You In The Rain Vol.1

You In The Rain Vol.1
Another Brand new Day



"Berhenti!"


Sepanjang jalan yang penuh pejalan kaki, baru saja melintas seorang pria dengan pakaian abu-abu kotor, terlihat tergesa-gesa.


"Oohh"


Tanpa menghiraukan yang lainnya, ia berlari dan menarik beberapa pejalan kaki hingga ada yang jatuh terjengkal.


"Hei!"


Tak lama dua orang berlari mengikutinya.


"Kurang ajar! Berhenti!" Ia Rio, wajahnya yang lelah sudah penuh emosi, ia berlari sekencang-kencangnya mengejar pria tadi.


Tony mengikutinya dari belakang, masih sempat menolong beberapa pejalan kaki yang jatuh ditabrak pelaku.


"Gak apa-apa khan, maaf yah"


Suara Rio memenuhi jalan hingga beberapa pejalan kaki di depan menyingkir sebelum ia lewat.


"Kurang ajar berhenti kau! Aku peringatkan lagi yah! Kurang ajar!"


*-*-*-*


Suasana di salah satu kampus terkenal di kota.


Lapangan parkir sudah dipenuhi beberapa bus yang akan menuju ke luar kota, trip tahunan kelompok pecinta alam, dan seperti biasa Cody, Hervant dan Lukas tak pernah melewatkannya.


"Sudah bawa semua? yakin tidak ada yang tertinggal nich" tanya Hervant pada Cody yang sibuk memasukkan beberapa barang yang tadi di keluarkannya kembali ke ransel.


"Harusnya sih sudah semua, p3k sudah, em, power bank, baterai cadangan untuk kamera"


Lukas mendekat, ketiganya duduk di kursi panjang di samping lapangan parkir sementara bersiap menunggu jam keberangkatan sebentar lagi.


"Waah Cod, buat apa bawa kamera berat segala macam, kita khan mau berwisata bukannya kau akan menjadi photographer lagi di sana nanti" seru Lukas.


Cody tersenyum, ditarik resleting ransel menutup semua dengan rapat, tasnya memang besar dipenuhi barang-barangnya.


"Tidak apa-apa, lagipula kak Dio sudah mengingatkan agar aku bawa kamera untuk dokumentasi"


Hervant menegakkan pinggangnya, ransel besar sudah menyangkut di pundaknya.


"Hemmh enaknya kita liburan lagi ke puncak, kali ini jauh lebih tinggi dari tahun kemarin khan, kita pasti akan bersenang-senang dech"


Lukas menepuk dada Hervant.


"Iyah apalagi kali ini Cody bebas dari double R, lumayan"


Cody mengerutkan dahinya.


"Double R apa Luk?" Tanyanya.


"Yah apalagi, itu, Rio, dan Riana"


Mendengar jawaban Lukas Hervant langsung tertawa lebar.


"Hahahaha bisa saja kamu"


Namun, Lukas menghentikan tawanya, lirikan Cody membuat ia curiga.


"Napa guys?" Tanyanya.


Cody dan Hervant berdiri dari duduknya perlahan bergerak ke arah bus, meninggalkan Lukas yang sedikit kaku membalikkan kepalanya.


"He, kau datang" sudah ada Riana berdiri di belakangnya, memasang wajah galaknya seperti biasa.


"Aku dengar lo, awas saja nanti, jangan minta makan sama aku yah"


Gadis itu sepertinya sudah bersiap juga dengan tasnya yang besar, juga membawa barang besar seperti termos es di tangan satunya, dan tangan lain kantong karton besar berisi makanan jadi.


Ia menghiraukan Lukas dan bergegas menyusul Cody.


Hervant menepuk dada Cody, berbisik sebelum Riana mendekati mereka.


"Kok, Riana bisa ikut? Ini khan jalan-jalan kampus kita"


Cody mengangkat pundaknya.


"Gak tahu, kemarin katanya sih dia mau cari cara bagaimanapun harus ikut, aku gak nyangka dia berhasil"


Riana sudah tiba di samping Cody, berseru dengan penuh semangat.


