You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Black Smoke



......


Cody terlihat serius di depan layar laptop baru milik Edward, sejak masuk apartemen Edi ia sudah fokus membantu pemuda itu menginstal program baru di laptop Ed yang masih kosong.


"Nah ini yang terakhir, kau bilang butuh program ini untuk buat laporan khan"


Edward tersenyum.


"He aku sungguh bodoh yah, sebelumnya sahabatku yang menjualnya jadi aku tinggal pakai, ini memalukan yah"


Cody tersenyum.


"Hehe tidak masalah Ed, Lukas juga kalau beli laptop baru juga begitu, ia begitu mengandalkan ku dan Hervant hingga ia tidak pernah mau beli sendiri, hemm"


Lama, Ed memperhatikan wajah Cody yang begitu serius melihat layar laptop barunya, ia baru hendak mengangkat tangannya menyentuh rambut belakang pemuda itu saat Cody tiba-tiba membalik.


"Kau sudah lama tinggal di sini?" Tanya Cody mencairkan suasana yang sejak tadi keduanya diam.


Ed menarik tangannya cepat kembali.


"He lumayan, saat gedung ini selesai bangun langsung tinggal, he dulu sepi sekali di sini, yang tinggal baru beberapa unit, kau keren juga yah tinggal di suite"


Cody menggaruk kepalanya malu.


"He, itu, hanya dipinjamkan saja untuk tinggal"


Ed terkekeh, ditepuk pundak Cody.


"Yah sama, aku juga ini dibelikan oleh papaku, beliau mungkin berpikir aku akan terlalu boros kalau mengontrak di luar jadi sekalian saja beliau membelinya anggap investasi, he punya orang tua memang enak yah"


Cody menghentikan gerakan tangannya.


"Eh, apa orang tuamu di luar kota?" Tanyanya.


Ed mengangguk.


"Yah, mereka di luar kota, mungkin sekarang sedang liburan ke luar negeri, enaknya jadi orang tua, sudah pensiun menikmati hidup, he jadi iri sekali dengan mereka, tapi itu namanya menikmati hari tua khan yah, kalau Cody? Bagaimana? Apa orang tuamu juga di luar kota? Sepertinya tidak pernah melihat mereka berkunjung"


Cody terdiam, ia dan Edward baru mengenal tidak terlalu dekat hingga harus menceritakan masalah pribadinya, jadi ia sekedarnya mengangguk "he yah, begitulah"


Cody menarik tangannya ke atas, merenggangkan pinggangnya yang pegal tak terasa ia sudah duduk berapa jam di sana.


"Duuh lumayan yah, emm, apa aku boleh pinjam toiletmu?" Serunya mengalihkan pembicaraan yang mulai tidak nyaman baginya.


Edward tersenyum, ia berdiri dari duduknya menunjuk ke arah lorong di antara kamar dan dapur tak jauh di depannya.


"Yah tentu boleh, di sana Cod, maaf membuatmu duduk kelamaan yah"


Cody berdiri dari duduknya.


"He tidak masalah Ed"


"Sementara kau ke toilet aku siapkan buah-buahan yah, aku baru belanja tadi, kau tidak ada alergi apapun khan?"


Cody mengerutkan dahinya berpikir sebentar.


"Emm, asalkan tidak makan makanan yang ada lada aku aman"


Edward membulatkan mulutnya.


"Ooh alergi lada yah, noted"


Edward sibuk mengeluarkan beberapa buah segar dari dalam kulkas, wajahnya berseri-seri, sangat menikmatinya.


Cody baru selesai dari toilet dan mengeringkan tangannya dengan tissue, saat hendak kembali sesuatu menarik perhatiannya. Ia hampir terhuyung saat tiba-tiba sebuah bayangan hitam melintas tepat di depan wajahnya.


"Ach" bayangan menyerupai asap hitam itu melewatinya dan menghilang di dalam sebuah pintu yang sedikit terbuka di depannya. Sebuah kamar tepat di sebelah toilet.


Cody ingin berseru, tapi percuma memanggil Edi ia tidak mungkin melihatnya juga, tapi kenapa bayangan hitam itu menghilang setelah masuk ke dalam kamar itu? Apa yang ada di dalam sana, Cody terdiam di tempatnya, pintu itu sedikit terbuka, tapi ia tidak mungkin mengintipnya tanpa ijin pemilik rumah itu tidak akan sopan namanya, tapi mungkin tidak ada salahnya, jika hanya sekedar mengintip dari luar saja.


Saat tangan Cody sedikit lagi menggeser pintu itu, seseorang sudah berdiri menarik handel pintu dan merapatkannya.


"Bruk" agak keras membuat Cody tertegun di tempatnya.


Edward sudah berdiri di depannya dengan pandangan tajam, ia menutup pintu rapat bahkan menguncinya.


Cody agak malu karena ia memang berniat mengintip tanpa ijin.


"Eh Ed, maaf aku, hanya penasaran, sepertinya mendengar suara di dalam"


Sejenak Edward diam, wajahnya serius, hingga ia menoleh pada Cody dan merubah ekspresi wajahnya.


"He tidak ada apa-apa di dalam Cod, mungkin kau salah dengar, maaf tapi di dalam berantakan sekali, aku tidak mau kau sampai celaka jatuh di bawah tumpukan barang, he kau lihat ruangan ku begitu bersih karena semua barang aku tumpuk di dalam"


Cody tersenyum, mungkin memang hanya bayangan biasa, ia yang salah karena berniat melihat yang bukan haknya.


"eh maaf, aku lancang yah?"


Edward tersenyum saat melihat ke arah Cody, dan perlahan mengiringnya kembali ke ruang tengah, tapi entah kenapa, Cody merasa tatapan Ed tadi saat menutup pintu sangat menakutkan, dingin dan tanpa simpati, entah hanya perasaannya saja tapi itu cukup membuat ia merasa gentar.


"Bukan masalah besar sih Cod cuma aku tidak mau kau melihat sisiku yang sangat berbeda, nanti pandanganmu padaku akan berubah"


Keduanya kembali duduk di sofa ruang tengah, Edward sudah mengeluarkan buah yang telah disiapkannya di atas meja, tapi baru saja duduk, suara bel pintu terdengar.


"Ting nong"


"He siapa yah malam begini" Edward berdiri kembali dan mendekati pintu, membukanya dan sempat terdiam saat melihat orang yang sudah berdiri di depannya.


"Eh hai, maaf tapi, eh nyonya Riana bilang ini sudah waktunya makan malam, dan Cody, tidak boleh telat makan, aku hanya di suruh kalau tidak jalan aku tidak dapat jatah makan hehe" Hervant sudah berdiri di depan pintu.


Cody mendekat.


"Her, ngapain ke sini?"


Tanpa pikir panjang Hervant menarik tangan Cody keluar dari dalam.


"Ayo Cod cepat pulang, aku sudah lapar nih, kata Riana kalau kau belum makan aku tidak boleh makan, ayo"


Sesekali Cody masih menoleh pada Edward, dasar Hervant, serunya dalam hati, padahal Ed sudah menyiapkan buah untuk mereka berdua.


"Eh Her tapi aku belum selesai, nanti saja kau ini bikin malu deh"


Hervant tidak perduli, ia terus menarik tangan Cody hingga ke arah lift.


"Nanti dilanjut lagi, maaf yah Ed aku pinjam Cody sebentar, ini waktunya makan malam nanti setelah selesai aku kembalikan yah"


Edi hanya mengangkat tangannya dengan senyum yang seakan dipaksakan.


"He yah, tidak apa-apa, sudah selesai kok"


+-+-+-+-