
..........
Saat ia membuka matanya pria itu sudah menghilang, Cody menarik nafas yang sempat tertahan, energi arwah itu, seperti arwah penasaran lainnya yang memberikan tekanan lebih dari arwah lainnya, dan ia bisa merasakan banyak arwah yang masih tertinggal di sana, mungkin harus keluar atau tidak ia akan semakin tersiksa.
*-*-*-*-*-*
Rio dan Tony baru saja memasuki area komplek gedung.
"Cody!"
Seru Rio sambil berlari masuk ke dalam, ia cemas kalau Cody yang orang biasa akan bertemu muka dengan tersangka yang mereka cari, ia tidak bisa membiarkan anak itu celaka karenanya.
"Tony kau cari di sebelah kiri, tetap waspada"
Tony mengangguk.
"Baik Rio"
Sementara Rio bergegas ke arah tangga menuju ke lantai atas, disiapkan senjata apinya.
"Cody!"
Sementara itu,..
Cody masuk kembali ke ruangan lain di sebelah ruangan tadi, ada beberapa lemari pendingin besar di sudut ruangan, apa, ini yang digunakan para tersangka untuk menyimpan mayat para korbannya? Pikirnya.
Masih dengan perekam video ponsel yang menyala, perlahan ia mendekat, selangkah demi selangkah karena apapun bisa terjadi di sana.
Sekejap, ada seorang wanita yang melintas di depannya, pakaiannya penuh dengan darah, wajah seolah penuh kemarahan dan aura pekat yang menyelubunginya, ia menatapnya dingin lalu menghilang di balik pintu di depannya, Cody menelan ludahnya bulat, berpikir, akan mulai mengikutinya ke arah ia menghilang tadi.
"Eh halo"
*-*-*-*-*-*-
Rio berjalan pelan sepanjang lorong sambil siaga dengan senjatanya, ia tidak berharap akan menggunakannya tapi apapun bisa terjadi saat ini.
"Cody!"
Pencarian tersangka menjadi pencarian Cody saat ini, ia sudah tidak perduli kalau tersangkanya akan melarikan diri setelah mendengar suaranya atau tidak, yang bisa dipikirkan saat ini adalah yang penting Cody aman.
Dibuka pintu satu persatu, beberapa ruangan yang walau masih dalam kondisi terang karena cahaya matahari dari luar tapi tetap terkesan mengerikan.
"Cody!"
*-*-*-*-*-*
Cody masuk lagi ke ruangan dalam, ada pintu lain di dalam ruangan ia masuk tadi, menemukan beberapa barang mengerikan lainnya.
Ada beberapa tabung besar, berisi cairan, dengan beberapa organ tubuh manusia, ada sepasang mata, mungkin juga organ dalam, sepasang telinga.
Cody menahan mulutnya, baunya membuat perutnya mual.
"eulk"
"Bruk!"
Tiba-tiba sesuatu melesat di depannya, yang pasti bukan arwah karena ia hampir mengenainya.
"Ach!"
Cody yakin itu manusia, ia berlari cepat ke arah pintu, tanpa pikir panjang Cody mengejarnya.
"Hei tunggu!"
Rio baru hendak menuju ke sebelah kiri lorong saat seseorang dengan tudung hitam berlari cepat melewatinya.
Buk buk buk!!
"Hei!"
Tak lama ia terdiam antara hendak mengejar atau mencari Cody, dan itu dia Cody muncul dari pintu kamar di ujung lorong.
"Rio! Kejar dia!" Seru Cody.
Wajah Rio berubah lega seketika melihat Cody, tapi ia malah berlari cepat melewatinya,
"Cody !"
Pemuda itu hanya melewatinya cepat tanpa berhenti sedikitpun, tanpa pikir panjang Rio ikut berlari menyusulnya.
Pengejaran terjadi, hingga turun ke lantai dasar di mana Tony ikut bergabung.
"Rio!"
Tanpa menghentikan larinya Rio berteriak.
"Cepat kejar orangnya! Ambil jalan lain! Cody!"