"Cody, aku berhasil khan? Ternyata temannya temanku namanya Viona bilang kalau teman sekamarnya cancel ikut, dan dia bilang kalau aku boleh menggantikannya, waaah ini namanya rezeki yah"


Cody mengerutkan dahinya.


"Mana ada yang seperti itu? Ini kampus apa sih? Orang luar boleh ikut-ikut tour" Protesnya.


"Heh sebenarnya boleh ajak teman atau saudara Cod, cuma memang kuotanya terbatas saja" Hervant menjelaskan.


Riana tidak perduli, ia mengangkat kantong plastik di tangan kanannya sambil merangkul Cody.


"Waaah ini akan sangat seru yah Cod, jalan-jalan keluar kota pertama kita ooh"


Cody berusaha melepaskan pegangan Riana, ditambah gadis itu membawa begitu banyak barang yang sangat berat.


"Ini bawa apa saja sich sampai banyak begitu, kita mau wisata bukannya tinggal seterusnya di sana Ri, ini berat sekali sepertinya" Cody membantu Riana membawa salah satu kantong besar di tangan kirinya.


"Ini apaan? Berat"


"Itu makanan beku untuk masak nanti, ada daging, ikan, semua yang masih mentah, jadi bawanya pake termos, khan Cody harus makan yang bergizi, jangan sampai sakit khan"


Hervant menarik nafas panjang menghentikan langkahnya, menunggu Lukas yang belakangan mendekat dengan lesu.


"Heh mereka sudah seperti suami istri, bertengkar terus"


Lukas berhenti di samping Hervant.


"Itu cewe benar-benar ajaib, apa sih yang dia tidak bisa, sampai kita jalan-jalan saja dia harus ikut, aduuh"


Hervant menepuk pundak Lukas.


"Terima saja kenyataan Luk, ia memang tidak akan pernah menjauh dari Cody sampai kapanpun"


*-*-*-*-


Di tengah kota kembali.


Rio dan Tony menghentikan pengejaran mereka, pencuri yang lari tadi sudah ditangkap bukannya ia menyerahkan diri atau mereka akhirnya berhasil mengejarnya, tapi, karena sesuatu yang jatuh di depannya membuat ia terkejut dan jatuh.


Rio masih berdiri di tempat di mana mereka berhasil menangkap pencuri kelas teri tadi, hasil pengejaran mereka seharian, seharusnya mereka tidak sembarang mengejar penjahat karena itu urusan team lain, tapi berhubung sepi di kantor yah sudahlah apa saja dikerjakan, tak lama petugas berseragam yang datang sudah memborgol pencuri itu pergi.


Tony mendekat, keduanya berdiri di posisi tak jauh di mana petugas memberi garis batas polisi, di bagian belakang antara dua gedung yang tinggi, di lorong jalan yang sebenarnya jarang dilewati pejalan kaki menjadi sedikit ramai, beberapa orang yang kebanyakan bekerja di sana keluar dan penasaran dengan apa yang terjadi.


"Aku sudah hubungi Georgie, beliau akan datang beberapa menit lagi" ujar Tony.


Rio mendongak ke atasnya, di mana dua gedung yang cukup tinggi itu berdiri kokoh walau sudah cukup dimakan usia.


"Heh lagi-lagi ada saja barang yang jatuh dari langit yah"


Rio mengeluarkan ponselnya, sekiranya hendak menekan nomor Cody, tapi ia mengurungkan niatnya, ia baru ingat kalau Cody ambil cuti selama lima hari.


"Heh lalu ini, siapa yang akan ambil fotonya" tanya Rio melihat sesosok tubuh bersimbah darah yang tergeletak di depan mereka, mayat menyerupai seorang pria muda, yang jatuh dari ketinggian dua puluh lima lantai di atas mereka, tulangnya mungkin sudah remuk semua dengan posisi jatuh tak beraturan, nah ini baru kerjaan mereka, menyelidiki mayat yang jatuh dari antah-berantah.


Tony menarik nafas panjang, sementara petugas membawa terpal dan segera menutupi tubuh yang mulai menarik perhatian itu.


"Cody libur disaat yang tidak tepat"


+-+-+-+-+-