
.......
Di sebuah jalan kecil di area komplek perumahan.
"Kau yakin itu rumahnya Cod? Kok bisa tahu? Lagipula, belum tentu orangnya sama khan mungkin saja kau hanya sekedar bermimpi" ujar Hervant.
Sore itu ia dan Cody menyetir seharian menuju pinggir kota, ke sebuah area perumahan, yang menurut Cody mungkin akan menjadi petunjuk penting dari mimpi-mimpi anehnya belakangan ini.
Sebuah rumah sederhana di ujung jalan, ada ring basket di garasi, teras depan yang agak sedikit naik, pagar ber-cat putih dengan beberapa tanaman gantung, ada yang sedikit berbeda, rumah di depan mereka kini, terlihat lebih tua, cat sudah tidak semulus saat ia melihatnya dalam mimpi, tapi itu dia, nomor rumah yang sama dengan yang ada dalam mimpinya.
Cody melepaskan sabuk pengamannya, sebuah kendaraan mungil baru saja berhenti dan masuk area parkir rumah, Cody menepuk dada Hervant menunjuk pada seorang wanita yang keluar dari kendaraan, disusul kemudian seorang anak, anak remaja, bukan anak kecil umur sebelas atau dua belas tahun dalam mimpi Cody.
"Itu Her, tapi, ke mana anak kecilnya"
"Apa mungkin itu anak pertamanya Cod, kau bilang anak itu masih seperti anak kecil khan, yang ini sudah remaja sepertinya"
Tanpa menunggu lebih lama Cody membuka pintu mobilnya, Hervant menahan tangannya sejenak.
"Cod"
"Tidak apa-apa Her, kita sudah di sini sebaiknya langsung tanya ke orangnya saja"
Hervant masih menahan tangan Cody.
"Yah terus kau kau bilang apa? Hai aku Cody, kita bertemu di dalam mimpi"
Cody melepaskan tangan Hervant,
"Sudah ayo kita ke sana dulu, urusan bertanya nanti lagi"
Hervant menahan nafas, ia kesal dan gemas melihat sikap Cody yang selalu menganggap enteng semua hal, dan yang aneh lagi, bagaimana ia bisa mengikuti sikap keras kepala sahabatnya itu? akhirnya ia keluar menyusul Cody.
"Cod tunggu!"
Tak jauh di balik pohon, sebuah mobil sejenis sedan berwarna hitam diparkir, seseorang di balik kursi setir mengarahkan moncong kameranya, menangkap setiap gerakan Cody dengan seksama.
Setiap langkah mereka, dari pekarangan hingga ke dalam teras rumah tertangkap dengan sempurna di dalam lensa kamera, bahkan wajah Cody sengaja diperbesar, hingga mimik wajahnya tertangkap jelas.
*-*-*-*-*-*-*-
Riana berlari keluar apartemen dengan riang.
Ia berpakaian sangat manis, rambut panjang yang sengaja digerai dengan jepit berkilauan di salah satu sisinya, ia sangat menyukai jepitan rambut itu karena itu adalah pemberian tercinta dari Cody saat ia berjalan ke toko perhiasan, walau bukan barang sangat mahal tapi ia sangat menyukainya melebihi apapun.
Ia menggandeng tangan Cody yang sudah siap menunggunya di samping Jeep, yeah kencan mereka yang sudah lama tertunda, itu menurut Riana karena Cody tidak pernah menganggap ia serius, walau begitu, apapun itu gadis manis itu sudah sangat puas, bisa bersama Cody yang disukainya setengah mati dalam kondisi apapun adalah kebahagian terbesar baginya.
Tapi...
........
Riana mencengkram tangan Cody erat.
Ia sudah ketakutan setengah mati karena kencan mereka berubah jadi horor saat Cody terpaksa menghentikan kendaraannya di dekat area kecelakaan, ia melihat sekitarnya, ada beberapa kendaraan di ujung jalan yang menumpuk karena tabrakan beruntun, asap hitam membumbung hingga langit-langit, orang-orang berlari ke lokasi kecelakaan membantu apa yang mereka bisa.
