
.....
Remang.
Ada benda kecil beterbangan, melayang dengan sangat ringan di udara, angin yang berhembus pelan membawanya jauh hingga ke segala penjuru. Sejenak tenang seperti tidak ada suara apapun selain angin, tapi, yang terjadi di bawah langit tidak demikian.
Suara ribut klakson kendaraan yang menumpuk hingga teriakan beberapa korban segera terdengar jelas.
"Tuttutt! Tutt!
Seakan mimpi, Cody membuka matanya lebar cepat.
Lampu jalan berwarna kekuningan di depan kaca mobilnya yang agak remuk perlahan semakin jelas di matanya, walau masih samar dengan cairan kental yang jatuh ke matanya, itu mungkin darahnya, pikir Cody yang tidak bisa banyak bergerak. Ia sempat tak sadarkan diri tadi, dan ini bukan mimpi, ia benar terlibat kecelakaan, kepalanya mungkin membentur kaca mobil dengan sangat keras hingga ia tak sadarkan diri dan sakit bukan main.
Tak lama pendengarannya kembali, berusaha mengumpulkan ingatannya dengan cepat.
"hoh"
Ia berusaha menggerakkan tubuhnya tapi tidak bisa. Kakinya tertahan di bawah sepertunya terjepit di antara kursi dan stir setelah jeepnya dihantam dengan keras dari belakang tadi, dan ia lemas, hampir tidak ada tenaga tersisa lagi.
"Akch!"
Tapi ia harus keluar, jeepnya terjepit bersama banyaknya kendaraan lain yang juga mengalami tabrakan beruntun, hal pertama yang terlintas dipikirannya adalah Jeep ini pasti akan sangat butuh banyak perbaikan.
"Aduuh" rasanya sudah tidak karuan, ia bahkan tidak tahu mana yang sakit dan mana yang tidak, mungkin tubuhnya sudah remuk di sana sini.
Beberapa petugas berlalu lalang di depannya, mereka mendahulukan korban yang lebih parah dan kerap melewatinya. Cody sudah berusaha menarik kakinya, tapi ia tidak punya tenaga lagi, mungkin harus diam dan menunggu saja, pertolongan akan segera tiba, dengan kondisinya kini sebentar lagi ia mungkin akan kehilangan kesadarannya, darahnya terus menetes tanpa henti.
"hoh"
Dari jarak pandangnya kini ia bisa melihat seorang wanita yang terus menggedor-gedor kaca mobil kecil yang terbalik dan terjepit di antara mobil besar.
"Tolong, keluarkan suamiku! Tolong!" Seru wanita itu, beberapa petugas membawa alat berat berusaha membuka pintu mobil.
"Permisi Bu, tolong beri jarak"
Beberapa bayangan hitam muncul, melesat cepat di depan Cody, ia bisa melihat mereka dengan jelas walau kepalanya sangat sakit.
Para pria itu, pria berkerudung hitam, yang kerap muncul di saat banyak kematian mendadak terjadi, wajah para pria itu tidak tampak, hanya gelap di balik tudung hitam mereka.
Wanita itu terus menangisi suaminya, seorang pria berkerudung hitam mendekati kendaraan terbalik itu, membuka pintu mobil dengan mudahnya dan mengeluarkan sang pria dari dalam, walau pada kenyataannya pintu kendaraan yang sudah rusak parah itu masih tertutup rapat dan pria itu masih terjepit di dalamnya.
Pria itu melihat istrinya lama, wanita yang sudah mengalami luka di beberapa bagian wajah dan tubuhnya, hingga tanpa bisa menolak ia pun mengikuti pria berkerudung hitam dan menghilang bersamanya.
Cahaya semakin redup, itu hanya di penglihatan Cody karena ia semakin lelah, darah yang menetes dari atas kepalanya membuat pandangannya semakin buram.
Cody berusaha menarik kakinya, akhirnya sambil merintih kesakitan ia berhasil mengeluarkannya. Darahnya, menetes hingga membasahi kaki celananya. Perlahan Ia mulai tidak bisa merasakan apapun, mati rasa.
Dengan segenap tenaga yang tersisa Cody mendorong pintu jeepnya yang sudah sedikit bengkok, untung masih bisa melakukannya, hingga akhirnya ia berhasil keluar dan menjatuhkan dirinya di atas aspal jalan.
"Heh heh heh" ia lelah, lukanya mungkin sudah menguras darahnya yang dari sananya sudah sedikit, mungkin sebaiknya ia memang diam saja, menunggu bantuan datang untuknya.
"Hoh hoh.."
Langit remang dengan cahaya lampu kekuningan dari lampu jalan. Beberapa benda kecil sangat ringan melayang di udara seperti sisa barang yang terbakar, ada yang terbakar di dekatnya.
Entah kenapa ia sering sekali mengalami hal itu, ia pasti akan kembali membuat Riana dan lainnya cemas, harusnya ia tidak keluar rumah hari itu.
"Heh" hesahnya.
