You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Not Superman



......


Rio dan Tony mengendap memasuki area halaman rumah, tidak tampak Cody di mana-mana, mereka sudah tertinggal jauh.


"Heh anak itu di mana lagi"


Tony mendekat dengan ponsel menyala.


"Rio, Georgie bertanya apa kita sudah selesai, beliau dan team akan meninggalkan TKP"


Rio mengerutkan bibirnya sebentar, berpikir.


"Hemh, kalau Cody belum selesai artinya kita belum selesai, bilang padanya untuk tunggu sebentar lagi, kita akan lihat Cody menemukan apa kali ini"


"Heh anak itu memang ajaib, tak heran Gus cepat-cepat mengangkatnya menjadi konsultan kita, dasar orang tua itu sangat jeli" komen Tony.


Rio meneruskan langkahnya, walau itu yang dipikirkan Tony tapi Rio yang deg-degan setiap kali Cody melakukan usahanya sendirian. Suasana tenang, tidak banyak suara di area karena pemukiman penduduk yang berjarak cukup jauh, hingga tempat itu tidak begitu diminati pendatang dan mati dengan sendirinya.


Saat keduanya begitu fokus mencari Cody, suara agak keras mengejutkan keduanya.


"Bukk!!"


Secepat kilat Rio sudah mengeluarkan senjata apinya, bersiap dengan berhati-hati mengendap mengikuti arah suara, ia memberi kode pada Tony agar menuju ke arah lain.


"Jangan sampai terjadi hal buruk, Cody itu"


Rio mengendap memasuki pintu samping yang agak terbuka, ruangan dalam yang samar minim cahaya, hanya masuk melalui beberapa lubang di dinding.


Dengan hati-hati Rio melangkah, sepatunya yang mengkilap bersih jadi sedikit ternoda oleh debu lantai yang sudah lama tidak terawat.


Diangkat senjata apinya, apapun bisa terjadi saat ini. Rio memasuki salah satu ruangan di dalam, ada pintu kecil di dinding seperti ruang rahasia, ada kaki di lantai Rio langsung mengenali sepatu tersebut.


"Oh tidak" Rio berlari mendekat, tanpa menurunkan kewaspadaannya melihat kanan dan kiri sebelum menurunkan tubuhnya mengecek Cody yang sudah tergeletak di lantai kotor, tak sadarkan diri.


"Cody, hei Cody"


Tak lama kemudian,


Team forensik sudah memenuhi rumah kosong tersebut, team Georgie juga sudah merapat bersama dengan Tony, Georgie berdiri di depan pintu di mana di dalamnya ada sebuah ruangan kecil, menyerupai ruang bawah tanah, sebuah kursi diletakkan di tengah ruangan, dengan sesosok tubuh kecil terikat dalam kondisi cukup menyedihkan.


"Heh orang-orang itu"


Pakaiannya terkoyak, ada bercak darah di beberapa bagian, wajahnya sudah sulit untuk dikenali, lebam dan membiru, goresan pisau dengan darah yang sedikit mulai mengering, leher yang merah seperti bekas cekikan, sosok tubuh itu sudah sangat kaku, entah sudah berapa lama ia di sana, suhu panas dalam ruangan hampir tanpa udara itu membuat kondisi jenazah lebih cepat membusuk, baunya mulai tercium samar.


"Anak yang malang" hesah Tony, Ardi, photographer baru mendekat, sejenak anggota paling baru itu terdiam di tempatnya, melihat sosok tubuh tanpa nyawa di tengah ruangan, tak butuh waktu lama hingga ia cepat-cepat membalik dan memuntahkan semua isi perutnya di lantai.


"Wuuueekkk!!"


Georgie dan Tony saling berpandangan, seperti sudah diduga sebelumnya, Georgie menatap Tony dengan mata tajam sambil mengeluarkan selembar uang puluhan ribu ke tangan Tony yang terbuka.


Tony tersenyum puas "hehehe aku bilang juga apa"


Rupanya sebelum masuk keduanya masih sempat taruhan bagaimana reaksi anak baru melihat kondisi mayat itu.


Georgie menarik nafas kesal lalu bergerak mendekati mayat di depannya.


"Heh dasar anak muda"


.......


Cody duduk di pinggir ambulans sambil memegang kain menahan luka yang masih mengeluarkan darah di kepalanya, Rio duduk di sampingnya dengan wajah cemas.


