio, melihat wajah Cody yang pucat dan berkeringat dingin.
Cody masih mengumpulkan nafasnya, perlahan ia duduk di kursinya kembali, ia yakin mimpinya tadi pasti ada maksudnya, seperti mimpi ia biasanya.
"Heh heh I itu, eh, ada, koper berwarna merah" ia menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya, sejenak masih bisa merasakan kengerian yang ditimbulkan oleh mimpi buruknya tadi.
Rio dan Tony saling berpandangan, entah apa yang dibicarakan Cody, ia sama sekali tidak mengerti. Rio menoleh ke jam dinding waktu sudah lewat tengah malam.
"Heh oke kalian sudah lelah, Cody sebaiknya kau segera pulang tidur sana"
Cody masih merasakan debar jantungnya yang cepat karena mimpinya tadi, mungkin ia akan duduk dulu sebentar "heh"
*-*-*-*-*-**-
Hervant sudah bangun pagi itu, pukul delapan pagi dan ia baru menyelesaikan artikelnya yang akan dikirim kepada kepala editornya, ia memang rajin, tidak pernah melewatkan sedikitpun kesempatan untuknya bekerja dengan tepat waktu. Wajahnya seakan bersinar dengan mata di balik kaca mata tanpa frame yang fokus dengan pekerjaannya, seperti biasa Hervant yang selalu disiplin.
Lukas keluar dari kamarnya dengan wajah sembab, ia baru bangun, rambutnya yang kepirangan berantakan hingga tak terlihat bentuknya, ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya menguap dengan selebar-lebarnya.
"Her" ia menuju ke toilet mengenakan slop seadanya menyeret-nyeret langkahnya sambil menggaruk-garuk perutnya.
Tak lama Cody keluar dari kamarnya, sudah bersih dan rapih, diletakkan ranselnya di bawah sofa dan duduk.
Hervant melihat Cody dari atas hingga ujung kaki.
"Hari ini ke mana? Sejak libur kuliah kau sepertinya masih saja sibuk Cod"
Cody mengenakan sepatunya.
"Yah si Rio yang sok tahu itu bilang sama Gus untuk memberikan pekerjaan tambahan karena libur kuliah, jadinya aku ikut melihat berkas kasus dan lainnya dech, merepotkan sekali"
Hervant masih melihat Cody lama, bahkan saat pemuda itu sudah mengangkat kepalanya dan bersiap pergi, Cody merasa Hervant masih menyimpan sesuatu untuk dikatakan padanya, itu kebiasaan buruk Hervant yang sudah sangat dikenalnya.
"Apa?"
Hervant menyilangkan tangannya di depan dada, melihat Cody hingga matanya berkerut.
"Heh, soal semua mimpimu, heh, kau tidak bisa menghindar Cod, semua mimpimu itu nyata, seharusnya kau mulai mengatakan sesuatu pada Rio soal kemampuanmu"
Cody tersenyum, ia selalu merasa Hervant memang kerap mendukungnya, tapi semua itu tidak bisa dipaksakan, ditepuk kaki Hervant dan ia berdiri, namun belum juga selangkah sebuah bayangan muncul di kepalanya.
"Uummm ummm" seorang gadis kecil, terus berteriak, tapi ia tidak bisa mengeluarkan suara, seperti gagap, tangan besar menarik rambutnya yang coklat panjang keras dan terus menariknya.
"Ummm! Umm!!"
Lantai di mana anak itu diseret kotor dan lembab, ruangan sekitar seperti rumah sakit, tapi sudah sangat kotor dan tak terurus. Lampu-lampu dari langit-langit sudah banyak yang terlepas dan menggantung.
Hervant menepuk pundak Cody, menyadarkannya dari mimpi siangnya.
"Cody! Cody!"
Cody seperti tersentak, ia kembali ke ruang tengahnya, bayangan yang dilihatnya, menyita energinya. Jantungnya berdebar kencang, walau sudah sering mengalaminya tapi ia tidak pernah terbiasa dengan perasaan dan kengerian yang dirasakan sangat nyata itu.
"Hoh"
Didudukkan dirinya kembali ke sofa, menatap Hervant yang cemas melihatnya dengan mata besar.
"Kau kenapa? Tiba-tiba diam begitu?"
Lukas keluar dari kamar mandi, ia berhenti di tempat melihat dua sahabatnya bertingkah aneh, terlebih Cody yang seperti habis berlari jauh dan kelelahan. "eh kalian kenapa? Cod?"
+-+-+-+-+-+-