
..........
"Cody!" suara itu, memanggil namanya, membuat Cody membuka matanya.
Seketika, cahaya begitu terang tampak kian jelas di atasnya.
Perlahan ia bangun dari rebahnya dan duduk, ia ada di mana? Telapak tangannya menyentuh rumput yang halus dan empuk dengan tanah yang hangat. Angin berhembus kencang, suara rumput tinggi yang bergoyang, pohon besar dan sejauh mata memandang hanya hamparan hijau kekuningan, rasanya hangat sekali.
"Shaahh"
Seingatnya ia tidak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya.
"Guys!" Serunya. Mungkin ia lupa, dan mereka akhirnya jalan-jalan keluar kota dan ia mengalami amnesia sesaat, mungkin tadi ia tertidur.
Tapi, tidak ada seorangpun di sana, ia hanya sendirian.
"Guys, jangan bercanda kalian di mana?"
Cody takut sendirian, ia paling takut sendiri, sejak kecil ia selalu sendiri, ditinggal oleh Collin, dua orang tuanya, tapi ia tidak pernah benar-benar sendiri selama ini, ada Charlie, Hervant, Lukas, Riana, sekarang bertambah lagi Rio dan Tony, ia tidak akan sendiri lagi bukan? Tapi, kenapa sekarang ia hanya sendiri di sana?
Perlahan ia berdiri, memutar tubuhnya melihat sekelilingnya, mungkin ini hanya mimpi, ia akan segera bangun, segera.
Dari kejauhan tampak sesosok pria tinggi berpakaian hitam yang berdiri melihat lurus ke arahnya dari balik pohon besar. Ia begitu jauh, tapi seakan ia berbicara dengannya.
"Hallo, eh anda, siapa?" Cody mencoba mendekat, ia sudah berjalan tapi jaraknya tetap sama seperti semula. Pria itu hanya melihat lurus ke arahnya hingga perlahan ia menghilang kembali ke balik pohon.
"Pergi dari sini!!"
Suara keras yang memekakkan telinga hingga Cody tersentak keras.
Ia membuka matanya lebar, penuh peluh di wajahnya, dalam sekejap ia sudah ada di atas ranjang.
"Hoh hoh hoh"
Riana yang duduk hampir tertidur di samping ranjang segera berdiri melihat Cody akhirnya membuka matanya.
"Cody, kau sudah bangun"
Cody menurunkan dadanya kembali, ia bermimpi buruk, tapi seperti sangat nyata hingga menyita energinya. Jarum infus sudah menancap di nadi tangannya, selang oksigen masih menempel di hidungnya, ia tidak bisa merasakan apapun, mungkin karena pengaruh obat, yang ada hanya kepalanya yang sedikit pening, perban melingkar hingga dahinya, langit-langit yang seakan berputar tanpa henti, ia gamang.
"Ri"
Riana tersenyum,
"Heh syukurlah, kau sudah bangun Cod"
Wajah Riana yang lelah, airmatanya belum mengering sempurna, matanya yang sembab, ia terlihat lelah, Cody mengangkat tangannya membelai pipi gadis manis itu.
"Ri, maaf yah, membuatmu cemas lagi"
Riana menggelengkan kepalanya, air matanya turun tapi ia tersenyum, apapun kini sudah tidak penting lagi, yang penting Cody sudah bangun setelah tiga hari tak sadarkan diri.
"Ems asal Cody baik-baik saja, he terima kasih karena sudah sadar yah"
Cody tersenyum, ia lelah, badannya terasa remuk walau rasa sakit itu tidak begitu terasa, tapi ia merasa sangat berat dan seakan menyatu dengan ranjang. Ia tidak mampu bergerak, mungkin terlalu lemah hingga ia harus menyerah dan memejamkan matanya kembali, "heh Ri"
*-*-*-*-*
Cody duduk agak tinggi di atas ranjangnya.
Kamar itu hanya dihuninya sendiri, menjadi cucu orang yang sangat berkuasa menguntungkannya dalam beberapa hal, ia hanya menyerahkan kartu hitamnya dan semua orang melayaninya tanpa banyak bertanya.
Langit kebiruan di luar jendela, awan yang berarak perlahan seakan angin mendorongnya untuk terus maju, Cody lelah, ia mungkin harus beristirahat lebih lama karena lukanya kali ini, beberapa kegiatan pentingnya mungkin harus sedikit tertunda, itu, sangat membuatnya kesal, banyak yang harus ia lakukan di luar sana, ia tidak bisa terus berada di sana tanpa melakukan apapun bukan, tapi kakinya sakit bukan main hingga mati rasa, agak sulit untuk bergerak, Cody menoleh, ada sebuah kruk tak jauh di samping meja.
Sejenak tadi langit terlihat cerah. Namun tidak disangka hujan akan turun sangat derasnya menjelang sore hari.
Lorong rumah sakit mulai sepi, jam berkunjung sudah lewat dan beberapa kamar pasien sudah tidak seramai sebelumnya.
Dengan sedikit susah payah, Cody mengangkat kruknya di tangan kanan karena pergelangan kaki kanannya yang retak, dan mendorong tiang tabung infus di tangan kirinya. Ia berhenti sejenak setelah keluar dari kamar dan akhirnya bisa berjalan di lorong.
