
........
"Ting!"
Pintu lift terbuka.
Hervant menyusul Cody hingga turun ke lobi apartemen.
"Cody! Kau tidak bisa pergi ke sana sendiri, kau harus memberitahukan Rio dan polisi lainnya, bukannya kau bisa membela diri saja kalau benar masih ada tindak kejahatan di sana!"
Hervant menahan tangan Cody menghentikan langkahnya,
"Her, mereka tidak percaya padaku, bagaimanapun aku harus menemukan anak itu, entah ia hidup atau tidak" ia berusaha melepaskan pegangan Hervant padanya.
Hervant tidak melonggarkan pegangannya, ia tidak bisa membiarkan Cody yang terlalu gegabah kembali menempuh bahaya sendiri setelah apa yang pernah terjadi dulu,
"Her"
Cody berusaha menarik tangannya, Hervant hendak menarik Cody lagi tapi seseorang muncul mendekat.
"Eh, kalian, kenapa ribut-ribut di sini? Eh, maaf bukannya aku mencampuri tapi suara kalian terdengar jelas hingga ke depan" ia Edi yang melihat keduanya dengan tatapan bingung.
Cody dan Hervant saling berpandangan sejenak, hingga Cody melanjutkan jalannya menuju ke pintu keluar.
"Aku pergi dulu Her"
"Cody jangan nekad, bagaimanapun kau jangan melakukan hal konyol!" Seru Hervant,
Ia masih bisa mendengar suara Cody yang keluar pintu lobi.
"Yah tahu Her!"
Sejenak Hervant masih berdiri di tempatnya, ia menoleh dan menemukan Edi masih ada di belakangnya.
Entah kenapa tapi ia tidak begitu menyukai Edi, mahasiswa yang beberapa kali bertemu Cody dan menyapa mereka, seperti berusaha untuk mengakrabkan diri pada mereka. Ia kembali ke arah lift.
"Heh Cody gila!"
Hervant masih terus menggerutu.
Pemuda itu, Edi masih berdiri di tempatnya, ia sedikit menyeringai "he"
*-*-*-*-*-*-*-*
Rio dan Tony duduk di meja kerja mereka, belum ada laporan untuk ditindaklanjuti pagi menjelang siang saat itu, rasanya bosan sekali.
Cody sudah masuk ruangan dan meletakkan tasnya di kursi biasa ia duduk.
"Kalian tidak ke mana-mana hari ini? Tidak ada kasus yah?" Tanyanya, Tony mengangkat kepalanya duluan, mengerutkan dahinya melihat Cody yang barusan datang dan terlihat bersemangat.
"Kenapa Cod, ini hari yang cerah donk, tidak ada kasus kejahatan hari ini, bukankah lebih baik begitu" seru Tony.
Cody mendekati meja Rio, mungkin ini saat yang tepat memberi tahu mereka soal semua mimpinya, dan mencari tahu soal kasus menghilangnya pak Richard,
"Eh, kalau begitu, eh ada, sesuatu yang ingin kutanyakan sich, em.."
Rio mengangkat kepalanya, ia masih dipusingkan dengan petunjuk yang tak kunjung didapatkannya, dan Cody bisa merasakan itu saat melihat mata detektif muda itu melihat ke arahnya.
"Eh.."
"Kau ini mau bicara apa sih Cod, kok terbatah-batah begitu, seperti anak kecil saja" seru Rio galak.
Cody menahan nafas sejenak, mengumpulkan energinya, tapi baru saja ia hendak membuka mulut, ponsel Rio di atas meja bergetar, lagi, selalu begitu pikir Cody.
"Yah halo" detektif muda itu mengerutkan dahinya sambil menatap ke arah Cody,
"Di mana? Maksudku, posisinya"
Ia segera keluar dari mejanya menyambar jaketnya, menyentikkan jarinya meminta Tony dan Cody mengikutinya.
Cody dan Tony mengikuti hingga ke lapangan parkir di mana Rio segera masuk ke dalam mobilnya.
Ketiganya sudah duduk rapih di dalam mobil.
"Kasus baru Rio?" Tanya Tony sambil mengenakan sabuk pengamannya, Cody duduk di belakang.