Polisi muda itu memeriksa wajah Cody melihat luka lain yang mungkin mereka lewatkan sementara petugas medis sudah memeriksa lukanya, menggeser kepala Cody ke arahnya, menyibak poninya.


"Hentikan Rio" Cody yang risih menurunkan tangan Rio.


"Kau ini, bukannya hati-hati, sudah dibilang jangan pernah pergi sendiri mengerti tidak sih" seru Rio kesal.


Cody merintih saat petugas medis membersihkan lukanya.


"Ach"


"Setelah ini tetap ke rumah sakit, di-CT scan siapa tahu ada kena luka dalam" ujar pria muda petugas medis itu.


Cody melirik, rumah sakit? Ada Charlie bawel yang pasti akan menceramahinya, rasanya mungkin akan lebih sakit dari pada sakit kepalanya kini.


*-*-*-*-**-


Di apartemen Cody.


"Ceklek"


Pintu kamar dibuka dan ditutup kembali.


Ada langkah pelan namun berat di atas permukaan karpet lantai kamar, mendekat ke arah ranjang dengan tanpa halangan dan berhenti.


"What?" Tanya Cody yang walau memejamkan mata di atas ranjangnya tapi ia tahu siapa yang masuk kamarnya. Charlie, yang sudah berdiri berkacak pinggang di depan pintu.


"Kau pikir mau disembunyikan sampai kapan? kau berulang kali terluka karena hal tidak penting seperti ini.."


"Hentikan Char ini bukan hal tidak penting, jangan bicara seperti itu" potong Cody.


Cody menarik tubuhnya bangun dan duduk, menurunkan dua kakinya dari ranjang, kepalanya pusing bukan main, perutnya mual, tapi itu semua tidak sebanding dengan tatapan Charlie yang seakan menghakiminya.


Charlie mendekat, menarik kursi dan duduk, dadanya naik turun dengan gemas, ia menahan emosinya sejak tadi, rasanya ingin meledak.


"Kau selalu terluka Cod, ada saja yang terjadi, entah ditabrak mobil, hampir diculik dan diambil semua organ tubuhmu, sekarang dipukul dari belakang, apa sampai kau cacat baru berhenti? oh yah, kau digigit ular berbisa berapa hari lalu, dan tidak bicara apa-apa soal itu? Kalau bukan karena aku melihat sendiri laporan dari petugas medis sampai kini juga aku mungkin tidak akan tahu, kau sadar kau ini siapa Cod? Kau juga bukannya Superman yang setiap kali bisa tahan banting, dan ingat sesekali juga bisa pingsan karena anemia, kau ini.." suara Charlie semakin tinggi, hingga ia kehabisan nafas dan berhenti.


"Heh, aku tidak mengerti akan dirimu"


Cody mengerti kenapa Charlie begitu, ia selalu menjadi sahabatnya yang paling dekat, bahkan sudah seperti kakaknya sendiri, Charlie tahu apa yang ia alami sejak dulu, bahkan melebihi dirinya sendiri.


"Charlie, aku, tidak bisa mengendalikan semuanya, maaf, sudah membuatmu cemas, lain kali aku akan lebih berhati-hati"


Charlie menurunkan dadanya, berusaha untuk lebih tenang, ia hanya panik dan kesal, semua bercampur jadi satu, semua karena ia begitu peduli pada Cody, melebihi apapun, sejak mendengar kabar soal Cody ia bahkan mengendarai mobilnya seperti kesetanan dan terbang sangat cepat, tidak terbayang bagaimana rasanya saat ia memikirkan semua hal buruk yang bisa saja terjadi pada Cody.


"Heh, kali ini kau harus tinggal di rumah selama beberapa hari jangan ke mana-mana dulu, pukulan di kepala bukan hal sepele, heh"


Setelah berbicara demikian Charlie berdiri dari duduknya, tepat saat Riana masuk dari pintu.


"Charlie" sapa Riana, sejenak Charlie melihat Riana.


"Ri, aku ingin bicara sebentar, aku tunggu di luar yah"


Riana menoleh pada Cody yang duduk di atas ranjang, sepertinya keduanya baru mengalami pembicaraan yang sangat serius tadi, wajah Cody pun terlihat kurang bersemangat, Riana mengangguk.


+-+-+-+-+-