Sesaat sebelum Cody memejamkan matanya, tiba-tiba seseorang berhenti di dekatnya, salah satu pria tinggi berkerudung hitam, yang seolah menundukkan kepalanya dan melihatnya lama. Cody tersentak, ia tidak bisa ke mana-mana lagi untuk menghindari pria itu, apa ia datang untuknya? Apa ini mungkin ajalnya?
Tapi tidak, ..
Pria itu hendak melangkah kembali, ia pasti akan mengambil arwah lain lagi, tanpa pikir panjang Cody berusaha meraih kaki pria itu. Ia berhasil memegang jubah panjangnya hingga pria itu menghentikan langkahnya kembali, sekilas banyak bayangan aneh muncul di kepala Cody, seperti melihat kehidupan orang lain yang dibawa sosok hitam itu ikut bersamanya.
"Ekch" tekanannya cukup berat untuk dirasakan Cody.
"Deg deg deg!"
Dadanya berdebar sangat kencang seakan ia sangat gentar dengannya. Cody melepaskan pegangannya, suara dari pria itu keluar walau ia tidak menggerakkan bibirnya.
"Hmm, menarik sekali, Kau sangat bersinar anak muda, tapi waktumu masih sangat panjang, walau kematian selalu ada di sekitarmu, dan segera, aku akan datang dan mengambil salah satu yang kau kenal dekat"
Suara itu, jelas terdengar di telinganya hingga keheningannya dengan cepat datang menyergapnya, menenggelamkannya ke dalam air hitam di mana semua hanya gelap, hening, tanpa suara sedikitpun.
Beberapa petugas team penolong akhirnya mendekatinya.
"Di sini! Seru salah seorang petugas sambil memeriksa kondisi Cody yang sudah tak sadarkan diri.
*-*-*-*-*-*
Air sisa hujan masih menetes dari atas dahan pohon. Hujan tidak begitu deras semalam tapi cukup membuat hawa pagi itu dingin, walau matahari sudah bersinar sangat terik di waktu yang masih cukup pagi.
Di depan ruang operasi.
Riana duduk dengan tangan gemetar di kursi, Hervant dan Lukas berdiri di sampingnya. Pukul enam pagi dan Cody bahkan belum keluar dari ruang operasi, sejak tengah malam ia di dalam sana, kenapa operasinya lama sekali? Pikir Hervant kian cemas.
Ponsel di sakunya bergetar, panggilan masuk dari Charlie, ia bergerak menjauh ke lorong untuk mengangkat teleponnya.
"Yah Char, heh sudah sejak tengah malam, kau di mana?" Tanya Hervant lesu, perlahan ia duduk dan menarik nafas panjang karena lelah dan khawatir.
"Dokter mengatakan mungkin ada pendarahan di kepala, darahnya banyak sekali, aku, sudah mencoba menghubungi ponsel kak Nina, tapi sepertinya mereka sedang di luar jangkauan, kabar Cody terakhir bilang kalau opanya sedang ada di Rusia" ia mengangkat rambut depannya yang jatuh tak beraturan, bukan hal mudah berpikir kalau Cody memang tidak baik-baik saja saat ini, ia ingat melihat wajah pucat Cody saat dibawa ke ruang operasi malam tadi.
Lukas duduk di samping Riana, menepuk pundak gadis itu pelan.
"Ri, Cody akan baik-baik saja, dia khan kuat, eh kau mau kopi tidak? Aku belikan yah"
Riana menggeleng, ia menahan tangisnya sejak tadi dengan harapan Cody akan segera keluar, kalau Cody melihat ia menangis lagi ia pasti akan memarahinya.
"Tidak usah Luk, nanti saja, terima kasih yah"
Tak lama dari arah lorong muncul Rio dan Tony mendekat cepat. Rio langsung mendekati Lukas.
"Luk, bagaimana Cody? Kenapa kau baru mengabarkan sekarang?" Cemasnya.
Lukas menunjuk ke arah pintu kamar operasi yang masih tertutup rapat.
"Masih di dalam, kami juga baru tahu setelah ia di bawa ke sini tengah malam tadi, rumah sakit yang menghubungi kami"
Rio duduk di samping Lukas.
"Heh, Cody ini, bikin orang jantungan, kenapa bisa tidak ada angin tidak ada hujan bisa terjadi kecelakaan seperti ini, disaat Cody di sana"
Lukas berusaha menghentikan ucapan Rio, raut wajah Riana semakin berubah, ia sudah berusaha menahan emosinya sejak tadi.
"Rio"
Rio mengerti akan hal itu hingga ia menghentikan ucapannya cepat, ia lalu melirik pada Tony.
"Ton, kau kembali saja ke kantor dan mencari tahu soal kecelakaan ini, apa saja informasi yang bisa kau dapatkan"
Tony menggaruk kepalanya.
"Tapi Rio, aku juga mau lihat kabar Cody"
Rio mengangkat tangannya "sudah nanti aku kabarkan, Cody itu kuda liar, dia itu kuat tidak akan mati semudah itu, sana pergi"
Riana menatap pintu kamar operasi lama, hingga air matanya turun juga pada akhirnya.
"Cody"
+-+-+-+-+-+-+-