Rio menarik nafas panjang, ia menghidupkan mesin dan tak lama memutar stirnya keluar area parkir.
"Heh yah, kasus baru yang aneh"
*-*-*-*-*
Di hutan kota.
Sepanjang area sudah dipasang garis polisi, beberapa kendaraan polisi, forensik hingga wartawan sudah diparkir di sekitarnya.
Rio baru menghentikan kendaraannya dan keluar dari mobil bersamaan dengan Cody dan Tony.
"Eh, di sini?" Cody menghentikan langkahnya, ia seperti mengenali jalan setapak itu, tapi dalam kondisi pencahayaan yang berbeda, jalan, yang gelap, di mana tidak ada seorangpun di sana, tidak seperti sekarang.
Rio menghentikan langkahnya melihat Cody yang berhenti.
"Cody, kenapa kau berhenti? Masih di depan"
Sejenak Cody merasakan dadanya sakit, di pegang pohon di sampingnya menahan dirinya agar tidak jatuh, Tony mendekat.
"Cod kau kenapa?" Cemasnya.
Cody menggeleng, ia hanya merasa berat, tekanan, yang entah kenapa akhir-akhir ini semakin menekan dadanya, sulit untuk bernafas, ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, tapi sejak mimpi itu datang, semua muncul tiba-tiba.
"Tidak, aku tidak apa-apa, kalian lanjut saja"
Rio mengajak Tony melanjutkan langkahnya.
"Biarkan ia istirahat di sini, mungkin darah rendahnya kambuh"
Dua polisi muda itu berhenti di atas jalan setapak, di mana di bawahnya terdapat tempat pembuangan sampah, dan petugas kebersihan yang bertugas pagi ini menemukan sesuatu yang mengejutkan di sana.
Dengan sedikit menahan tubuh mereka, Rio dan Tony meluncur turun.
"Heh anak itu, sebenarnya dia itu siapa sih" Rio mendesah.
Sebuah koper merah, yang sudah dibuka dan terdapat tubuh yang meringkuk di dalamnya, tubuh kecil, tanpa sehelai pakaian melekat di tubuhnya, kondisi jenazah yang sudah mulai menghitam.
Tony menatap Rio, dan juga pada Cody yang belakangan baru berhenti di atas jalan setapak, di mana tepat di sebelah Cody berdiri, sebuah palang nama jalan, jalan Garuda no. 10, nama jalan yang diteriakkan Cody semalam.
"Heh, ia tidak mungkin seorang peramal khan, bisa melihat masa depan" tanya Tony.
Rio menurunkan tubuhnya memeriksa kondisi jenazah, seorang anak gadis, usianya mungkin tidak lebih dari dua belas tahun dengan tubuh kecil hingga bisa muat dalam koper berukuran besar tersebut,
"Heh, mungkin bukan masa depan Ton, tapi masa sekarang, entah bagaimana, tapi, semalam mungkin Cody memimpikan saat pelaku membuang koper ini di sini"
Georgie mendekat, pria berkepala setengah botak dan perut bulat karena kegemarannya makan itu mengangguk.
"Yup, mungkin memang pelaku baru membuangnya semalam karena jalan ini selalu ramai pengunjung sore harinya, tapi, lihat kondisi jenazahnya" pria itu menunjukkan jari-jari tangan korban yang sudah berwarna agak biru tua.
"Korban sudah lama meninggalnya, kemungkinan lima sampai sepuluh hari dengan kondisi dibekukan, dan lihat bagaimana semua kulitnya sudah mengeras, ia seperti baru dikeluarkan dari lemari pendingin dan sengaja dibuang di tempat umum"
Rio berdiri "heh, tapi kenapa alasannya? Apa yang membuat pelaku membuang mayatnya sekarang? Seperti juga dengan wanita yang kemarin ditemukan di bagasi, sepertinya, ada yang sengaja membuang jenazah ini agar kasus ini muncul kepermukaan"
Georgie menaikkan pundaknya, ia segera memanggil anggotanya untuk membereskan jenazah.
"Ayo anak-anak, angkut ke lab!"
+-+-+-+-+-+-