*-*-*-*-*-*
Cody berusaha mengejar orang dengan jaket dan topi hitam, tidak terlihat jelas wajahnya, dengan kakinya yang panjang ia meloncati tumpukan material gedung dengan mudahnya, dari posturnya Cody yakin itu laki-laki.
Cody mengambil jalan lain, tidak dengan Rio yang terlambat menyadari dan tetap mengejar pria itu.
"Aduh anak ini"
Seperti tidak ada lelahnya, orang dengan tubuh tinggi dan kaki panjang ramping itu terus berlari hingga ke jalan besar, Cody kehilangan dirinya demikian juga Rio yang sudah terengah-engah.
"Cody berhenti! kau bukan polisi kenapa ikutan berlari, berdiri di dekat mobilmu saja sana!" Seru Rio mendekat cepat dan menahan tangan Cody.
Tony mendekat, ia juga sudah hampir kehabisan nafas.
"Heh heh tadi ia belok di sana"
Rio melihat jalan bercabang di depannya,
"Oke Tony kau ambil sebelah kanan, aku ke kiri, Cody, kau kembali ke mobilmu" seru Rio tegas.
Sebelum Cody menjawab Rio dan Tony sudah berlari ke arah yang sudah ditentukan tadi.
"Tap tapi eh" dengan sedikit kecewa Cody hanya bisa berdiri di tempatnya, menarik nafas panjang.
"Heh"
Ia terpaksa ia menunggu selagi dua polisi muda itu mengejar tersangkanya, yang mungkin sudah hilang jejaknya.
*-*-*-*-*-*
Cody baru saja akan menuju ke jeepnya saat melihat seseorang berdiri di sebrang jalan, wajah gelap, seperti arwah terikat yang biasa dilihatnya, hanya diam melihat ke arahnya, seakan ingin memberitahukannya sesuatu, mungkin ia perlu mendekat, pikir Cody.
Tapi baru saja selangkah ia hendak menyebrangi jalan, dari arah ujung jalan sebuah kendaraan kecil dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya,
"Cody awas!"
Ada suara yang memanggil namanya, ia hanya sempat menoleh dan tidak bisa menghindar saat kendaraan itu lurus menuju ke arahnya tanpa mengurangi kecepatan sedikitpun.
"Brummmm!"
Dalam sepersekian detik Cody berpikir ia mungkin akan mati, jantungnya seakan berhenti, ia pasrah saat kendaraan itu bergerak hendak menghantamnya hingga sesuatu mendorongnya ke sisi jalan, jatuh dengan keras membentur sisi jalan.
"Buk!" Benturan keras.
"Chiiitttt!" roda bertemu aspal.
Kendaraan itu berhenti dengan cepat setelah cukup yakin sudah menabrak tubuh Cody dengan keras, sejenak berhenti mungkin melihat apakah korbannya sudah jatuh atau tidak, hingga kendaraan kecil itu meneruskan jalannya kembali pergi dengan cepat. Meninggalkan Cody yang sudah tergeletak tak bergerak diri di pinggir jalan.
"Chiiitttt!" Desit roda berlalu cepat.
Rio berlari secepat ia bisa..
"Tidak Cody!" Dari kejauhan ia bisa lihat Cody yang tergeletak di pinggir jalan, tidak bergerak.
Ia dan Tony yang tadi mengejar tersangka berbalik cepat ke arah Cody setelah mendengar suara ban yang berdesit keras.
"Cody! Tony cepat panggil ambulans!" Serunya.
Cody tak sadarkan diri, dari keningnya keluar sedikit darah, dan sepertinya bagian kaki sebelah kirinya juga terluka cukup parah karena darah tak kunjung berhenti walau Rio terus menekannya.
"Cody, hei Cody sadarlah, ayolah kau ini"
Rio sangat cemas, berapa kali pun ditepuk pipi Cody ia tetap tidak bergeming sedikitpun.
"Tony cepat!" Seru Rio.
+-+-+-+-+-+-+-