Seharusnya ia tidak boleh banyak bergerak mengingat kepalanya juga masih sangat sakit, tapi keinginan untuk mencari tahu soal Dian, yang kemungkinan meninggal di rumah sakit ini membuat ia terus memikirkannya hingga ia tidak mungkin terus berbaring tanpa melakukan apapun.
Ia melirik beberapa petugas yang ada di balik meja informasi lantai dua belas rumah sakit ini, semua sibuk dipekerjaannya masing-masing hingga mungkin tidak akan ada yang menggubrisnya di sana.
"Cody? Apa yang kau lakukan di luar sini?" Ia Mila, yang sebenarnya ingin menjenguk Cody tapi membelalakkan matanya melihat pemuda itu di luar kamarnya.
Segera di bantu Cody yang kepayahan duduk.
"Yah ampun Cody ini"
Pemuda itu hanya tersenyum, tangan kecil Mila membantunya dudukk diri di kursi yang seketika membuat ia lega, ia memang sudah kelelahan sejak tadi.
"He Mila, kau di sini?"
Gadis itu mengerutkan dahinya melihat Cody di sana.
"Kau gila yah? Kondisi begini kenapa turun dari ranjang, sampai keluar kamar lagi, kau ini"
"He Mil" Cody hanya bisa tersenyum melihat wajah cemas Mila.
+-+-+-+-
Cody seharusnya kembali ke kamarnya dan berbaring, tapi ia yang keras kepala membuat Mila tidak ada pilihan selain mengajaknya berkeliling dengan duduk di atas kursi roda.
Sepanjang lorong beberapa pasang mata melihat ke arah Cody lurus. Cody tahu mereka bukan manusia, hanya berupa esensi sisa kehidupan yang masih tertinggal setelah raga mereka mati.
Dian juga berdiri di pojok sebelah lift melihat lurus ke arahnya, wajahnya tidak bersemangat sama sekali, lelah akan kehidupan, tapi kehilangan identitasnya yang membuat ia tidak bisa ke mana-mana hingga saat ini, entah kapan ia meninggalkan raganya, mungkin baru saja, atau sudah lama, itu yang menjadi beban Cody saat karena ia tidak bisa melakukan apapun hingga saat ini.
"Cody" Mila menghentikan kursi roda di depan pintu keluar taman belakang, hujan di luar membuat mereka tertahan di sana.
Mila duduk di kursi di samping Cody.
"Kalau dokter tahu beliau bisa marah besar melihatmu di luar begini, apa, yang kau cari Cod"
Pandangan Cody jauh hingga keluar, dahan pohon yang melambai karena derasnya air hujan, angin dingin yang berhembus hingga menembus tulang, ia masih hidup karena bisa merasakan semua itu dengan sangat jelas.
Mila merapatkan selimut Cody melihat wajah pemuda itu sejenak. Ia punya rasa yang sangat kuat terhadapnya, rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata saja. Melihat wajah Cody, adalah kebahagian untuknya, ia bisa tersenyum lebar hanya dengan melihatnya, seakan semua beban yang selama ini dirasakannya hilang seketika.
Pemuda itu menoleh padanya.
"Heh, aku mencari temanku, bahkan, hingga saat ini, aku tidak tahu bagaimana memulainya"
Mila meraih telapak tangan Cody di atas selimutnya, tangan lebar itu terasa dingin, digosoknya dengan dua tangannya agar sedikit lebih hangat.
"Lihat tanganmu dingin begini, kita kembali ke kamar yah"
Cody menoleh ke arah Mila, tersenyum padanya.
"emm, apa, kau mungkin bisa membantuku? ia, dirawat di sini dulu, aku kehilangan jejaknya dan entah harus mencari dari mana"
"Eh, temanmu? Kau yakin dulu ia di rawat di sini? Em, aku mungkin bisa melihat di data pasien kalau kau mau, siapa namanya?"
Cody menahan nafas sejenak, mungkin Mila memang bisa membantunya, sejak awal ia masih tidak membuahkan hasil sedikitpun, ia tidak bisa terus seperti itu.
"Namanya Dian"
Mila terdiam, sesaat raut wajahnya berubah saat mendengar nama itu, tapi dengan segera ia tersenyum berusaha menyembunyikannya.
"E Di Dian? Em Dian apa?" Tanya Mila.
Cody tersenyum.
"He, aku hanya tahu nama depannya, kami, tidak begitu dekat, tapi, baru-baru ini aku baru tahu kalau ia menghilang dari teman-temannya, kabar terakhir ia ke rumah sakit ini untuk berobat"
Mila diam.
Tak bergerak sebentar di tempat duduknya hingga ia tersenyum dan membenarkan selimut Cody.
Ia berdiri dari duduknya menuju ke belakang kursi, mendorongnya pelan kembali ke lorong menuju ke arah lift.
"Kau sebaiknya kembali ke kamar, udaranya semakin tidak bagus untukmu, nanti, aku akan lihat apa yang bisa kulakukan yah untuk mencari temanmu itu, walau mungkin agak susah yah karena pasien dengan nama itu sangat banyak sekali di sini"
+-+-+-+-+-+-