You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Empty Body



.........


"Kretek kretek"


Brankar didorong secepatnya oleh petugas medis, beberapa berlalu lalang dengan sibuk.


Ruang tanggap darurat rumah sakit pusat.


Korban kecelakaan masih terus berdatangan.


Cody dan Riana duduk di ruang tunggu karena keduanya hanya lecet di beberapa bagian, untung tidak ada yang parah, pikir Riana melihat wajah Cody yang sedikit kotor.


Dikeluarkan tissue dari dalam tas kecilnya untuk membersihkan pipi Cody yang terkena noda, pakaiannya yang manis, yang sengaja dibelinya untuk kencannya dengan Cody kotor dan sedikit rusak di beberapa bagian, mungkin juga di banyak tempat karena penampilannya sudah tidak karuan.


Rambutnya yang baru dikeramas berantakan jadi seperti drakula, sangat menyedihkan, pikir Riana kesal.


"Heh hari yang sempurna"


Cody menarik nafas panjang, ia tidak bisa menyelamatkan semua orang walau apapun usaha yang ia lakukan, ia tidak mungkin bisa melawan kuasa sosok orang hitam yang sudah turun menjalankan tugasnya, seperti biasa.


Cody sebenarnya agak gentar saat salah satu orang hitam mendekatinya tepat setelah ia terhempas karena ledakan tadi, menatapnya, walau ia tidak bisa melihat matanya, tapi ia yakin, tatapannya ditujukan untuknya, dan tanpa bicara apapun pergi melanjutkan tugasnya.


Rio dan Tony mendekat dari arah pintu masuk, keduanya melihat Cody dan Riana yang berantakan duduk di ruang tunggu. Entah harus tertawa atau ikut prihatin melihat penampilan keduanya.


"Wooh Cod, kau, tidak apa-apa khan? Riana?" Tanya Rio, Cody menggeleng "tidak apa, hanya lecet sedikit"


Cody mengerutkan dahinya melihat dua petugas muda crime scene investigation itu di sana saat ini.


"Kalian, kok di sini? Memang urusin kecelakaan juga?" Tanyanya.


Rio duduk di samping Cody.


"Yah kami kebetulan mencari korban, ada yang melaporkan di salah satu mobil yang terkena kecelakaan beruntun di bagasinya ada mayat, beruntung tidak kena efek ledakan parah jadi masih bisa kita selidiki"


Cody dan Riana menyimak,


"Maksudnya? Ada, pembunuhan begitu?" Tanya Cody memperjelas.


Tony mengangguk "yah, sepertinya sih begitu, tidak mungkin mayat tiba-tiba masuk bagasi sendiri khan?" guraunya, Riana tertawa kecil, ekspresi wajah Tony saat mengatakannya terlihat lucu.


"Hehe Iyah mana mungkin"


Sedangkan Rio dan Cody hanya menatapnya aneh.


"Ich kau ini, masih saja bisa bercanda" Rio menggetok kepala Tony.


Keempatnya mencoba lebih santai setelah kecelakaan yang membuat jantung Riana meloncat dan shock, hingga ponsel Cody di dalam saku celananya bergetar.


"Em, siapa yah?" Nomor tanpa nama, Cody menjawabnya.


"Halo, eh, Iyah, oh kak Nina"


Rio mencolek Riana bertanya siapa yang mungkin menghubungi Cody di jam malam saat itu, Cody tampak tertawa beberapa kali.


"Hehe Iyah"


"Siapa itu? Selingkuhan yah?" Ledek Rio, Riana memukul lengan Rio gemas.


"Apanya selingkuhan, mana mungkin Cody selingkuh"


"Yah kalau tidak kenapa sampai tertawa-tawa begitu? Akrab sekali" lanjut Rio berusaha memanasi Riana, gadis itu memang terlihat agak cemas, mereka menunggu hingga Cody mematikan sambungan teleponnya.


Cody masih tersenyum dan menghentikannya saat menyadari tatapan Riana dan lainnya padanya.


"Eh, kalian kenapa?"


Rio menunjuk ke arah ponsel Cody.


"Ich Rio ini!"


Cody tertawa kecil, tingkah Rio, Riana dan Tony di depannya membuat ia tidak bisa menahan tawa.


"Hehe kalian ini, itu dari kak Nina, asisten pribadi opa"


Rio mendekat, serius bertanya kali ini.