"Cod, kita pulang saja yuk, aku takut nich"
"Nguuing nguuing!" Sirene mobil dinas terdengar dari kejauhan.
Cody melihat banyak sekali bayangan hitam yang bergerak spontan ke arah kecelakaan terjadi.
Ia menghentikan langkahnya, sejenak berpikir kenapa begitu banyak orang hitam? sebutannya untuk pria tua berkerudung dan jubah berwarna hitam, sosok-sosok itu seakan berbondong ke arah lokasi, sangat cepat, itu yang membuat Cody sedikit penasaran, jantungnya berdegup makin kencang seperti saat ia merasakan sesuatu di mana sebuah kejadian besar akan terjadi setelahnya.
"Eh Ri, sebaiknya kau di sini saja, aku akan lihat ke depan" namun Riana tidak ingin melepaskan pegangannya, melonggarpun tidak, ia menggeleng cepat.
"Tidak mau, Cody ke mana aku ikut, aku tidak mau Cody pergi sendiri, kalau bahaya bagaimana?"
"Yah justru itu, kalau bahaya bagaimana denganmu"
Riana tidak bergeming, ia malah memperat pegangannya "awas saja Cody pergi sendiri lagi, jangan berpikir macam-macam yah"
Cody gemas, Riana memang keras kepala.
"Ich Riana ini"
Ia merinding, seolah dalam pandangannya yang ada hanya awan hitam yang menyelubungi area tersebut, hawa negatif yang semakin kental di sekitarnya, membuat bulu kuduknya beberapa kali merinding, dan akan terus begitu sepertinya, seperti asap hitam yang perlahan mendekat dari jauh membawa semua hawa negatif bersamanya.
Seorang pria berjalan dari arah kecelakaan terjadi, kepalanya penuh darah kental, sebelah matanya tertutup hampir seluruhnya berlumur dengan darah dan mata satunya lagi seperti hampir keluar dari songketnya, masih terus mengeluarkan darah, ia tetap berjalan walau linglung, pakaiannya kotor bercampur dengan darah dan oli, orang itu lewat di depannya, mungkin salah satu korban yang tewas di tempat, pikir Cody. Cody terus melihat gerakan pria itu hingga ia menghilang ditabrak beberapa orang yang bergegas melewatinya.
Setelah pria itu menghilang Cody seperti tersadar akan sesuatu.
Melihat banyak sosok hitam yang menuju ke lokasi kecelakaan, itu artinya korban jatuh akan lebih banyak dari yang terlihat, dan orang-orang itu menuju ke sana, jantungnya berdegup semakin kencang.
"Cody kenapa?" Tanya Riana, ia tahu pasti ada sesuatu, melihat raut wajah Cody, ia jadi tahu walau pemuda itu tidak bicara sekalipun, ia mempererat pegangannya.
Cody menatap Riana sejenak.
"Pria tadi Ri, pria tadi, memakai seragam dari Perusahaan bahan bakar"
"Maksudnya? Truk tangki begitu?" Sambung Riana cepat, Cody mengangguk.
Tanpa berpikir lebih lama Cody dan Riana bergegas bertindak, dihadang orang-orang yang terus maju ke lokasi kecelakaan.
"Jangan ke sana! ada truk bensin, akan ada ledakan!" seru Riana, Cody berteriak pada petugas yang berdiri agak jauh di depan jalan.
"Pak, menyingkir! Cepat menyingkir!" Seru Cody, semua orang memang mendengarnya, tapi mereka semua hanya mengerutkan dahinya, bahkan sosok hitam ikut menoleh ke arahnya, walau bagaimanapun Cody tidak bisa membiarkan korban terus berjatuhan.
"Cepat menyingkir! sebentar lagi akan meledak!" Serunya lagi.
Riana berusaha menahan tangan Cody, namun ia terlambat, Cody dengan cepat sudah berlari ke arah lokasi, tepat saat tiba-tiba ledakan keras terjadi.
"Boom!!!"
Menghempas semua orang yang ada di sekitarnya, bahkan juga Cody dan Riana.
"Aaahhhhhh!!"
+-+-+-+-+-+-+-+
Between dating, the blast and body in the trunk.