"Suruh kau pulang Cod? Atau ada pembagian warisan?"


Cody menepuk perut Rio.


"Jangan bergurau Rio, emm katanya sih ini ada hubungannya dengan penyelidikan mu, tidak mengerti juga, kau selesaikan saja urusan di sini dulu"


Rio masih mengerutkan dahinya, tapi ia dan Tony memang ada urusan lain ke sana, dicolek lengan Tony.


"Ayo Ton, anak ini mencurigakan, tidak usah dipedulikan, yuk kita cari dokter Ali"


*-*-*-*-*-*-*


Rio dan Tony berdiri di depan meja jenazah, di mana koroner yang bertugas di rumah sakit pusat, dokter Ali menyibak kain penutup dari mayat tak dikenal yang ditemukan di bagasi mobil saat kecelakaan tadi.


"Eh, ini, anda yang bedah? Cepat sekali katanya baru tiba barusan?" Tanya Rio menunjuk ke garis bekas jahitan membentuk Y di sepanjang tubuh atas wanita itu. Mayat yang sekujur tubuhnya sudah berubah warna menghitam, wajah tidak jelas lagi, matanya masih membelalak besar dengan warna bola mata yang sudah memutih pucat.


Tony menahan mual hingga membalikkan kepalanya ke arah lain.


Dokter Ali menggeleng, dokter bertubuh agak pendek dan berperawakan kecil yang menjadi pengurus jenazah dan bekerja di rumah sakit selama ini mungkin baru menemukan jackpot dengan mayat yang ada di depannya, bukan yang seperti biasa ia lihat.


"Bukan, justru itu yang aneh, jika anda lihat dalamnya.." dokter yang dari wajahnya terlihat sudah agak berumur itu membuka bekas jahitan di sepanjang tubuh mayat, sudahlah, rasa mual Tony mencapai puncaknya hingga ia menghindar cepat ke arah wastafel dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Uweekk"


Rio hanya menggelengkan kepalanya.


"ckckck anak ini"


Rio terdiam, melihat mayat itu kembali seksama, pemandangan di depannya bukan hal biasa, biasanya ia akan melihat mayat dengan isi tubuh yang masih utuh, walau meninggal dengan cara apapun, tapi tubuh dingin di depannya, isi di rongga dada dan perutnya, sudah hampir tidak ada, beberapa bahkan diganjal plastik untuk menutupi kekosongan.


"Heh, ini lagi"


Dokter Ali menutup jenazah, ia masih melihat ke arah Rio yang membuat Rio berpikir ada hal yang lainnya lagi.


"Apalagi? Ada, tanda pengenal atau, kartu kerja, atau apa begitu" tanya Rio.


Dokter Ali menggeleng, ia menarik nafas berat.


"Heh tidak ada, tapi, kondisi mayat, yang menghitam seperti ini, perkiraan kematian bisa lebih lama dari yang kita duga"


"Apa maksud anda? Ia sudah meninggal cukup lama gitu?"


Dokter Ali mengangguk "Iyah, ini seperti mayat yang di simpan di lemari pendingin sekian lama dan baru hendak dibuang, dari kondisi daging yang sudah membiru hingga hitam, perkiraan kematian bisa lebih dari sepuluh hari, kurang lebih"


Rio menyilangkan tangannya di depan dada, melihat wajah mayat yang sudah tidak begitu jelas, mau dilakukan face recognition juga akan sulit sepertinya, rambut wanita itu agak keriting panjang menjuntai sedikit hingga pinggiran meja jenazah, ia menarik nafas berat.


"Heh tindak kejahatan masa kini, semakin lama semakin gila, entah apa lagi yang terpikirkan orang-orang itu saat menghabisi nyawa orang lain dengan begitu mudahnya, tapi, kenapa harus menyimpannya lama, kalau akhirnya akan dibuang juga, hmm" ia berpikir.


Dokter Ali mengambil berkas di atas meja di belakangnya, ia mendekat kembali.


"Entahlah, Aku tidak akan aneh dengan kondisi seperti ini, kalau kau ingin tahu, praktek pencurian organ seperti ini sudah ada sejak lama"


Rio menoleh, ucapan dokter Ali sangat memberinya ide "pencurian organ?"


+-+-+-+-+-+-+